
Hadist riwayat Al-Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amr, ia berkata:
Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga.
Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.”
♡♡♡
“Doa dalam salat tahajjud diibaratkan anak panah yang dilepas dari busurnya yang takkan meleset dari sasaran.”
-Imam Syafi’i-
♡♡♡
Waktu begitu cepat berlalu, bak anak panah yang melesat dengan begitu cepatnya.
Seperti baru Zihan dan Gibran bertemu dan menjalin sebuah pertemanan, hingga
akhirnya menjalin sebuah persahabatan yang ternyata menyeret mefeka dalam biduk rumah tangga. Perjalanan cinta keduanya yang penuh dengan tangis derai serta air mata menjadi saksi kesetiaan cinta mereka.
Sungguh tak pernah terbersit sedikitpun dalam angannya, bahwa mereka akan menjalin sebuah hubungan bersama. Menjalani sisa hidup bersama, dan mengukir cinta bersama dengan buah cinta mereka. Nadhira, ya bayi mungil yang terlahir dengan berat 3.8 kg dan panjangnya berkisar 50 cm. Kini bayi mungil itu sudah menjadi gadis kecil yang sangat aktif, bahkan super aktif seusianya yang masih tiga tahun itu.
“Jangan lari-larian, Sayang nanti jatuh,” peringat sang bunda yang tak lain dan bukan adalah Zihan. Si kecil Nadhira tak menghiraukan ucapan bundanya, dia terus saja berlarian kesana kemari dengan begitu lincahnya. Sepertinya gadis cantik nan
mungil itu tengah senang dan bahagia, karena untuk pertama kalinya diajak ke
taman oleh bunda serta ayahnya.
“Hiks... hiks... Bun... Bunda...” Tangisan serta teriakan nyaring dari Nadhira mengusik gendang telinga kedua orang tuanya yang tengah duduk di tepi danau, memerhatikan orang yang tengah berlalu lalang di taman tersebut.
Zihan dan Gibran langsung berlarian menghampiri putrinya yang tengah memegangi kedua lututnya yang memerah, berdarah. Dress berwarna peach yang panjangnya selutut itu sudah kotor dan sedikit robek di bagian lututnya.
Dengan sigap Gibran langsung membawa tubuh sang putri ke dalam gendongan, sedangkan Zihan, dia hanya mengikuti langkah cepat suaminya dari belakang. Mereka membawa Nadhira ke dalam mobil untuk membersihkan lukanya.
“Bunda bilang juga apa, jangan lari-lari yah jangan lari-lari. Jadi jatuh kan,”
cerocos Zihan dengan nada yang kentara sekali penuh kekhawatiran. Dengan
telaten dia membersihkan luka putrinya dengan kapas, dan air mineral yang
selalu ada dalam mobil mereka.
Tangis Nadhira semakin kencang tatkala kapas yang sudah dibasahi dengan air itu
mengenal di lututnya, dia meringis bahkan sesekali berteriak karena saking sakitnya. Gibran yang memang sedang memangku Nadhira hanya bisa mengelus pucuk
__ADS_1
kepalanya, sesekali dia juga menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah
sang putri.
“Udah, lain kali jangan kaya gitu lagi!” tutur Zihan setelah membereskan peralatan
p3k-nya. Nadhira hanya menunduk serta mengangguk takut, ini kali pertama sang
bunda berbicara dengan suara tinggi padanya.
Gibran menatap manik mata istrinya, seperti mengisyaratkan 'sudah'. Zihan yang
mengerti isyarat itu hanya bisa mengangguk pasrah, dia tidak bermaksud untuk
memarahi putrinya, tapi itu karena dia yang terlalu mengkhawatirkan putri
semata wayangnya.
“Maafin Bunda, Sayang,” tutur Zihan membelai lembut pucuk kepala Nadhira. Nadhira mendongakkan kepalanya dan mendapati senyuman manis serta wajah teduh sang bunda, membuat perasaan takut itu hilang dan sirna seketika. “Maafin Nadhira, Bunda.”
Zihan mengangguk dengan seutas senyum yang tak pernah luntur dari sebelumnya.
Menghapus bekas air mata sang putri dengan kedua ibu jarinya. Gibran tersenyum tipis melihat interaksi diantara dua bidadarinya. Bahagia, ya jelas itu yang
kini tengah dia rasakan. Kebahagian yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Sahabat masa remajanya kini menjelma menjadi wanita yang bertahta didalam
“Kita pulang,” ujar Gibran seraya memindahkan Nadhira keatas pangkuan istrinya. Kedua wanita yang memiliki paras cantik dan kemiripan itu hanya mengangguk setuju. Mobil yang mereka tumpangi berjalan dengan lancar menyusuri jalanan. Sampai akhirnya Gibran memarkirkan mobilnya di pelataran rumah berlantai dua yang bergaya modern klasik. Ukuran rumah yang tidak terlalu besar ataupun kecil membuat penghuninya nyaman, aman, serta damai.
“Ini rumah siapa, Mas?” tanya Zihan saat menyadari sang suami membawa dirinya ke
tempat asing yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. “Kita,” singkatnya yang membuat kedua bola mata Zihan hampir melompat dari tempatnya. “Ayo masuk,” lanjutnya seraya mengambil alih Nadhira kedalam gendongannya.
Zihan hanya mengekor mengikuti langkah lebar suaminya, walau jauh di lubuk hatinya
dia masih mempertanyakan maksud dari jawaban singkat suaminya. Dia terpana
melihat interior rumahnya, pilar yang tinggi dan besar yang berdiri kokoh adalah hal yang pertama menyapa indra penglihatannya. Memasuki area dalam
rumahnya, dia kembali di buat terpana dan terpesona. Sungguh, konsep yang sangat cocok dan pas untuk sebuah hunian.
“Mas, kok furniture-nya udah lengkap sih?”
tanya Zihan keheranan. “Sebenarnya rumah ini udah, Mas persiapkan sekitar satu
tahun yang lalu. Jadi, semuanya udah lengkap termasuk pakaian kita yang memang sudah dipindahkan,” jelas Gibran.
__ADS_1
Zihan semakin membelalakan matanya tak percaya. “Kok bisa? Bukannya daritadi kita
ditaman. Kapan, Mas pindahin semuanya?”
“Mas udah minta tolong orang untuk memindahkan semua barang-barang kita, pas tadi kita jalan-jalan ke taman.”
“Secepat itu?” Zihan masih belum bisa mempercayainya. “Iya, udah jangan banyak tanya kasian Nadhira udah kecapean,” tutur Gibran. Zihan hanya mengangguk, sekilas
dia melirik putrinya yang kini sudah tertidur dalam gendongan suamianya.
♡♡♡
Malam telah menyapa, menggantikan siang yang terang benderang. Sang rembulan yang sudah menggantikan tugas dang mentari yang sudah beberapa jam lalu menghilang tertelan terangnya sinar sang rembulan.
Hembusan angin tak sedikitpun mengusik ketenangan serta kedamaian yang Zihan rasakan. Balkon, ya tempat itu seakan membuat perasaannya nyaman dan damai. Dia selalu suka sangat amat menyukai suasana malam yang dihiasi ribuan bintang dan desiran.angin yang menyejukkan. “Apa yang membuat kamu nyaman di tengah kegelapan malam?” seloroh Gibran yang tiba-tiba saja memeluk lehernya dari belakang.
“Kamu,” singkatnya yang masih fokus menatap takjub pemandangan malam Ibu kota. Gibran tersenyum mendengar jawaban singkat istrinya, dia membuka selembar kertas yang tadi dia temukan di atas nakas kamarnya. Wajah Zihan langsung bersemu
merah tatkala menyadari bahwa sang suami telah membuka serta membaca isi surat
yang sengaja dia tuliskan untuk suaminya.
Teruntuk kamu
Imam masa depanku...
Jika setiap untaian kata itu kau sebut
dengan cinta. Maka aku tak bisa
mengungkapkannya.Sebab, setiap kata cinta tak akan pernah cukup untuk mewakili perasaanku untukmu...
Tapi percayalah, setiap untaian doa selalu mengalun indah terucap dari bibirku. Doa yang selalu aku gaungkan dihadapan-Nya. Doa yang senantiasa terukir indah di seperti malam-Nya...
Imamku...
Maafkan aku yang telah lancang
menikungmu di sepertiga malamku...
Dariku,
Istri yang mencintaimu...
“Aku tak membutuhkan kata cintamu, karena yang aku butuhkan adalah kasih cinta tulus darimu,” ungkap Gibran yang masih setia memeluk leher istri tercintanya.
Zihan membawa tangan kokoh suaminya turun hingga tepat diperut ratanya. Lantas dia mendongakkan kepalanya, hingga meta keduanya bertemu. Saling menyalurkan kata lewat tatapan mata, hingga senyum terbit dikedua sudut bibir mereka.
__ADS_1
“Kamu....” Gibran tak mampu mengungkapan apa yang kini tengah dia rasakan. Kebahagiaannya kini semakin lengkap.
SELESAI