
“Berkata memang mudah namun berkaca tak semudah seperti apa yang.dibayangkan.”
♡♡♡
Zihan termenung ditemani indahnya rembulan malam yang mengukir keindahan malam. Namun, sayang seribu sayang keindahan itu tak sesuai dengan suasana hatinya saat ini. Rasa kecewa lagi-lagi mendera hatinya lagi-lagi dan lagi dia
merasakan pahitnya pil kekecewaan.
“Masuk yuk,” suara sang suami yang tepat berada di samping telinganya membuyarkan
semua kesakitan serta kekecewaan yang dia rasakan. Perlahan tapi pasti dia bangkit dari posisi duduknya yang sedang berada di balkon kamar. Melangkahkan kakinya antara sadar tak sadar.
“Tidur udah malam,” Gibran menyelimuti tubuh sang istri sampai sebatas dada. Gibran melangkahkan kaki menjauh dari ranjang berjalan keluar dari kamar untuk mengambil laptop yang akan digunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang menumpuk.
Sekembalinya ke kamar Gibran tersentak kaget mendengar isak tangis yang berasal dari tempat istrinya berbaring. “Kamu kenapa, Han?” Dia merengkuh tubuh bergetar sang istri ke dalam pelukannya.
Zihan semakin terisak, rasa sakitnya kian menjadi tatkala mendengar suara suaminya. “Jangan nangis yah.” Gibran menghapus genangan air mata yang membanjiri wajah sang istri. Otak Zihan terus bekerja tanpa henti memikirkan semua hal yang dialaminya beberapa hari lalu.
“*Bagaimana, Dok?” tanya Gibran pada saat memeriksakan keadaan istrinya. Dokter itu
tersenyum simpul menyiratkan sesuatu yang tak bisa Gibran artikan. “Maaf ,Pak
negatif.”
Gibran memandang wajah sendu sang istri yang terus saja menunduk dengan buliran air mata yang siap untuk ditumpahkan. “Jangan dipikirkan Allah belum berkenan
menjawab doa kita,” tuturnya menguatkan mental sang istri. Namun, pada
kenyataannya dia pun sama merasakan kekecewaan.
Zihan hanya mengangguk kelu dengan buliran air mata yang sudah menggenang begitu saja di pelupuk matanya. Gibran menunjukkan sebuah testpack yang tadi dia
rebut paksa dari istrinya kepada dokter. Dan dokter pun mengambil alih benda pipih kecil tersebut. “Hasil tes ini salah, Pak.”
“Kenapa bisa?” Gibran merasa tak percaya. Bukankah garis dua menunjukkan tanda positif hamil?
“Tes kehamilan atau test pack yang merupakan alat deteksi kehamilan. Tes ini bekerja dengan cara mendeteksi marker kimiawi dalam tubuh, yang disebut human chorionic gonadotropin (hCG). Keberadaan marker ini dapat dideteksi dalam darah maupun urin kira-kira setelah implantasi (6-12 hari setelah terjadinya pembuahan). Menurut penelitian, test pack memberikan keakuratan sebesar 97,4 % jika
dilakukan oleh tenaga ahli. Namun, keakuratan ini dapat turun hingga 75 % bila
dilakukan oleh konsumen. Hal tersebut dapat disebabkan karena kekurangpahaman atau kegagalan untuk mengikuti instruksi pemakaian. Penggunaan yang kurang tepat juga dapat menyebabkan hasil negatif palsu ataupun positif palsu. Dan yang Ibu Zihan alami adalah hasil positif palsu, yang merupakan suatu keadaan di mana hasil yang terbaca positif tetapi ternyata tidak terjadi kehamilan.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh kesalahan dalam aplikasi, penggunaan obat
yang mengandung hCG (biasanya untuk wanita tidak subur), dan penyakit ataupun
keganasan yang dapat meningkatkan produksi hCG,” jelas dokter yang sudah
__ADS_1
beberapa kali menangani hal yang serupa seperti yang Zihan alami.
“Kenapa hal itu bisa terjadi, Dok?” Gibran Masih belum puas menerima jawaban dari sang dokter.
“Sudahlah, Mas kita pulang aja.” Zihan menyela dan ingin segera pergi dari ruangan yang membuat hatinya selalu sesak.
“Apakah saya dan istri berkesempatan untuk mendapatkan momongan?” tanya Gibran tak menghiraukan ucapan istrinya. Dia harus mencari tahu jawabannya, mengapa sudah hampir satu tahun menikah tapi mereka belum kunjung dikaruniai buah hati.
Dokter itu pun mengangguk yakin. “Tentu, Pak tapi mungkin tidak dalam waktu cepat
karena dilihat dari kondisi psikis Ibu Zihan yang seperti terlalu banyak beban pikiran. Hal itu bisa sedikit mempengaruhi,” terang sang dokter.
“Saya sarankan Bapak dan Ibu mengikuti program kehamilan agar hasilnya lebih
maksimal. Ya meskipun dari segi kesehatan Bapak dan Ibu dinyatakan sehat dan
berkemungkingan besar untuk memiliki momongan, tapi setidaknya dengan cara
melakukan program kehamilan itu akan semakin mempercepatnya,” lanjutnya.
Usaha yang tanpa diiringi dengan doa tidak akan bisa tercapai dengan mudah, begitupun dengan doa yang tidak dibarengi dengan doa adalah sebuah kesia-siaan. Keduanya saling melengkapi dan harus berjalan beriringan.
“Baik, Dok terima kasih kalau begitu kami permisi dulu,” pamit Gibran dengan
sunggingan senyum. Penjelasan dokter tadi cukup memberikan dia angin segar. Keduanya berjalan beriringan dengan angan dan pikiran yang entah berkelana kemana.
“Hai,” sapa seseorang saat berpapasan dengan Zihan dan Gibran. Keduanya hanya
“Apa kabar?” tanyanya basa-basi. “Baik,”
jawab Gibran malas. Jujur dia sedang tidak mood, walau hanya untuk berbincang-bincang santai.
“Abis periksa kandungan yah,” tebaknya sok tahu saat netranya menatap papan
bertuliskan ruangan dr. Ilda yang merupakan dokter spesialis kandungan.
“Sorry, Fan kita harus cabut duluan.” Dengan tidak sopan Gibran menarik lengan Zihan agar segera meninggalkan area rumah sakit.
Irfan menautkan kedua alisnya bingung dengan sikap tak bersahabat kedua teman SMP-nya dulu. “Oh. oke hati-hati.” Hanya itu yang bisa Irfan katakan.
Langkah kaki Gibran dan Zihan kembali terhenti saat ada seseorang yang kembali menyapa mereka.
“Congrats ya, Han atas kehamilan loe,” selorohnya yang tadi melihat Zihan dan Gibran keluar dari ruangan dokter Ilda. Tangis Zihan kembali tumpah ruah saat
mendengar ucapan Siska yang terdengar seperti mengejeknya.
“Kok loe malah nangis sih?” tanya Siska merasa heran dengan respons yang Zihan
__ADS_1
berikan. “Loe terlalu bahagia yah makanya sampe nangis gitu,,” ucapnya lagi yang semakin membuat rasa sakit yang Zihan rasakan semakin dalam.
“Udah berapa bulan, Han?” Siska terus saja melontarkan sejumlah pertanyaan yang
semakin memporak-porandakan hati dan perasaan Zihan.
Zihan sudah tak tahan lagi, dia langsung berlari meninggalkan Gibran yang sedang
menatap tajam Siska sedangkan Siska, dia mematung penuh kebingungan dengan
tanda tanya besar di dalam otaknya.
“Jaga ucapan loe!” Gibran langsung berlari mengejar langkah sang istri. “Hah?
Salah gue apa?” Siska bergumam tak mengerti dengan perkataan Gibran yang begitu syarat akan ketajaman dan ketegasan*.
“Maaf.” Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Zihan. Seperti ada luka sayatan yang
tak terlihat tapi bisa dirasakan dengan begitu hebatnya. “Kamu gak salah apa-apa.”
“Aku gagal, Mas. Aku gagal ....” Zihan berkata dengan sangat histeris.
“Jangan ngomong kaya gitu, Sayang.” Satu jari tangan Gibran terulur menutup mulut Zihan yang selalu saja merancau tak jelas.
“Jangan seperti ini terus, Han,” pinta Gibran yang tak tega melihat istrinya yang setiap hari harus menanggung kesakitan.
Ingatan itu selalu berputar-putar mengelilingi pikirannya dan memberikan luka yang tak terkira. Omongan tetangga serta teman-teman mertuanya terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Pertanyaan serta pernyataan pedas dari mulut orang-orang di sekitar semakin membuat Zihan terpuruk dan hancur sehancur-hancurnya.
Terkadang orang hanya mampu berkata tanpa pernah mau berkaca. Selalu berkomentar tanpa peduli sekitar. Membicarakan hal yang tak diketahui namun seolah dia paling mengetahui. Memang benar lisan adalah ujian terbesar bagi seluruh manusia. Kasarnya najis anjing saja bisa dibersihkan dengan air dan tanah namun lain halnya dengan lisan manusia yang tak akan pernah bisa dibersihkan walau dengan kata maaf sekalipun.
♡♡♡
“Mas, berangkat kerja aja aku baik-baik aja kok.” Zihan mencoba meyakinkan suaminya untuk pergi berangkat kerja.
“Aku gak akan tega ninggalin kamu sendirian di rumah dalam keadaan seperti ini,” tegasnya.
“Pekerjaan kamu penting, banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang kamu pimpinn. Jangan sampai kamu lebih mementingkan aku dibanding pekerjaan kamu,” bujuk Zihan dengan seulas senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
“Kamu lebih penting dari pekerjaan.” Gibran keukeuh tak mau meninggalkan Zihan dalam keadaan yang jauh dari kata baik.
“Tapi, Mas ....”
“Kamu adalah tanggung jawab, Mas dan sudah seharusnya Mas memprioritaskan kamu dibandingkan dengan pekerjaan Mas. Harta bisa dicari tapi istri seperti kamu takkan pernah bisa aku temui lagi.” Gibran menyela ucapan istrinya.
“Pagi-pagi tak menerima gombalan receh,” ucap Zihan sebisa mungkin terlihat riang. Gibran menggenggam kedua tangan istrinya yang terasa hangat dalam genggaman.
“Kamu adalah prioritas dalam hidup, Mas. Wanita yang telah menyempurnakan separuh agama, Mas. Jadi, sudah seharusnya, Mas memperlakukan kamu dengan baik.”
__ADS_1
Zihan terenyuh mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya. “Aku gak sempurna bahkan untuk melengkapimu aja aku gak bisa.”
“Kesempurnaan hanya milik Allah. Allah menciptakan aku dan kamu untuk saling menyempurnakan bukan mencari kesempurnaan.” Gibran mengecup kening Zihan lembut.