Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 22 | Kekurangan


__ADS_3

“Jadikanlah kekurangan pasangan sebagai pondasi. Bahwa memang tak ada yang sempurna selain Allah Dzat Yang Maha Tinggi.”


♡♡♡


Setelah puas menyambangi kediaman orang tua dan sang mertua akhirnya mereka bisa juga merebahkan tubuh lelahnya di atas pembaringan. “Mandi dulu sebelum tidur,”


peringat Gibran saat menangkap mata sang istri yang akan menutup rapat.


Zihan tak menanggapi dia malah kembali memejamkan matanya agar segera menyelami alam mimpi. “Zihan Fahira Adinda Pratama!” ucapnya memanggil nama lengkap sang istri, tanda siaga satu penuh peringatan.


“Kan tadi udah, Mas,” sahut Zihan masih dengan mata terpejam. “Kapan?”


tanyanya. Perasaan tadi di rumah orang tua mereka tidak mandi pikir Gibran.


“Tadi pagi,” jawab Zihan lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


“Jorok banget sih udah gih sana mandi dulu,” titahnya yang sudah paham betul tabiat sang istri yang malas mandi jika dalam keadaan capek seperti sekarang.


Gibran membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya dan mendapati sang istri yang sudah terlelap. “Kebiasaan,” gumamnya. Dalam kamus Gibran kebersihan adalah hal yang utama termasuk mandi dua kali sehari, tapi beda halnya dengan Zihan


yang malah berbanding terbalik dengan dia yang kelewat rajin dalam hal mandi.


Zihan justru malas dan merasa cukup bersih meskipun hanya mandi satu kali


sehari.


♡♡♡


“Bengong mulu,” peringat Gibran yang entah sudah berapa kali menangkap istrinya tengah melamun.


“Eh... i-iyah, Mas mau aku ambilin lagi nasinya?” ucapnya gelagapan. Kini mereka tengah berada di meja makan dan melakukan ritual santap pagi.


“Kamu kenapa sih?” tanya Gibran heran saat melihat gelagat aneh dari sang istri yang akhir-akhir ini banyak bengong dan melamun. Zihan menggeleng pelan, dia rasa


tak perlu bercerita pada suaminya.


“Apa kamu bosen? Mau kerja lagi kaya dulu?” tanyanya. Sontak Zihan menggeleng cepat.


“Enggak, Mas.” Perihal pekerjaan dia sudah mulai ikhlas dan menerimanya. Bukan


karena itu pula dia banyak melamun. “Lalu?”


“Mas, udah jam setengah tujuh katanya kamu mau meeting jam tujuh,” ucap Zihan mengalihkan pembicaraan.


“Oh iya hampir aja, Mas lupa untung kamu


ingetin,” kata Gibran menepuk jidatnya pelan dan langsung menghabiskan makanan


yang ada di piringnya. Zihan bernapas lega saat sang suami tak lagi bertanya lebih lanjut perihal apa yang kini tengah dia rasakan. Dia pun ikut melanjutkan


santap paginya.


“Mas, berangkat dulu kamu yang betah di rumah, kalau ada apa-apa langsung kabari Mas. Assalamualaikum,” pamitnya.

__ADS_1


“Iya, Mas wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," sahut Zihan menyalami punggung tangan suaminya dan Gibran mengecup kening Zihan, lalu bergegas ke kantornya.


♡♡♡


Bosan, sepi, kini Zihan rasakan tak ada kerjaan dan kegiatan sehari-harinya hanya menonton televisi dan berdiam diri di rumah seorang diri saat sang suami pergi mencari nafkah. Selalu saja seperti itu setelah dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Dia mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi sahabatnya,


Zahra agar bisa menemani kesendiriannya. Namun, belum sempat dia mendial nomornya, nama Zahra sudah tertera apik di layar pintar tersebut.


“Ra, buruan loe ke rumah. Gue kesepian tiap hari kerjaan gue diem kagak jelas


sendirian,” cerocosnya sampai lupa tak mengucapkan salam terlebih dahulu.


“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” sindir Zahra lalu terkikik mendengar tarikan napas panjang di seberang sana.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,” salamnya setelah mendapatkan sindiran dari sang sahabat.


“Nah gitu dong, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, Nyonya Gibran Ahmad Luqman Prasetya,” kekehnya kembali menjawab salam.


“Nyonya... Nyonya... Gue bukan majikan loe,”


ketusnya sebal.


“Idih siapa juga yang mau jadi pembokat loe.”


“Buruan deh loe ke sini,” pintanya dengan nada perintah.


“Sorry gue sibuk,” bohong Zahra padahal kini dia sedang berdiam diri di sekolah tempatnya mengajar karena sudah tak ada jadwal mengajar lagi. Maka dari itu dia menghubungi Zihan dan berniat untuk menyambangi kediamannya.


“Gak asik loe. Sok sibuk banget!” cibir Zihan kecewa. Lagi-lagi dia hanya ditemani televisi yang setiap hari tanpa henti bicara sana sini.


“Dasar loe, yah kebiasaan banget gue belum kelar ngomong maen matiin aja,” gerutunya.


♡♡♡


“Lama banget sih loe,” semprotnya saat Zahra baru saja duduk manis di sebelahnya.


“Loe sensi amat sih dari tadi udah kaya macan betina yang diganggu tidur


nyenyaknya.”


“Udah deh, Ra jangan buat tensi gue naik. Mana pesenan gue,” tagihnya. Tadi dia kembali menghubungi sahabatnya lagi untuk meminta Zahra membawakan sekotak pizza karena cacing-cacing di perutnya yang sudah meronta-ronta minta diperhatikan.


“Pelan-pelan kali, Han loe makan udah kaya orang kesetanan,” peringat Zahra yang melihat sahabatnya makan pizza dengan begitu tak sabaran. Comot sana-sini padahal dalam mulut masih penuh.


“Ambilin gue minum, Ra,” titahnya dengan mulut yang dipenuhi pizza.


“Ogah!” tolak Zahra dan malah mengambil sepotong pizza untuk dia masukan kedalam mulut, baru saja mulutnya menganga lebar pizza yang dipegangnya sudah diambil alih oleh Zihan.


“Ambilin gue minum atau pizza-nya gue makan,” ancamnya karena memang hanya tersisa sepotong pizza lagi, itu pun yang ada di tangannya. Padahal Zahra belum sempat


memakannya.


Dengan langkah malas dan terpaksa dia mengambilkan minum untuk sahabatnya yang hari ini berhasil menguji tingkat kesabarannya. Zihan tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil mengerjai sahabatnya. Zahra kembali lagi dengan segelas air putih di tangannya, “Nih.”

__ADS_1


“Gue mau minuman berwarna bukan air putih yang tak berselera,” tolaknya yang membuat tingkat kekesalan dan kedongkolan Zahra bertambah.


“Kalau loe bukan sahabat gue udah gue kubur loe hidup-hidup sekarang juga,” umpat Zahra lalu kembali ke dapur lagi.


Zihan tersenyum puas lagi, akhirnya


dia mendapatkan hiburan gratis dari sahabatnya yang sangat perhatian. 'Mau


aja gue suruh-suruh Ra,' batinnya.


“Awas kalau loe sampai nolak lagi,” kesal Zahra meletakan segelas sirup rasa melon di


atas meja dan kemudian duduk lagi di samping sang sahabat. “Terima kasih Zahra,” ucapnya setelah dia meminum habis sirup yang sahabatnya buatkan.


“Hmm, mana pizza gue?” tagih Zahra meminta pizza yang tadi menjadi alat sandraan perempuan dengan balutan ghamis khas rumahan yang tak lain adalah sahabatnya. Zihan cengengesan tak jelas dan bisa dipastikan bahwa pizza-nya telah habis raif ke dalam kerongkongan.


“Zihan! Loe gila yah udah nyuruh-nyuruh gue terus sekarang pizza gue loe embat juga,” geram Zahra.


“Sorry, Ra pizza yang loe bawa sungguh menggoda selera,” katanya dengan senyuman tanpa dosa.


“Enak banget loe yah ngomong sorra-sorri 


mana kenyang gue denger kata sorry dari


loe!”


“Jangan ngambek dong, Ra gue ganti deh pizza loe,” bujuk Zihan tak enak hati.


“Au ahk!” Rasa kesalnya masih di ubun-ubun.


“Maaf yah, Ra.” ucapnya secara mengguncangkan lengan Zahra dengan memasang wajah memelasnya.


“Hmm,” gumam Zahra tak tega melihat wajah memelas Zihan.


“Tapi loe ganti pizza gue,” putusnya yang diangguki Zihan.


“Tapi nanti,” sahutnya dan itu berhasil membuat Zahra kembali naik pitam. “Loe yah!”


“Baru juga sebentar di rumah loe tapi loe udah bikin gue naik darah bisa-bisa tensi


gue naik kalau kelamaan di sini,” lanjutnya.


“Makanya loe jangan marah-marah


dong nanti cepet tua,” selanya. “Bodo! Gue gak peduli!”


“Dih loe kok jadi marah-marah sih sama gue,” ungkap Zihan. “Abisnya loe sih bikin


gue kesel tingkat dewa,” keluh perempuan yang berprofesi sebagai guru itu.


“Loe makan sekotak pizza yang gue bawa sendirian terus nyuruh-nyuruh gue udah kaya pembokat loe. Mana uang pizza-nya belum loe ganti lagi. Rugi bandar nih gue,”


lanjutnya.

__ADS_1


“Kali-kali, Ra gue, ‘kan gak pernah nyusahin loe,” sela Zihan. “Kali-kali apaan udah sering kali, Zihan Fahira Adinda Pratama Nyonya Gibran Ahmad Luqman Prasetya,” ketusnya tak terima dengan pernyataan Zihan.


Perang adu mulut di antara mereka tak akan ada habisnya bahkan tak bisa dijabarkan. Entah siapa yang akan memenangkannya yang jelas mereka sama-sama keukeuh mempertahankan argumen masing-masing. Tak peduli sampai mulut keduanya berbusa sekalipun, mereka akan tetap bertahan dengan asumsinya.


__ADS_2