
“Hidup adalah pilihan, sekalipun itu sangat menyulitkan. Bertahan? atau Melepaskan?”
♡♡♡
Sudah hampir larut malam tapi Gibran masih belum menampakkan batang hidungnya juga. Raut wajah cemas kini terpancar jelas di wajah Zihan. Tak seperti biasanya sang
suami pulang larut malam seperti ini. Sudah puluhan kali telepon serta pesan yang Zihan kirimkan namun tetap saja dia tak menerima respons ataupun balasan.
Tak berselang lama suara pintu dibuka dari luar dengan sigap Zihan bangkit dari
duduknya untuk menyambut kepulangan sang suami. “Mas kok baru pulang jam
segini?” tanyanya.
“Apakah hanya kamu yang boleh pulang larut malam?” sindirnya yang berhasil menohok perasaan Zihan.
Deg! Dunianya serasa runtuh seketika saat kata-kata pedas itu keluar dari mulut seseorang yang sangat dicintainya. “Bu ... bukan ... begitu... Mas,” sanggah Zihan menahan deru napas dan tangis yang sebentar lagi akan meledak.
“Lalu?” singkatnya. “Tidak seperti
biasanya, Mas pulang larut malam begini. Apa, Mas banyak kerjaan di kantor?”
tanyanya mencoba untuk mencairkan suasana yang mencekam di antara mereka.
“Sepertinya kamu harus terbiasa dengan aku yang akan terus-menerus pulang larut malam,” pungkasnya yang langsung pergi berlalu meninggalkan sang istri yang kini masih mematung di tempat tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh
suaminya. Aku harus segera mengambil pilihan dan keputusan. Aku lelah jika
harus diperlakukan seperti ini. Tekadnya.
♡♡♡
Entah sudah berapa hari mereka saling mendiamkan diri. Tak ada niatan sedikit pun di antara keduanya untuk saling berkomunikasi dan membuka diri agar semua masalah bisa diselesaikan. Ego keduanya yang terlampau tinggi saling merasa benar satu sama lain menjadi hal utama pemicu masalah yang berlarut-larut di antara mereka. Keduanya saling memendam rasa tapi terhalang ego semata. Gengsi pun ikut andil di dalam permasalahan mereka.
“Sampai kapan kita harus seperti ini?” tanya Zihan merasa sudah tak nyaman menjalani
rumah tangga seperti ini.
“Aku yang seharusnya nanya gitu sama kamu!” tuturnya masih dengan ego yang menjulang tinggi, sangat amat tinggi.
“Aku?” cicit Zihan tak paham dengan pola pikir sang suami yang sama-sama memiliki tingkat keegoisan tinggi dengan dirinya.
“Semua keputusan ada di tangan kamu,” pungkasnya. “Kamu egois, Mas!”
“Aku? Egois? Sepertinya kamu pun sama sepertiku. Jika kamu bisa berlaku demikian
__ADS_1
kenapa tidak dengan aku,” tuturnya seperti tak mau kalah. Gibran langsung pergi
begitu saja meninggalkan Zihan entah untuk yang kesekian kalinya. Selalu saja
seperti itu saling meninggalkan pada saat perdebatan tengah berlangsung.
♡♡♡
Sepertinya kamu harus terbiasa dengan aku yang akan terus-menerus pulang larut malam. Kata-kata itu seperti kaset rusak yang terus saja berputar-putar di kepala serta pikirannya, seperti tak mengenal kata lelah ataupun istirahat walau hanya
sedetik saja. Masalah di antara mereka bukannya membaik ini malah semakin
rumit, tak ada yang mau mengalah. Keduanya mempertahankan ego dan gengsi.
Zihan kira menjalani rumah tangga dengan sahabat yang sudah kenal bertahun-tahun bisa berjalan dengan baik tanpa mengenal kata masalah ataupun perdebatan. Namun,
nyatanya kini tak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh akal serta logikanya.
“Katanya loe mau cerita sama gue tapi ini kok malah bengong sih?” gerutu Zahra yang
sedari tadi kesal karena Zihan tak kunjung menyampaikan maksudnya mengajak dia
bertemu. Keduanya kini sedang berada di salah satu kafe yang ada di daerah
Zihan menghela napas panjang dan membuangnya kasar. “Gue capek, Ra,” lirihnya. Zahra terlihat menautkan kedua alisnya bingung tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya.
Menangkap raut kebingungan di wajah sang sahabat dia pun akhirnya berucap, “Gue bingung, Mas Gibran nyuruh gue buat resign
kerja. Gue gak mau dan gak akan pernah mau.”
Mendengar curhatan Zihan malah membuat Zahra terkikik geli pada saat mendengar Zihan memanggil Gibran dengan sebutan
Mas rasanya aneh dan geli.
“Sejak kapan loe manggil Gibran ‘Mas’? Gak sekalian aja, Abang? Akang? Yayank? Mbeb?” ucapnya diselingi tawa renyah yang membuat rona merah di wajah Zihan. Malu,
ya itulah yang saat ini dirasakan Zihan.
Tawa Zahra kembali pecah tatkala melihat semburat merah merona di kedua pipi
sahabatnya. “Awas, Han bentar lagi muka loe meledak tuh gara-gara kepanasan,” ledeknya.
Zihan spontan menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas karena ulah jail sang sahabat.
“Udah dong, Ra jangan ketawa mulu,” kesalnya.
__ADS_1
“Iya... iya... sorry deh, Han abisnya loe lucu sih masa gitu aja sampe blushing,” katanya setelah tawanya mulai reda.
“Gue jadi penasaran, apa yah panggilan Gibran buat loe. Yank? Bebs? Honey? Bunny? Sweety?” gumamnya yang mendapatkan cubitan maut dari sang sahabat.
'Gue gak se-alay itu kali, Zahra.' Zihan membatin sebal.
“Bisa gak sih loe serius! Bentar aja kalau gue ajak curhat,” cetusnya.
“Santai aja kali, Han kaya di pantai, selow kaya di pulau,” canda Zahra ingin membuat Zihan sedikit terhibur dan melupakan sejenak masalah yang melanda sahabatnya.
“Gue sebagai sahabat loe cuman bisa ngedukung apa pun keputusan loe. Tapi gue harap keputusan loe itu adalah yang terbaik buat rumah tangga loe. Jangan sampai loe
salah mengambil langkah dan akan berimbas buruk pada nasib rumah tangga loe
sama Gibran,” tuturnya serius menggenggam tangan Zihan erat menyalurkan
kekuatan untuk Zihan.
♡♡♡
Tepat ba'da ashar Zihan kembali ke rumah, membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan
setelahnya dia langsung berkutat di dapur untuk memasak makan malam untuknya dan sang suami. Suara kumandang azan Maghrib menghentikan kegiatan memasak Zihan, dia langsung pergi bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan salat tiga rakaatnya.
Dia kembali ke dapur ba'da isya untuk menata hidangan makan malam di meja makan dan menunggu kedatangan sang suami. Namun, sampai pukul sembilan malam Gibran belum juga menampakkan batang hidungnya.
Kata-kata sang suami kembali memenuhi otaknya, ternyata benar apa yang telah dikatakan oleh suaminya kini dia kembali pulang larut malam. Makanan yang sudah terhidang di meja makan pun sudah dingin dan, tapi dia tak berniat untuk memakannya walaupun kini perutnya sudah menjerit-jerit minta diisi.
Setelah puluhan telepon dan pesan yang dilayangkan kepada suaminya tak mendapatkan respons sama sekali dia memutuskan untuk menunggu Gibran di ruang tamu sambil menonton televisi. Beberapa kali mulutnya menguap menahan kantuk yang kini dirasakan, sebisa mungkin dia harus terjaga sampai sang suami pulang bekerja. Tapi sepertinya kantuk sudah menguasai hingga dia kini terlelap di sofa panjang yang ada di ruang tamu.
♡♡♡
Sekitar pukul dua belas malam Gibran menginjakkan kakinya di rumah dengan keadaan kacau. Lengan kemeja yang sudah digulung sampai sikut serta wajah ditekuk.
Membuka pintu secara perlahan berharap sang istri tak menguncinya dan ternyata
benar pintunya tak dikunci. Melihat sang istri terlelap di atas sofa dengan posisi meringkuk ada sedikit rasa penyesalan dan bersalah bersarang di hatinya. Namun, segera dia tepis karena ego yang tak sejalan dengan hatinya. Berniat untuk membangunkan Zihan tapi urung saat dia melihat sebuah map yang tergeletak di atas meja, dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya dia membuka map dan membaca selembar kertas yang berada di dalamnya.
Rasa ragu dan takut kini menyeruak hatinya. Membuka sesuatu tanpa izin
sang pemilik adalah hal yang sangat dia hindari tapi karena rasa penasarannya
kini, dia malah berniat membuka dan bahkan membacanya. Tiba-tiba saja rasa takut menyeruak relung hatinya entah apa yang dia takutkan tapi yang jelas kini rasa takutlah mendominasinya. Perlahan namun pasti dia mulai membuka map itu dan betapa kaget dan terkejutnya saat dia membaca isi kertas yang berada di dalam itu.
Benarkah? batinnya bertanya-tanya tak percaya.
__ADS_1