
“Sabar adalah suatu keharusan, termasuk menghadapi istri yang banyak permintaan.”
♡♡♡
“Makan yang banyak jangan lupa vitamin sama susunya diminum,” ucap Gibran mengingatkan istrinya.
“Iya,” singkatnya. setiap hari dia dicekoki berbagai macam vitamin dan susu ibu hamil yang membuatnya mual bukan main.
“Inget! Diminum bukan malah dibuang,” ujar Gibran yang sudah beberapa kali mendapati Zihan tengah membuang vitamin-vitaminnya kedalam kloset.
“Iya,” sahutnya semakin malas yang setiap hari menerima petuah dari sang suami yang tak pernah dia turuti. Vitamin? Akan berakhir tragis di kloset. Susu? Akan berakhir manis di wastafel.
“Nanti siang, Mas jemput kamu buat periksa kandungan,” peringat Gibran pada Zihan yang seringkali lupa dengan jadwal pemeriksaan kandungannya.
“Iya,” balasnya.
“Ya udah kalau gitu, Mas berangkat kerja dulu.” Kata Gibran dengan helaan napas ringan.
“Iya,” jawabnya.
Gibran mendengus sebal dengan jawaban singkat yang diberikan istrinya. Semenjak
kehamilan Zihan berusia dua belas minggu, dia seperti menjadi sosok yang berbeda di matanya. Dia merindukan sosok istrinya yang cerewet dan bawel yang setiap hari akan disuguhi suara melengking khasnya. Sungguh dia sangat merindukan sosok istrinya. Tapi dia memahami bahwa perubahan sikap dan karakter Zihan dipengaruhi oleh hormon kehamilannya yang terkadang suka naik turun.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,” salam Gibran sebelum pergi.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarokatuh,” sahutnya lalu mengambil punggung tangan sang suami untuk disalami
dan Gibran mengecup kening istrinya.
♡♡♡
Kini Zihan dan Gibran tengah berada di dalam mobil menuju rumah sakit untuk
melakukan pemeriksaan seperti yang tadi pagi dikatakan gibran. Gibran yang
menatap lurus jalanan dan Zihan yang fokus menatap jendela samping mobil.
Saling bungkam dengan pikiran masing-masing yang melayang entah kemana.
Gibran turun dari mobil terlebih dahulu dan langsung membukakan pintu untuk Zihan. Tak ada obrolan ringan yang mengiringi langkah keduanya. “Bagaimana, Dok?” tanya Gibran setelah proses pemeriksaan usai dilakukan.
Dokter itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Gibran. “Janin yang
berada di dalam kandungan Ibu Zihan kekurangan asupan vitamin dan makanan. Oleh karena itu menyebabkan tumbuh kembang janinnya sedikit terganggu,” jelasnya.
Ingatan satu bulan lalu kembali membayangi Gibran saat dia melihat kondisi istrinya yang terbaring lemah di ruang pesakitan. Ya, kehamilan Zihan yang pertama ini sangatlah lemah dan perlu ekstra penjagaan.
“Saya sarankan Ibu Zihan bisa lebih menjaga asupan makanan, vitamin, serta susu ibu hamilnya agar janin yang ada di rahim Ibu baik-baik saja,” lanjutnya. Tanpa
bosan Ilda—dokter yang menangani Zihan selalu mengingatkan hal yang serupa pada
saat melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Zihan hanya mengangguk lemah, ada sedikit rasa menyesal karena selama ini dia tidak makan secara teratur dan selalu membuang vitamin serta susu ibu hamil yang
Gibran belikan untuknya. Namun, apa boleh buat ia selalu merasa mual jika harus
berurusan dengan kedua benda itu. “Iya, Dok. Terima kasih kalau begitu kami
permisi,” pamit Gibran.
♡♡♡
Sesampainya di rumah Gibran tidak berniat untuk kembali lagi ke kantor padahal pekerjaannya saat ini tengah menumpuk. Dia begitu mengkhawatirkan kesehatan istri dan calon buah hatinya. “Sekarang, Mas gak mau tau kamu harus makan dan ini vitamin sama susunya juga di minum,” tegasnya seraya meletakan nampan berisi makanan, susu dan vitamin di atas nakas samping tempat tidur mereka.
“Iya,” sahut Zihan malas-malasan. Rasa mual tiba-tiba saja menyergapnya. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya yang hanya cairan bening saja.
“Mas suapin yah,” bujuknya setelah Zihan kembali dari kamar mandi. Zihan menggeleng keras.
“Enggak!” Gibran memutar bola mata mendengar penolakan yang istrinya
berikan. Selalu saja seperti itu. “Sedikit aja.”
“Enggak mau, Mas!” Gibran mengelus dada sabar. Sungguh ujiannya saat ini adalah
kesabaran untuk menghadapi sikap istrinya. “Terus mau kamu apa?”
Zihan menggeleng lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. “Kamu jangan terus kaya gini dong, Han bukan cuma kamu yang terganggu kesehatannya tapi juga janin yang ada di dalam kandungan kamu,” bujuknya begitu frustrasi. “Tapi aku mual, Mas.”
“Iya, Mas juga tau, tapi paksain yah,” ucapnya lembut. Zihan bangun dari posisi
tidurnya lalu duduk di sandaran kepala ranjang. “Iya aku coba.” Gibran tersenyum bahagia, lalu mengambil nampan yang tadi dia letakkan di atas nakas.
Gibran mulai menyodorkan suap demi suap kepada istrinya. Dan Zihan menerimanya dengan terpaksa dan rasa mual yang terus mendera. “Udah,” ucapnya padahal hanya tiga suapan kecil yang berhasil masuk ke dalam perutnya. “Sekarang minum vitaminnya yah,” Gibran kembali menyodorkan beberapa vitamin dan segelas air putih untuk Zihan minum. Dengan terpaksa Zihan mengambil vitamin itu dan meminumnya. Ini demi buah hatinya.
tidak bisa!. Ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan. “Ya udah gak papa, sekarang kamu istirahat,” ucap Gibran tak mau terus menerus memaksa
istrinya.
♡♡♡
“Mas, bangun!” ujarnya mengguncangkan tubuh Gibran yang tengah terlelap tidur. Hanya terdengar lenguhan kasar yang Gibran berikan, membuat Zihan semakin gencar untuk menggoncang tubuh suaminya agar terbangun. Gibran mulai membuka mata lalu menguceknya kasar, “Apa?”
“Laper,” ucapnya dengan wajah memelas. Gibran mendengus. “Tadi pagi ditawarin ini dan itu gak mau lah sekarang malah minta yang aneh-aneh!”
“Ok, jadi Mas gak mau nih yaudah!” Zihan mendengus sebal dengan ucapan suaminya. “Tadi aja maksa-maksa sekarang giliran aku yang minta kamu yang gak mau!”
“Yaudah iya maaf, mau apa sayang?” tanyanya lembut Gibran melirik ke arah jam dinding yang terpasang di kamarnya.
'Jam segini mau makan apa coba.' Gibran
menghela napas berat saat melihat jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam.
“Apa aja yang penting Mas yang masak,” jawabnya dengan deretan gigi putih
bersihnya.
Gibran langsung menggeleng tak mau. “Aku gak bisa masak!” Zihan lagi-lagi mendengus
__ADS_1
sebal karena Gibran tak mau membuatkannya makanan. “Kalau kamu makan masakan aku bisa-bisa kamu keracunan Sayang,” tutur Gibran lembut. Mana bisa seorang Gibran Ahmad Luqman Prasetya berkutat di dapur. Hadegh bisa
hancur lebur perkakas dapur.
“Tapi aku maunya makan masakan kamu Mas,” ucapnya ngotot tak menghiraukan perkataan Gibran.
Gibran berpikir keras bagaimana caranya membujuk sang istri yang tengah merajuk. “Mau yah Mas,” ucapnya kembali membujuk Gibran dengan wajah memelas yang sumpah demi apapun membuat Gibran luluh begitu saja. “Ya udah kalau kamu keracunan jangan salahkan Mas,” pungkasnya langsung pergi ke dapur.
Zihan tersenyum penuh kemenangan saat menikah punggung sang suami hilang ditelan
pintu kamar. Hanya sekitar dua puluh menit Gibran berkutat di dapur dan kini dia
sudah kembali ke kamar dengan nampan yang berisi makanan hasil karya tangan
ajaibnya. Namun, Zihan menolak saat Gibran memberikan makanannya. “Kenapa?”
“Mas mah gak kreatif anak SD juga bisa kalau cuman masak mie instan doang,” tolaknya. “Ini bukan mie instan...,” sela Gibran. “Terus apa?” potongnya menyela omongan Gibran yang belum menyelesaikan perkataannya.
“Mie ribet,” jawab Gibran mendengus kesal, bayangkan saja dia sudah berusaha ekstra
dengan segala usaha dan tenaga namun dengan mudahnya ditolak begitu saja. “Pembohongan publik tuh katanya mie instan tapi kok perlu dimasak dulu. Itu mah namanya mie ribet bukan mie instan!” lanjutnya.
Dulu saja Gibran merasa kewalahan saat memasak mie instan dan sekarang ia kembali lagi berurusan dengan mie menyebalkan itu. Otaknya kembali mengingat kejadian pas awal mereka berumah tangga dan Zihan yang masih menyandang status sebagai wanita karier. “Pokoknya gak mau tau harus ganti sekarang juga!” keukeuhnya. “Yaudah
kalau gitu Delivery aja.” Gibran kembali membujuk istri cantiknya. “Enggak mau!”
Delivery apaan jam segini? batinnya.
“Yaudah kalau kamu gak mau biar Mas aja yang makan mie ribetnya,” ucap Gibran
lalu memakan mie buatannya. Yang sudah semakin melar dan besar seperti cacing,
karena terlalu lama dimasak dan dibiarkan. “Katanya buat aku kok malah dimakan
sih.” Zihan langsung mengambil alih mangkuk mie yang ada ditangan Gibran.
“Katanya gak mau. Tapi kok dimakan juga yah,” goda Gibran terkikik melihat Zihan memakan mienya dengan lahap. Dasar bumil! Zihan tak menggubris perkataan
suaminya, dia malah terlena dengan mie instan yang dibuatkan oleh suaminya.
Mood makannya tergugah saat melihat sang suami makan dengan begitu lahapnya.
“Ibu hamil memang aneh!” Gumam Gibran. Mendengar itu Zihan langsung menatap iblis
kearah Gibran yang sudah berani-berani mengatai dirinya aneh. “Becanda Sayang,”
tutur Gibran dengan cengiran tanpa dosanya.
Zihan langsung memberikan mangkuk mie yang tinggal tersisa setengah lagi kearah
Gibran dan langsung tidur membelakangi Gibran. “Jangan marah dong, makan lagi
yah,” bujuk Gibran berusaha membalikkan tubuh Zihan setelah dia meletakkan
mangkuk mienya diatas nakas.
__ADS_1
“Gak mau!” Zihan menepis kedua lengan Gibran yang memegang bahunya.
'Ternyata berurusan dengan wanita hamil tidak semudah yang dibayangkan.' Gibran membatin miris.