
“Tetaplah bersamaku, menemani hari-hariku, walau akan banyak luka yang kau tuai jika terus bersamaku.”
♡♡♡
“Tebak siapa aku,” ucap Gibran yang menutup mata istrinya dari belakang.
“Lepasin, Mas gak lucu ah.” Zihan melepaskan tangan Gibran dari matanya.
“Kok tau sih.” Gibran berujar dengan nada kecewa lalu duduk di samping Zihan yang tengah asik menonton televisi.
Zihan terkekeh. “Tentu, aku sangat hapal dengan suara suamiku,” katanya lalu mencubit hidung bangir milik sang suami. Gibran membawa tubuh istrinya ke dalam dekapan. “Aku kangen,” bisik Gibran tepat di samping telinga sang istri.
Zihan membalas pelukan suaminya tak kalah erat. “Aku kira kamu marah sama aku.”
Gibran langsung melepaskan pelukannya. “Marah? Untuk apa?” Zihan menunduk dalam.
“Maafin aku karena udah bentak kamu waktu di rumah sakit.”
“Mas, enggak akan pernah bisa marah sama kamu,” ucap Gibran yang tak pernah marah
ataupun tersinggung dengan kejadian beberapa hari lalu.
“Terus kenapa, Mas ngilang selama empat hari? Sampai tega biarin aku kesepian di rumah sakit.”
“Mas ada kerjaan yang gak bisa Mas tinggalin, Sayang,” tutur gibran berbohong
menutupi semua kejadian yang menimpanya beberapa hari ini.
Zihan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Rupanya harta lebih berharga dari aku yang sudah menyandang status, Nyonya Gibran Ahmad Luqman Prasetya.”
Gibran menggeleng lantas menangkup wajah istrinya. “Kamu lebih berharga dari harta bahkan seisi dunia,” ucapnya.
“Gombal!” Zihan menjauhkan tangan suaminya. Gibran menggenggam erat tangan istrinya. “Jangan tinggalin aku.”
Zihan mengangguk. 'Kamu aneh, Mas. Buat apa aku ninggalin kamu,' batinnya.
Gibran memeluk istrinya seraya membatin di dalam dekapan sang istri. 'Maafin aku, Han.'
“Apa kamu tega memisahkan dua orang yang saling mencintai? Cukup jangan lagi kamu campuri urusan rumah tangga mereka,” ujar Pratama yang sedari tadi menyaksikan romantisme putri dan menantunya.
“Tapi mereka udah menyakiti Zihan!” Windi berucap dengan begitu keukeuh.
“Itu hanya bumbu penyedap yang ada dalam hubungan rumah tangga mereka. Ujian cinta mereka, apakah mereka bisa melewati semuanya atau malah mundur begitu saja,” terang Pratama.
“Dan aku gak mau kamu menjadi alasan perpisahan mereka. Biarkan mereka melewati semua masalahnya bersama-sama,” lanjutnya seraya mengelus pucuk kepala Windi.
Windi hanya mengangguk lantas berhambur memeluk suaminya. “Maaf.” Dia telah salah
mengambil langkah dan terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangganya.
♡♡♡
“Apa gak sebaiknya kalian menginap dulu di sini,” ujar Pratama memberikan saran
kepada putri dan menantunya agar tidak pulang sekarang.
“Iya, lebih baik kalian tinggal dulu di sini.” Windi ikut menimpali. Zihan melirik ke arah suaminya, seolah bertanya bagaimana?
Gibran mengangguk lantas tersenyum kepada mertuanya. Hubungan mereka sudah membaik dan Gibran telah menjelaskan duduk perkaranya kepada sang mertua tadi siang.
“Ya udah sekarang kalian istirahat udah malam,” titah Pratama karena memang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
__ADS_1
“Permisi, Yah, Bun,” pamit Gibran lalu mengikuti langkah istrinya yang berjalan terlebih dahulu di depannya.
Sesampainya di kamar, Zihan memonitor ke semua penjuru ruangan kamarnya. Masih sama itulah kesan pertama saat memasuki ruangan bercat biru tersebut. “Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Gibran yang mendapati Zihan tengah tersenyum sendirian.
“Enggak papa cuman kangen aja sama kamar ini,” Zihan menjeda kalimatnya, “setahun aku ninggalin kamar ini tapi semuanya masih sama, bahkan sebagian barang-barang aku masih tertata rapi di sini,” sambungnya yang melihat beberapa benda yang masih ada di kamarnya. Memang dia tak membawa semua barang-barangnya ke rumah yang dia dan Gibran tempati.
“Aku suka melihat kamu tertawa,” ucap gibran dengan senyuman tulusnya.
“Benarkah? Kalau begitu aku akan terus tertawa agar bisa membuatmu bahagia,” sahut Zihan menanggapi ucapan suaminya.
“Teruslah seperti ini dan jangan pernah tinggalin aku,” Gibran berucap lirih, ada
sesuatu yang menghimpit dadanya.
“Ngomong apa, Mas?” tanya Zihan yang tak
begitu mendengar ucapan suaminya karena dia tengah melihat-lihat lemari yang
berisi beberapa bajunya. “Enggak, kamu salah denger.” Gibran berkilah.
♡♡♡
Pagi-pagi buta Zihan dan Gibran telah kembali ke rumahnya dan mendapati Yulia yang sudah berdiri di depan pintu rumah mereka. Ada sebersit rasa heran dan bingung dalam benak Zihan karena tak biasanya sang mertua datang sepagi ini, namun dengan cepat pikiran itu dia tepis jauh-jauh. Berbeda halnya dengan Gibran yang kini tengah memandang tak suka dengan kedatangan mamahnya. Dia mencurigai kedatangan Yulia bukanlah tanpa alasan.
“Assalamualaikum Mah,” salam Zihan lalu mengambil punggung tangan Yulia untuk disalami, begitupun dengan Gibran yang seperti ogah-ogahan.
“Wa'alaikumussalam,” jawabnya ketus tak suka melihat wajah sang menantu.
Yulia dan Gibran saling melontarkan pandangan mata penuh ambisi dan emosi, sedangkan Zihan hanya memandang tak mengerti dengan sikap suami dan mertuanya.
“Masuk, Mah maaf jadi nunggu lama,” ucap Zihan basa-basi setelah dia membuka kunci
rumahnya.
Mamah yang dulu, yang selalu bersikap ramah kepadaku.'
“Mamah mau minum apa? Biar Zihan ambilin,” tawar Zihan dengan senyuman tulusnya.
Lagi-lagi Zihan menghela napas kecewa dengan sikap mamah mertuanya yang terkesan sangat dingin. “Tunggu sebentar, Mah Zihan ambilkan dulu minuman.” Zihan lalu mengayunkan kakinya menuju dapur.
“Apa lagi?!” sergah Gibran to the point setelah Zihan hilang dari
pandangannya.
“Mamah ke sini cuman mau ingetin kamu,” jeda beberapa detik, “waktu kamu hanya tiga bulan gak lebih dari itu!”
“Aku masih mengingatnya bahkan sangat mengingatnya, dan aku minta sama Mamah jangan ganggu rumah tangga aku lagi!” tegas Gibran pada Yulia.
“Pergunakan waktu tiga bulan itu dengan sebaik-baiknya,” ujar Yulia lalu pergi meninggalkan Gibran begitu saja. Gibran mengusap wajahnya kasar, ucapan sang ibu sungguh mengganggu pikirannya.
“Aku gak menemukan sosok seorang ibu di dalam diri Mamah yang sekarang.”
“Loh kok, Mas sendirian Mamah mana?” tanya Zihan yang telah duduk disamping Gibran dan meletakan nampan berisi minuman.
Gibran menampilkan senyum tipis ke arah sang istri yang memandangnya penuh tanya. “Udah pulang.” Zihan hanya manggut-manggut saja, walaupun sebenarnya ada banyak tanya dalam benaknya.
“Ada urusan apa Mamah ke sini pagi-pagi? Gak seperti biasanya.” Setelah mengumpulkan banyak keberanian akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Zihan.
“Bukan apa-apa,” alibinya menutupi semua kenyataan yang telah terjadi.
“Jangan bohong, Mamah gak mungkin ke sini tanpa sebuah alasan dan tujuan.” Zihan
__ADS_1
mencurigai gerak-gerik tubuh suaminya yang menyatakan kebohongan.
“Aku mengenal kamu udah lama dan aku udah tau betul saat kamu tengah berbohong dengan lawan bicara kamu,” ucap Zihan yang menuntut kejujuran dari mulut suaminya.
“Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang sempat tertunda,” balas Gibran beranjak meninggalkan Zihan.
Zihan dengan cepat mencekal pergelangan tangan suaminya. “Jelasin semuanya sama aku,” seru Zihan ngotot. Gibran memutar tubuhnya lalu membawa sang istri ke dalam
pelukannya.
“Maafin aku.” Zihan menggeleng dalam pelukan suaminya.
“Bukan maaf yang mau aku dengar dari mulut kamu.”
Gibran melepaskan rengkuhannya. “Duduklah,” pintanya. Keduanya duduk berhadapan dengan Gibran yang setia menggenggam erat kedua tangan Zihan.
Gibran menarik napas lalu membuangnya dengan gusar. “Mamah mengajukan syarat yang gak bisa aku penuhi, tapi aku harus memenuhinya agar aku bisa bertemu dan bersama kamu lagi,” ucapnya menatap manik mata Zihan yang menunjukkan rasa
penasaran dan kebingungan. “Apa?!”
“Mamah minta aku untuk menikahi wanita lain,” ucap Gibran menjeda kalimatnya yang
terasa sangat Kelu di lidah, “kalau kamu belum juga hamil.” Dia menatap sorot
mata keterkejutan istrinya. Mata Zihan membola tak percaya, kenyataan begitu
memukul hati dan perasaannya. Tak terasa air mata itu keluar begitu saja tanpa diaba-aba.
Seluruh tubuhnya lemas dan bergetar hebat, sungguh ini adalah mimpi buruk bagi semua
perempuan, termasuk dirinya. Bahkan rumah tangganya masih seumur jagung untuk
menghadapi masalah pelik seperti ini.
“Ka...ka..kapan?” tanya Zihan tergagap
dengan isak tangis yang belum kunjung berhenti keluar dari bibirnya. “Tiga
bulan lagi,” jawabnya begitu lirih mati-matian ia menahan gemuruh dalam
hatinya. Zihan semakin terisak tiga bulan? Lalu bagaimana dengan nasib rumah tangganya?
Gibran membawa tubuh bergetar Zihan dan memeluknya. Menangis dan menumpahkan semua kesakitan dalam keheningan di pagi hari, hanya suara isak tangis yang saling
bersahutan.
“Sampai kapan pun aku gak akan pernah tega membagi cintaku untuk wanita
lain. Gak akan pernah!” ucap Gibran tepat disamping telinga Zihan.
“Bagaimana dengan Mamah?” tanya Zihan yang masih betah didalam pelukan hangat suaminya.
“Semua itu gak akan terjadi!” Gibran menggeleng sampai kapan pun dia tak akan
pernah mau mengikuti syarat gila yang ibunya berikan.
“Aku percaya ini hanyalah badai kecil yang menerjang rumah tangga kita. Jangan
pernah tinggalin aku.” Zihan hanya mengangguk lemah. Sakit di hatinya kembali
menganga dengan begitu lebarnya. Dan kini dia mengerti dengan perkataan yang
__ADS_1
selalu suaminya lontarkan, ‘Jangan
tinggalin aku.’ Tiga kata yang membuat hati Zihan tak keruan.