
"Rindu bisakah kau mengadu bahwa kini aku tengah ingin bertemu, membagi cerita hidupku betapa kini aku tengah dilanda rasa rindu yang mendera di dalam rongga dada hatiku."
♡♡♡
Ditengah temaram malam bulan dan bintang yang hanya menemani kesendirian seorang gadis yang kini tengah terduduk di balkon kamar menikmati terpaan angin malam yang menyapa kulit halusnya. Menikmati kesendirian dan kesepiannya.
Hatinya bergemuruh mengingat kejadian beberapa hari lalu, meratapi semua kesalahan dan kelalaiannya sebagai seorang istri. Kini, ia merasakannya sendiri, betapa tidak enaknya hidup sendiri dan apa-apa harus dilakukan sendiri tanpa dia sang kekasih hati.
Allah seakan memperlihatkan kekuasaannya membuka mata hatinya. "Maafkan hamba atas segala kelalaian yang telah hamba perbuat" gumamnya.
Ia merasa telah dibayar telak atas kelalaiannya tempo hari pada sang suami, dan kini ia merasakannya sendiri. Rasa rindu bercampur rasa bersalah menjadi perpaduan yang apik dihatinya.
♡♡♡
Pagi-pagi buta Zihan sudah berada di perpustakaan dan berkutat dengan berbagai macam buku ditangannya. Selving buku adalah kegiatan di pagi hari yang tak pernah absen dilakukannya. Menyimpan dan merapihkan buku-buku di rak yang tersedia.
Mendaratkan bokong di kursi meja kerjanya setelah kegiatan selving buku usai dilakukan. Baru saja ia bernafas lega karena pekerjaannya telah usai kini mahasiswa datang berbondong-bondong ke perpustakaan yang pasti akan membuat pekerjaannya bertambah banyak.
"Istirahat dulu, Han biar gue yang handle," ujar Keyra saat melihat wajah pucat pasi Zihan. Kondisi Zihan memang sedang tidak fit, itu semua karena dia yang teralalu sibuk bekerja.
"Gak papa gue bisa kok," ucap Zihan menyakinkan Keyra, walaupun sebenarnya rasa pusing sudah mulai menyerang kepalanya.
Zihan bangkit dari duduknya berniat untuk mengambil skripsi yang diminta oleh salah seorang mahasiswa. Namun, tubuhnya tiba-tiba saja limbung dan kehilangan kesadaran.
"Han bangun..." teriak Keyra mengguncang-guncangkan tubuh Zihan yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Tak lama beberapa mahasiswa mengerubungi Zihan dan Keyra dan langsung membawa Zihan ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.
Dengan cepat Keyra melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat. Beruntung jalanan lenggang dan itu sangat memudahkan laju mobilnya.
"Sus tolong!" teriak Keyra meminta bantuan suster agar segera membawa Zihan untuk ditangani.
Tak lama datang beberapa suster dengan membawa brangkar dan langsung membawa Zihan ke ruang UGD. Keyra mondar-mandir tak jelas didepan ruang UGD.
"Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" todong Keyra setelah pintu ruang UGD terbuka dan menampilkan seorang perempuan berjas putih yang Keyra yakini adalah dokter yang sudah menangani Zihan.
"Pasien hanya mengalami kelelahan serta terlalu banyak pikiran yang membuatnya sedikit mengalami stress dan itu yang membuatnya pingsan," jelas sang dokter.
"Terima kasih, Dok bolehkah saya menemuinya?" ujar Keyra yang dibalas anggukkan serta senyuman ramah sang dokter.
"Loe baik-baik aja, kan Han?" tanya Keyra setelah ia melihat Zihan siuman dan tersadar dari pingsannya.
Zihan hanya memberikan senyuman tipisnya. "Gue dimana?"
"Rumah sakit tadi loe tiba-tiba pingsan dan gue langsung bawa loe kesini," jelas Keyra.
"Gue mau pulang Key," Zihan bangkit dari posisi berbaringnya.
"Loe harus istirahat dulu biar gue hubungi suami loe," cegah Keyra.
__ADS_1
Sontak Zihan langsung menggeleng tak setuju. "Jangan!"
"Kenapa?"
Zihan tak menggubris pertanyaan Keyra ia malah turun dari brankar-nya. 'Jangan sampai Mas Gibran tau kalau aku di rumah sakit,' batinnya takut.
"Ayo malah bengong!" Zihan langsung menarik tangan Keyra. Meskipun pusing melanda serta fisik yang masih lemah tapi ia harus terlihat baik-baik saja.
"Loe masih sakit Han," ucap Keyra khawatir.
Zihan tak menanggapi segala macam ucapan khawatir Keyra.
♡♡♡
"Kemana?" tanyanya heran karena ini bukan arah menuju perpustakaan tempat mereka bekerja.
"Rumah loe," jawab Keyra yang masih fokus menatap jalanan yang kini lenggang.
Zihan membulatkan matanya tak percaya, "Gue mau ke perpus, Key."
"Loe harus istirahat bukan kerja!" ucap Keyra tegas.
Raut wajah Zihan menjadi semakin pucat pasi, 'Gimana kalau Mas Gibran udah pulang' batinnya.
Zihan masih ingat betul dengan ucapan sang suami beberapa hari lalu sebelum Gibran pergi ke Bandung untuk mengurus perusahaan yang dipimpinnya. "Aku tidak akan pernah melarang kamu bekerja asalkan jangan terlalu di porsir," jeda beberapa detik, "Mas akan minta kamu resign bekerja kalau sampai kondisi kamu drop lagi," selorohnya.
Beberapa hari belakangan kondisi fisik Zihan memburuk, sering merasakan pusing serta pingsan yang secara tiba-tiba dan itu membuat Gibran khawatir dengan kesehatan sang istri yang terlalu memprioritaskan pekerjaan dibandingkan kesehatannya.
"Loe Kenapa?" tanya Keyra melihat Zihan yang tengah melamun dan hal itu berhasil membuyarkan lamunan Zihan.
Zihan menggeleng, ia tak mungkin memberitahu tentang urusan rumah tangganya pada siapapun termasuk, keluarga, sahabat, serta rekan kerjanya sekalipun. Karena istri adalah pakaian seorang suami begitupun sebaliknya. Harus saling bisa menjaga privasi prahara dan huru-hara dalam rumah tangganya.
♡♡♡
Keyra menepikan mobilnya tepat di pekarangan rumah yang Zihan tempati bersama dengan suaminya. Baru saja Keyra akan membuka pintu mobil namun suara Zihan menghentikan gerakannya. "Apa?"
Zihan menggelengkan kepalanya memberikan isyarat agar Keyra mengurungkan niatnya dan kembali ke perpustakaan tempat mereka bekerja.
"Loe kenapa sih?" tanya Keyra heran tak mengerti.
"Kita balik ke perpus, Key please!" ucapnya memohon.
Keyra memegang kedua bahu Zihan menatap manik mata sahabatnya yang keras kepala itu, "Loe harus istirahat!"
"Please! Key," mohonnya.
Keyra tak menggubris dan tak menuruti keinginan Zihan, ia malah langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Zihan. Membantu Zihan turun dari mobil serta menggandeng lengan Zihan.
Tok... Tok... Tokkk...
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam Keyra berharap akan ada seseorang yang membukakan mereka pintu.
Tak ada sahutan ataupun tanda-tanda pintu akan dibuka akhirnya Keyra memutar kenop pintunya dan ternyata tidak dikunci.
Zihan kalang kabut saat menyadari bahwa pintu rumahnya tak dikunci padahal tadi ia menguncinya, 'Jangan-jangan Mas Gibran udah pulang,' batinnya cemas dengan wajah yang semakin pucat pasi.
"Mending loe duduk dulu disini biar gue ambilin loe minum, muka loe pucat banget Han," Keyra mendudukkan Zihan di sofa yang ada di ruang tamu.
Keyra tersentak kaget pada saat ada seorang laki-laki yang tengah berkutat beragam makanan cepat saji diatas meja makan. Sama halnya dengan Keyra laki-laki itu pun tak kalah terkejutnya.
"Maaf anda siapa?" tanyanya pada Keyra.
"Saya, Keyra rekan kerja Zihan. Apa, Mas ini suaminya Zihan?" balas Keyra sekaligus bertanya.
Laki-laki itu mengangguk jelas ia adalah suaminya Zihan yang tak lain dan bukan adalah Gibran. Mereka memang belum pernah bertemu pada saat pernikahan pun Keyra berhalangan hadir dan ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Permisi," pamit Keyra seraya membawa segelas air putih untuk Zihan.
"Minum dulu Han," titahnya setelah mendaratkan bokongnya disebelah Zihan.
"Suami loe udah pulang, kayanya dia kelaparan deh soalnya tadi gue liat dia lagi nata makanan gitu. Loe mah tega ninggalin suami kerja tanpa ada makanan di rumah sama sekali. Gue liat itu semua makanan cepat saji yang kayanya dia beli di restoran," ujar Keyra yang membuat Zihan tersedak dan menyemburkan air putih yang ada dimulutnya.
Keyra langsung menepuk pelan tengkuk Zihan. "Pelan-pelan dong, Han kalau minum."
"Gue harus balik ke perpus lagi," ucap Keyra berpamitan pada Zihan.
"Iya makasih, Key hati-hati dijalan," sahut Zihan.
Tak lama setelah kepergian Keyra, Gibran menghampiri Zihan yang kini tengah merebahkan tubuhnya di sofa.
Zihan mengerjapkan matanya saat ia merasakan ada sentuhan lembut di pipi mulusnya, "Mas."
Gibran tersenyum menanggapi gumaman sang istri.
Zihan langsung merubah posisinya menjadi duduk dan sontak membuat rasa pusing dikepalanya kembali terasa karena gerakan tiba-tiba.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Sontak Zihan menggeleng dan mengulas senyum tipisnya. "Enggak papa."
"Kamu sakit? Muka kamu pucat banget," ucapnya penuh kekhawatiran.
Zihan kembali mengulas senyum tipisnya, "Aku baik-baik aja,"
"Mas kapan pulang?" tanya Zihan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Satu jam yang lalu," jawabnya dengan senyuman manis yang terbingkai indah diwajah tampannya.
"Pulang kok gak ngabarin aku sih," tutur Zihan.
__ADS_1
"Makan yuk, Mas tadi udah beli makanan buat kita makan siang," ajaknya tanpa menjawab ucapan bernada protesan sang istri.