
“Kamu memang sempurna, sempurna dalam memberikan luka dan sempurna dalam memberikan suka. Seperti saat ini, kamu berhasil membuat aku bahagia dengan kesempurnaan yang terbalut dalam kesederhanaan.”
♡♡♡
Gibran diam termenung mencerna setiap kata yang dikatakan istrinya, sungguh ia tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya. “Argghhhh,” teriaknya frustrasi. “Gibran,” suara Yulia menginterupsi sang putra untuk
menoleh ke asal suara.
Gibran tak berniat untuk menjawab panggilan ibunya, emosi sudah di ubun-ubun dan siap diledakkan kapan saja. Yulia memegang pundak putra bungsunya pelan, namun dengan cepat gibran langsung menepis tangan sang mamah yang berada di pundaknya. “Dengerin Mamah dulu,” pintanya.
“Apalagi?! Apa Mamah mau memperkenalkan perempuan yang akan Mamah jadikan alat pembuat anak?! Apa Mamah mau ngadain akad?! Apa lagi hah?! Apa lagi?!” Gibran muak dan geram dengan mamahnya sendiri. Yulia menghela napas panjang dan membuangnya kasar. “Ada yang mau Mamah jelasin sama kamu.”
“Gak ada. Dan gak perlu ada yang dijelasin lagi!” tegasnya. “Mas.” tiba-tiba suara
Zihan menelisik indra pendengaran Gibran. “Ngapain kamu di sini? Jangan paksa aku buat ngikutin ide gila kalian!” semprot Gibran begitu saja tanpa di aba-aba.
Zihan merasakan pusing lagi di kepalanya namun dia mencoba menutupi rasa pusingnya. “Duduk Mas,” pintanya masih dengan pandangan berkunang-kunang. Gibran sama sekali tak menggubris ucapan istrinya, rasa kesal marah dan emosi tingkat tinggi kini mendominasi dirinya. “Gibran!” ujar Yulia dengan nada naik satu oktaf lebih tinggi. Gibran masih betah dengan geming dan keegoisan dirinya sendiri.
“Kamu bisa gak dengerin penjelasan Mamah?! Jangan egois dan mengutamakan emosi dalam keadaan seperti ini,” sentak Yulia yang kesal dengan sifat keras kepala dan egois putra bungsunya.
“Udah deh Mah stop. Gak ada lagi yang perlu Mamah jelaskan. Cukup aku mohon jangan
perpanjang lagi syarat gila Mamah itu!” sahut Gibran nyolot, dia seakan lupa
bahwa kini tengah berhadapan dengan mamahnya sendiri, yang seharusnya dia
hormati dan sayangi.
Gibran keukeuh dengan asumsi dan keegoisan dirinya dan Yulia yang masih mencoba menjelaskan semua duduk perkaranya. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Gibran putranya. Mereka berdua terlalu sibuk dengan perdebatan yang tiada ujung, tanpa memperhatikan keadaan Zihan yang sudah kembali ambruk karena rasa pusing yang kian menjadi, dan membuat tubuhnya limbung pingsan di atas dinginnya lantai.
Entah di menit keberapa mereka berdua menyadari bahwa Zihan sudah tak sadarkan diri, dan kini keduanya malah sibuk saling menyalahkan. “Astaghfirullah! Zihan pingsan bukannya kalian bawa ke rumah sakit malah dibiarkan begitu aja!” teriak Windi datang tiba-tiba. Dia berniat
untuk melihat keadaan anak dan menantunya. Namun, yang ia lihat sungguh di luar dugaan, putri satu-satunya tergeletak di lantai sedangkan menantu dan besannya malah sibuk beradu argumen yang tidak penting.
“Bunda,” Gibran menangkap sosok mertuanya yang kini tengah berdiri menatapa tajam ke arahnya. Windi langsung menerobos dan menghampiri Zihan. “Bangun Sayang,” ucapnya menepuk pelan pipi Zihan. “Bawa ke rumah sakit! Bukan malah diam aja!” sentak Windi kepada menantunya. Gibran langsung menggendong Zihan dan membawa
masuk kedalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
'Bodoh Gibran bodoh! Istri loe pingsan bukannya dibawa ke ruang sakit ini malah di anggurin gitu aja,' rutuk Gibran dalam hati.
__ADS_1
“Bawa mobil apa siput sih lama banget!” gerutu Windi yang mengkhawatirkan kondisi
Zihan.
“Iya sabar, Bun,” sahut Gibran yang masih fokus menjalankan mobilnya
dengan tergesa-gesa.
Yulia hanya bisa terdiam di samping kemudi Gibran menatap ke arah belakang dimana Zihan yang tengah tak sadarkan diri berada di pangkuan Windi, 'Lindungilah menantu hamba Ya Allah,' doanya dalam hati. Akhirnya mobil yang dikendarai Gibran berhenti di pelataran rumah sakit, dengan
cepat gibran langsung menggendong istrinya dan meninggalkan mobil begitu saja.
♡♡♡
Gibran, Windi, dan Yulia berdiri gusar kesana-kemari di depan pintu ruangan pemeriksaan yang Zihan tempati. Rasa cemas takut dan khawatir kini ketiganya rasakan secara bersamaan. “Keluarga pasien?” tanya seorang dokter yang baru saja memeriksa Zihan. “Ya, saya suaminya,” sahut Gibran cepat menghampiri sang dokter yang tak lain dan bukan adalah, Irfan kerabatnya sewaktu SMP dulu.
“Bagaimana keadaan Zihan?” tanya gibran begitu cemas dan khawatir. Irfan menepuk pelan bahu Gibran, “Dia baik-baik aja tapi....”
“Tapi apa?” dengan cepat Gibran memotong penjelasan Irfan. “Ikut ke ruangan saya,”
titah Irfan, Gibran hanya mengikuti langkah Irfan dengan lesu. “Gimana, Fan?” todong Gibran setelah mereka duduk berhadapan di ruangan Irfan.
loe,” ucapnya pasrah. “Kabar baiknya sekarang Zihan lagi hamil tapi...”
“Hamil?!” potong Gibran mendelik tak percaya. Irfan mengangguk. “Tapi kondisi janinnya lemah,” jelasnya. “Lemah?!” tanya Gibran lesu, dua kenyataan yang mampu mengobrak-abrik perasaannya, antara suka dan duka keduanya datang dalam waktu yang bersamaan. “Gue saranin loe periksa lebih lanjut kondisi Zihan dan
janinnya,” sarannya.
Gibran hanya mengangguk lemah, “Thanks, Fan.” Irfan hanya mengangguk. “Jangan sampai Zihan terbebani oleh hal-hal yang tak seharusnya dia pikirkan, karena itu bisa
membuat kondisi Zihan memburuk,” jelas Irfan. Gibran mengangguk lalu pergi
meninggalkan ruangan tersebut. “Semoga kalian selalu bahagia,” gumamnya menatap
kepergian Gibran. “Gimana keadaan Zihan? Apa yang dikatakan dokter?” Windi
langsung memberondong Gibran yang baru saja keluar dari ruangan Irfan. Gibran
tersenyum tipis.. “Zihan hamil, Bun,” ucapnya memberitahu.
__ADS_1
Alhamdulillah, ucapan syukur keluar
dari mulut Windi dan Yulia. Bahkan pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka. Melihat rona kebahagiaan mertua dan mamahnya membuat Gibran urung menjelaskan tentang keadaan Zihan dan janinnya yang lemah.
♡♡♡
“Kamu enggak papa kan, Han?” tanya Windi setelah memasuki ruangan. Zihan menggeleng. “Pusing dikit,” ucapnya tersenyum tipis. “Apa ada yang sakit?” kini Gibran yang mengajukan pertanyaan. Zihan tersenyum tipis, “Jangan terlalu berlebihan, orang aku enggak papa,” ucap Zihan. “Kalian kenapa?” tanya Zihan heran dengan tatapan suami, mertua, dan bundanya.
Gibran memeluk tubuh Zihan erat menghujani pucuk kepalanya dengan kecupan, “Disini ada buah hati kita Sayang,” ucapnya seraya mengelus permukaan perut Zihan yang masih rata. Zihan menatap manik mata suaminya begitu lekat, sekarang
bertanya benarkah?
“Iya, sayang kalian harus sehat-sehat,” ucap Gibran lagi cairan bening itu sekarang
sudah meluncur bebas dari tempatnya. “Kok nangis, Mas?” tanya Zihan menghapus
buliran air mata disekitar wajah suaminya. “Saking bahagianya,” jawab Gibran
lalu tersenyum kepada istrinya. Zihan tak bisa memungkiri bahwa kini ia juga
tengah di rundung kebahagiaan sama seperti suaminya, bahkan kini air matanya
juga luruh begitu saja.
“Makasih Sayang,” ucapnya mengecup kening Zihan. Zihan hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Windi dan Yulia juga tak kuasa menahan air mata haru dan kebahagiaannya, bahkan kini keduanya sudah saling berpelukan menyalurkan kebahagiaan yang teramat besar.
Ucapan syukur tak henti-henti terucap dari mulut mereka atas kejutan yang telah Allah
berikan kepada keluar mereka. Rencana Allah memang indah dan jauh di luar
kendali manusia. Maka dari itu berbaik sangkalah atas semua takdir yang telah
Allah gariskan untuk kita, sekalipun itu tak sesuai harapan dan keinginan. Allah memberikan hal yang kita butuhkan bukan hal yang kita inginkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
__ADS_1
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7).