Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 28 | Luka I


__ADS_3

“Luka itu masih menyapa bahkan kini lebih parah dari sebelumnya. Drama rumah tangga yang diwarnai pertikaian orang tua menjadi hal yang sangat menyiksa.”


♡♡♡


Hari demi hari kondisi Zihan mengalami penurunan, mentalnya terguncang dan


menyebabkan dia harus menginap di rumah sakit. Suami dan kedua orang tua serta


mertuanya setia menemani dan mendampingi. Namun, kini hanya ada Gibran, Windi, Pratama, dan Yulia yang menemani Zihan karena memang Prasetya yang tengah mengurus kantor cabang menggantikan putranya untuk sementara. Sudah tiga hari dia terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Bukan, bukan raganya yang terguncang, melainkan jiwanya yang teramat tertekan.


“Makan dulu yah.” Entah untuk keberapa kali bujukan itu Gibran lontarkan. Namun tetap saja gelengan kepala yang dia dapatkan. “Sedikit aja, Han.” Sang bunda ikut membujuk putri sulungnya.


“Enggak mau, Bun,” tolaknya yang tak memiliki napsu ataupun selera makan sedikit pun.


“Makan terus minum obat biar kamu cepet sembuh,” imbuh Gibran tanpa menyerah menyodorkan satu sendok bubur kepada istrinya.


“Aku bilang enggak yah enggak!” bentaknya menggebu-gebu penuh penekanan. Emosinya


sedang tidak stabil dan penuturan yang diucapkan ibu serta suaminya sungguh


memancing emosinya yang sedari tadi dia tahan.


“Ya udah, kamu istirahat aja.” Gibran mundur tak ingin memaksa lagi istrinya.


“Kamu jangan seperti itu, Nak,” ucap Pratama setelah Gibran pergi dari ruangan rawat yang ditempati Zihan.


Zihan tak suka keadaan seperti ini, dia seperti perempuan lemah yang tak bisa


apa-apa. Istri yang gagal dan tidak pantas disebut sebagai seorang istri idaman. Sungguh hatinya hancur, keterpurukan membuatnya tak bisa mengatur emosi yang selalu meluap-luap ke permukaan, terlebih lagi jika dia berhadapan dengan Gibran suaminya, rasa bersalah selalu mengakar dan medarah daging di hatinya.


♡♡♡


“Tak sepantasnya seorang istri membentak serta memperlakukan suaminya seperti apa


yang dilakukan istri kamu, terlebih lagi di depan kedua orang tua dan mertuanya.


Di mana harga diri kamu sebagai seorang suami?!” Yulia tersulut emosi melihat


putra bungsunya diperlakukan demikian oleh menantu sekaligus istri dari putra


bungsunya.


“Zihan gak salah yang salah Gibran, Mah,” sahut Gibran yang tak terima istrinya dipojokkan walau oleh ibunya sekalipun.


“Ini semua gara-gara Mamah!” sergah Gibran tiba-tiba. Yulia terdiam cukup lama tak mengerti dengan sanksi yang telah putranya berikan. “Mamah?”


“Iya, kalau aja Mamah gak neken Zihan. Zihan gak mungkin ada di rumah sakit. Mamah egois selalu mementingkan keinginan Mamah!” Gibran berucap dengan wajah merah padam menahan gejolak amarah yang menguasai dirinya.


Kini mereka berada di depan ruang rawat Zihan, keadaan rumah sakit cukup sepi dan


hanya beberapa orang yang berlalu lalang tak peduli, melihat perdebatan sengit

__ADS_1


di antara ibu dan anak itu. “Egois?” Lidah Yulia kelu tak bisa mengeluarkan banyak kata-kata, ini adalah kali pertama Gibran berani adu mulut dengannya.


“Mamah ini seorang perempuan sama seperti Zihan. tapi kenapa Mamah seperti ini?! Di


mana hati Mamah, kehamilan adalah hal sensitif bagi seorang perempuan yang


sudah berumah tangga. Tak seharusnya Mamah ikut campur dalam urusan rumah


tanggaku hanya karena Mamah menginginkan kehadiran seorang cucu!” seru Gibran mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya.


“Sejak kapan kamu berani berbicara dengan nada setinggi itu sama Mamah. Sejak kapan?!” Yulia tak terima dan tak habis pikir dengan semua ucapan putranya. Apakah salah jika dia meminta cucu kepada putra serta menantunya?


“Apakah salah kalau Mamah menginginkan seorang cucu dari putra dan menantu Mamah sendiri. Apakah salah?!”


“Cara Mamah yang salah.” Gibran menyahut tak terima.


“Andai saja dulu Zihan tak menjadi wanita karier mungkin sekarang dia sudah mengandung bahkan melahirkan. Waktu kalian terbuang begitu saja karena kalian yang terlalu giat bekerja dan mencari harta!” muak Yulia mengeluarkan asumsinya. Kata andai memenuhi otaknya.


“Kenapa Mamah jadi mengungkit masa lalu. Ini semua gak ada sangkut pautnya!” Gibran kembali tersulut emosi, rasa bersalah yang baru saja hinggap hilang begitu saja


saat mendengar ucapan Yulia yang menjadikan istrinya sebagai tersangka.


“Jelas ada hubungannya. Kalian terlalu egois dan mementingkan karier dibanding


memberikan Mamah kebahagiaan!”


Emosi Gibran semakin memuncak tinggi namun dia ingat yang ada di hadapannya kini adalah ibunya sendiri, tidak sepantasnya mereka seperti ini.


Egois? Aku rasa mamah perlu berkaca diri, siapa yang egois aku atau Mamah?


penyesalan itu meluncur bebas dari bibirnya. “Jaga ucapan Mamah!”


Gibran berdiri dan menatap manik mata Yulia dengan kilatan tajam sekaligus kekecewaan yang teramat dalam. Kenapa ibunya sampai hati untuk mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya sakit hati?


“Jadi Anda menyesal telah memberi restu kepada putra Anda, begitu?! Dan saya jauh


lebih menyesal karena telah membiarkan putri saya hidup dengan keluarga seperti


kalian!” Windi datang secara tiba-tiba dengan emosi yang tak bisa dibendungnya


lagi. Dia sudah tidak tahan sedari tadi mendengar perdebatan menantu serta


besannya.


“Bunda,” lirih Gibran saat rungunya mendengar ucapan tajam dan pedas sang mertua.


“Gibran bisa jelaskan semuanya. Ini gak seperti yang Bunda pikiran,” mohon Gibran merasa dunianya seakan hancur seketika.


Windi menampilkan senyum miringnya kepada sang menantu dan besannya. “Harusnya saya tidak pernah memberi kamu restu untuk menikahi putri saya!” ucap Windi kentara sekali penuh emosi terlebih lagi penekanan pada setiap katanya.


Windi menghilang bersamaan dengan suara pintu yang tertutup dengan begitu rapat dan cukup kencang, hingga menimbulkan dentuman kasar. Gibran terduduk di atas

__ADS_1


dinginnya lantai saat pintu ruangan kembali tertutup dan menelan raga sang mertua.


Yulia menghampiri putranya mengusap pucuk kepala putranya. Namun, dengan cepat Gibran menepis jauh-jauh lengan sang ibu. “Apa, Mamah puas?! Ini, ‘kan yang Mamah mau?!”


Hati Yulia memanas, dia tak pernah diperlakukan Gibran seperti sekarang ini. Dia merasa sakit hati akan perlakuan putranya tapi dia juga menyadari bahwa dia pun ikut andil dengan kesakitan yang menantunya alami. Bukan hanya menantunya tapi juga putra bungsunya. Hatinya seakan melunak tapi logika seakan menolak.


“Hanya karena Zihan kamu membentak dan menyalahkan Mamah?! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?! Mamah ini orang tua kamu. Orang yang sudah mengandung,


melahirkan, serta membesarkan kamu sampai dengan sekarang, dan menjadi seorang suami dari perempuan yang kamu cintai.” Yulia bersedih saat


menyebut kata terakhirnya.


Sungguh tak ada satu orang tua pun yang berniat dan bermaksud untuk melukai dan


menyakiti putra dan putrinya. Rasa sayang yang teramat dalam seakan bisa membutakan. Begitupun dengan Yulia, dia hanya dibutakan dengan ambisi dan


keegoisan dalam diri. Melihat teman-temannya yang selalu asik membicarakan cucu serta tak jarang mereka mengajak serta cucu dan menantunya pada saat berkumpul. Lalu apa kabar dengan dirinya? Dia hanya mampu menyaksikan dan menjadi penonton serta pendengar setia. Iri? Mungkin lebih tepatnya rasa itu yang mendominasi dan membutakan mata hatinya sampai tega membuat menantunya tersakiti karena ulah dan keegoisan dirinya sendiri.


Gibran menunduk menyembunyikan wajahnya di antara lekukan kaki yang dia lipat. Dia kalap dan tersulut emosi hingga membuatnya tanpa sadar membentak dan berbicara tidak sopan dengan ibunya sendiri. Ini kali pertama dia seperti ini pada ibunya, tiba-tiba rasa bersalah dan tak enak hati menyusup ke dalam rongga dadanya.


♡♡♡


Pintu ruangan rawat Zihan terbuka dan menampilkan Pratama yang berlari dengan begitu cepat dan tergesa-gesa. Sontak membuat Gibran dan Yulia masuk kedalam ruangan yang Zihan tempati.


“Apa yang terjadi?” Gibran bertanya dengan penuh kekhawatiran.


“Pergi kalian!” Windi sudah muak melihat wajah menantu serta besannya.


“Tapi, Bun---” Ucapan Gibran


terpotong saat seorang dokter dan beberapa perawat menyuruh mereka semua


keluar.


“Bapak dan Ibu bisa menunggu di luar.”


♡♡♡


Windi terisak di dalam pelukan Pratama. “Tabahkan hatimu semuanya akan baik-baik saja,” ucap pratama berusaha menenangkan istrinya.


“Semuanya gara-gara mereka, Mas,” Windi menunjuk marah kearah Yulia dan Gibran yang berseberangan dengannya.


“Istigfar, Bun istigfar kendalikan dirimu,” kata Pratama mengingatkan istrinya.


Wajah sendu sudah terpampang nyata di depan mata, dan tangis yang tak bisa Gibran bendung lagi tatkala mendengar ucapan sang mertua yang menyalahkan dirinya.


“Maafkan Gibran, Ayah, Bunda.” Gibran terduduk di lantai dengan Pratama dan Windi yang terduduk diatas kursi.


“Bangun, Nak semua ini sudah menjadi takdir Allah.” Pratama berucap dan mengangkat tubuh menantunya. Jika saja emosi menyelesaikan masalah mungkin dia akan memberikan bogeman mentah untuk menantunya. Namun, dia tak mau gegabah, emosi hanya akan menambah hal baru di dalam masalah keluarganya.


“Pergi kamu! Pergi!” teriak Windi histeris. Dengan kasar Yulia menarik paksa putranya untuk pergi dari rumah sakit. Walaupun

__ADS_1


Gibran meronta-ronta tak ingin mengikuti langkah mamahnya.


“Pulanglah,” titah Pratama yang tak ingin mengundang banyak perhatian, dan mau tak mau Gibran menuruti permintaan ayah mertuanya.


__ADS_2