
“Merasa jadi tamu di kediaman orang tua sendiri. Dan merasa jadi orang asing di
kediaman sang mertua. Itulah yang saat ini aku rasakan.”
♡♡♡
Zihan terbangun tepat di sepertiga malam untuk melaksanakan salat sunnah yang sangat dianjurkan. Tersadar bahwa kini dia berada di dalam kamarnya membuat dia sedikit terheran-heran namun setelah mendapati sang suami yang terlelap di sebelahnya membuat lengkungan manis terbit di bibirnya.
“Mas bangun,” ucapnya menepuk pelan lengan sang suami. Perlahan Gibran mulai
mengerjapkan mata dan kemudian mengucek matanya kasar lalu dia merubah
posisinya menjadi duduk.
“Kita salat tahajjud, Mas,” ajaknya dengan senyum merekah. Hal yang selalu mereka kerjakan setiap malam setelah janji suci itu
terucap, tak pernah sekalipun mereka melewatkan waktu sepertiga malamnya. Sebab mereka sadar bahwa mereka dipertemukan bahkan sekarang dipersatukan karena campur tangan Allah dan sepertiga malam yang menjadi saksi bisu pemersatu cinta keduanya.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang bangun di waktu malam dan ia pun membangunkan istrinya lalu mereka salat bersama dua raka’at, maka keduanya akan dicatat termasuk kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.”
“Assalamualaikum warahmatullah,” salamnya mengakhiri salat malam mereka. Berdoa dan bermunajat kepada Allah Sang Pemilik Alam Semesta ini. Memohon ampunan serta keridhoan dalam menjalani kehidupan.
Mencium punggung tangan sang suami dengan khidmat dan tak henti-hentinya mengucapkan kata dan penyesalan atas kesalahan serta keegoisannya. Gibran tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, bibirnya terasa kelu walau hanya sekadar
mengucapkan 'iya'. Yang bisa dia lakukan hanyalah merengkuh tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
Lagi, lagi, dan lagi sepertiga malam menjadi saksi bisu cinta keduanya. Mengukir nama serta menjalin cinta dengan dia yang terkasih menjadi kebahagian yang tiada tara. Tak bisa dilukiskan dengan kata ataupun untaian kata. Allah mempersatukan dua insan yang saling mencintai di atas ridho
yang Dia kehendaki. Allah memberikan rasa cinta bukan untuk diumbar melainkan
untuk dijaga.
Jodoh itu cerminan diri, bagaimana mungkin menginginkan dia yang teramat sempurna
tapi diri masih hina. Bagaimana mungkin menginginkan dia yang berakhlak mulia
tapi diri masih sering lupa perintah agama. Bercerminlah! Perbaiki diri bukan karena jodoh melainkan karena Allah. Ujian terberat dalam berhijrah adalah ke-istiqomahan yang terkadang gugur di tengah jalan.
♡♡♡
“Han kemeja yang warna biru di mana?” teriaknya pada sang istri yang masih berada di dalam kamar mandi. Berhubung hari ini adalah hari libur jadi mereka
berniat akan menyambangi kediaman orang tua serta mertuanya.
“Cari aja di lemari, Mas,” sahut Zihan seraya membuka pintu kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja dia lilit dengan handuk.
“Ada gak, Mas?” tanya Zihan menghampiri sang suami yang masih setia berdiri di depan almari.
Gibran menggeleng pelan, dia tak berhasil mencari kemeja yang akan dikenakannya. “Ini,” ucapnya mengambil kemeja yang dicari sang suami yang terselip di antara
tumpukan baju.
“Hehe, benaran deh tadi aku cari di situ tapi gak ketemu.” Dia mengambil alih kemeja
tersebut lalu memakainya dengan kecepatan kilat, sampai-sampai dia tak sadar kalau kancing kemejanya tak terpasang dengan rapi. Zihan membetulkan letak kancing kemeja Gibran yang salah tempat. “Nah ini baru bener,” tuturnya dengan senyum merekah.
Gibran tersenyum penuh kebahagiaan, akhirnya rumah tangga mereka kembali berjalan dengan semestinya. “Udah yuk berangkat katanya mau ke rumah Ayah, Bunda, sama Papah, Mamah.”
“Bentar!” pekiknya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Gibran bukannya Zihan yang menyuruhnya untuk buru-buru agar tak terkena macet.
“Mas gak liat? Masa iya mau ke rumah Ayah, Bunda sama Papah, Mamah pake beginian,” ucapnya.
Gibran menyemburkan tawanya saat melihat penampilan sang istri yang masih mengenakan handuk di kepala meskipun ghamis telah membalut tubuhnya. Zihan mendelik sebal dengan respons yang diberikan suaminya. “Terus aja ketawa, Mas sampai puas!”
♡♡♡
“Assalamualaikum,” salamnya saat menyambangi kediaman orang tua yang sangat Zihan cintai. “Wa'alaikumussalam
Warahmatullahi wabarokatuh,” sahut Windi membukakan pintu untuk sang putri dan
menantu.
Zihan langsung berhambur ke pelukan sang bunda. Rindu? Jelas itu yang dia rasakan saat berada berjauhan dengan sang bunda. “Kangen,” katanya enggan untuk melepaskan pelukan hangat sang bunda yang sangat dia sayangi.
“Udah jadi istri juga masih aja manja!” ujar sang ayah tiba-tiba.
“Biarin,” sahutnya yang masih betah berada dalam pelukan sang bunda.
“Ayo masuk, Ran. Jangan ganggu yang lagi nostalgia'an,” ajak Pratama pada sang menantu.
Gibran hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang ayah mertua. Rasanya masih canggung meskipun sudah empat bulan ini status sebagai menantu Pratama dia sandang.
“Udah yuk masuk, lanjut di dalem kangen-kangenannya,” ucap sang bunda melepaskan pelukan di atara mereka. Zihan menggandeng lengan sang bunda untuk menuju ruang keluarga tempat sang ayah dan suami berada.
“Bukannya buatin makanan atau minuman buat suami ini malah gelendotan. Manja!” ujar sang ayah melihat sifat manja Zihan pada sang bunda yang tak berubah.
“Biar Bunda aja, kamu tinggal duduk manis di sini,” ucap sang bunda yang melenggang
pergi ke arah dapur. “Bunda yang duduk biar Zihan yang buatin minuman dan makanan,” tolaknya lembut.
“Udah gih sana duduk biar Bunda aja,” ujar windi melenggang pergi ke dapur.
“Kamu emang tamu, Sayang, ‘kan udah gak tinggal di sini lagi,” canda sang ayah. Namun hal itu berhasil menohok perasaan Zihan. 'Tamu?'
“Zaka ke mana, Yah?” tanya Zihan setelah beberapa detik terdiam mencerna kalimat yang dilontarkan sang ayah.
“Ada yang kangen nih,” ungkap Zaka yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar suara sang kakak yang sangat amat dia rindukan kedatangannya.
“Geer,” elak Zihan, walaupun sebenarnya dia sangat merindukan sang adik tapi gengsi. Masa iya dia ngangenin adik songong tengil bin ajaib seperti Zaka.
“Halah, bilang aja kali, Kak kalau kangen dan rindu berat sama diriku yang unyu,” ucapnya penuh percaya diri yang mampu mengundang gelak tawa renyah semua orang yang berada di ruang tamu.
“Wihh, seger nih kayanya,” ungkap Zaka melihat beberapa sirup yang dibawa sang bunda. Dia langsung menyambar dan menandaskan satu gelass sirup berwarna hijau itu.
“Kebiasaan!” cibir Zihan melihat kelakuan sang adik yang tak ada perubahan.
“Biarin aku ini bukan Kakak,” belanya tak mau kalah.
“Tumben Kak ke sini. Mau apa?”
tanyanya pada sang kakak.
“Gitu amat sih nanyanya,” sahut Zihan nyolot menanggapi pertanyaan bernada sindiran dari sang adik.
“Biasa aja kali, Kak sensi amat,” ucapnya.
“Orang aku biasa aja.”
“Iyalah, ‘kan yang luar biasa aku bukan Kakak,” sahutnya diselingi tawa renyah. Dia
sangat merindukan sosok sang kakak yang selalu menjadi rival-nya dalam berdebat.
__ADS_1
“Kamu mah luar binasa bukan luar biasa,” kelakar Zihan.
“Udah-udah kalian ini kerjaannya ribut mulu kalau ketemu.,” lerai sang bunda.
“Zaka duluan, Bun,” bela Zihan tak mau disalahkan.
“Ih, apaan orang Kakak juga yang duluan,” sela Zaka tak terima.
“Gimana kerjaan kamu, Nak?” tanya Pratama pada sang menantu yang hanya diam membisu menyaksikan keributan kecil antara kedua anaknya.
“Alhamdulillah lancar, Yah,” sahut Gibran lalu menyambar sirup buatan sang ibu mertua yang menggoda kerongkongan yang sudah terasa kering kerontang seperti di padang gersang.
“Gimana kerjaan kamu, Han?” tanya Pratama kini beralih pada sang putri yang memiliki julukan si penggila kerja akut itu.
Wanita karier itulah yang selalu Zihan agung-agungkan sedari dirinya masih kecil.
Zihan menerawang mengingat pergelokan batin yang terjadi kemarin, pada saat dia bertemu dengan Zahra untuk mencurahkan isi hati perihal rumah tangganya. Namun,
ternyata Zahra malah menertawakan dirinya. Dan dengan tekad bulat akhirnya dia pergi ke tempatnya bekerja dengan membawa surat pernyataan bahwa dia menyatakan akan resign. Rekan Zihan mempertanyakan alasan apa yang membuat dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Namun, dia hanya bisa mengatakan bahwa kini dia tak sebebas dulu sewaktu masih melajang, kini ada seorang suami yang siap menafkahi dan harus dia layani semua kebutuhannya. Dengan berat hati semua rekan kerjanya menerima keputusan Zihan.
Zihan pulang ke rumah dengan sebuah map yang menyatakan bahwa dia sudah berhenti
bekerja. Namun, ternyata saat dia pulang ke rumah tak menemukan sosok sang suami, bahkan sampai larut malam dan sampai dia terlelap tidur di sofa pun Gibran belum juga menampakkan batang hidungnya. Dengan harapan rumah tangga mereka kembali utuh dan harmonis tanpa ada kerikil kecil yang menghalangi.
Zihan terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, “Resign, Yah.”
Tawa Zaka melebur begitu saja saat mendengar jawaban sang kakak yang terdengar seperti lelucon.
‘Mana mungkin kak Zihan resign kerja? Mustahil,’ batinnya tak percaya.
“Kamu serius, Han?” kini sang bunda ikut bersuara. Zihan hanya mengangguk lemah
sebagai jawaban. Lalu menatap wajah sang suami yang tersenyum ke arahnya.
“Alhamdulillah,” syukur sang ayah dan bunda bersamaan.
“Kok gitu sih?” tanya Zihan heran dengan respons kedua orang tuanya yang malah mengucapkan kata syukur.
“Dikasih apaan, Kak sampai bisa bikin Kak Zihan berhenti kerja?" tanya Zaka
antusias penuh rasa penasaran.
“Kepo!” Zihan langsung mengambil alih pertanyaan yang dilontarkan kepada suami.
“Sorry to say yah, Kak aku tuh nanyanya sama Kak GIBRAN! Bukan Kak Zihan!"
sahut Zaka sengit tak terima.
“Dasar alay bahasanya udah ngalahin cabe-cabean goceng yang nangkring di jalanan,” cibir Zihan mendengar adik semata wayangnya berlaga sok inggris dengan gaya khas anak-anak zaman now.
“Zihan!” tegur sang suami agar Zihan menghentikan aksi debatnya dengan sang adik. Zihan hanya bisa menghela napas pasrah dan diam seribu bahasa.
“Wihhh, Kak Gibran hebat bisa naklukin Kak Zihan yang udah kaya macan betina yang siap menerkam,” kata Zaka hiperbola dan hal itu membuat Zihan semakin dongkol.
'Awas aja nanti yah kalau gak ada, Mas Gibran habis kamu sama kakak!' Zihan
berucap penuh peringatan.
“Kabur ah, bentar lagi ada yang ngamuk,” ucapnya ngacir pergi ke kamar saat melihat
mata tajam sang kakak mengarah bola matanya.
“Zakaaaaaaaaa!!!” teriak Zihan yang mampu membuat gendang telinga rusak. Sontak semuanya langsung tutup telinga sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1