Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 35 | Ngidam


__ADS_3

“Apa pun yang kamu inginkan akan aku kabulkan, terlebih lagi untuk calon buah hati kita. Aku mencintaimu dan akan tetap selalu mencintaimu.”


♡♡♡


Matahari sudah menghilang dari pandangan dan bulan yang kini berperan memberikan penerangan. Semilir angin dengan rintikan hujan juga ikut mewarnai malam hari ini. Sepasang suami istri yang tengah duduk santai menonton sebuah tayangan televisi, canda dan tawa berbaur menjadi satu melengkapi kebersamaan mereka.


“Mas,” panggil istrinya yang tak lain dan bukan adalah Zihan. “Apa?” sahut Gibran.


Fokusnya masih menatap layar datar yang bernama televisi itu. “Cokelat panas


kayanya enak Mas,” kode istrinya yang bergelayut manja di lengan kokoh sang


suami.


“Mau cokelat panas?” tanyanya memastikan. Zihan mengangguk antusias, udara dingin malam ini sangat cocok untuk menikmati secangkir cokelat panas. “Ya udah tunggu bentar,” lanjutnya, lalu berjalan menuju dapur.


Hanya sekitar sepuluh menit Gibran berkutat dengan beberapa perkakas dapur. Dia sudah mulai terbiasa berkutat di dapur. “Nih, hati-hati masih panas,” katanya seraya menaruh cokelat panas itu di atas meja.


“Makasih,” ucap Zihan begitu riang dan senang. “Ada lagi?” tanyanya, dia begitu perhatian terlebih lagi saat ini istrinya tengah mengandung buah cinta mereka.


Zihan menggeleng dengan senyuman manisnya, lalu menyeruput pelan cokelat panas yang masih mengepulkan asapnya. Keduanya kembali larut dalam keheningan, hanya ada suara televisi yang menjadi backsound-nya. Gibran, yang asik menonton tapi tangannya tak henti-henti mengelus perut buncit istrinya yang kini sudah memasuki bulan ke-lima.


“Geli tau, Mas,” ujarnya. Zihan paling tidak suka saat suaminya mengelus-ngelus


perutnya. Gibran melirik sekilas istri cantiknya, lalu menjauhkan lengannya dan


mengecup pelan perut istrinya. “Sehat-sehat terus yah, jangan buat bunda


kerepotan dan kesakitan.”


Zihan menatap lekat kedua bola mata legam suaminya. “Iya Ayah,” balasnya dengan suara anak kecil yanh dibuat-buat. Gibran menjawil hidung mancung istrinya, gemas. “Jadi gak sabar liat dedek bayinya lahir,” ungkap Gibran kembali mengelus perut sang


istri.


“Masya Allah,” sorak Gibran heboh saat janin yang berada di dalam perut istrinya


merespons dengan gerakan pelan, lebih tepatnya menendang. Zihan sedikit


mengaduh kesakitan, ini hal pertama yang dia rasakan. Sedikit sakit, tapi sangat membahagiakan.


“Sakit?” cemasnya. “Sedikit,” sahut Zihan seraya melengkungkan kedua sudut bibirnya. “Jangan kenceng-kenceng ya, Sayang. Kasian Bundanya kesakitan.” Dengan penuh kasih sayang seorang ayah, Gibran mengajak buah hatinya berbicara.


Zihan merasa dunianya kini sudah sangat lengkap, bahagia sudah menghinggapi rumah tangganya. Dan itu sangat-sangat membuat, dia bahagia. “Kita istirahat yuk,


udah malem,” ajak Gibran setelah mematikan televisinya.

__ADS_1


Zihan menggeleng tak mau, dia menginginkan sesuatu tapi takut merepotkan suaminya. Terlebih lagi cuaca di luar sana sedang turun hujan, tidak lebat tapi jika keluar rumah cukup membuat badan basah dan menggigil kedinginan.


“Apa, Sayang?” Gibran kembali mendaratkan bokongnya di samping sang istri. “Mau makan,” jawabnya dengan menggoncang-goncangkan lengan, Gibran pelan.


“Makan apa?” tanya Gibran dengan sabar. Dia sangat memahami kondisi istrinya yang


sedang berbadan dua. “Sate maranggi,” balasnya dengan semangat empat lima. “Ada lagi?”


Zihan berpikir sejenak, menimang-nimang makanan apa yang bisa menggugah selera


makannya. Terlebih lagi penawaran suaminya seperti lampu hijau, dengan semangat Zihan berucap, “Martabak cokelat, soto, baso, hmmm ... apa lagi yah?”


“Apa itu gak kebanyakan,” kata Gibran. “Satu lagi deh, Mas rujak cuka yah,” imbuhnya yang malah menambah daftar menu makanan yang harus Gibran belikan.


“Sayang,” panggil Gibran lembut dengan belaian pelan di puncak kepala istrinya,


“Mana ada rujak cuka malam-malam begini, ganti yah.” Zihan mencebikkan mulutnya kesal.


“Gak mau! Pokoknya, Mas harus dapetin semua makanan yang aku sebutan tadi.


Tanpa terkecuali!”


Gibran menghela napas panjang. Akhir-akhir ini napsu makan Zihan bertambah besar. Tapi dia bersyukur setidaknya sang istri sudah tidak terlalu mengalami gejala morning sicknes seperti beberapa bulan


mencari sejumlah makanan yang terkadang tidak masuk akal. Dari pada harus


melihat Zihan yang pas awal-awal hamil, sangat sulit makan bahkan susu dan


vitaminnya saja seringkali dibiarkan begitu saja.


“Ya udah kalau gitu, kamu tunggu dulu sebentar biar mas carikan,” ucapnya dengan


seutas senyuman yang sangat menyejukkan. Mata Zihan berbinar mendengar ucapan


suaminya yang mau menuruti permintaannya. Anggukkan kepala dia berikan untuk melepas kepergian suaminya yang sedang berjuang memenuhi semua permintaan sang


jabang bayi.


Merasa bosan duduk sendirian di ruang keluarga, akhirnya Zihan memutuskan untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Duduk selonjoran dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang, membuat dia nyaman dan tanpa sadar telah menekan matanya secara perlahan-lahan hingga terpejam.


Entah sudah berapa lama, Zihan tertidur dengan posisi yang masih sama. Sampai Gibran, suaminya datang dengan keadaan basah kuyup dengan banyak jinjingan kantong keresek di tangannya.


Gibran menaruh barang bawaannya, lalu membersihkan badannya sebentar dan berganti pakaian. Setelah dia selesai dengan gerakan pelan dia merebahkan tubuh istrinya yang tak lagi ramping itu diatas ranjang. “Tidur yang nyenyak Sayang,” ucapnya setelah mencium mesra kening sang istri tercinta.


“Terima kasih, karena lagi-lagi kamu berhasil ngerjain, Ayah. Sayang,” katanya seraya mengelus pelan perut buncit, Zihan.

__ADS_1


Bagi Gibran ini bukanlah hal yang pertama, karena dia sudah beberapa kali mengalami


hal serupa seperti ini. Tapi dia tak pernah marah, karena dia tahu buah hati


tercintanya sangat menyayanginya. Dan wujud sayang anaknya itu terlihat dari banyaknya permintaan yang selalu Zihan utarakan.


Melihat semua makanan yang tadi istrinya minta membuat Gibran kebingungan. Mau diapakan semua makanan itu? Jika biasanya dialah yang akan sukarela dan senang hati menghabiskan semuanya. Lain halnya dengan saat ini, karena perutnya masih begah dan kenyang. Setelah lama berkutat dengan angan dan pikirannya, akhirnya dia memutuskan untuk memasukan semua makanan itu ke dalam lemari es, berharap besok pagi makanan itu belum basi, mungkin bisa dihangatkan kembali?


Setelah menyimpan semuanya, dia langsung menaiki anak tangga penghubung anatara lantai dasar dan lantai atas rumahnya. Membuka pintu secara pelan, agar tak


menimbulkan decitan yang bisa saja mengganggu tidur nyenyak istrinya. Namun,


nyatanya kini Zihan tengah duduk di tepi tempat tidur seraya megucek-ngucek pelan kedua matanya. Zihan, terbangun dari tidurnya.


“Mas udah pulang, mana makanannya?” todongnya saat melihat tubuh tegap sang suami di ambang pintu. Gibran tak langsung menyahut, dia malah bergerak cepat ke arah istrinya dan merengkuh tubuh gempal istrinya. “Kenapa bangun, hmm?”


“Laper, Mas.” jawabnya dengan cengiran khas. Gibran terkekeh pelan mendengar jawaban polos istrinya. “Tunggu bentar biar mas siapkan dulu,” tuturnya yang langsung


berlari turun ke dapur.


Gibran datang dengan sebuah nampan yang penuh dengan makanan, “Pesanan datang,”


soraknya dengan suara riang. Wajah Zihan berbinar bahagia, matanya memgerjap-ngerjap lucu. Lalu senyuman manis yang selalu membuat wajah cantiknya tambah semakin cantik itu terbingkai dengan begitu indahnya.


“Kok rasanya aneh yah, Mas ayep-ayep gimana gitu,” ungkap Zihan setelah sesuap baso mengecap indra pengecapnya. Gibran terlihat bingung, dia hanya bisa menampilkan senyuman tanpa dosanya, dan juga garukan di tengkuknya. “Tadi aku masukin kulkas.”


Mata Zihan membola tak percaya, kulkas? Apa pedengarannya sedang terganggu? Atau ini efek nyawanya yang belum kembali akibat baru saja bangun tidur.


“Tadi pas pulang, Mas liat kamu tidur nyenyak banget, karena gak tega buat bangunin kamu, jadi makanannya Mas masukin kedalam kulkas,” jelasnya dengan rasa bersalah yang bersarang dihatinya.


Zihan mendengus kesal mendengar penjelasan suaminya, “Kenapa, Mas gak bangunin aku aja sih? Kan sayang makanannya jadi mubazir kaya gini,” amuk Zihan dengan wajah masam menahan amarah dan kesal.


“Mas pikir kamu gak bakal bangun lagi, jadi Mas inisiatif buat masukin dulu ke kulkas,


terus besok biar bisa di angetin lagi makanannya.”


“Jadi, Mas doain aku mati gitu?” semprot Zihan saat mendengar kalimat suaminya yang tidak secara langsung mengharapkan dia tidur selamanya.


“Bukan gitu maksudnya, Sayang...” Gibran bingung harus berkata apalagi. Lebih takutnya kalau dia sampai salah bicara seperti tadi.


“Aku gak mau tau pokoknya semua makanan ini harus kamu abisin sekarang juga!” putus


Zihan tak terbantahkan. “Sayang, maaf” ucap Gibran.


“Enggak ada penolakan!” putusnya final. Gibran menghela napas pasrah, mau tak mau dia harus menghabiskan semua makanannya.

__ADS_1


__ADS_2