Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 15 | Suasana Baru


__ADS_3

"Betapa indah cinta yang melibatkan Allah didalamnya. Cinta yang terjalin diatas keridhoan-Nya."


♡♡♡


Terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang membuat sepasang kekasih halal itu menggeliat. Zihan terperangah saat ada sepasang lengan yang memeluk tubuhnya erat. Ada rasa aneh yang menyeruak dalam dirinya namun rasa aneh itu sirna dengan senyum bahagia yang tercetak indah diwajah cantiknya.


Dengan gerakan pelan Zihan melepaskan Kungkungan tangan kekar sang suami berharap tak mengusik ataupun menggangu tidur nyenyaknya. Namun, nyatanya Gibran terusik dengan gerakan pelan Zihan dan mengucek matanya kasar.


"Udah subuh, Mas," ucap Zihan.


Gibran langsung terperanjat dan bangkit dari posisi tidurnya mendudukkan tubuhnya dengan posisi menyandarkan punggungnya di kepala kasur. 'Waktu secara sangat cepat berlalu' pikirnya dalam hati.


Suara kumandang azan kembali menguar mengusik Indra pendengaran.


"Mau kemana?" tanya sang suami melihat Zihan melangkah pergi dari ranjangnya.


"Ke kamar mandi," jawab Zihan. Ia langsung membersihkan tubuhnya dan berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh.


Tak lama Zihan keluar sudah dengan pakaian dan wajah segarnya.


"Mas cepetan mandinya," ucap Zihan yang sudah rapih dengan mukenah dan duduk diatas sajadahnya.


Gibran keluar kamar mandi dengan baju koko tak lupa dengan sarung dan peci sebagai pelengkapnya.


Melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat sebelum subuh dan dilanjutkan dengan sholat subuh dua rakaatnya.


"Dua rakaat fajar (shalat Sunnah qoliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Muslim no.725)


♡♡♡


Membantu sang bunda memasak untuk sarapan pagi kini Zihan lakoni, selepas sholat subuh usai ia langsung bergegas turun ke bawah membantu sang bunda menyiapkan sarapan pagi.


"Kamu naik aja ke atas, Han temani suami kamu," titah sang bunda yang Zihan tolak mentah-mentah.


"Zihan mau bantuin bunda," pungkasnya seraya mengiris-ngiris segala macam bahan masakan dengan lincah.


"Aneh! Pengantin baru pagi-pagi udah nangkring di dapur aja," goda sang ayah yang duduk di kursi meja makan.


"Tiap pagi juga Zihan suka bantuin bunda masak, terus apanya yang aneh coba?" sahut Zihan.


"Sekarang kamu itu sudah menjadi seorang istri jadi tugas utama kamu adalah melayani suami kamu, Nak," nasihat sang ayah.


Zihan langsung meletakan pisau dan bahan-bahan lainnya ikut duduk disebelah sang ayah. "Iya Ayah, Zihan juga tau tapi bukankah menyiapkan makanan juga adalah tugas seorang istri untuk memuaskan perut suaminya."


"Iya Ayah juga tahu tapi kan udah ada Bunda yang masak," sahut sang ayah.


"Udah, Han kamu ke atas aja siapa tau Gibran bosan sendirian dikamar," ujar sang bunda.


Zihan tak membantah ia langsung melenggang pergi ke kamarnya lagi untuk bertemu sang suami.


♡♡♡


Zihan duduk disamping Gibran yang sedang asyik duduk di ranjang dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Udah masaknya?" tanyanya pada sang istri.


Zihan menggelengkan kepalanya, "Belum, Mas."


"Terus kenapa kamu ke kamar kalau belum selesai masaknya kasihan kan bunda kalau kerepotan," ujarnya mengubah posisi tubuhnya menjadi berhadapan dengan Zihan.


"Ayah sama Bunda yang nyuruh aku ke kamar lagi, Mas," tutur Zihan dengan wajah cemberutnya.


Gibran tersenyum melihat wajah sang istri yang sangat menggemaskan untuknya. Mertuanya memang sangat amat pengertian.


♡♡♡


Suasana sarapan pagi ini terasa sangat berbeda karena kehadiran anggota baru dikeluarga Pratama. Dengan cekatan Zihan menuangkan nasi serta lauk pauk kedalam piring sang suami dan setelahnya untuknya.


Kedua orang tua Zihan tersenyum bahagia melihat putri kecil mereka kini telah beranjak dewasa dan menjadi seorang istri.


"Ngambil cuti berapa hari, Han?" tanya sang ayah setelah menyelesaikan acara santap paginya.


"Besok juga Zihan mau kerja, Yah," jawabnya yang membuat sang ayah dan bunda saling bertukar pandang tak percaya.


"Apa gak sebaiknya kamu ngambil cuti panjang, Han biar bisa bulan madu dulu," ujar sang bunda yang membuat Zihan sampai terbatuk-batuk.


Bulan madu? Zihan tak berpikiran sampai kesana.


"Sampai batuk gitu, Han," kekeh sang ayah.


Gibran menyodorkan segelas air putih kearah Zihan dan langsung tandas habis diminumnya.


"Bagaimana dengan kamu, Nak?" tanyanya pada sang menantu.

__ADS_1


"Besok, Yah," jawab Gibran sama seperti Zihan.


"Dasar! pengantin baru gila kerja jadi begini deh," Zaka menyahut heran dengan jawaban kakak dan kakak iparnya.


"Kalian ini memang cocok sama-sama penggila kerja, gimana ayah sama bunda bisa cepet gendong cucu kalau kerja mulu," keluh sang bunda.


Zihan dan Gibran saling bertukar pandang. Cucu? Baru juga kemarin mereka menikah masa sudah diteror minta cucu?.


"Bunda ngomong apaan sih," sahut Zihan pura-pura tak mengerti dengan permintaan sang bunda.


"Udah ahk Zihan ke kamar dulu," pamit Zihan yang menggandeng mesra lengan sang suami.


Kedua orang tuanya melihat putri serta menantunya tersenyum bahagia, 'Semoga Allah melimpahkan kasih sayang-Nya untuk keluarga kecilmu, Nak' doa sang bunda.


♡♡♡


"Kamu kenapa?" tanya Gibran yang melihat wajah Zihan yang ditekuk.


Zihan masih bertahan dengan gemingnya, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan terlalu dipikirin tentang permintaan ayah sama bunda," tutur Gibran.


Zihan hanya mengangguk lemah menanggapi tutur sang suami.


Zihan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik sang suami. "Mas aku boleh nanya sesuatu sama kamu?"


"Tentu boleh," sahut Gibran mencubit gemas hidung mancung milik sang istri.


"Awww... Sakit Mas," keluhnya memegang hidung yang memerah.


"Kok mas bisa sih ngelamar aku tanpa sepengetahuan aku?" tanya Zihan to the point.


"Apasih yang enggak bisa mas lakuin buat kamu," sahutnya.


"Aku serius Mas!" ujar Zihan.


"Mas juga serius sayang," tuturnya menciumi pucuk kepala Zihan.


Zihan berdecak dengan jawaban Gibran yang tak memuaskan rasa penasarannya.


"Jawab dong!" tuntut Zihan yang sudah menarik kepalanya dari dada bidang milik sang suami.


"Lillah," singkatnya yang membuat Zihan semakin berdecak sebal.


"Lalu?"


"Ahk, sejak kapan seorang Gibran Ahmad Luqman Prasetya jadi menyebalkan! Seperti ini," Zihan memalingkan arah pandangnya ke sembarang arah.


"Gak baik loh ngatain suami sendiri," peringatnya.


"Abisnya, Mas nyebelin sih bukannya kasih tau aku alasannya ini malah bikin aku kesel," keluh Zihan.


"Semuanya karena Allah," tutur Gibran membelai lembut pipi istrinya.


"Aku mencintaimu," bisiknya tepat di samping telinga Zihan. Hal itu membuat perasaan Zihan terbang seketika, hatinya berbunga-bunga. Bahkan jantungnya pun berdetak diluar biasanya.


"Percuma bilang cinta kalau enggak ngasih tau alasan ngelamar aku," ucap Zihan setelah dia berhasil menguasai diri dan hatinya.


Gibran memegang kedua bahu istrinya agar duduk berhadapan dengannya, "Dengerin, Mas."


"Bukankah tindakan itu lebih penting dibandingkan sebuah janji yang tak pernah direalisasikan? Saat, Mas meminta kamu kepada kedua orang tua kamu, bukan janji yang mereka mau dengar dan lihat. Tapi aksi nyata dan kesungguhan, Mas untuk meminta kamu kepada mereka. Apalah arti kata-kata jika semua kata itu akan kalah dengan satu tarikan napas, Mas saat menjawab qobul atas nama kamu," katanya dengan kesungguhan hati.


Mata Zihan tiba-tiba saja memanas, terharu mendengarkan perkataan suaminya yang begitu manis dan romantis, "Tapi setidaknya dengan kamu menjelaskan alasan dibalik terjadinya pernikahan kita, mungkin itu bisa menghilangkan keraguan yang mengganjal dihati aku," terang Zihan, walaupun perasaannya sudah dibuat melayang terbang, tapi dia tak mau terpengaruh dan tetap pada pendiriannya.


Gibran menghembuskan napasnya pelan. "Kamu meragukan perasaan cinta aku ke kamu?"


Zihan menggeleng pelan, "Bukan gitu, Mas...." Dia tak bisa meneruskan kata-katanya, dia takut menyinggung perasaan suaminya. Jujur, dia masih ragu akan pernyataan cinta suaminya. Karena dia tidak bisa menampik kenyataan, bahwa suaminya itu adalah mantan calon suami sahabatnya. Sedalam-dalamnya laut masih bisa diukur, tapi isi hati manusia siapa yang tahu? Mungkin saja Gibran masih menyimpan perasaan untuk Zahra calon istrinya itu atau mungkin wanita lain. Hanya dia dan Allah lah yang tahu jawabannya.


"Apa yang membuat kamu ragu? Apa ada hubungannya sama Zahra?" tanya Gibran tepat sasaran dan berhasil menarik kembali Zihan ke alam nyatanya.


"Kalau itu yang menjadi sumber keraguan dihati kamu. Mas, akan jelaskan semuanya," tuturnya.


Zihan diam menunggu penjelasan yang akan diberikan suaminya, menunggu dengan sebaran jantung yang tak keruan dan rasa penasaran yang sudah berada diubun-ubun.


"Aku sama Zahra dijodohkan..." ucapnya mengawali.


Mata Zihan membola tak percaya, setahu dia ceritanya tidak sepeti itu. Karena dia mendengar langsung dari Zahra, bahwa jelas-jelas Gibran datang kerumah Zahra untuk melamar gadis itu.


"Semuanya berawal dari perjodohan antara kedua orang tua kita. Awalnya perjodohan itu diperuntukkan untuk Kak Galang, tapi karena Kak Galang menolaknya jadi yang aku lah yang menjadi gantinya," tuturnya dengan sedikit senyuman kecut.


"Bukannya Kak Galang mencintai Zahra? Tapi kenapa dia malah menolaknya?" tanya Zihan mengeluarkan kebingungannya.


Gibran tertawa hambar, lebih tepatnya tertawa mengejek atas kebodohan dia dan kakaknya dulu. "Itulah bodohnya aku sama Kak Galang, dengan dalih takut wanita yang akan dijodohin sama kita tidak sesuai ekspektasi, jadi kita memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan tanpa pikir panjang dulu."

__ADS_1


"Gak ada sedikitpun terlintas di pikiran kita, bahwa perempuan yang mau dijodohin sama kita itu adalah, Zahra ataupun perempuan yang sudah mengenal kita sebelumnya. Dan kita dibuat linglung sekaligus syok pada saat tau perempuan itu ternyata Zahra. Mau menolak sudah terlanjur kecebur, dan akhirnya kesepatakan itu dibuat. Pernikahan aku sama Zahra akan segera dilangsungkan, semuanya berjalan baik-baik aja tapi semua itu berubah saat aku tahu bahwa ternyata Kak Galang memiliki perasaan lebih sama Zahra. Dan kenyataan itu cukup menampar keras perasaan aku. Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan cara melarikan diri pas di hari pernikahan, karena aku yakin kalau aku bicara baik-baik sama Papah dan Mamah mereka enggak bakal setuju dengan keputusan itu. Kabur adalah jalan terbaik yang aku pilih," terangnya panjang lebar.


"Dan untuk masalah Zahra, dia tidak tahu menahu tentang perjodohan ini, itu semua karena permintaan kedua orang tuanya agar Zahra enggak merasa dipaksa ataupun terpaksa."


"Apa kamu masih meragukan perasaan aku?" tanyanya.


Zihan diam membisu, otaknya masih mencerna setiap penjelasan yang diberikan suaminya, dia belum bisa mempercayai semuanya.


"Aku mencintai kamu, tapi kalau kamu tanya sejak kapan rasa itu ada. Aku gak tau jawabannya, karena aku sendiri gak tau. Tapi satu hal yang harus kamu tau, kalau hati ini sepenuhnya milik kamu," ungkapnya.


Gibran membawa tangan Zihan untuk memegang dada bidangnya yang kini sudah berontak dan berdetak abnormal, "Disini, dihati ini hanya ada nama kamu yang selalu aku ukir indah dalam doa dan sujud terakhirku."


Zihan tak mampu membendung tangis bahagianya tatkala merasakan detakan jantung suaminya yang berpacu begitu cepat sama seperti dirinya. Dia berhambur kedalam pelukan suaminya, membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Menikmati setiap irama detakan jantung sang suami yang menggebu. "Aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu, Mas."


Gibran mengecup mesra puncak kepala istrinya. "Aku lebih mencintaimu, istriku, bidadari dunia akhiratku."


Zihan mendongak menatap manik mata teduh milik suaminya, "Aku kira cintaku bertepuk sebelah tangan dan gak akan pernah terbalaskan."


Gibran mengurai pelukannya menangkup wajah Zihan. "Maafkan aku yang telat menyadari perasaan ini, aku selalu menampik dan menghalau setiap perasaan aneh yang aku rasakan saat berdekatan sama kamu. Tapi, sekarang aku sadar bahwa aku telah lama menjatuhkan hatiku untuk kamu."


Cinta, kata itu terlalu sulit untuk didefinisikan dengan kata. Namun, penuh dengan makna dan berjuta cerita. Dimana kesakitan menjadi hal yang dianggap wajar dan biasa. Dan kebahagian menjadi bonus utama yang paling banyak dicari insan manusia.


"Mas besok kamu udah masuk kerja?" tanya Zihan teringat omongan sang suami saat di meja makan.


"Iya, emangnya kenapa?"


"Enggak papa cuman nanya doang," sahut Zihan.


Hening! Tak ada lagi yang mereka bicarakan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Sayang," panggilnya.


Zihan hanya berdehem kecil sebagai jawaban.


"Kalau kita pindah ke rumah aku gimana? Mau gak?" tanyanya ragu, takut sang istri menolak ajakannya. Karena ia tahu istrinya yang tak bisa jauh-jauh dari sang bunda.


Zihan tersenyum ke arah suaminya, "Tentu, kemanapun mas pergi aku akan ikut."


Gibran terlihat tersenyum bahagia mendapatkan respon baik dari istrinya, "Gimana kalau besok kita pindahannya? Kita ambil cuti kerja sehari," usulnya yang diangguki oleh Zihan. "Tapi kita izin dulu sama Ayah dan Bunda, yah."


"Tentu sayang," jawabnya merengkuh tubuh Zihan kedalam dekapannya.


♡♡♡


Setelah selesai melaksanakan ritual makan malam bersama, Zihan dan Gibran berniat untuk menyampaikan niatan mereka untuk pindah ke rumah baru yang telah Gibran siapkan. Kini mereka tengah asik menonton televisi bersama di ruang keluarga.


"Ayah Bunda," panggil Gibran canggung dengan mertuanya.


Mertuanya tersenyum ramah ke arah sang menantu kesayangan. "Iya apa, Nak?"


Gibran terlihat berpikir dan bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada sang mertua.


"Bicaralah," tutur sang ayah mertua yang membuat sedikit kelegaan dihatinya.


"Gibran berniat memboyong Zihan untuk tinggal di rumah yang telah Gibran persiapkan," tuturnya.


"Kapan?" tanya sang bunda.


"Insya allah besok kalau Ayah sama Bunda ngizinin," jawab Zihan.


"Apa tidak terlalu cepat, Nak? Bukankah besok kalian masuk kerja?" tanya sang bunda dengan mata-mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tak bisa jauh-jauh dari putri kesayangannya.


"Kalau Ayah sama Bunda enggak ngizinin juga enggak papa kok," ucap Zihan mendekap erat tubuh sang bunda dan menumpahkan tangisnya bersama dengan sang bunda.


"Dan kalau Ayah sama Bunda mengizinkan besok aku sama Zihan akan ambil cuti dulu," timpal Gibran menjawab pertanyaan beruntun dari ibu mertuanya.


"Giliran disuruh bulan madu aja pada nolak cuti, lah sekarang mau pada cuti gara-gara mau pindahan," cibir Zaka yang masih fokus dengan layar televisinya.


Mereka semua tak menanggapi cibiran yang Zaka lontarkan dan hal itu membuat Zaka mendengus kesal dibuatnya.


Pratama menepuk bahu Gibran pelan, "Tentu Ayah sama Bunda mengizinkan," sebenarnya sulit bagi Pratama untuk melepaskan Zihan. Namun, kini tanggung jawabnya sebagai seorang ayah telah dialihkan kepada Gibran menantu sekaligus suami dari putriya.


"Makasih, Yah," ucap Zihan dengan senyum mengembangnya.


"Tapi ingat pesan Ayah. Jaga Zihan baik-baik, perlakuan Zihan dengan baik sebagaimana kamu memperlakukan Mamah kamu. Selalu ingatlah kalau kamu menyakiti Zihan berarti kamu telah menyakiti Mamah kamu," wejangan dari Pratama untuk menantunya.


"Insya allah, Yah," sahut Gibran.


"Bunda jangan nangis," ucap Zihan pada sang bunda yang masih betah dengan deraian air matanya.


"Ayah sama Bunda bisa mengunjungi rumah kita sesuka hati, atau nanti kita yang mengunjungi ayah sama bunda," tutur Gibran agar sang mertua menghentikan tangisnya.


"Beneran?" tanyanya dengan mata berbinar dan menghapus air matanya kasar.

__ADS_1


"Tentu boleh Bunda," sahut Zihan dengan senyuman manisnya.


__ADS_2