Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 18 | Perintah Yang Kubantah


__ADS_3

"Surgaku kini berada ditangannya, tapi apakah aku harus menuruti permintaannya? Permintaan yang sangat sulit untuk aku penuhi."


♡♡♡


Suasana menjadi mencekam penuh dengan keheningan, canda dan tawa yang beberapa menit lalu menghiasi kini sirna begitu saja. Saling diam dalam keheningan dengan pikiran masing-masing yang berkelana entah kemana.


Detak jantung Zihan sudah ketar-ketir tidak jelas, pada saat sang suami mengajaknya untuk berbicara hal yang penting, dan ia yakini bahwa apa yang akan dibicarakan oleh sang suami adalah tentang kesepakatan mereka tempo hari yang baru saja ia langgar tanpa sengaja.


"Mas...Mas...mau ngomong apa?" akhirnya Zihan angkat bicara dengan suara terbata-bata gugup.


Gibran bangkit dari duduknya berjalan ke arah jendela besar yang terpampang di kamarnya, "Apakah ada yang mau kamu jelaskan sama Mas?" selorohnya yang malah melontarkan sebuah pertanyaan.


"Maksud, Mas?"


"Apakah kamu melupakan sesuatu?" tanyanya lagi.


Zihan mendekati sang suami yang kini sedang membelakanginya, "Maksud kamu apa, Mas?"


Gibran membalik tubuhnya menghadap Zihan yang kini tengah menatap manik matanya penuh tanya serta kebingungan yang mendera, "Aku minta sama kamu untuk resign."


Deg! Seperti tersambar petir di siang bolong. Ini adalah hal yang paling ia takutkan dan paling tidak ia inginkan.


"Kenapa?"


"Kamu udah melanggar perjanjian kita dan sebagai konsekwensinya kamu harus resign dari pekerjaan kamu," ucapnya tegas dengan sorot mata tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya saat itu juga.


Zihan bungkam seribu bahasa tak menerima permintaan sang suami yang sangat menyulitkan untuknya, "Maaf aku gak bisa," lirihnya bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya..


Gibran tak habis pikir dengan jawaban yang dilontarkan oleh istrinya. Ternyata pekerjannya masih yang utama dan sulit untuk ditinggalkan.


'Maafkan aku jika permintaanku sangat menyulitkan untukmu tapi ini yang terbaik untukmu,' batin Gibran.


"Itu bukanlah sebuah permintaan melainkan perintah yang tak bisa dibantah!" pungkasnya yang langsung pergi berlalu begitu saja meninggalkan Zihan.


♡♡♡


Apa aku harus mengikuti perkataannya? Sungguh itu adalah permintaan yang tak bisa aku penuhi logikanya menolak permintaan sang suami, mungkin lebih tepatnya perintah sang suami.


Pertahanannya luruh begitu saja dilantai sungguh tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya ia akan meninggalkan profesi yang sangat ia inginkan dan impikan semenjak ia masih duduk di bangku sekolah. Profesinya seperti candu yang enggan dan tak mungkin ia tinggal begitu saja. 4tahun berkutat dengan profesi yang sangat ia cintai dan kini hanya dalam waktu sekejap mata ia harus rela untuk meninggalkannya. It's impossible!


♡♡♡


Seperti hari-hari sebelumnya Zihan kembali berkutat di dapur menyiapkan santap pagi untuk dirinya dan sang suami, meskipun Suasana diantara keduanya masih saling diam membisu. Tapi ia tak mau lalai lagi dalam melayani sang suami sekalipun masalah kini tengah menghimpit keduanya.


Tak ada obrolan ringan serta canda tawa yang selalu menghiasi santap pagi keduanya kini. Bertahan dengan ego masing-masing dan tak berniat untuk memperbaiki semuanya. Gengsi! Ya, saling memendam rindu namun tak mampu, saling membisu namun sebenarnya mau.

__ADS_1


"Aku pamit, Mas assalamualaikum," pamitnya mencium punggung tangan sang suami. Jangan sampai ego membuatnya berlaku tidak sopan pada sang suami.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Gibran menatap nanar punggung sang istri yang hilang dari pandangannya.


'Ternyata kamu masih enggan untuk meninggalkan profesi yang kamu geluti saat ini,' batinnya kecewa.


"Semoga Allah meridhoi setiap langkahmu meskipun kini ridhoku tak bersama denganmu," gumamnya.


Melangkahkan kaki untuk segera berangkat ke kantor tempatnya bekerja dengan rasa kecewa yang masih menggelayuti hatinya.


♡♡♡


Menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Melihat tumpukan berkas-berkas di meja kerjanya membuat ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya. "Dikira gue robot kali? dikasih kerjaan segini banyaknya. Gak tau apa suasana hati gue gak bersahabat gini," gerutunya.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar dan menampilkan seorang laki-laki yang tak lain dan bukan adalah kakaknya yaitu Galang


"Pagi-pagi udah ngegerutu gak jelas," tegur Galang menghampiri Gibran.


"Udah deh kak jangan ngajak ribut gue pagi-pagi buta begini," sahutnya nyolot.


"Biasa aja kali, sensi banget udah kaya emak-emak lagi PMS aja."


"Mending loe keluar aja, Kak kalau cuman mau ngegerecokin gue doang," usirnya malas menanggapi sang kakak.


"Loe kenapa sih? Sensi banget pagi ini," tanya Galang heran.


Gibran tak berniat untuk menjawab ataupun bercerita perihal masalah rumah tangganya.


"Cerita, siapa tau aja gue bisa bantu."


"Sorry, kak gue banyak kerjaan," ucapnya tak mau memperpanjang obrolan dengan sang kakak.


Galang mendengus kesal, "Oke, maaf mengganggu waktu anda, Tuan Gibran Ahmad Luqman Prasetya," ia langsung keluar begitu saja.


"Sorry, Kak untuk masalah ini gue gak bisa cerita sama loe," gumamnya setelah sang kakak tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Mereka memang sangat dekat semua masalah kecil maupun besar selalu mereka bagi bersama. Tapi kini Gibran memilih untuk memendamnya sendiri dan itu membuat sedikit rasa kecewa Galang.


♡♡♡


"Kamu teh kenapa, Han bengong mulu dari tadi," ucap Neneng yang merasa gerah melihat Zihan yang sedari tadi bengong tak jelas.


Zihan hanya menampilkan seulas senyum tipis ke arah Neneng.


"Gak biasanya kamu teh bengong mulu, kamu ada masalah apa? Sok atuh cerita sama aku," tuturnya dengan dialek khas sundanya.


"Enggak papa, Neng," singkatnya.

__ADS_1


"Kata, Keyra teh kemarin kamu pingsan?" tanya Keyra penasaran karena memang kemarin ia free, tidak bekerja di perpustakaan.


"He.em," jawabnya.


"Kok bisa pingsan? Tapi kamu gak papa kan? Kok sekarang malah kerja sih bukannya istirahat, mending kamu pulang lagi aja Han istirahat yang cukup biar cepet sembuh. Bisi karugrag deui Han," cerocosnya memberondong Zihan dengan sejumlah pertanyaan.


"Gak papa cuman kecapean doang," jawab Zihan.


"Kecapean?"


Zihan mengangguk dengan seulas senyum tipis yang terbingkai indah di wajah cantiknya.


Obrolan keduanya terhenti saat ada seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri meja kerja keduanya lebih tepatnya meja kerja Zihan.


"Hai," sapanya dengan senyum ramah dan semringah.


Zihan hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan seseorang yang kini ada dihadapannya.


"Gimana kabar kamu, Han?" tanyanya mencairkan suasana.


"Alhamdulillah baik, loe?" balas Zihan basa-basi.


"Alhamdulillah baik juga," sahutnya.


"Oh iya ini, Han aku mau balikin buku yang waktu itu aku pinjem," lanjutnya menyodorkan buku ke arah Zihan.


Zihan mengambil alih bukunya dan berkutat dengan layar komputer yang ada di depannya untuk menginput pengembalian buku.


"Ada dendanya gak, Han?" tanyanya.


"Enggak ada, kan setiap seminggu sekali loe perpanjang bukunya secara online," jawab Zihan.


"By the way, gimana kabar suami kamu?" selorohnya memecah keheningan. Suami? Ahk rasanya Zihan tak enak hati dengan perdebatan semalam yang menentang perintah suaminya.


"Kok bengong sih," ucapnya menyadarkan Zihan dari lamunan tentang suaminya.


"Hmm enggak papa kok. Alhamdulillah, Mas Gibran baik-baik aja."


Mas! hatinya kembali berdenyut nyeri saat mendengar panggilan Zihan untuk Gibran yang jelas-jelas sudah resmi menyandang status suami sah Zihan.


"Ini, Fan," Zihan menyodorkan sebuah kartu milik Irfan yang dijadikan sebagai jaminan pada saat ia meminjam buku.


"Iya makasih, Han," sahutnya menyambar kartu yang ada ditangan Zihan.


Setelahnya Irfan langsung meninggalkan area perpustakaan tempat Zihan bekerja. "Move-on, Fan move-on sekarang dia udah bahagia sama suaminya," ucapnya menenangkan hati yang bergejolak hebat menahan rasa sakit.

__ADS_1


Melupakan adalah cara terbaik untuk mengikhlaskan seseorang yang memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan kita. Melupakan sesuatu yang kita cintai memang sulit, karena sedari kita duduk di bangku sekolah pasti kita diajarkan untuk mengingat bukan melupakan, maka dari itu banyak orang yang susah move-on bahkan gagal move-on.


__ADS_2