Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 37 | Mimpi atau Realitas


__ADS_3

“Semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.”


♡♡♡


 “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan


mati.” ( Q.S Al-Imran/3:185)


♡♡♡


Sudah sekitar satu minggu Zihan tinggal di kediaman kedua orang tuanya, karena memang Gibran belum kunjung pulang ke Ibu kota. Pekerjaan menuntutnya untuk bersikap professional, dan harus rela meninggalkan istrinya yang tengah hamil besar.


Tepat pukul dua dini hari Zihan merasakan sakit di perutnya kian menjadi, tak ada


yang bisa ia lakukan selain merintih kesakitan. Peluh keringat sudah membanjiri


pelipisnya. Rasa sakit kian bertambah cepat bahkan untuk berjalan pun rasanya


kaki tak lagi bisa dipijakkan. Sampai akhirnya dia berteriak dengan sisa-sisa


tenaganya. “Aa...ayah... Bun..bunda,” teriaknya yang masih setia memegang perut


besarnya.


Tak ada tanda-tanda kehadiran sang ayah dan bunda menghampiri kamarnya membuat dia semakin khawatir dan takut akan keselamatan dirinya serta bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia mengambil gelas yang berada di nakas samping tempat


tidur dan melemparkannya kencang sehingga menimbulkan suara bising khas gelas yang dipecahkan. Tak berapa lama setelah mendengar suara pecahan gelas itu


pintu kamar Zihan terbuka lebar dan menampilkan sosok sang ayah dan bunda.


“Astaghfirullah, kamu kenapa, Nak?” tanya


Windi syok mendapati Zihan yang terbaring lemah diatas kasur dengan peluh serta


rintihan kesakitan keluar dari bibir ranumnya. “Sakit Bun,” rintihnya pada sang


bunda yang kini tengah membantunya untuk bangkit dari tempat tidur.


“Astaghfirullah, Yah ketubannya pecah,


Zihan mau melahirkan,” tutur Windi melihat cairan bening yang telah tumpah ruah


di atas kasur. Dengan sigap Pratama menggendong tubuh sang putri menuju rumah sakit, “Hubungi Gibran,” titahnya pada sang istri.


“Zaka hubungi Kak Gibran kasih tahu kalau Kak Zihan mau melahirkan.” Windi menyuruh sang putra bungsu dan memberikan handphone milik Zihan kepada Zaka.

__ADS_1


Zaka yang masih setengah sadar karena baru saja bangun dari tidurnya hanya bisa


mengangguk sambil mengucek matanya kasar, “Rumah sakit mana, Bun?” tanyanya.


“Asterion Hospital,” jawab Windi yang langsung pergi berlari mengejar langkah sang suami menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit. Karena hanya rumah sakit itulah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


♡♡♡


Dengan kecepatan penuh Pratama melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Rasa khawatir kini menyelimutinya. Hanya mampu berdoa dan berserah diri agar Allah berkenan menyelamatkan putri serta cucunya. Tak henti-henti Zihan merintih kesakitan dan memegang perutnya. “Sa...sa...sakit.. Bun...” rintihnya peluh kian membanjiri wajahnya.


“Istigfar, Nak istigfar,” ucap sang bunda menenangkan. Waktu terasa begitu lamban dan mobil yang mereka tumpangi belum kunjung menepikan diri di pelataran rumah


sakit.


“Buruan, Yah,” titah Windi pada sang suami, rasa takut dan khawatir kini semakin ia


rasakan melihat sang putri tengah merintih kesakitan.


“Iya sabar, Bun,”sahut Pratama yang masih fokus menatap jalanan agar cepat sampai tujuan.


♡♡♡


Pratama tak mau menunggu lama dan mengambil risiko dengan cepat dia menggendong tubuh sang putri ke dalam rumah sakit.


“Dokter... Suster... Tolong putri saya!” teriak Windi meminta bantuan agar putrinya segera diberikan pertolongan.


“Suaminya di mana?” tanya seorang suster yang baru saja keluar dari ruang bersalin.


Karena memang pada saat-saat seperti ini kehadiran seorang suami sangat bisa


membantu menenangkan istrinya yang tengah berjuang.


“Dalam perjalanan, Sus,” jawab Windi yang tadi baru saja mendapatkan kabar dari Zaka tentang keberadaan Gibran yang kini tengah berada di perjalanan menuju rumah


sakit.


“Baik, jika suaminya sudah datang bisa langsung masuk karena Ibu Zihan sangat membutuhkan suaminya,” ucap suster lalu kembali masuk lagi.


Tak lama setelah Windi menghubungi besannya akhirnya Prasetya dan Yulia terlihat berlari terpogoh-pogoh menghampiri Windi dan Pratama yang kini tengah mondar-mandir tak jelas di depan ruang bersalin. “Gimana keadaan Zihan?” tanya Yulia khawatir.


“Masih ditangani Dokter,” jawab Pratama. “Gibran mana?” tanya Prasetya mencari


keberadaan sang putra yang tak kunjung menyapa netranya. “Dalam  perjalanan,” jawab Windi menanggapi.


Ke-empatnya larut dalam kekhawatiran serta kecemasan. Bergelut dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Berdoa dan berharap agar keselamatan menyertai Zihan yang kini tengah berjuang hidup dan mati demi buah hatinya.

__ADS_1


“Apakah suami Ibu Zihan sudah datang?” tanya suster tadi lagi.


Semuanya menggeleng tak tahu, karena memang Gibran belum kunjung juga menampakkan batang hidungnya. Padahal sedari tadi Prasetya tak pernah bosan menghubungi putra bungsunya. “Gimana keadaan putri saya?” tanya windi khawatir.


“Sudah masuk pembukaan delapan, Bu,” jawab suster. “Bolehkan saya menemani putri saya?” tanya Windi sangat ingin berada di samping sang putri yang kini tengah berjuang hidup dan mati. Suster itu mengangguk dan mempersilahkan Windi masuk untuk menemani putrinya.


Windi menggenggam erat tangan sang putri yang sudah sangat kelelahan serta kesakitan. Ia tidak tega melihat putrinya seperti ini sampai tak terasa cairan bening itu lolos begitu saja dari kedua matanya.


“Yang kuat Sayang kamu pasti bisa,” ucapnya ditengah deraian tangis yang tak bisa ia bendung lagi.


'Ya Allah selamatkanlah putri dan cucu hamba.' Doa Windi dalam hati.


‘Sesakit ini kah Ya Allah rasanya melahirkan? Sungguh luar biasa rasa sakit ini,’ batinnya


“Mas... Gib...ran...ma...na, Bun?” lirihnya menanyakan kehadiran sang suami yang tak tertangkap netra.


“Insya Allah sebentar lagi sampai,” jawab Windi menenangkan sang putri agar konsentrasi dengan proses kelahirannya.


Di dalam ruangan bersalin Zihan kini tengah berjuang dengan didampingi sang bunda.


Gibran belum kunjung menampakkan batang hidungnya membuat Pratama Prasetya dan Yulia kelimpungan mencari keberadaan Gibran. Tak henti-hentinya mereka mencoba menghubungi Gibran namun ponselnya tak bisa dihubungi bahkan mati.


♡♡♡


Tepat pukul tujuh pagi Zihan berhasil melahirkan Putrinya. Tangis haru dan bahagia kini mendominasi ruangan yang Zihan tempati. Masya Allah rasa sakitnya melahirkan kini hilang dan tergantikan dengan senyum kebahagian yang terpancar jelas di wajah cantiknya.


Kini Zihan telah dipindahkan ke ruang rawat, ucapan syukur tak henti-henti mengalun indah dari keluarga itu. Pintu ruang rawat Zihan terbuka lebar dan menampilkan seorang suster dengan bayi dalam gendongannya. Dengan tangis haru bahagia Zihan mengambil alih Putrinya kedalam gendongan.


Zihan mengelus lembut pipi mulus kemerah-merahan putrinya, “Assalamualaikum Sayang ini Bunda,” ucapnya dengan linangan air mata penuh haru dan kebahagiaan.


“Han,” panggil sang ayah. Zihan lantas mendongak dan tersenyum ke arah sang ayah yang kini tengah tersenyum kearahnya.


“Boleh Ayah mengazani putri kecil kamu, Nak?” tanya Pratama, seharusnya ini tugas Gibran sebagai ayah untuk mengazani putrinya namun sampai saat ini Gibran belum kunjung juga hadir ditengah-tengah mereka.


Zihan menyerahkan putrinya pada sang ayah untuk diazani walaupun hati kecilnya menolak dan menginginkan putri pertamanya diazani oleh sang suami. Namun, harapan dan keinginan itu hancur lebur karena ketidakhadiran Gibran disini. Ada sebersit kekecewaan dalam hatinya namun dengan cepat ia menepis jauh-jauh rasa itu.


Pratama mulai membuka mulutnya untuk mengumandangkan adzan serta iqamah tepat di kedua telinga cucunya. Namun, urung saat pintu ruang rawat Zihan terbuka dengan begitu lebarnya dan menampilkan sosok dua orang laki-laki yang berbadan tegap serta gagah dengan setelan baju dinasnya. “Selamat pagi, Pak, Bu,” sapa salah satunya yang bername tag Galih.


Semuanya hanya tersenyum menanggapi sapaan orang itu. Namun, rasa heran dan bingung diam-diam menelusup kedalam perasaan mereka masing-masing. “Maaf mengganggu waktu Bapak dan Ibu,” tutur Galih sopan dengan senyum khas sosok abdi negara.


“Mohon maaf, Pak ada keperluan apa?” tanya Pratama merasa heran dan penasaran dengan kehadiran dua orang polisi di ruang rawat putrinya. Lalu dia meletakkan cucunya di dalam box bayi yang berada di samping ranjang Zihan.


“Apakah ada yang bernama, Ibu Zihan Fahira Adinda Pratama?” tanyanya. Mendengar namanya disebut sontak Zihan langsung menjawab, “Iya, saya sendiri.”


“Kami menemukan identitas  atas nama, Gibran Ahmad Luqman Prasetya di tempat terjadinya kecelakaan yang menyebabkan korban merenggang nyawa di tempat. Wajah korban rusak dan tidak bisa kami eksekusi, oleh sebab itu kami memninta kesedian Ibu

__ADS_1


sebagai istrinya untuk membantu kamu dalam proses otopsi korban," jelas


galih menceritakan kronologisnya. Dan langsung membuat suasana penuh haru serta kebahagiaan seketika menjadi Suasana yang sangat mencekam.


__ADS_2