
“Jadilah wanita yang cantik karena Akhlak bukan Bedak. Dan jadilah wanita yang memikat namun tak menimbulkan syahwat.”
♡♡♡
Paras cantik serta akhlak baik yang dimiliki ternyata tak menjamin jodoh akan datang
dengan cepat menjemput. Dia pun sama seperti perempuan di luar sana yang
mengharapkan sosok pria hebat yang siap menjadi imamnya, tapi ternyata Allah belum kunjung mempertemukan dia dengan sang imam pilihan.
“Ra, liat ini anaknya Om Irwan dan Tante Ismi namanya, Fahri dia itu bla-bla ...,”
ucap Prawira memperlihatkan sejumlah foto pria dengan berbagai profesi dan
kelebihan yang beliau ketahui.
Zahra hanya memutar bola matanya malas. Sedari tadi sang ayah tak henti-hentinya
menunjukkan sejumlah foto pria untuk dijadikan kandidat calon suaminya,
'Terus aja, Bi keluarin stocknya sampe abis gak bakal tertarik juga,' batin Zahra merasa tak suka dengan sikap dan karakter sang abi yang terlihat sangat memaksakan kehendaknya sendiri.
“Jadi?” tanyanya pada sang putri. “Apa?” tanya Zahra pura-pura tak mengerti dengan maksud yang dilontarkan Prawira.
“Yang mana?” tanyanya kembali membolak-balik beberapa foto yang ada ditangannya.
“Gak ada yang lebih bagusan lagi apa?” sahut Zahra malas.
Prawira hanya bisa mengelus dada mendengar pertanyaan sang putri yang sangat kentara sekali tak tertarik menanggapinya. “Terus mau kamu apa?”
“Jangan pernah jodoh-jodohin Zahra lagi,” selorohnya yang langsung pergi meninggalkan Prawira begitu saja.
♡♡♡
Suara pintu yang diketuk dengan tak sabaran membuat yang punya rumah mendengus kesal. “Dasar tamu gak tau aturan,” umpatnya, karena memang sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tamu macam apa yang malam-malam begini bertamu ke rumah orang dengan tak sabaran?
Setelah dia membukakan sang tamu dengan seenaknya langsung melewati sang tuan rumah tanpa dosa dan langsung duduk manis di sofa. “Kaya gak ada besok lagi aja loe bertamu malam-malam begini,” ucap Zihan pada tamu tak diundang.
“Hmm.”Hanya gumaman kecil yang diberikan sang tamu menyebalkan. “Siapa yang datang malam-malam begini, Han?” tanya Gibran yang baru saja turun dari lantai dua kamarnya.
“Gue kira tamu pentinglah ternyata loe,” ungkap Gibran menghampiri Zihan-istrinya
dan Zahra-sahabatnya. “Emang kenapa kalau gue ke sini? Gak boleh? Ok, gue balik
__ADS_1
sekarang juga,” ujar Zahra ketus.
“Becanda kali, Ra sensi banget loe,” tutur Zihan mencegah kepergian sahabatnya dan
sedikit mencairkan suasana yang memanas.
“Ada apa, Ra?” tanya Zihan penasaran karena tak biasanya Zahra berkunjung malam-malam begini ke rumahnya.
“Sumpek gue di rumah,” jawabnya pada Gibran dan Zihan. “Makanya kalau punya rumah gedean dikit biar kagak sumpek,” canda Gibran.
“Gue serius!” serunya tak mau menanggapi guyonan tak bermutu sang sahabat. Zihan
langsung menghadiahi sang suami dengan tatapan tajam siap menerkam.
“Sumpek kenapa, Ra?” tanya Zihan pada sang sahabat yang mukanya sudah ditekuk
berkali-kali lipat. Zahra masih bertahan dengan gemingnya ingin mengutarakan
isi hatinya namun dia takut membebani pikiran kedua sahabatnya.
“Ya udah, loe cerita aja sama istri gue. Gue ambilin dulu minum buat loe,” kata
Gibran lalu pergi ke dapur.
“Nih, Ra minum dulu biar rileks.” Gibran datang dengan segelas minuman serta beberapa makanan ringan di nampan.
“Gue cabut dulu ke kamar mau ngerjain beberapa laporan kantor,” pamitnya pada Zahra dan sang istri.
“Iya,” sahut Zihan, sedangkan Zahra hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Gue bingung, Han,” ungkap Zahra membuka suara setelah memikirkan semuanya terlebih
dahulu. “Bingung kenapa, Ra?” tanya Zihan.
“Gue bingung ngadepin sikap bokap gue,” adunya, air mata sudah mendesak ingin keluar namun sebisa mungkin dia tahan.
“Bokap gue terus-terusan mendesak gue buat nikah dan jodoh-jodohin gue dengan sejumlah laki-laki pilihannya,” lanjutnya
dengan air mata yang sudah menggenang dan tak terasa sudah berjatuhan.
Zihan membawa tubuh Zahra kedalam pelukannya mengelus punggungnya pelan. Memberikan sedikit kehangatan serta kekuatan untuk sahabatnya yang kini sedang dilanada kegundahan. “Gue bingung, Han,” lirihnya dengan terisak.
Zihan melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Zahra dengan kedua ibu jarinya. “Loe harus yakin dan percaya bahwa perihal jodoh rezeki dan maut itu ada di tangan
__ADS_1
Allah. Sekalipun bokap loe maksa nikah sama laki-laki pilihannya jika Allah tak berkenan menjodohkannya, maka pernihakan itu tidak akan pernah terjadi,” ucap Zihan panjang lebar.
“Tapi....”
“Loe terlalu cepat mengambil kesimpulan atas hidup loe. Gak ada satu orang pun yang tau tentang takdir loe di masa yang akan datang, kecuali Allah.”
'Seandainya loe tau alasan bokap gue itu apa. Apa loe akan tetep ngomong kaya gitu,
Han?' Zahra membatin.
'Bukan loe aja yang tertekan dengan permintaan orang tua loe tapi gue juga.' Zihan pun membatin meratapi masalahnya yang ia pendam seorang diri.
Keduanya saling bungkam dalam pelukan kebersamaan, saling menyalurkan semangat dan dukungan, “Masalah akan mendewasakan kita,” bisik Zihan menguatkan dirinya dan sang sahabat.
♡♡♡
“Mas,” panggil Zihan pada sang suami yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Apa?” sahutnya tapi tak sedikit pun mengalihkan fokusnya.
Terdengar helaan napas berat dari mulut Zihan dan itu berhasil membuat Gibran sedikit melirik ke arah istrinya yang kini tengah terduduk di ranjang.
“Kenapa?” tanyanya pada sang istri yang malah diam membisu. Terlihat Zihan hanya menggelengkan ragu, lalu kemudian dia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya.
Melihat keanehan yang istrinya tunjukkan membuat Gibran melangkah mendekat ke arah Zihan dan meninggalkan sejenak pekerjaannya. Dia membelai pucuk kepala istrinya yang tertidur membelakangi. “Kamu kenapa, Han?”
Merasakan elusan lembut di kepalanya sontak dia membalik tubuhnya dan menemukan sosok sang suami yang tersenyum kepadanya. Zihan hanya menampilkan senyuman tipis. Dia tak ingin membebani pikiran Gibran yang kini tengah sibuk dengan urusan pekerjaannya, biarlah ini menjadi beban pikiranku sendiri. Pikirnya tak mau memberitahu apa yang selama ini menjadi beban pikirannya.
'Maafkan aku, Mas biarkan ini menjadi urusanku,' batinnya.
“Tidurlah, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku dulu,” titahnya lalu mengecup kening Zihan.
Akhir-akhir ini dia disibukkan dengan perusahaan yang dipimpinnya.
Perusahaan yang berdomisili di Bandung itu mengalami sedikit kendala dan
mengharuskan dia terjun langsung menanganinya. Bolak-balik Jakarta Bandung juga sudah seringkali dilakoninya beberapa minggu belakangan ini.
'Aku tau apa yang menggangu pikiranmu,' batin Gibran seakan-akan mengerti
perubahan sikap yang ditunjukkan istrinya akhir-akhir ini.
“Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu,” bisiknya tepat disamping telinga Zihan lalu beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1