Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 40 | Repot


__ADS_3

“Sholehah, itulah pinta seorang ayah 


kepada putrinya. Karena kesuksesan seorang ayah, adalah pada saat anak


gadisnya tumbuh menjadi sosok wanita yang menjelma bak bidadari surga.”


♡♡♡


Setelah sekitar satu minggu menginap di rumah sakit. Alhamdulillah, akhirnya hari ini Zihan bisa menghirup udara bebas, karena bisa kembali tinggal di rumahnya


dengan sang suami tercinta dan juga sang putri yang baru seminggu ini melihat


indahnya dunia. “Inget, Han kamu jangan terlalu capek dan banyak kerja dulu. Kondisi kamu belum pulih benar.” Wejangan itu Zihan dapatkan dari ibunda tercintanya.


“Iya, Han kalau kamu perlu apa-apa suruh aja suami kamu. Dia ada buat kamu


suruh-suruh. Kalau dia gak mau laporin sama Mamah, biar Mamah pecat dia jadi


anak,” timpal Yulia. Gibran mendengus sebal mendengar perkataan ibunya. “Gibran


ini suaminya Zihan, bukan pesuruhnya Zihan.”


“Kamu harus bantuin Zihan urus dan jaga Nadhira, apa lagi kalau tengah malem Nadhira kebangun kamu jangan tidur tapi ikut bantuin Zihan.” Prasetya ikut memberikan nasihat dan petuahnya.


“Sekarang bukan cuman Zihan aja yang jadi tanggung jawab kamu, tapi juga ada Nadhira. Jadi, kamu harus lebih bertanggung jawab atas keluar kecil kamu,” ucap Pratama ikut serta larut dalam obrolan.


“Ada lagi?” tanya Gibran sedikit malas mendengarkan perkataan kedua orang tua dan mertuanya. “Selamat begadang ria adikku tercinta,” tambah Galang yang juga kini tengah berada si kediaman Zihan dan Gibran.


“Jijik gue denger bahasa alay loe, Kak,” ungkap Gibran. “Jangan lagi pake loe gue,


kamu udah jadi sekarang ayah bukan lagi seorang remaja gaul,” tegur Prasetya.


“Siap, Big Boss laksanakan!”


“Han, kalau Gibran gak mau gantiin popok Nadhira loe pecat aja tuh dia jadi suami,”


ucap Zahra dengan kekehan kecilnya.


“Apaan loe maen pecat-pecat aja. Loe kira gue bawahan Zihan apa?” ucap Gibran spontan. “Gibran!!!” panggilan penuh peringatan dia dapatkan dari para tetua.


“Maaf keceplosan,” santainya yang baru menyadari bahwa tadi dia tak sengaja


mengucapkan kata 'loe gue'. “Mamah lakban tuh mulut biar gak asal jeplak,” ucap


Yulia.


“Gak sekalian aja dijahit, Mah biar lebih puas,” kata Gibran menimpali.


“Sembarangan kamu kalau ngomong.” Prasetya ikut larut dalam obrolan.


“Ya udah mending kalian istirahat gih sana, kita juga mau pulang dulu. Besok insya

__ADS_1


allah kita kesini lagi,” ucap Windi. “Iya,” sahut Zihan dan Gibran seraya menyalami punggung tangan kedua orang tua dan mertuanya.


♡♡♡


“Mas ambilin bedongnya di lemari,” titah Zihan. “Gak ada Han,” katanya setelah


mengobrak-abrik isi lemari. “Cari yang bener dong, Mas,” tutur Zihan yang sibuk


menenangkan tangis Nadhira yang menggema.


“Sampai kiamat juga tuh bedong gak akan ketemu kalau kamu carinya di situ. Kan udah aku kasih tau kalau lemari baju Nadhira yang sebelah kiri bukan sebelah kanan,” ucap Zihan menghampiri suaminya.


Gibran mengecek kedua matanya beberapa kali. “Lupa, nyawaku belum ke kumpul, Sayang. Mana ngeh sama posisi lemari.” Jam sudah menunjukkan tengah malam dan sepasang orang tua muda itu malah disibukkan dengan kegiatan mengganti popok anaknya yang basah.


Gibran memerhatikan gerakan tangan istrinya yang sudah mulai leluasa dalam mengurus Nadhira. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri dalam dirinya. Melihat sang istri yang kerepotan karena ulah rambut panjangnya yang tergerai, dia


berinisiatif untuk mengikat rambut istrinya.


“Makasih Mas,” ucap Zihan dengan senyuman tulusnya. “Gak usah bilang makasih, itu udah jadi kewajiban Mas.”


Zihan merasa hatinya menghangat, penuturan suaminya membuat dia senang sekaligus lega. Karena dia memiliki suami siaga seperti Gibran yang selalu siap sedia


membantunya, dan itu membuat Zihan bahagia.


“Ya udah sekarang kamu tidur lagi, Nadhira biar Mas yang jagain,” ucap Gibran yang


melihat Zihan beberapa kali tertangkap basah menguap.


Gibran dengan senyuman jailnya.


“Ish, Mas mah gitu. Yaudah aku tidur duluan,” katanya setelah mengecup kedua pipi sang putri yang masih belum terlelap. Gibran tersenyum tipis ke arah istrinya


yang kini sudah mulai terlelap, lalu mengecup pelan kening istri tercintanya.


“Tidur yang nyenyak, Sayang.”


Gibran menimang-nimang tubuh mungil putrinya agar segera menyapa alam mimpi, dengan lantunan ayat suci Al-qur'an yang mengalun merdu di bibirnya.  Dia selalu


berdoa dan berharap agar kelak putrinya menjadi perempuan yang sholehah, yang


mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta menjadikan kitab Al-qur'an sebagai pedoman dan tuntunan hidupnya. Setelah dirasa putrinya sudah tertidur lelap, dia


menidurkan Nadhira di dalam box bayi-nya. Mengecup dahinya pelan sebelum benar-benar dia beranjak ikut tidur di samping istrinya.


♡♡♡


Pagi-pagi buta Zihan sudah disibukkan untuk mengurus putrinya yang sedang menangis. Dia dibuat kewalahan untuk mengurus bayi merah seperti Nadhira, terlebih lagi tidak adanya pengalaman membuat Zihan kewalahan dan sedikit kerepotan.


“Cup...cup...jangan nangis, sayang,” dengan penuh kasih sayang seorang ibu Zihan mengelus pipi gembul Nadhira.


Zihan menggendong Nadhira seraya memberikan ASI-nya. Meskipun kantuk masih dia rasakan, tapi sebisa mungkin dia menghilangkan rasa kantuk itu jauh-jauh.

__ADS_1


“Astagfirullah, Gibran! Istri kamu lagi ribet ngurusin Nadhira. Tapi kamu malah ngorok kaya gitu,” ucap Windi saat dia memasuki kamar tanpa permisi.


“Bunda, ngagetin aku aja,” kata Zihan dengan suara pelan. “Kamu repot sendirian


sedangkan Gibran malah tidur dengan nyaman,” ujar Windi.


“Bunda, jangan berisik. Kasian Mas Gibran baru tidur tadi subuh, semaleman dia jagain


Nadhira,” terang Zihan.


“Bangunin suami kamu, gak baik tidur sehabis salat subuh,” peringat Windi. “Tapi, kan Bun.kasian...”


“Bangunin Zihan!” potong Windi cepat dan langsung mengambil alih Nadhira untuk dia


mandikan. Zihan belum berani memandikan sendiri putrinya, kegiatan mandi


memandikan menjadi tugas bunda dan mamah mertuanya.


“Mas bangun,” dengan terpaksa Zihan membangunkan tidur nyenyak suaminya.


“Engghhhh...” Hanya lenguhan yang Gibran berikan. Matanya masih sulit untuk dibuka.


“Mas ada Bunda,” ujar Zihan.


Mata Gibran langsung terbuka lebar saat mendengar kata Bunda' keluar dari mulut


istrinya. Bisa hancur image-nya kalau ketahuan tidur lagi setelah salat subuh.


Walau pada kenyataannya Windi sudah melihat kelakuan minusnya. “Bunda,”


pekiknya.


“Iya, sekarang lagi mandiin Nadhira,” tutur Zihan. “Tadi Bunda ke sini?” tanya Gibran


dengan raut wajah yanh sulit untuk diartikan. Zihan mengangguk. “Iya, buruan


Mas mandi, sebelum Bunda balik lagi ke sini.”


“Kenapa kamu gak bangunin Mas sebelum Bunda ke sini,” katanya. “Aku juga gak tau kalau Bunda bakal datang selagi ini, tadi pas aku lagi kasih ASI ke Nadhira tiba-tiba


aja bunda masuk ke kamar,” terang Zihan.


Gibran mengacak rambutnya frustrasi. “Bisa dicoret dari daftar mantu idaman nih.” Zihan terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya. “Tenang aja gak bakal sampe dipecat jadi mantu kok.”


Gibran memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Itu gak akan pernah terjadi,” bisiknya tepat di samping telinga Zihan. Zihan membalik tubuhnya, membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami, “Ya udah gih sana mandi, bau.”


Gibran mendengus pelan mendengar ucapan suaminya. “Kirain mau bilang I love


you.” Zihan menampilkan senyuman tipisnya. Dengan gemas Gibran menjawil


hidung mancung istrinya, lalu berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


“Mas Gibran!” Gibran hanya tertawa bahagia mendengar teriakan kesal istrinya.


__ADS_2