
“Lari atau berdiam diri adalah pilihan dalam menghadapi masalah. Dan aku lebih memilih lari dengan tujuan untuk menghibur diri.”
♡♡♡
Hari libur akhirnya menghampiri, menggantikan hari penat dan membosankan. Hari merdeka bagi siapa saja yang lelah bekerja, begitupun dengan Gibran akhirnya dia bisa bernapas lega setelah seminggu penuh bekerja dan kehilangan sedikit waktu kebersamaan dengan istri tercinta.
“Liat deh, Mas aktornya ganteng banget,” tunjuk Zihan yang kini tengah fokus menatap layar televisi yang menampilkan sebuah ftv (film televisi) yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.
“Gantengan juga, Mas itu mah gak ada apa-apanya kalau dibandingin sama aku,” sahutnya merasa tersaingi dengan aktor tampan yang begitu istrinya idolakan.
“Aku mencium bau-bau kepedean dan kecemburuan nih,” sindir Zihan dengan senyuman jailnya.
“Yang haram aja diliatin giliran yang halal malah dianggurin,” kata Gibran tak begitu
suka melihat sang istri yang terlalu mengidolakan aktor yang selalu wara-wiri
di depan televisi. Zihan tak menanggapi dia malah kembali fokus menatap layar televisi dengan mata berbinar serta senyum mengembang yang tak pernah luntur
menghiasi wajah cantiknya.
“Ih, kok malah dimatiin sih,” gerutunya sebal pada sang suami yang tiba-tiba saja mematikan televisi, padahal layar itu sedang menampilkan wajah tampan dan rupawan aktor favoritnya.
Gibran tak menanggapi, dia malah menyembunyikan remote di belakang tubuhnya agar sang istri kesulitan mengambilnya.
“Mas,” rajuknya agar sang suami memberikan remote-nya.
“Mata kamu sudah terlalu banyak melihat apa yang tak seharusnya kamu lihat,”
tutur Gibran.
“Orang aku cuman nonton ftv aja, apa salahnya sih, Mas?” sanggah Zihan yang masih keukeuh ingin kembali menyalakan televisi.
“Coba kamu lihat aktor dan aktris yang berperan di sana. Mereka saling bertatapan, berpegangan tangan, bahkan berpelukan padahal mereka tidaklah halal untuk melakukan semua itu,” jelas Gibran saat dia kembali menyalakan layar datar itu.
“Mereka, ‘kan cuman akting doang, Mas. Apa salahnya coba?” sela Zihan masih setia
membela sang idola. “Memang mereka hanya berakting dan beradu peran tapi apa
yang mereka lakukan itu salah. Tidak seharusnya mereka melakukan interaksi
berlebihan antara laki-laki dan perempuan, itu namanya berkhalwat dan itu
dilarang dalam islam.”
__ADS_1
Sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)
“Jangan terlalu banyak menonton tayangan yang tak memiliki faedahnya,” nasihat Gibran pada istrinya.
“Mereka berakting tidak hanya berduaan. Banyak kru televisinya jadi mereka gak berkhalwat dong,” sahutnya masih keukeuh.
Terdengar helaan napas panjang dari Gibran. “Memang di sana banyak orang yang terlibat dalam proses produksinya tapi tetap saja mereka berdualah yang berperan aktif
dalam film itu dan tidak seharusnya mereka beradegan demikian.”
“Mas hidup itu perlu hiburan biar gak monoton, dan itu bisa menghibur aku dari
kesepian,” bela Zihan masih membela idolanya.
“Jangan bilang kalau setiap hari kerjaan kamu nonton begituan,” selidik Gibran penuh curiga dan tentunya tepat
sasaran.
Zihan hanya menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih serta tak lama
kepalanya mengangguk ragu, takut sang suami akan menceramahinya tujuh hari
“Mas mau nanya satu hal sama kamu, tapi kamu harus jawab yang jujur dan gak ada
ngeles-ngelesan lagi,” ucap Gibran to the
point. Zihan hanya mengangguk mengiyakan saja, karena dia sedang fokus
menonton tayangan televisi.
“Tv aja dipantengin giliran, Mas dianggurin,” celetuk Gibran yang melihat Zihan masih sibuk sendiri menatap layar televisi.
“Udah sih, Mas kalau mau ngomong ya tinggal ngomong aja. Tanggung nih lagi seru,” sahut Zihan masih enggan memalingkan wajahnya dari layar televisi.
“Oke, kalau gitu jangan harap besok kamu bisa nonton tv lagi!” ancam Gibran.
“Dasar kerjaannya gangguin kesenangan aku mulu,” gerutu Zihan masih kesal dengan Gibran yang tadi pagi seenaknya mematikan televisi padahal baru satu segment dia
menontonnya.
Dengan malas dan ogah-ogahan dia memutar tubuhnya menjadi menghadap sang suami yang memasang wajah kemenangan sedangkan Zihan memasang wajah tak menyenangkan.
__ADS_1
“Apa?” tanyanya karena Gibran tak kunjung juga membuka mulut padahal matanya sudah gatal ingin segera melihat kelanjutan pertandingan bulu tangkis itu.
Gibran manarik napas lalu mengembuskannya secara kasar. “Apa yang membuat kamu beberapa hari belakangan ini banyak melamun?” tanya Gibran langsung pada intinya, dia ingin mendengar langsung alasannya dari mulut sang istri. Zihan langsung menatap manik mata Gibran tak percaya dengan apa yang baru saja di pertanyakan suaminya. Dia hanya bisa menunduk dalam setelah mendapat tatapan tajam mematikan dari mata suaminya. Baru saja dia mencoba tidak memikirkan hal itu tapi suaminya malah kembali mengingatkan dia.
'Kenapa harus itu sih, Mas,' batinnya tak suka mendapat pertanyaan yang bernada
interogasi dari suaminya.
“Jawab, Zihan malam bengong,” tegur Gibran yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zihan.
'Apa yang harus aku katakan? Apakah
aku harus berkata jujur dan mengatakan semuanya?' Dia bermonolog kebingungan dalam hatinya.
Gibran memegang dagu istrinya agar dia bisa menatap raut wajah istri tercintanya.
“Katakan semuanya,” tegasnya. Zihan menggeleng pelan dengan permintaan
suaminya, dia takut.
“Enggak ada, Mas.” Gibran menghela napas kasar dengan sikap keras kepala yang dimiliki istrinya.
“Apa karena Mamah kamu jadi seperti ini?” tanya Gibran tepat sasaran.
Deg! Jantung Zihan serasa copot dan merosot dari tempatnya. Batinnya bertanya-tanya tak percaya seakan-akan bertanya, ‘tahu dari mana?’
“Jangan terlalu dipikirkan tentang permintaan Mamah yang terlalu berlebihan,” tuturnya setelah tak kunjung mendapatkan respons. Zihan seakan-akan kembali diajak ke lorong waktu beberapa bulan lalu saat dia menyambangi kediaman sang mertua. Sambutan hangat dia dapatkan dari kedua mertua serta kakak iparnya. Rasa bersalah pada diri sendiri kini mendominasi. Apakah aku bisa memenuhi permintaan mertuaku? Itulah tanda tanya besar dalam dirinya.
“Maaf,” ucap Zihan tak terasa air mata kini sudah mengalir dengan begitu derasnya. Gibran menghapus cairan bening itu dari kedua sudut mata istrinya. “Allah belum
berkenan untuk menitipkan malaikat kecil untuk mengisi kekosongan rumah tangga
kita.”
Zihan malah semakin terisak mendengar apa yang dikatakan suaminya. “Maaf,” ulangnya rasa bersalah dan takut semakin menguasai dirinya. Gibran merengkuh tubuh Zihan ke dalam dekapannya.
“Insya Allah akan ada saatnya rumah ini ramai dengan suara tangisan malaikat kecil kita.” Zihan hanya mengangguk kelu dan mengaminkan doa suaminya.
Terkadang manusia itu aneh dan merasa tidak puas diri dengan apa yang ada di depan mata. Orang yang lajang selalu ditanya kapan nikah? Orang yang sudah
menikah selalu ditanya kapan punya momongan? Dan orang sudah mempunyai momongan masih akan mendapatkan pertanyaan kapan nambah? Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berkembang dan bertambah, dan
tanpa mereka sadari pertanyaan-pertanyaan itu bisa membuat mental
__ADS_1
seseorang down dan terpuruk. Sudah seharusnya kita sebagai seorang hamba tidak selalu mempertanyakan takdir yang telah Allah gariskan cukup kita menikmatinya dengan alur kehidupan yang tentu sudah Allah rencanakan.