
“Kehadiranmu ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan malam, membawa kebahagiaan yang teramat dalam. Menggantikan duka menjadi suka dan tangis haru kebahagiaan yang tak dapat
didefinisikan.”
♡♡♡
“Kami menemukan identitas serta handphone atas nama Bapak Gibran Ahmad Luqman Prasetya di tempat terjadinya kecelakaan yang menyebabkan korban merenggang nyawa di tempat. Wajah korban rusak dan tidak bisa kami eksekusi, oleh sebab itu kami meminta kesedian Ibu sebagai
istrinya untuk membantu kami dalam proses otopsi korban,” jelas Galih menceritakan kronologisnya. Dan langsung membuat suasana penuh haru serta kebahagiaan seketika menjadi Suasana yang sangat mencekam.
“Gak... gak... mungkin!” teriak Zihan histeris tak percaya.
“Itu semua benar Kak tadi pihak kepolisian menghubungi handphone Kakak dan aku yang mengangkatnya. Dan aku juga yang memberitahu keberadaan Kakak di sini,”
jelas Zaka yang tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka.
Deg! Kebahagiaan yang baru saja
meliputi mereka hilang seketika dengan kenyataan yang mampu memporak-porandakan hati mereka secara bersamaan. Mengapa takdir sekejam ini? Baru saja aku merasakan indahnya kebahagiaan tapi sekarang aku kembali merasakan sakitnya kehilangan. Ya Allah haruskah aku mempertanyakan dan menyalahkan takdir yang telah Engkau gariskan?
“Mas Gibran,” lirihnya lalu limbung ambruk tak sadarkan diri.
“Zihan!” sontak semua mata tertuju ke arah bed yang Zihan tempati. Semua panik keadaan semakin kacau lantas Prasetya langsung berlari ke arah pintu untuk memanggil dokter. Namun, langkahnya terhenti tatkala netranya melihat sosok seseorang yang tengah berdiri diambang pintu dengan keadaan dan pakaian yang jauh dari kata baik serta layak pakai.
Prasetya mematung tak percaya dengan apa yang ada didepan matanya. Netranya terus memonitor seseorang yang ada dihadapannya dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. “Astaghfirullah,”
gumamnya dengan mata dan mulut terbuka dengan sangat lebar.
“Mana, Dokternya?” Tiba-tiba Pratama datang menghampiri Prasetya yang masih
terbengong-bengong tak percaya di ambang pintu ruang rawat yang kini Zihan tempati. Sudut mata Pratama tak sengaja menangkap apa yang Prasetya lihat.
Keduanya bungkam dan diam dengan pikiran yang berkecamuk entah kemana dan
dimana.
“Gimana keadaan Zihan?” tanya orang yang berada di hadapan Pratama dan Prasetya yang masih betah dengan gemingnya. Tak mendapatkan respons dari kedua orang di hadapannya sontak orang itu langsung masuk dan berlalu ke dalam ruangan yang Zihan tempati.
“Zihan,” panggilnya menghampiri Zihan yang tengah tak sadarkan diri. Sontak netra Windi, Yulia, Zaka serta kedua orang polisi tadi menatap ke arah sumber suara berasal. Yulia langsung ambruk tak sadarkan diri sedangkan Windi diam membisu dan bertahan dengan gemingnya serta tanda tanya besar di dalam benaknya.
Mendapati Yulia yang pingsan dan ambruk di atas dinginnya lantai sontak membuat orang itu lari ke arah Yulia dan Windi yang belum menyadari bahwa kini Yulia sudah jatuh dan ambruk begitu saja. “Jangan mendekat!” langkahnya terhenti saat rungunya menagkap suara gemetar Windi.
Windi baru menyadari bahwa kini besannya sudah tak sadarkan diri. “Bangun! Bangun!” ucap Windi menempatkan kepala Yulia di atas pangkuan serta menepuk-nepuk kedua pipi Yulia agar segera sadar dan siuman.
“Astaghfirullah, Ya Allah astaghfirullah Allahuakbar,” rapal Windi mengucap takbir
serta istigfar.
“Kak Gibran?” ucap Zaka dengan suara tercekat. Zaka melangkah lebih dekat dan
menghampiri orang yang kini berada di depannya dengan langkah ragu.
Mengucek-ngucek kedua matanya kasar.
“Zaka istigfar, Nak istigfar dia bukan
Gibran,” larang Windi dengan suara gemetar. Rasa kehilangan membuatnya gila
dengan kehadiran sosok yang tak nyata ada di depan mata. Ilusi! Ya, Windi yakin kini dia tengah berhalusinasi.
“Ya Allah Astaghfirullah, Astaghfirullah, Allahuakbar, Allahuakbar.” Bibir Windi tak henti-henti mengucap.
♡♡♡
Zihan mengerjapkan matanya dengan perlahan-lahan. Netranya memonitor setiap orang yang kini tengah mengelilingi brankarnya. “Zihan,” panggilnya dengan wajah berbinar dan senyum merekah.
“Mas... Mas...” Zihan terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya
'Sadar Han sadar! Stop Mas Gibran udah pergi! Jangan halu!'
“Ini aku, Han suami kamu,” ucapnya. Tangannya terulur hendak membelai pucuk kepala Zihan namun urung saat suara teriakan dari mulut Zihan keluar dengan begitu kencangnya, “Gak Mungkin! Gak mungkin! Argghhhh.”
“Istigfar, Nak kendalikan dirimu,” tutur Windi.
__ADS_1
“Bun...” lirihnya air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Windi membawa tubuh sang putri ke dalam pelukannya dan membisikan sesuatu tepat di samping telinga Zihan.
Zihan melepaskan pelukannya dan menatap seseorang yang berdiri disamping brangkarnya. Zihan langsung berhambur kedalam pelukan orang yang ada disampingnya dengan air mata yang semakin mengalir dengan begitu derasnya. “Kamu kembali.”
'Apa ini mimpi? Ya Allah kalau ini hanya mimpi aku mohon biarkan aku selamanya
tertidur dan terbuai dalam dekapan hangatnya,' batin Zihan.
“Kembali?” ulangnya penuh tanda tanya dan spontan melepaskan pelukan mereka.
“Dasar Kak Gibran kurang kerjaan, ngerjain kita semua pake acara bawa-bawa polisi terus bilang kalau Kakak udah meninggal lagi,” gerutu Zaka merasa dibohongi oleh kakak iparnya.
“Ngerjain? Polisi? Meninggal? Siapa?” tanyanya heran tak mengerti dengan apa yang dimaksud Zaka.
“Udah, Ran becanda kamu gak lucu bikin kita semua orang panik, khawatir, takut, dan sedih secara bersamaan,” tutur Prasetya pada putranya itu.
“Kalian ngomong apaan sih aku gak ngerti,” sahutnya heran dengan pernyataan papah serta adik iparnya.
“Bagus yah kamu udah pinter akting sekarang, udah bikin Mamah pingsan. Terus sekarang malah pura-pura hilang ingatan. Untung Mamah gak sampe jantungan!” semprot Yulia seraya menjewer kuping putra bungsunya.
“Awww... Sakit Mah, Aku gak ngerti apa
maksud kalian semua,” keluhnya meraba daun telinga yang memerah akibat ulah sang mamah.
“Maaf, Pak, Bu kami permisi dulu,” ujar Galih yang sedari tadi menyaksikan keributan di antara mereka.
“Lah kok ada polisi? Sejak kapan ada di sini?” tanyanya bingung dan baru menyadari.
“Drama king banget sih kak,” ujar Zaka begitu malas dan kesal.
“Oh iya, kami tunggu kedatangan Ibu Zihan di rumah sakit pelita harapan untuk
proses otopsi jenazah Suami Ibu,” ucap galih mengingatkan Zihan.
“Maksud Anda jenazah siapa?” tanyanya menggebu-gebu. Membuka lebar-lebar daun telinganya.
“Jenazah dari suami Ibu Zihan atas nama Gibran Ahmad Luqman Prasetya,” jelas Galih yang membuat Gibran geram seketika.
“Anda mendoakan saya meninggal. Begitu?” amuk Gibran dengan rahang yang sudah mengeras serta wajah memerah menahan amarah.
Kedua polisi itu diam mematung tak percaya dengan ucapan parsetya mana mungkin mereka salah mendeteksi korban kecelakaan. “Maaf, Pak, Bu tapi data diri serta barang-barang berharga yang kami temukan atas nama bapak Gibran Ahmad Luqman Prasetya. Jadi, kami tidak akan mungkin salah menyampaikan informasi,” ungkap Galih.
Seketika mimik wajah Gibran berubah drastis saat mendengar penjelasan kedua polisi yang ada di hadapannya. Serta dengan begitu santainya meledakkan tawa di tengah-tengah kebingungan semua orang yang ada didalam ruang rawat Zihan. “Jadi cuman gara-gara itu kalian menganggap aku udah meninggal?” tanyanya santai.
Semuanya terdiam melihat Gibran yang masih tertawa dengan begitu puasnya dan spontan mereka langsung menganggukkan kepala sebagai respons atas apa yang dipertanyakan Gibran. “Pada saat perjalanan menuju ke sini aku dirampok semua barang-barang berharga aku di ambil paksa termasuk handphone, dompet yang berisi KTP, ATM, dll. Termasuk mobil yang aku kendarain, mungkin yang mengalami kecelakaan itu rampoknya," jelas Gibran setelah tawanya reda.
“Untung wajah tampan dan rupawan ini cuman bonyok dikit,” lanjutnya seraya memegang beberapa bagian wajahnya yang memar akibat ulah perampok itu.
“Mana coba Mas aku lihat,” ucap Zihan panik dan tanpa sengaja memegang luka lebam di wajah suaminya. Yang menimbulkan ringisan yang pelan keluar dari mulut Gibran.
'Dasar gak tau sikon banget! Masih sempat-sempatnya romatisan depan polisi,' batin
Galih saat netranya menangkap romantisme Zihan dan Gibran.
“Baiklah kalau begitu kami permisi undur diri, untuk dompet serta handphone Anda akan kami kembalikan setelah proses hukum selesai,” tutur Galih lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan tempat Zihan dirawat.
“Mobil,” gumam Gibran mengingat keadaan mobilnya yang kini mungkin sudah hancur tak berwujud.
“Lem baru, lempar beli yang baru Kak,” kelakar Zaka yang mendengar gumaman Gibran.
“Dikira beli mobil kaya beli permen apa. Gampang banget tuh ngomong,” sela Gibran yang masih menyayangkan mobilnya.
“Mobil mah masih banyak bisa dibeli Mas. Ambil hikmahnya aja karena rampok itu kamu selamat dari maut,” ucap Zihan.
Gibran mengangguk setuju dengan penuturan istrinya. “Kalau mobil ilang masih bisa ganti tapi kalau aku yang ilang kamu sendiri tanpa aku sang kekasih hati,”
godanya seraya tersenyum jail kearah Zihan. Semuanya memutar bola mata malas
mendengar gombalan yang Gibran lontarkan.
“Pantes kamu kaya gembel gini, Ran taunya kerampokan,” celetuk Pratama yang melihat
penampilan menantunya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kemeja putih yang
__ADS_1
sudah jauh dari kata bersih serta wajah dan rambut yang sudah acak-acakan tak
jelas, dan satu lagi yang menambah kesan kegembelan Gibran adalah tanpa adanya
alas kaki yang terpasang di kakinya.
“Tadi aja pada nangis-nangis bahkan pingsan lah sekarang malah ngetawain aku!” kesalnya.
“Syukur masih ada yang mau kasih tumpangan buat ke sini walau sebagai
gantinya jas dan sepatu bermerk aku yang jadi korban.” Gibran mendengus mengingat
perjuangannya menuju ke rumah sakit tidaklah mudah dan penuh dengan drama
kehidupan. Dari mulai kerampokkan dijalan, mencari tumpangan, dan berakhir
mengenaskan dengan dianggap sebagai arwah gentayangan.
Mendengar penjelasan Gibran lantas membuat semua orang yang ada di dalam ruangan kembali tertawa dengan begitu kencangnya. “Udah, Mas mending kamu pulang gih mandi sama ganti baju terus
nanti kesini lagi,” titah Zihan setelah keadaan mulai bisa dikondisikan.
Gibran menggeleng tak setuju dengan usulan istrinya. “Kenapa?” tanya Zihan.
“Aku mau liat dan azanin anak aku dulu,” jawab Gibran dengan cengiran khasnya.
“Enggak!” tolak Zihan.
“Kenapa? Aku, ‘kan Ayahnya aku berhak dong buat azanin anak aku,” jawabnya tak menerima tolakan dari Zihan.
“Aku Ibunya, kalau aku bilang enggak yah enggak!” keukeuh Zihan tak mau kalah.
“Tapi aku juga Ayahnya,” ucap Gibran ngotot.
“Udah-udah kalian ini malah ribut gak
jelas,” lerai Yulia merasa lelah dengan perdebatan kecil antara anak dan
menantunya.
“Kamu cuci tangan sama bilas dulu wajah kamu terus kamu boleh azanin anak kamu,”
tutur Windi memberi keputusan.
Dengan senang hati Gibran menuruti titah sang mertua, “Bunda emang paling the best deh,” gumamnya seraya berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruang rawat Zihan.
♡♡♡
Gibran keluar dari arah pintu kamar mandi dengan wajah berseri dan senyum mengembang yang menghiasi. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil alih putri kecilnya yang berada disamping Zihan.
“Enggak!” tegas Zihan menepis lengan Gibran yang sudah terulur kearahnya.
“Zihan biarkan suami kamu untuk mengazani putrinya,” titah Pratama.
“Tapi, Yah....”
“Zihan!” tegur Windi penuh peringatan. Zihan akhirnya memberikan tubuh mungil nan kecil sang putri kedalam gendongan Gibran. Namun, urung saat ia menyadari pakaian yang dikenakan suaminya jauh dari kata bersih.
“Pake baju steril dulu baru kamu boleh gendong dan azanin anak aku.”
“Anak aku, Han!” ucap Gibran tak setuju dengan perkataan istrinya.
“Aku!” keukeuh Zihan tak mau kalah.
“Anak kalian berdua,” pungkas Prasetya yang sudah ingin mengakhiri perdebatan anak dan menantunya.
Mendapat tatapan tajam sang bunda mertua membuat Gibran langsung berlari kocar-kacir mencari baju steril seperti apa yang diperintahkan istrinya. Dengan tangan gemetar ia mengambil alih Putrinya dari
gendongan Zihan. Rasa haru dan bahagia mendominasi dirinya. Dengan perlahan dia
mulai mendekatkan bibirnya ke dekat daun telinga putrinya dan melantunkan adzan
serta iqamah di kedua telinga putrinya.
__ADS_1
Masya Allah tangis tak bisa dia bendung tatkala menatap wajah putri kecilnya. “Selamat melihat indahnya dunia Nadhira Azmi Falisha Prasetya.”