Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 13 | Aku, Kamu, Kita


__ADS_3

"Disaat seorang hamba menyerahkan semuanya kepada sang maha pencipta Allah SWT, maka bukan lagi tangan manusia yang mengulurkan bantuannya, melainkan tangan Allah sendiri yang datang menghampiri."


♡♡♡


Seorang gadis berparas cantik terlihat tengah sibuk berkutat dengan berbagai macam berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Ya, gadis itu adalah Zihan yang tengah menyelesaikan pekerjaan yang ayahnya berikan, karena memang kebetulan hari ini Zihan tidak masuk kerja di perpustakaan. Jadi, dia menyempatkan waktu untuk bekerja di tempat ayahnya.


Suara ketukan pintu membuat Zihan sedikit mendongakkan kepalanya. "Masuk."


"Ada tamu, Han," ujar Tasya sekertarisnya.


Zihan tersenyum ramah kearah Tasya. "Siapa? Yaudah suruh masuk aja, Mba," kemudian ia kembali berkutat dengan pekerjaannya lagi.


Tasya mengangguk dan mempersilahkan masuk tamu yang ingin bertemu dengan Zihan.


"Zihan," panggilnya setelah memasuki ruangan kerja Zihan.


"Hm," Zihan masih sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya.


"Ikut aku," ucapnya terdengar seperti perintah yang tak bisa dibantah.


Zihan lantas mendongakkan kepalanya dan menatap seseorang yang kini tengah duduk di sofa yang sengaja disediakan di ruangan kerjanya.


"Gue sibuk!" tolak Zihan dingin.


'Semalem Aku--kamu sekarang loe--gue lagi' batinnya kecewa.


"Bunda kamu yang nyuruh aku buat jemput," jelasnya tak mau mendengar penolakan dari Zihan.


"Mau apa?" tanya Zihan seraya melepaskan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya.


"Udah ikut aja," titahnya.


♡♡♡


Kini Zihan tengah duduk disamping kemudi mobil yang sedang dijalankan oleh Gibran. Dengan muka ditekuk dan wajah masam yang menghiasi wajah cantiknya. Zihan kesal dengan ajakan Gibran yang tiba-tiba datang ke kantornya, dan mengajaknya pergi secara paksa! Padahal ia harus menyelesaikan pekerjaannya tapi Gibran tak mau menerima penolakan dan alasan Zihan.


Nurut apa kata calon suami kalau mau jadi istri Sholehah selorohnya tadi yang selalu saja menari-nari kesana kemari di otak Zihan.


Sebenarnya Zihan merasa bahagia dengan apa yang gibran katakan namun egonya terlalu tinggi untuk mengakui. Perempuan memang seperti itu.


Mereka tidak hanya berdua dimobil melainkan juga ada Tasya sebagai penengahnya.


"Han, ngomong dong dari tadi cemberut terus," kesal gibran karena sedari tadi hanya disuguhi wajah Zihan yang tak enak dilihat.


"Han, kamu kenapa sih? Ngomong dong!" Zihan memilih bertahan dengan gemingnya dan tidak menanggapi ocehan gibran yang seperti burung beo yang gak ada kata berhenti sedetik pun.


'Kamu? Sejak kapan --loe gue-- jadi --aku kamu--. Dasar alay' batin Zihan heran dengan perubahan sebutan panggilan yang Gibran ucapkan. Sepertinya ia melupakan kejadian semalam, padahal panggilan --aku kamu-- sudah dilontarkan Gibran.


Sampai akhirnya Gibran menginjak pedal remnya secara mendadak.


"Loe pelan-pelan kalau mau berenti," ketus Zihan karena keningnya yang mencium dasboard mobil. Dia lupa memasang sabuk pengaman, alhasil saat mobil berhenti mendadak diaakan langsung terhempas kedepan.

__ADS_1


Zihan memukul dasboard mobil yang sudah berani-beraninya mencium keningnya yang mulus hingga memar dan terasa nyeri serta berdenyut pusing. Mendengar ocehan dan tingkah Zihan, Gibran malah tertawa terpingkal-pingkal. Tasya? Dia terkekeh melihat atasan dan calon suaminya bertingkah polah tidak jelas didepan matanya.


"Loe gila!, loe udah buat gue nyium dasboard mobil loe, sampe gue pusing terus loe malah ngetawain gue, loe sengaja yah mau celakain gue--" cerosos Zihan.


'Baru juga dicium dasboard berisiknya minta ampun apalagi kalau nanti dicium kekasih halal yang ada disamping kamu, Han' batin Gibran.


"Ribut mulu kaya Tom and Jerry yang rebutan Mimi Peri," kekeh Tasya.


Zihan langsung menoleh kebelakang melihat Tasya yang tengah terkikik geli. Ia baru ingat kalau disini mereka tidak hanya berdua melainkan ada Tasya juga.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda "Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga." [HR Tirmidzi 2165, Ahmad (1/26), dan dishahihkan al-Albani]


Gibran menghentikan aksi tawanya dan berbicara. "Aku seneng kamu udah mau ngomong lagi."


"Jangan panggil gue pake --aku kamu-- geli gue dengernya," protes Zihan.


'Aduhh mau jadi apa rumah tangga mereka nanti kalau kerjaannya ribut mulu,' batin Tasya.


"Kamu harus biasain dengan panggilan --aku kamu--" kekehnya.


"Kalian itu pasangan paling lucu, masa masalah panggilan aku--kamu! aja dipermasalahin," kekeh Tasya ikut larut dalam perdebatan Zihan dan Gibran.


"Gak tau tuh, Mbak Zihan yang mulai," sahut Gibran yang seperti mendapatkan teman sepemikiran.


Zihan semakin menekuk wajah kesalnya, 'Sejak kapan coba mereka jadi akrab gitu,' batinnya.


"Kalian menyebalkan!" ujar Zihan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


Setalah aksi tawanya reda Gibran langsung menancap pedal gasnya dengan cepat tanpa memberitahu Zihan terlebih dahulu sehingga membuat Zihan kaget dan sedikit berteriak.


"Aaaa... Gibran loe gila yah gue masih pengen hidup jangan ajak gue mati dulu," ucap Zihan sedikit berteriak.


"Tenang aja, Han aku juga masih pengen hidup, kalau kita mati batal dong nikahnya," kekehnya.


'Dasar calon Pasutri!' batin Tasya.


Tanpa menggubris dan menghiraukan segala macam ocehan dan teriakan Zihan, Gibran terus saja melajukan mobilnya.


Sampai akhirnya gibran menghentikan mobilnya di salah satu parkiran pusat perbelanjaan. Dengan cepat gibran keluar dari mobilnya dan berlari kecil untuk membukakan pintu untuk Zihan.


Pintu sudah dibuka lebar oleh gibran tapi Zihan belum kunjung juga memberikan tanda-tanda kalau dia akan segera turun.


'Berasa jadi Putri, coba kalau gue yang ada diposisi Zihan udah nge-fly duluan gue,' Tasya malah asyik berbaper ria melihat aksi romantis Gibran.


Zihan masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih ngos-ngosan gara-gara gibran yang melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tak biasa.


"Turun, Han!" akhirnya Gibran buka suara, tanpa ba-bi-bu Zihan langsung turun dari mobil Gibran.


♡♡♡


"Loe mau beli apa sih dari tadi muter-muter gak jelas, capek gue!" keluh Zihan, karena Gibran tak kunjung masuk kedalam sebuah toko yang dia maksud. Hanya muter-muter Mall saja.

__ADS_1


"Aku mau beli cincin," jawab Gibran.


"Hahh.. cincin?" cicit Zihan.


Gibran mengangguk.


"Buat?" tanya Zihan dengan wajah supeer polosnya.


"Buat kitalah masa buat tetangga," kekeh Gibran.


Deg! Jantung Zihan rasanya seperti dipompa terus menerus jantungnya berdetak tak karuan.


'Kita? Apa gue mimpi?' batinnya tak percaya.


"Kok kamu bengong sih ayo itu tokonya," ucap Gibran


"Ehkk... I-iyah ayo," jawab Zihan mengintil di belakang Gibran.


"Mbak, saya mau beli cincin pernikahan," ucap Gibran


'Pernikahan?' Ahk rasanya Zihan masih tak bisa mempercayainya, bahwa kini statusnya akan berubah. Yang dulunya hanya sebatas pertemanan, tapi sekarang akan berubah status menjadi sebuah pernikahan.


Tapi ada satu yang mengganjal dalam benak Zihan. Mengapa Gibran bisa melamar dia tanpa sepengetahuannya? Ahk rasanya pusing tujuh keliling memikirkan hal itu, biarlah nanti ia akan bertanya langsung sama orangnya.


"Han, menurut kamu mana yang bagus?" tanya Gibran menunjukkan dua buah cincin yang dipilih oleh mbaknya.


"Yang ini bagus," jawab Zihan dengan mata berbinar bahagia.


"Yaudah mbak yang ini aja," putus Gibran seraya memberikan kartu ATM untuk membayar cincinnya.


"Mas cincinnya mau dicoba dulu siapa tahu kebesaran atau kekecilan," saran mbaknya.


"Iyah mbak," ucap Gibran mengambil cincinnya.


"Han," panggil Gibran


"Apa?" sahut Zihan.


"Kamu cobain cincinnya, yah Please!" mohon Gibran.


Zihan hanya berdehem rasanya malu deg-degan pokoknya sulit dijelaskan.


"Nih, Mba cincinnya," ucap Zihan menyodorkan cincinnya setelah ia selesai mencobanya.


"Makasih, Mas Semoga pernikahannya lancar, Mas dan Mbanya cocok," ucap mbaknya lalu menyodorkan cincin dan kartu ATM ke Gibran.


"Iyah Aamiin, Mba," ucap Gibran.


Zihan hanya tersenyum tipis. "Aamiin."


Pernikahan adalah satu-satunya cara untuk mencintainya karena bukan lagi melibatkan sepasang insan anak Adam didalamnya melainkan Allah yang juga ikut serta menjadi saksinya. Jika usia sudah matang, wajah tampan rupawan, iman islam sudah digenggam, kehidupan pun sudah mapan, maka segeralah datang menghampiri gadis pujaan.

__ADS_1


__ADS_2