Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 26 | Kecewa


__ADS_3

“Aku selalu menyimpan banyak harapan dan akhirnya aku menuai banyak kekecewaan.”


♡♡♡


Zihan tidur dengan posisi membelakangi Gibran, cairan bening itu luruh begitu saja


dari pelupuk mata saat bayang-bayang pilar masa lalu kembali menyapanya. Yang


sampai saat ini masih terekam jelas dalam ingatannya.


“Sampai kapan harus menunggu, Gibran?” sergah Yulia saat mereka menyambangi kediamannya beberapa bulan lalu.


“Hanya waktu yang bisa menjawabnya, Mah,” jawab Gibran tak begitu suka dengan permintaan Yulia yang terlalu menekan istrinya.


“Tapi sampai kapan?” serunya masih ngotot. Dia sudah sangat tak sabar dengan


kehadiran bayi mungil yang akan memanggilnya dengan sebutan nenek.


“Gibran minta sama Mamah jangan terlalu banyak meminta dan menuntut kasihan Zihan,” mohon Gibran. Mereka hanya berbicara empat mata sedangkan Zihan tengah pamit undur diri ke kamar mandi.


Tapi tanpa mereka sadari Zihan tengah menahan rasa sesak dan tangis yang sudah tak bisa dibendungnya lagi. “Maafin Zihan, Mah,” lirihnya dengan linangan air mata.


Namun, dengan cepat ia kembali menghapus air matanya, dan menetralkan mimik


wajahnya agar terlihat biasa saja.


Zihan menyadari betul kekhawatiran dan ketakutan yang dialami oleh ibu mertuanya.


Rumah tangga yang mereka bina sudah hampir satu tahun namun kehadiran buah hati belum terlihat sampai sekarang. Dia merasa gagal menjadi seorang istri dan


perempuan yang belum bisa menghadirkan keturunan untuk suami dan keluarganya.


Gibran merengkuh tubuh sang istri. “Semuanya akan baik-baik aja. Jangan terlalu dipikirin tentang permintaan Mamah,” bisiknya tepat di samping telinga Zihan saat mendengar isak tangis pelan dari bibir istri tercintanya. Gibran merasakan apa yang istrinya rasakan, karena bukan hanya Zihan yang tertekan tapi dirinya juga yang merasa malu dengan tuntutan Yulia yang terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangganya.


Zihan hanya mengangguk kelu. Hampir setiap malam tidurnya terganggu hanya karena ingatan itu yang begitu kuat. 


Akankah Allah berkenan untuk mengabulkan doa dan keinginannya?

__ADS_1


Sudah beberapa kali mereka mencoba melakukan pemeriksaan kesehatan dan dokter selalu menyatakan keduanya dalam keadaan baik-baik saja. Namun mengapa kenyataan selalu membuatnya merasakan sakit dan kecewa? Kapankah dia bisa terbang bebas dengan sayap indah kebahagiaannya?


Pernah Zihan mengalami telat menstruasi 


dan perubahan hormon dalam dirinya. Namun, ternyata itu bukanlah tanda-tanda kehamilan. Dan kenyataan itu cukup memukul telak jiwa dan raganya, serta membuat rasa parno dan takut yang berlebihan dalam dirinya, jika sudah menyangkut tentang kehamilan dan keturunan.


“Berdamailah dengan rasa takutmu. Beranikan dirimu, Allah tau yang terbaik untukmu,”  kata-kata sang bunda terpatri apik di dalam ingatannya, dan itu sedikit mengobati kegundahan dan kegelisahan hatinya.


Dua wanita paruh baya yang sangat berbeda yang satu menuntut kesempurnaan. Namun,


yang satu menyempurnakan kekurangan ditengah kerapuhan dan kesakitan yang Zihan rasakan.


♡♡♡


Pagi telah menyapa menggantikan malam yang gelap gulita. Menggantikan sinar rembulan yang terang benderang dengan sinar mentari yang menyorotkan sumber kehidupan.


“Han, tolong cariin jam tangan, Mas yang hitam di laci,” titah Gibran sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Zihan menurut, dia langsung mencari jam tangan yang dimaksud suaminya. Namun, gerakan tangannya terhenti saat menemukan beberapa benda kecil pipih panjang di laci bagian atas. Tangannya terulur mengambil benda tersebut.


“Ada, Han?” tanya Gibran yang masih di ambang pintu kamar mandi. Zihan terkesiap lalu tanpa sadar dia memasukan salah satu benda  itu ke dalam saku baju tidurnya.


“Ini, Mas,” ucap Zihan sedikit gugup dan gelagapan lalu menyerahkan jam tangan yang dipinta suaminya.


“Kamu kenapa?” tanya Gibran penuh selidik melihat gelagat aneh dari istrinya.


“Eng...eng...gak kok ,Mas,” gugupnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. “Aneh,” gumam Gibran yang masih mematung di dekat pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Zihan termenung menatap wajahnya di depan cermin. Menatap kosong pada benda yang tadi tak sengaja dia masukan ke dalam saku baju tidurnya. Keyakinan dan ketakutannya seakan berbaur menjadi satu. Dengan ragu dia mulai membuka serta mencobanya entah untuk yang ke sekian kalinya. “Bismillah,”


gumamnya penuh harap.


Setelah beberapa saat dia diam mematung dan memejamkan mata, akhirnya perlahan-lahan dia membuka mata, dan betapa terkejutnya Zihan saat menyadari dan melihat hasilnya.


Suara ketukan di pintu mengagetkan Zihan dan tanpa diaba-aba benda itu terjatuh tanpa sengaja. “Han, buka. Kamu gak papa, ‘kan?” teriak Gibran cemas karena sudah


terlalu lama istrinya berada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Bentar, Mas,” jawabnya yang


masih berjongkok mencari benda yang tadi terjatuh entah ke mana.


Karena rasa cemas dan khawatirnya, Gibran membuka pintu kamar mandi itu yang ternyata tidak terkunci. “Kamu gak papa?” seloroh Gibran saat mendapati istrinya yang tengah berjongkok mencari sesuatu yang tadi dia jatuhkan tanpa sengaja.


“Eng...eng...enggak papa kok, Mas,” balas Zihan lalu bangkit dari jongkoknya setelah dia mendapatkan benda tersebut.


“Itu apa?” tanya Gibran curiga dengan tangan Zihan yang disembunyikan di belakang tubuhnya.


“Bu...bu...bukan apa-apa kok,” gugupnya yang semakin erat memegang benda itu. Gibran semakin curiga dengan gelagat yang ditunjukkan sang istri, yang justru semakin


memancing rasa penasaran dalam dirinya.


“Udah yuk, Mas gak baik lama-lama di dalam kamar mandi,” ajak Zihan berusaha bersikap biasa saja. Gibran tak menggubrisnya, dia malah terus berusaha meraih sesuatu


yang disembunyikan oleh istrinya.


“Dapet,” serunya bahagia setelah mendapatkan apa yang tadi Zihan sembunyikan. Namun, seketika raut wajahnya berubah saat menyadari apa yang ada di dalam genggaman tangannya.


Zihan langsung menunduk dalam menangkap raut wajah berbeda dari suaminya. Gibran langsung merengkuh tubuh Zihan kedalam pelukannya. “Makasih, Sayang makasih.”


Zihan langsung melepaskan pelukan yang diberikan suaminya tatkala mendengar ucapan terima kasih. 'Makasih untuk semua kegagalan kamu sebagai istri itukan maksud kamu, Mas.’


“Garis dua, Han garis dua!” serunya mengguncang kedua bahu Zihan.


'Stop! Mas jangan hibur aku dengan kebohongan!' batinnya tak percaya, jelas-jelas hanya satu garis yang dia lihat. Zihan tersenyum miris ke arah suaminya yang kini


tengah menampilkan rona kebahagiannya. “Maaf.”


Gibran menautkan kedua alisnya tak mengerti dengan permintaan maaf sang istri. “Maaf, Mas lagi-lagi aku buat kamu kecewa,” lanjutnya menunduk dalam. Gibran menggeleng mengangkat dagu lancip Zihan agar menatapnya.


“Liat!” Zihan terperangah tak percaya, lalu menggeleng lemah. “Gak mungkin!”


Garis dua? Tapi tadi dia melihat hanya ada satu garis. Hey wake up. Apakah matanya sudah minus sampai salah melihat? Atau


Gibran yang terlalu banyak berharap?

__ADS_1


__ADS_2