
“Doa tanpa usaha itu sebuah kesalahan, dan usaha tanpa doa itu sebuah kesia-siaan.
Karena keduanya takkan bisa dipisahkan, saling melengkapi untuk mencapai sebuah
tujuan.”
♡♡♡
Allah mengabulkan doa sesuai dengan prasangka hambanya. Maka dari itu berprasangka baiklah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari (orang) yang hatinya lalai lagi lengah.”
(HR. Tirmidzi dan Hakim, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 245).
Waktu kian mengikis habis dan menipis bahkan kini sudah memasuki bulan kedua setelah insiden syarat gila sang mertua, artinya hanya tinggal satu bulan yang tersisa untuk bisa mempertahankan rumah tangga tanpa adanya orang ketiga.
“Kita ke dokter, yah,” bujuk Gibran karena melihat wajah pucat pasi istrinya. Zihan
menggeleng keras menolak, dia sudah muak jika harus berurusan lagi dengan rumah
sakit.
“Tapi kamu sakit, Han,” bujuknya lagi yang semakin mengkhawatirkan kondisi sang
istri. “Aku baik-baik aja, Mas,” ucap Zihan menyakinkan suaminya, padahal jelas
sekali rasa pusing kini ia alami. “Baik-baik apanya muka kamu pucat gitu, bahkan dari tadi kamu bolak-balik kamar mandi,” ucap Gibran menyela ucapan istrinya.
“Kamu terlalu berlebihan, Mas paling juga masuk angin doang,” kata Zihan meyakinkan suaminya. “Mas itu kayanya ada tamu deh,” tutur Zihan yang mendengar suara bel rumahnya berbunyi. “Ya udah aku liat dulu tamunya kamu diem di sini jangan ke mana-mana dulu,” tutur Gibran sraya membantu membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang.
♡♡♡
“Mau apalagi Mamah ke sini?” todong Gibran yang sama sekali enggan untuk menatap
ataupun berlaku sopan pada ibu kandungnya, emosi dan amarah masih memenuhi relung hatinya.
“Duduk! Gak ada sopan-sopannya kamu bicara sama Mamah kaya gitu,” peringat Yulia yang kesal dengan sikap tak sopan putra bungsunya. Dengan malas Gibran mendudukan bokongnya di depan sang ibu. “Apa lagi?!”
“Mamah cuman ngingetin kamu kalau waktu kamu cuman satu bulan lagi,” ucapnya bak petir yang menyambar dengan begitu hebatnya. Baru saja dia mengecap manisnya hidup berumah tangga sekarang badai itu kembali datang.
“Cukup! Aku mohon sama Mamah jangan pernah campurin lagi urusan rumah tangga aku.” Gibran menarik napas lalu membuangnya dengan kasar. “Kalau emang keturunan yang Mamah inginkan, Kak Galang dan Zahra bisa memberikan itu. Bahkan sekarang Zahra sedang mengandung anak Kak Galang. Cucu Mamah! Bukan malah merongrong ke aku!?”
Sekitar dua bulan yang lalu Galang dan Zahra mengucapkan ikrar suci pernikahan mereka. Lebih tepatnya pada saat Zahra pulang dari singapur, dan ternyata tiket yang Zahra anggap tiket liburan gratis itu adalah kejutan yang Galang siapkan untuk
melamarnya, singapur menjadi saksi bisu cinta mereka. Bahkan Allah dengan begitu mudah langsung memberikan mereka keturunan, yang saat ini tengah Zahra kandung.
Kandungannya berusia sekitar empat minggu. Dan disambut bahagia oleh kedua belah pihak keluarga. Baik, dari keluarga Galang ataupun Zahra yang awalnya saling
menentang dan tidak memberikan restu. Namun, karena kuasa Allah akhirnya
keduanya berjodoh dan sekarang tengah diliputi kebahagiaan yang tiada tara.
Lain halnya dengan Zihan dan Gibran yang kini tengah ditimpa ujian oleh Allah
dalam rumah tangganya.
“Tapi Mamah menginginkan cucu dari kamu!” tegasnya tak mau menerima bantahan. Karena jauh dari lubuk hati Yulia ia belum bisa menerima kehadiran Zahra sebagai menantunya. Masih ada yang mengganjal di hatinya dan itu hanya dia yang tahu.
“Tapi enggak dengan cara kotor kaya gini! Bagaimana kalau Mamah berada di posisi
Zihan apa yang Mamah rasakan? Dan apakah Mamah juga memikirkan perempuan yang mau Mamah jadikan mesin penghasil keturunan?! Di mana hati dan perasaan
Mamah?!” sergah Gibran penuh penekanan dan kekecewaan mendalam dengan mamahnya.
Yulia mematung dan bertahan dengan gemingnya, shock dan tak percaya
__ADS_1
dengan apa yang baru saja dikatakan putranya. “Kenapa Mamah diam aja. Kenapa? Apa Mamah baru sadar, atau malah semakin menggila?!” Zihan mematung mendengarkan semua rentetan perkataan kasar suami dan mertuanya, ia memaksakan diri untuk turun ke bawah saat mendengar kegaduhan, namun tiba-tiba saja pandangannya kabur dan limbung jatuh tak sadarkan diri.
“Zihan!” teriak Yulia yang melihat Zihan sudah tergeletak di lantai. Mendengar suara teriakan Yulia sontak Gibran menolehkan kepalanya dan mendapati Zihan yang sudah tak sadarkan diri di belakangnya, tepat di ambang pintu yang menyatukan antara ruang tamu dan dapur yang terbuka.
Gibran langsung membawa tubuh Zihan masuk ke dalam kamar mereka dan membaringkannya di atas ranjang. “Lagi-lagi Mamah buat Zihan drop, pasti Zihan denger semuanya,” ucapnya menyalahkan Yulia yang ikut mengkhawatirkan kondisi Zihan.
Yulia hanya mampu terdiam seribu bahasa menatap putranya yang tengah mengkhawatirkan istri sekaligus menantunya. Gibran langsung menghubungi dokter agar segera datang ke rumahnya, untuk memeriksa kondisi Zihan yang sudah beberapa hari ini kembali mengalami penurunan.
“Aku minta mamah keluar sekarang juga!” usirnya yang tak mau melihat wajah Yulia
untuk saat ini. Yulia mengayunkan kakinya untuk pergi meninggalkan kamar putra
dan menantunya. Rasa khawatir diam-diam menyelinap kedalam hatinya. Namun,
dengan cepat ia menepis rasa itu.
“Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga,” ucap Gibran yang melihat pergerakan mata Zihan yang kini sudah mulai membuka setelah ia mengoleskan minyak kayu putih disekitar hidung Zihan.
“Mas,” lirih Zihan dengan suara parau dan lemasnya. “Iya, apa Sayang? Kamu jangan
bangun dulu,” ungkap Gibran memperingati sang istri yang sedang berusaha
menegakkan tubuhnya untuk duduk.
“Ada yang sakit? Sebentar lagi dokternya datang,” ucap Gibran khawatir saat melihat
Zihan tengah memegang pelipisnya yang kembali berdenyut pusing. Zihan
menggeleng, “Enggak usah panggil dokter, Mas.”
“Tapi kamu harus diperiksa, Zihan,” bujuknya lagi dan lagi. “Please,” kata Zihan
memohon. Dengan terpaksa Gibran menganggukkan kepalanya dan menghubungi dokter tadi agar tidak jadi ke rumahnya. “Mamah mana, Mas?” tanya Zihan menanyakan keberadaan ibu mertuanya. Mata Gibran langsung melotot tajam, wajahnya memerah, rahangnya juga mengeras saat mendengar pertanyaan tak bermutu dari istrinya.
“Aku mau ketemu Mamah, Mas” ucapnya memohon, tapi Gibran enggan menuruti permintaan istrinya itu, dan lebih memilih bertahan dengan gemingnya. “Mas,” mohonnya lagi seraya memegang tangan suaminya.
Yulia bangkit dari duduknya berjalan menuju ke kamar menantunya. “Jangan ngomong macem-macem sama Zihan!” peringat Gibran saat mereka berada di depan pintu kamar. Dia tak menggubris, dia memasuki kamar itu tanpa beban. Dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang berhadapan dengan Zihan yang kini tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
“Maafin Zihan, Mah,” ucap Zihan sendu menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar, “maaf Zihan belum bisa jadi menantu seperti yang Mamah inginkan, Zihan belum bisa memenuhi keinginan Mamah, Zihan bukan menantu yang baik. Maaf Mah, Zihan ikhlas...,” lanjutnya terisak tak mampu lagi menahan kesakitan dihatinya.
“Zihan ikhlas, Mah ikhlas jika memang itu yang terbaik,” kata Zihan menatap manik mata mertuanya. “Apa-apaan kamu!” bentak Gibran tak suka dengan perkataan istrinya. “Mas,” Zihan berucap lirih agar suaminya bisa menerima semua keputusan yang diambilnya.
“Jangan gila kamu! Sampai kapan pun aku gak akan pernah mau!” Gibran langsung pergi membanting pintu hingga menimbulkan suara kegaduhan.
'Astaghfirullah, Maafin aku mas ini yang terbaik untuk kita,' Zihan membatin sendu. Ini bukanlah keinginannya tapi ia harus melakukannya.
Yulia terdiam menyaksikan anak dan menantunya, baru kali ini ia melihat Gibran
membentak Zihan. Sedangkan Zihan hanya menangis tersedu-sedu dibalik kedua
telapak tangannya.
“Zihan.” Akhirnya Yulia membuka suara setelah lama terdiam tanpa kata. Zihan mendongak dan menyingkirkan kedua tangannya, menatap wajah Mamah mertuanya.
Yulia menghapus genangan air mata yang membanjiri wajah menantunya, lalu menggenggam kedua tangan Zihan yang hangat. Hati Zihan menghangat saat mendapat perlakuan hangat dari mamah mertuanya, senyum terukir indah diwajah cantiknya yang pucat pasi.
“Apakah benar yang kamu katakan tadi?” tanya Yulia. Zihan hanya mengangguk lemah tiba-tiba sesak di dadanya kembali menyeruak. “Apakah kamu ikhlas?” Yulia kembali bertanya hal yang menyakitkan untuk Zihan.
Lagi-lagi Zihan hanya bisa mengangguk walau rasa sakit kini semakin menganga dengan begitu lebarnya. Yulia membawa tubuh Zihan ke dalam dekapannya, Zihan membalas pelukan Mamah mertuanya dan kembali terisak dibalik punggung Yulia.
“Mamah enggak akan ganggu pernikahan kamu lagi,” bisiknya tepat di samping telinga
Zihan. Sontak Zihan langsung melepaskan pelukannya, menatap manik mata Yulia
dengan pandangan penuh tanya tak percaya.
__ADS_1
Yulia menampilkan senyumannya walaupun tetes demi tetes air mata itu mulai keluar
begitu saja. “Maafkan mamah.” Zihan masih tak percaya dengan apa yang baru saja
didengarnya, dia hanya bisa mematung dengan banyak tanda besar di kepalanya.
“Mamah sadar apa yang mamah lakukan selama ini telah menyakiti kamu dan Gibran, anak mamah sendiri. Apa yang dikatakan Gibran membuka mata hati Mamah. Mamah
menyesal dan tak seharusnya melakukan hal kotor seperti itu. Maafkan Mamah...” Yulia berucap dengan penuh penyesalan, ucapan putranya menjadi tamparan keras untuknya. Apalgi melihat raut kesedihan dan kekecewaan yang akhir-akhir selalu
Gibran tampilkan dihadapannya.
“Mamah terlalu bodoh bahkan sangat bodoh karena bisa-bisanya terhasut bujuk rayu
mereka. Maafkan Mamah...” Yulia kembali memutar ingatannya beberapa bulan lalu,
lebih tepatnya sehari sebelum Zihan masuk rumah sakit, saat ia mengikuti acara
arisan teman-teman sosialitanya.
“*Jeng mana mantu dan cucunya?” seloroh salah satu teman arisannya yang bernama Yuni. Yulia hanya menanggapi dengan senyuman yang terbingkai diwajahnya.
“Menantunya jeng Yulia kan belum hamil,” timpal Santi yang baru saja bergabung seraya menggendong cucunya.
Yulia kembali menampilkan senyuman tipis, walau jauh di lubuk hatinya ia iri dengan
teman-temannya yang sudah memiliki banyak cucu, sedangkan dirinya, apa kabar?
“Padahal udah setahun menikah tapi kok belum hamil juga,” Yuni kembali menyudutkan Yulia.
“Mungkin menantunya ada masalah tuh,” Santi kembali berujar. “Iya bener tuh,
Jeng,” Yuni menyetujui pernyataan Santi.
“Liat dong kita udah punya banyak buntut,” tutur Yuni dengan nada meremehkan Yulia. “Makanya jeng kalau mau cari menantu itu diseleksi dulu biar gak salah pilih, jangan sampai kaya beli kucing dalam karung,” Santi kembali berujar.
Yulia tersenyum kikuk, “Anak dan memantu saya sehat-sehat kok,” ucapnya membela. “Emangnya udah diperiksa ke dokter, Jeng?” tanya Yuni. “Belum,” jawab Yulia yang
memang tak tahu menahu tentang rumah tangga putranya. Dia hanya menjawab asal
saja, padahal tanpa sepengetahuannya Gibrann dan Zihan tengah mengikuti program kehamilan.
“Hati-hati, Jeng,” ucap Santi penuh peringatan. “Liat tuh, Jeng Nia sekarang dia
udah punya dua cucu dari istri kedua anaknya,” ucap Yuni memanas-manasi Yulia.
Yulia hanya mengangguk setuju, karena memang apa yang dikatakan Yuni adalah
kebenaran, menantu Nia yang pertama kesulitan memilki momongan, dan akhirnya
karena Rasya--putra satu-satunya dan harus memiliki keturunan. Jadi akhirnya
Nia meminta Rasya untuk menikah untuk kedua kalinya dengan kata lain Rasya
berpoligami. Dan terbukti sekarang ia mendapatkan dua orang cucu dari
pernikahan kedua putranya.
“Mungkin Jeng Yulia bisa mengikuti cara jeng Nia,” ucap Yuni yang memberikan saran yang sangat keji. “Nah, iya tuh jeng bener banget, lebih cepat lebih baik.” Santi menimpali.
Rasanya Yulia ingin menjejali kedua mulut temannya dengan cabe, agar mereka
menghentikan percakapan mereka yang menyudutkan dirinya. Tapi diam-diam ucapan kedua temannya menelusup kedalam hatinya, seketika membuat pertahanannya runtuh begitu saja. Dan keesokan harinya Yulia mendengar kabar Zihan yang masuk rumah sakit, dan berpikir bahwa Zihanlah penyebab utama tidak adanya anak yang lahir dari rumah tangga putranya. Dan tanpa berpikir jernih lagi ia langsung
mengikuti saran kedua temannya*.
__ADS_1
“Maafkan Mamah, Han,” Yulia sangat menyesali semua kesalahannya. Zihan memeluk mamah mertuanya yang kini tengah menangis dengan begitu tersedu-sedu, “Zihan yang seharusnya minta maaf sama Mamah.” Yulia menggeleng tak suka dengan ucapan menantunya, “Kamu mau, kan memaafkan Mamah?” tanya Yulia yang masih betah berada didalam dekapan menantunya. Zihan mengangguk di dalam pelukan mertuanya. “Iya, Mah.” Dalam hati Zihan tak henti-henti mengucap
syukur, Allah maha membolak-balikkan hati manusia.