Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 14 | Ikrar Suci


__ADS_3

"Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai banyak anak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan umat-umat (yang terdahulu)" [Sahih Riwayat Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma'qil bin Yasar]


♡♡♡


"Halal! Adalah satu kata berjuta makna yang mengikat rasa cinta dalam sebuah hubungan pernikahan yang pasti Allah ridhoi."


♡♡♡


Ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa dengan segala macam pernak-pernik menghiasi setiap sudut ruangan. Yang semakin membuat ruangan ini menjadi lebih cantik dan menarik. Seorang gadis kini tengah melihat pantulan dirinya didepan cermin. Kebaya berwarna putih dan Khimar berwarna senada melekat di tubuhnya. Tak ketinggalan riasan wajah yang natural menghiasi wajahnya yang menambah kesan cantik. Namun terlihat jelas ada keraguan dan kekhawatiran diwajah cantiknya. Rasanya ini seperti sebuah mimpi yang menjelma menjadi sebuah kenyataan.


Rasa bahagia, takut, gugup, khawatir berkecamuk dalam hatinya. Bahagia akhirnya dia akan menyandang status sebagai seorang isteri. Takut apakah dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang isteri? Gugup jelas rasa ini yang mendominasi dirinya, untuk yang pertama kalinya Ia akan mendengarkan suara lantang nan tegas sang ayah dan sang calon suami mengucapkan ijab dan qobul. Mengikatnya dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Hubungan yang Allah ridhoi.


"Zihan," panggil Zahra yang memang berada didalam kamar Zihan seraya menghampiri zihan yang tengah berada didepan meja riasnya.


Zihan membalik tubuhnya dan kini posisinya menjadi berhadapan dengan Zahra. "Iya apa, Ra?"


Zahra tahu betul bahwa sahabatnya kini tengah merasa gugup tegang dan takut. Dengan lembut Zahra menggenggam tangan Zihan dan mengelus punggung tangannya lembut. "Semuanya akan baik-baik aja."


Zihan hanya menganggukkan kepalanya. "Bismillah, Han," ujar Zahra.


Zihan mengikuti apa yang dikatakan Zahra, "Bismillahirrahmanirrahim."


♡♡♡


Suara lantunan surah Ar-rahman menggema ke semua penjuru ruangan. Akad sebentar lagi akan dilaksanakan. Pratama ayahnya Zihan sudah duduk berhadapan dengan sang calon menantu pilihan putrinya yang tidak lain dan bukan, adalah Zihan Fahira Adinda Pratama.


Pratama mengulurkan tangannya yang disambut oleh seseorang yang kini ada dihadapannya, yang tak lain dan bukan adalah Gibran Ahmad Luqman Prasetya sang calon memantunya. Bismillahirrahmanirrahim ucap Pratama sebelum mengucapkan ijabnya.


"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Zihan Fahira Adinda Pratama binti Wirawan Pratama akal mahri mushaf Alquran wa alatil 'ibadah haalan." Pratama mengucapkan ijabnya dengan tegas dan lantang seraya menjabat tangan seseorang yang ada dihadapannya.


"Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur wa radhiitu bihi, Wallahu waliyut Taufiq." ucapnya menjawab qobul dengan tegas lantang dan dalam satu tarikan nafas panjang.


"SAH?"


"SAH!"


Alhamdulillah barrakallalaahu, wa baaraka'alaika, wa jama'a baynakumaa fi Khair.


♡♡♡


"Alhamdulillah selamat yah, Han sekarang loe udah resmi jadi seorang istri," ujar Zahra seraya mendekap erat tubuh Zihan.


"Makasih, Ra," Zihan membalas pelukan Zahra, saling memeluk menyalurkan rasa kebahagiaannya air mata tak bisa dibendung oleh keduanya saking terlampau bahagianya.


"Gue keluar dulu, yah sebentar lagi suami loe datang kesini," Zahra melepaskan pelukannya. Zihan hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya.


Sebelum Zahra benar-benar menghilang dan meninggalkan Zihan. Tak lupa Zahra membenarkan dulu riasan wajah Zihan yang sedikit luntur.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat detak jantung Zihan berdetak diluar batas normal. Jantungnya memompa dan meronta-ronta ingin keluar.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salamnya sebelum memutar kenop pintu kamar Zihan.


"Wa.. wa.. wa'alaikumussalam Warahmatullahi wabarokatuh," jawab Zihan dengan terbata-bata dan menunduk.


Seseorang yang kini telah halal dan menjadi suaminya duduk berlutut dihadapan Zihan yang tengah duduk menunduk ditepi ranjang. Menggenggam erat tangan Zihan yang dingin dan basah karena keringat dan rasa gugup mendominasi dirinya.


"Terimakasih telah bersedia menjadi kekasih halalku," tuturnya membuat Zihan mendongak memperlihatkan wajah cantik bersemu merahnya.


Zihan mengangguk mantap dan kembali menunduk, rasanya malu kini dia berada didalam satu ruangan dengan seorang laki-laki.


"Zihan!" panggilnya.


Zihan hanya berdehem dan masih asik menunduk. Apa yang membuat Zihan begitu tertarik dengan kegiatannya saat ini yang menunduk, menunduk, dan menunduk. Sepertinya lantai tempat ia berpijak lebih menarik dari wajah tampan sang suami.


"Sayang," panggilnya yang membuat seburat merah diwajah cantik Zihan. Kini wajahnya serasa sudah panas dan ingin meledak mendadak.


"Apa yang menarik perhatianmu sampai kamu tidak sudi untuk memandang wajah suamimu yang tampan ini?" tanyanya lembut.


Zihan mendongakkan kepalanya dan menggeleng cepat. "Bu-bu-bukan begitu."


"Lalu?" tanyanya yang membuat Zihan kelimpungan menjawab pertanyaan dari kekasih halalnya itu.


Zihan tak menjawabnya namun senyumannya mewakili isi hatinya yang kini tengah berbunga-bunga.


"Aku malu," lirih Zihan akhirnya membuka suara dan memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.


Senyum sumringah tercetak jelas diwajah tampannya, "Kenapa harus malu sayang?" Tanyanya seraya memegang dagu lancip milik Zihan.


'Please! Jangan panggil sayang lagi itu gak baik buat kesehatan jantung aku,' batinnya bersorak.


Zihan tidak bisa menyembunyikan seburat merah diwajahnya, karena suaminya kini tengah memegang dagu lancip miliknya dan terlihat jelas wajah Zihan yang sudah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat dan tanpa diduga Zihan mengambil tangan sang suami dan diciumnya telapak tangan sang suami dengan lembut.


Gibran yang mendapatkan pergerakan cepat dari sang istri tersentak kaget. Namun, sekian detik kemudian dia langsung mencium kening Zihan dengan sangat lembut dan penuh cinta.


Zihan merasakan sekujur tubuhnya menegang mendapatkan ciuman pertama dari suaminya. Rona merah kembali menghiasi wajah Zihan. Ada apa dengan hari ini kenapa Zihan blushing terus-menerus sedari tadi. Zihan teramat malu sekaligus bahagia dengan perlakuan suaminya.


"Kita sholat sunnah dua rakaat," ajaknya pada Zihan untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat setelah akad. Zihan hanya mampu mengangguk dan mereka melaksanakan sholatnya dengan sangat khusyuk.


"Allahumma innii asaluka min khoiri ma jabaltaha alaihi. Wa audzu bika min syarri wa syarri ma jabaltaha alaih," doanya tepat dipucuk kepala Zihan setelah mereka selesai melaksanakan sholat Sunnahnya dan diamini oleh Zihan.


Zihan tak bisa lagi membendung air matanya, bukan! bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.


"Kenapa nangis?" tanyanya lembut seraya menghapus buliran bening yang keluar dari mata Zihan. Zihan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Allah begitu baik sama aku sampai Dia menjodohkan aku denganmu, seseorang yang selalu aku semogakan, seseorang yang selalu aku pinjam namanya di setiap sujud panjang di sepertiga malamku. Aku sangat bahagia," ucap Zihan dan langsung menundukan kepalanya.


Malu, ya malu rasanya mengungkapkan apa yang baru saja keluar dari bibir mungilnya. "Allah memang begitu baik bahkan sangat baik. Sampai aku disandingkan dan dijodohkan denganmu wanita shalihah yang Allah kirimkan untuk menyempurnakan separuh Agamaku menjadi pelengkap imanku. Mengarungi bahtera dan lika-liku kehidupan bersamaku. Aku sangat mencintaimu Zihan Fahira Adinda Pratama."


Buliran bening itu kembali menetes dari pelupuk matanya. "Aku juga sangat mencintaimu mas," ucap Zihan membalas kata cinta yang terlontar dari bibir suaminya.


"Mas?" usilnya mengulang nama panggilan yang baru saja Zihan ucapkan.


Zihan mengangguk, "kenapa?"


"Apa mas keberatan kalau aku memanggil dengan sebutan itu?" tanya Zihan.


Gibran langsung mengelengkan kepalanya dan berujar, "Aku sangat senang dengan panggilan itu."


Zihan tersenyum lega mendengar jawaban dari sang suami.


Suara ketukan pintu yang terdengar sangat rusuh dan riuh membuat sepasang kekasih halal ini berdecak kesal. Tidak tau sikon banget sih!.


"Biar aku yang bukain pintunya, Mas." ucap Zihan bangkit dari duduknya karena melihat suaminya bangkit dan akan membukakan tamu yang sudah berhasil menganggunya.


"Lama banget sih bukanya? Dasar pengantin baru lagi ngapain sih?" cerocosnya seraya menyembulkan kepala ke kamar Zihan.


"Apaan sih udah sana," usir Zihan berusaha menjauhkan kepala si perusuh yang selalu mengganggunya.


"Ihk kakak sakit tau," selorohnya memegang kepala yang sedikit sakit karena didorong paksa Zihan.


"Makanya jadi adik jangan usil," ujar Zihan.


"Siapa juga yang usil, aku cuman disuruh bunda buat manggil kakak sama kak Gibran," jelas Zaka.


"Iyah nanti kakak turun," ucap Zihan.


"Biarin kamu ini yang diomelin bukan aku!"


"Dasar Kak Zihan nyebelin! Nanti suaminya kabur pas malam pertama gimana? Gara-gara sifat Kak Zihan yang nyebelin akut," cerocosnya yang mampu membuat seburat merah di pipi Zihan.


'Apaan sih nih anak ngomong soal malam pertama segala. Anak kecil tau apa sih?. Aku aja gak tau' batin Zihan.


"Udah sana, Kakak turun bentar lagi," usir Zihan lagi.


Yang diusir berdecak kesal dan dengan terpaksa melenggang pergi meninggalkan kamar sang kakak.


♡♡♡


Satu demi satu anak tangga telah dilalui oleh sepasang kekasih yang tengah memadu kasih. Yang beberapa saat yang lalu telah halal dan disatukan dalam sebuah Akad Pernikahan.


Menuruni satu persatu anak tangga dengan wajah sumringah dan rona bahagia yang tak pernah luntur dari wajah keduanya. Kerumunan para tamu undangan menyambut kedatangan mereka berdua. Duduk berdampingan untuk menandatangani beberapa berkas pernikahan. Dan setelahnya prosesi tukar cincin.


♡♡♡


Kursi pelaminan yang sudah dihias dengan sedemikian rupa menjadi tempat singgah sana sepasang kekasih halal ini. Senyum dan rona kebahagiaan tak henti-hentinya terukir diwajah keduanya.


Para tamu undangan tak henti-hentinya berdatangan hanya untuk sekedar bersalaman dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Doa dan nasehat tak henti-hentinya kedua insan ini dapatkan dari para tamu undangan untuk bekal rumah tangga mereka kelak.


"Selamat menempuh hidup baru yah."


"Semoga rumah tangganya Samawa."


"Cepet dapet momongan yah."


"Happy wedding."


"Barrakallah."


Beragam ucapan selamat mereka dapatkan dari tamu undangan yang hanya mereka jawab dengan senyuman dan kata Aamiin. Mengaminkan setiap doa dari setiap tamu undangan.


"Kamu capek?" tanyanya melihat Zihan bercucuran keringat.


Zihan menggeleng, "Enggak, Mas."

__ADS_1


Dengan cekatan sang suami menghapus peluh keringat Zihan dengan punggung tangannya. Yang membuat rona merah bercampur bahagia hinggap dalam diri Zihan.


Rasa gugup dan canggung seketika menguar diantara keduanya. Tak ada lagi obrolan yang mampu mencairkan kedua insan yang telah Allah satukan dalam ikatan sakral pernikahan.


"Makan dulu, Nak kalian belum makan," ucap Windi.


"Iyah Bun/Tan," jawab keduanya serempak.


"Kok Tante sih? Bunda dong kan sekarang udah jadi anak Bunda," ujar Windi mengingatkan sang menantu.


"I-iyah Bun," jawabnya gugup dan terbata-bata.


Windi tersenyum mendengar panggilan namanya dari sang menantu yang terdengar kaku.


"Han, sana gih ambilin makanan buat suami kamu," titah Windi.


"Iyah Bun," Zihan langsung beranjak dari duduknya dan berjalan mengambil makanan untuknya dan sang suami.


"Bunda pamit yah," pamit Windi pada sang menantu dan dianggukinya sebagai jawaban.


Tak lama Zihan datang dengan sepiring makanan dan segelas minuman ditangannya.


"Ini, Mas." Zihan menyodorkan makanannya pada sang suami dan berniat beranjak pergi lagi untuk mengambil sepiring makanan dan segelas minuman untuknya.


"Mau kemana?" tanyanya karena melihat sang istri beranjak ingin pergi.


"Mau ambil makanan lagi, Mas," jawab Zihan


"Sini duduk," titahnya


Zihan menurut dan kembali duduk disamping sang suami.


"Kenapa gak dimakan, Mas?" tanya Zihan karena sang suami yang terus-menerus memandangnya yang semakin membuat detak jantung Zihan berdetak abnormal.


"Mas, jangan liatin aku kaya gitu," lanjut Zihan.


"Kenapa?" tanyanya.


Zihan menggeleng, "Enggak papa."


"Aku malu, Mas," lanjut Zihan dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa harus malu? Bukankah kamu sudah halal untuk Mas lihat dan pandang jadi tidak ada salahnya bukan kalau Mas memandang wajah cantik istri Mas ini," ujarnya seraya memegang dagu sang istri agar mendongak menatap wajahnya yang tampan dan rupawan.


"Aishhh, udah ahk Mas aku malu," ucap Zihan melepaskan tangan sang suami dari dagunya.


"Istri Mas sekarang jadi pemalu yah biasanya juga malu-maluin," godanya yang sukses membuat Zihan berdecak kesal.


"Kok, Mas ngomongnya gitu sih?"


"Lucu banget sih istri Mas ini kalau lagi ngambek," kekehnya karena melihat wajah Zihan yang ditekuk dengan bibir yang sudah maju lima centi.


"Tau ahk," ucap Zihan dengan nada kesal yang dibuat-buat dan tangan yang sudah disilangkan di depan dadanya. Sang suami hanya terkekeh kecil melihat tingkah sang istri yang terlihat seperti anak kecil.


Mereka berdua akhirnya makan sepiring berdua tak lupa saling menyuapi satu sama lain. Sederhana namun syarat akan makna.


♡♡♡


Malam telah menyapa menggantikan siang yang terang benderang. Kini hanya ada ribuan bintang dan bulan menemani gelapnya malam. Sepasang kekasih yang kini telah halal mengucapkan janji sakral dihadapan Allah. Mengukir cinta dalam sebuah ikatan yang Allah Ridhoi. Tak ada yang lebih indah dari jalinan kasih yang terjalin setelah Ijab diucap dan Qabul dijawab. Tak ada lagi dosa yang akan menghimpit dan menghampiri keduanya. Yang ada hanyalah pahala yang berlipat-lipat ganda.


Tepat di sepertiga Malam-Nya sepasang kekasih yang sudah halal ini terbangun untuk menyapa Rabb-Nya. Melalui sholat di sepertiga malam yang sangat Allah anjurkan sebagaimana dalam Hadits yang berbunyi.


"Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Wahana Pendekatan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Penghapus dosa dan pengusir penyakit dari dalam tubuh." (HR. At-Tirmidzi)


Melaksanakan dua rakaat sholat Tahajjud bersama, untuk yang pertama kalinya dan akan tetap terus seperti itu. Suara Takbir menguar menyeruak kalbu terdalam. Lantunan ayat suci Al-Quran mengalun indah menenangkan nan menentramkan hati. Hingga salam terucap mengisyaratkan bahwa sholat mereka telah usai. Berdoa dan Bermunajat kepada Allah sebagai wujud Terima kasih dan rasa Syukurnya.


Dengan cepat sang suami membalik tubuhnya menghadap sang istri. Dan dengan lembutnya sang istri mencium punggung tangan sang suami sebagai wujud baktinya kepada sang suami. Surganya kini ada ditangan sang suami tidak lagi dibawah kaki sang ibunda yang sudah mengandung melahirkan dan membesarkannya karena sekarang statusnya sudah berubah menjadi seorang isteri bukan hanya seorang putri. Baktinya kini beralih ganti pada sang suami yang telah mengikrarkan janji dihadapan Sang Illahi Rabbi.


"Mas," panggil Zihan yang dipanggil hanya memamerkan senyumannya.


"Terima kasih," ucap Zihan menggenggam erat tangan sang suami.


"Untuk?" tanyanya.


"Untuk semuanya. Untuk cinta dan kasih sayang. Untuk janji yang telah Mas ucapkan dihadapan Allah. Untuk kebahagiaan yang kini aku rasakan. Untuk Mas yang sudah bersedia dan berkenan meminang aku meminta aku untuk mendampingi Mas," setetes air mata lolos begitu saja pelupuk matanya.


Dengan cekatan tangan sang suami menghapus setiap buliran yang keluar dari mata sang istri. "Mas yang harusnya Berterima kasih sama kamu. Karena kamu sudah mau dan berkenan menerima pinangan dari Mas," sahut Gibran membelai lembut pipi Zihan yang bersemu merah.


"Aku telah merayu Allah untuk menjodohkanku denganmu dan kini Allah mengabulkan doaku. Maaf aku Menikungmu di sepertiga malamku, Mas Gibran Ahmad Luqman Prasetya," lanjutnya menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya.


"Allah telah mengabulkan doaku untuk menjodohkanku dengan seseorang yang selalu menyelipkan namaku didalam doanya dan itu kamu, Zihan Fahira Adinda Pratama," balas Gibran menangkup wajah Zihan.


"Zawjaty, Uhibbuki mitsla mana anti, Uhibbuki kaifa mana kunti, [1]" lanjutnya. Zihan mengangguk dengan deraian air mata yang sudah meluncur bebas dengan begitu derasnya.

__ADS_1


Catatan Kaki :


[1] Istriku, aku mencintaimu apa adanya dirimu.


__ADS_2