
“Allah senantiasa mengabulkan doa setiap hambanya, hanya saja waktu yang menunggu. Apakah cepat atau lambat? Itu semua kuasa Allah.”
♡♡♡
Allah itu dekat sedekat saat wajah menyentuh tanah, bersujud menjadi hal yang sangat mendekatkan jarak antara seorang hamba dengan Sang Maha Pencipta. Berdoa serta memohon ampunan-Nya. Di saat sebagian orang tidur dengan begitu nyenyaknya, hanya ada segelintir orang yang selalu menemui Sang Pencipta. Sepasang kekasih halal yang tengah memadu kasih dengan Rabb-nya menengadahkan kedua tangan, dan memohon ampun serta doa dan harapan yang selalu dipanjatkannya setiap malam.
Zihan tersenyum menyambut uluran tangan yang diberikan sang suami dengan senang
hati dia menciumnya, lalu Gibran yang mengecup pucuk kepala sang istri yang
terbalut mukena polos berwarna putih.
“Apakah kamu tau kisah Nabi Zakariya?” Gibran bertanya seraya melepaskan mukena yang membalut kepala istrinya. Zihan menggeleng tidak tahu dengan apa yang
ditanyakan suaminya. Gibran tersenyum lalu merapihkan anak rambut ke belakang
telinga istrinya. “Kamu mau mendengarkan kisahnya?” Dengan penuh antusias Zihan
mengangguk, senyuman manis terbingkai indah di wajah cantiknya.
“Nabi Zakariya As, adalah keturunan dari Nabi Sulaiman As. Beliau adalah ulama besar
di kalangan Bani Israil. Istri beliau bernama Isya. Usia beliau sudah 100 tahun tapi dia belum mempunyai keturunan, karena istrinya mandul, tapi Nabi Zakariya
berdo'a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk memberinya keturunan.”
Zihan membekap mulutnya saat mendengar kata 'mandul' dari bibir sang suami, sungguh dia takut mengalami hal serupa dengan istri Nabi Zakaria. Namun, dengan segera dia
menepis pikiran itu dengan rapalan istigfar di dalam hatinya. Dokter mengatakan
bahwa dia berkesempatan besar untuk mengandung dan melahirkan. Hanya waktu ya, hanya waktu yang belum berpihak padanya. “Apakah kamu tau doa apa yang
dipanjatkan Nabi Zakaria kepada Allah?” Gibran melontarkan pertanyaannya seraya
membelai pucuk kepala Zihan.
Dengan debar jantung dan hati tak keruan membuat Zihan menggangukkan kepalanya
spontan. “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 'Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'Al-qur’an Surah Ali 'Imran ayat tiga puluh delapan.” Gibran membacakannya
dengan sangat indah bak lantunan surgawi yang menyapa pendengaran istrinya.
Entah kenapa mata Zihan memanas dan buliran bening itu tiba-tiba lolos begitu saja
__ADS_1
dari pelupuk matanya. Dia sekarang mengerti apa maksud dari kisah yang
diceritakan oleh suaminya. “Boleh aku lanjutkan, Sayang?” tanyanya lalu
menghapus deraian air mata yang membasahi wajah sang istri. Dengan senang hati Zihan menganggukkan kepalanya. Walau rasa takut kini melanda hatinya.
“Lalu datanglah Malaikat Jibril membawa berita gembira bagi Nabi Zakariya As.,
sebagaimana Firman Allah : Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya,
sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikatan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." Al-qur’an Surah Ali Imran ayat 39.” Gibran mengakhiri ceritanya dengan senyuman lebar yang sangat merekah.
“Allah akan mengabulkan doa setiap hambanya yang bersungguh-sungguh, karena doa dapat mengubah semuanya. Jadi kita harus percaya dan senantiasa berdoa sebagaimana yang dilakukan Nabi Zakariya,” tuturnya seraya menggenggam kedua tangan sang istri. “Nabi Zakariya saja yang sudah berusia tua renta Allah kasih kepercayaan untuk memiliki buah hati. Jadi, kita harus percaya bahwa Allah juga akan
mengabulkan doa dan keinginan kita,” lanjutnya membawa tubuh sang istri kedalam dekapannya.
♡♡♡
Bersandar di sofa dengan beralaskan dada
bidang suami membuat hati dan perasaan Zihan sedikit lebih tenang. Walaupun tak
dapat dia pungkuri bahwa permintaan mertuanya berhasil menguras jiwa dan
raganya. Ketakutan akan kehilangan moment kebersamaan dengan sang suami membuat dia semakin enggan untuk sekadar bangkit dari posisi ternyamannya. Dia memohon agar Allah sudi untuk memberikan dia waktu sedikit lebih lama lagi untuk
“Kenapa, hm?” tanyanya begitu lembut
dengan elusan tepat di puncak kepala istrinya. Zihan hanya bertahan dengan
gemingnya, menikmati perlakuan manis sang suami yang mungkin saja nanti tidak
bisa dia rasakan lagi.
“Jangan terlalu dipikirkan. Sampai kapan
pun aku gak akan pernah sudi untuk membagi hatiku pada perempuan lain,”
tuturnya yang seperti begitu memahami kecemasan yang tengah dirasakan istrinya.
Zihan mendongak kala tak lagi merasakan
lembutnya tangan sang suami. “Kalau emang itu yang terbaik Insya Allah aku
__ADS_1
ikhlas, Mas,” kata Zihan yang begitu syarat akan keputusasaan. Mau sekuat apa
pun dia menentang dan melawan takdir jika memang jalannya sudah seperti itu,
dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain ikhlas dan menerimanya dengan
lapang dada.
Mendengar penuturan sang istri membuat
Gibran bangkit dari posisi bersandarnya di kepala sofa. Memegang kedua pundak
sang istri agar menghadap padanya. “Tidak ada satu pun perempuan yang bersedia
membagi suaminya. Bibir kamu mungkin bisa mengatakan ikhlas tapi hati kamu enggak bisa berdusta bahwa kamu merasa sakit hati.”
Perempuan yang sudah tidak lajang lagi
itu hanya mampu menunduk, menyembunyikan raut wajah penuh kesedihan dari manik mata suaminya yang tengah menatap dirinya begitu tajam penuh intimidasi. Ingin rasanya dia bersikap egois dan tak peduli dengan permintaan gila mertuanya, tapi apa boleh buat bayang-bayang itu selalu saja hadir di dalam ingatannya.
Dengan lembut Gibran menarik dagu lancip
sang istri, menangkup wajah istrinya lantas berkata, “Kamu adalah jodoh yang telah Allah pilihkan untuk menemani aku, mendampingi setiap langkahku, suka
duka sudah kita lalui bersama dan aku enggak akan pernah semudah itu melepas
ataupun membagi tempat yang telah kamu singgahi untuk siapa pun. Dengan atau
tanpa adanya keturunan kita akan tetap bersama, karena tujuan aku meminang kamu bukanlah perihal anak dan keturunan melainkan untuk menyempurnakan separuh
agamaku dan menjadikan hubungan kita sebagai ladang pahala,” ungkapnya dengan
seulas senyum manis penuh ketulusan.
Perjuangan dia untuk sampai pada titik
ini tidaklah mudah dan dia tidak akan mundur begitu saja hanya karena
permintaan tak masuk ibunya. Dia telah mengucap janji di hadapan Sang Illahi
dan tidak akan semudah itu meruntuhkan ikrar suci yang telah dia lafalkan.
Pernikahan bukan hanya sekadar mencari
__ADS_1
keturunan ataupun mendapatkan momongan karena sejatinya pernikahan itu adalah ibadah. Ibadah dan perintah yang turun langsung dari Sang Pencipta. Anak
hanyalah pelengkap untuk menjalani biduk rumah tangga, anugerah jika memilikinya. Namun jika tidak, jadikanlah pembelajaran untuk melatih kesabaran.