
“Sekuat apa pun kita berdoa dan berusaha jika Allah tak menghendakinya, itu semua akan percuma. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima semuanya, bukan malah menolak dan menyalahkan takdir yang telah Allah gariskan.”
♡♡♡
Sudah genap satu minggu Zihan berada di rumah sakit dan akhirnya sekarang dia bisa
bernapas lega karena bisa kembali ke rumah untuk bertemu dengan suami tercinta. Dia sangat merindukan sosok suaminya yang sudah empat hari ini tidak menemui dia di rumah sakit semenjak insiden dia membentak suaminya.
'Apa kamu marah, Mas gara-gara aku membentak kamu? Sampai kamu gak nememin aku lagi di rumah sakit.' Zihan membatin menyesal atas perlakuan tidak sopannya pada sang suami.
“Ayo, Han kita pulang,” seru Windi seraya menggandeng putri sulungnya yang sudah
memancarkan aura kesembuhan. Dengan senang hati Zihan bergelayut manja di lengan kanan sang bunda dan berjalan beriringan menuju parkiran di mana Pratama sudah menunggu di dalam mobil.
“Loh kok malah pada duduk di belakang?” tanya Pratama yang merasa menjadi sopir dua bidadarinya. Kedua perempuan beda generasi itu terkikik geli dengan perkataan
Pratama yang begitu menggelitik di telinga.
Kedua sudut bibir Pratama mengukir senyum tipis saat melihat dua bidadarinya tertawa
bahagia. “Baiklah untuk hari ini Ayah menjadi sopir kedua bidadari surga yang
sangat Ayah sayangi dan cintai.” Pratama dengan senang hati langsung melajukan
mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Loh kok jalannya ke sini, Yah?” seloroh Zihan terheran-heran karena sang ayah malah tidak berbelok ke arah rumah yang dia dan suaminya tempati.
“Bunda ingin tinggal bersama lagi sama kamu, Sayang. Emangnya kamu gak kangen tidur di rumah Ayah sama Bunda, hm?” tutur windi menyembunyikan sesuatu yang terjadi dari putrinya.
“Tapi aku belum minta izin sama Mas Gibran, Bun,” ucap Zihan tak mau membuat suaminya cemas. Windi terlihat membuang napasnya kasar. “Nanti Bunda yang bilang sama Gibran.”
Zihan hanya mengangguk, walau sebenarnya ada rasa heran dengan perubahan raut wajah sang bunda yang tiba-tiba saja suram saat mendengar dia menyebut nama suaminya. Tapi, ya sudahlah lupakan saja mungkin hanya pikiran dia saja. Dengan cepat dia melupakan semua pikiran buruk yang hinggap dalam otaknya.
Pratama membukakan pintu belakang untuk istri dan putrinya. “Terima kasih,” ucap Zihan lalu terkekeh pelan tidak biasanya sang ayah berlaku manis bahkan sampai
membukakan pintu mobil segala.
“Kembali kasih, Sayang,” balas Pratama seraya membungkukkan badannya. “Ayah lucu. Sudah pantas menjadi seorang sopir pribadi.” Zihan berucap dengan nada riangnya.
“Apa kata dunia kalau Ayahmu yang tampan dan rupawan ini menjadi seorang sopir.”
Pratama berucap dengan penuh percaya diri. “Ternyata Ayahku memiliki tingkat
kepercayaan diri yang tinggi.” Zihan membalas dengan ucapan bernada cibiran.
“Ayahmu memang tampan, Sayang.” Windi ikut menimpali dan membuat Zihan serta Pratama tertawa geli dengan ucapan Windi yang terdengar seperti gombalan.
♡♡♡
__ADS_1
“Mah buka!” Gibran berteriak dengan suara begitu kencang.
“Buka, Mah buka!” teriaknya lagi dengan menggedor-gedor pintu dengan begitu kasar.
Sudah empat hari dia dikurung di dalam kamar oleh sang ibu dan itu sangat menyiksanya. Dia merindukan istrinya yang kini tengah dalam keadaan sakit. Namun, Yulia sama sekali tak berempati malah tega mengurung dirinya seperti tahanan. Dan Yulia juga mengancam dirinya, jika dia kabur dan melarikan diri dari kamar. Maka,
Yulia tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang lebih gila lagi.
“Han, kamu di mana? Apakah kamu udah sembuh? Maafkan aku yang tak bisa berbuat
apa-apa.” Gibran berucap dengan begitu pasrah. Keadaannya sungguh kacau tak
terurus, bahkan makanan yang selalu Yulia berikan tidak pernah dia sentuh
sedikit pun. Yang dia inginkan hanyalah bertemu dengan istrinya. Hanya itu.
“Gibran.” Sayup-sayup Gibran mendengar ada seseorang yang memanggil namanya dengan begitu pelan.
“Kak tolongin gue, Kak,” pintanya saat mengetahui suara sang kakaklah yang
ada di luar pintu kamarnya. Gibran tak mendapati lagi suara sang kakak. Dia
menghela napas frustrasi, lagi-lagi usaha kakaknya gagal. Pasti ini semua gara-gara ibunya yang tak pernah lelah mengawasi kamar yang dia tempati.
Gibran sudah berusaha mencari jalan keluar. Namun, tetap dia tak bisa menemukannya, kamar yang berada di lantai dua membuat dia kesulitan kabur. Loncat? Sungguh pemikiran konyol yang tak mungkin Gibran lakukan. Bukannya bertemu dengan sang istri dia malah bisa bertemu dengan malaikat maut dan berujung dengan tumpukan tanah
bertuliskan namanya. Terlebih lagi ancaman mamahnya yang membuat dia ragu untuk
“Apa Mamah tega melihat Gibran yang sudah seperti mayat hidup?! Lihat dia Mah! dia tersiksa karena keegoisan mamah. Tak seharusnya Mamah seperti ini, semuanya
bisa dibicarakan baik-baik,” ucap Galang entah untuk keberapa kali untuk
menyadarkan mamahnya yang terlampau egois. “Mamah gak peduli!”
“Ambisi dan rasa iri membuat Mamah lupa diri. Bukan hanya Gibran yang tersakiti tapi
juga Zihan, Mah. Dimana hati Mamah sebagai seorang perempuan?!” sergah Galang yang sudah muak dengan kelakuan ibunya yang kelewat kejam.
“Itu semua salah Zihan yang gak bisa memenuhi keinginan, Mamah.” Hati Yulia seakan sudah tertutupi oleh ambisi yang tak bertepi.
“Bukan Zihan yang salah tapi Mamah. Zihan enggak bisa berbuat apa-apa kalau memang
Allah belum mengijinkannya. Minta sama Allah bukan malah mendesak dan mengusik
kehidupan rumah tangga mereka. Karena sejatinya hanya Allahlah yang bisa berkehendak atas semua hambanya.”
Yulia sudah muak mendengar siraman rohani dari putra sulungnya yang hampir setiap hari mengusik gendang telinganya. Mata hatinya sudah tertutupi kabut rasa iri
dan dengki yang sudah mengakar daging di hati.
__ADS_1
Gibran mendengarkan perdebatan ibu dan kakaknya, selalu saja seperti itu. Teriakan,
amarah yang menggebu-gebu keluar dari mulut mamahnya. Namun, Galang selalu
berusaha menyadarkan mamahnya dari kekhilafan belenggu tipu daya setan.
Pintu kamar yang Gibran tempati terbuka dengan begitu lebarnya dan menampilkan wajah Yulia disana. “Mamah akan membiarkan kamu pergi dan menemui istri kamu yang penyakitan itu!”
“Jaga ucapan Mamah. Zihan gak seperti apa yang mamah katakan!” ucap Gibran muak
dengan ucapan kasar dan pedas mamahnya. “Oh iya, Mamah lupa bukan penyakitan tapi mandul!” seru Yulia dengan begitu entengnya.
“Zihan gak penyakitan ataupun mandul seperti yang Mamah katakan! Dia sehat bahkan sangat sehat!” bentak Gibran tak terima istrinya dihina sedemikian rupa oleh
ibu kandungnya sendiri.
Yulia tertawa sumbang lebih tepatnya tertawa mengejek ke arah putranya yang sedang menatap tajam dirinya. “Lalu?!” Kedua tangan Gibran sudah terkepal menahan gejolak amarah yang siap menerjang. Yang di hadapannya kini bukanlah ibunya. Dia berubah dan Gibran tak menyukai perubahan tersebut.
“Mamah akan membiarkan kamu bersama lagi dengan Zihan asalkan kamu harus memenuhi syarat yang Mamah berikan,” cetus Yulia dengan senyuman miring yang menghiasi wajahnya.
♡♡♡
“Assalamualaikum,” salamnya seraya mengetuk pintu.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” sahut orang yang membukakan pintu.
“Ngapain di sini. Pergi!” usir Windi setelah dia mendapati wajah sang menantu yang sudah berani-berani melukai dan menyakiti putrinya.
“Gibran mau ketemu Zihan, Bun,” mohonnya. Tadi dia mendatangi rumah sakit dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa Zihan sudah dipulangkan. Dia pikir istrinya akan pulang ke rumah mereka namun ternyata dia tak menemukan keberadaan sang istri dan akhirnya dia mendatangi rumah sang mertua.
“Saya bilang pergi ya pergi!” bentak Windi. Dia sangat kecewa dengan menantu dan
besannya. Amarah sudah memuncak memenuhi ubun-ubunnya.
“Siapa yang datang, Bun?” teriak Zihan dari ruang keluarga yang tak kunjung melihat tamu yang mengetuk pintu rumahya masuk.
“Bukan siapa-siapa, Sayang,” sahut Windi berbohong. Dia tak ingin mempertemukan Zihan dengan suaminya. Setelah mendapatkan jawaban dari bundanya Zihan kembali fokus menatap layar datar yang ada di depannya.
“Pergi atau kamu gak akan pernah ketemu lagi sama Zihan!” ancam Windi.
“Aku mohon, Bun.” Gibran sangat ingin menemui istrinya.
“Masuk, Nak!” titah Pratama yang baru saja menampakkan dirinya.
“Ayah!” seru Windi penuh peringatan tak setuju dengan suaminya.
“Gibran lebih berhak atas Zihan dan gak seharusnya kamu bersikap seperti itu!” tegas
Pratama pada istrinya. Dia tak mau mencampuri urusan rumah tangga putrinya dan Windi pun harus melakukan hal yang sama seperti dirinya.
__ADS_1
“Makasih, Yah,” ucap Gibran dengan senyuman yang terbingkai indah diwajahnya. Pratama hanya tersenyum lalu menepuk pelan bahu Gibran.
“Selesaikan semua masalah kalian dengan kepala dingin.” Gibran mengangguk lantas mengayunkan kakinya untuk menghampiri sang istri yang sangat dia rindukan.