
“Aku kira hatiku sudah kuat untuk menahan guncangan atas kepergianmu. Tapi nyatanya hati ini seperti daun kering tatkala jauh darimu.”
(Anonim)
♡♡♡
Hari demi hari kandungan Zihan kian bertambah besar, terlebih lagi kini usia
kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan dan hanya tinggal menghitung hari
untuk menuju proses persalinan.
“Menurut Mas anak kita cowok atau cewek?” tanya Zihan seraya mengelus perut buncitnya. Baik Zihan maupun Gibran keduanya sepakat untuk tidak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin calon buah hati mereka.
“Yang penting sehat mau cowok ataupun cewek,” jawab Gibran ikut mengelus perut buncit istrinya. “Ih, Mas mah gitu,” sebal Zihan lalu menyingkirkan lengan Gibran
yang berada diatas perutnya.
“Mau cowok atau cewek sama aja yang penting dia lahir dengan keadaan sehat dan
sempurna,” tutur Gibran. Zihan tak menanggapi, dia tak puas mendengar jawaban dari suaminya.
“Emang kamu pengennya apa cowok atau cewek?” Gibran malah kembali melontarkan
pertanyaan yang sama.
“Ih, kok malah balik nanya sih,” gerutunya tak terima.
“Tuh, kan kamu juga gak bisa jawab,” sela Gibran seraya terkekeh pelan.
“Au ah, Mas nyebelin!”
“Kirain au ah gelap!” kelakar Gibran dengan tawa renyahnya.
“Terang!” kesalnya sedang tak ingin menanggapi guyonan suaminya.
♡♡♡
Baru saja Zihan akan menutup matanya tiba-tiba suara handphone berbunyi dengan begitu nyaring. “Mas,” panggil Zihan
membangunkan Gibran yang ternyata sudah menyelami alam mimpi.
“Handphone kamu bunyi Mas,” Zihan
mendekatkan handphone Gibran yang terus saja berbunyi. Dengan nyawa yang belum
terkumpul sempurna dan mata yang ogah-ogahan di buka, Gibran mengangkat
teleponnya.
“Assalamualaikum, Pak maaf mengganggu waktu istirahatnya,” ucap seseorang di seberang sana.
“Wa'alaikumussalam Warahmatullahi
wabarokatuh, iya ada apa?”
“...”
“Saya tidak bisa!”
“...”
“Baiklah,” ucap Gibran lalu sambungan
telepon terputus setelah Gibran menjawab salam orang yang ada di seberang sana.
“Ada apa, Mas?” tanya Zihan yang kini sudah duduk di hadapan suaminya. Gibran
menatap lekat-lekat manik mata sang istri.
“Besok aku harus pergi ke Bandung.” Zihan
langsung membelalakkan matanya tak percaya dan langsung menatap manik mata
suaminya yang juga sedang melakukan hal yang sama, “Kok mendadak?”
“Perusahaan di sana mengalami failed dan Mas harus turun tangan langsung
untuk menangani masalahnya sebelum perusahaan benar-benar mengalami
__ADS_1
kebangkrutan,” jelas Gibran yang baru saja mendapatkan kabar dari salah satu
pegawainya.
“Ya udah enggak papa, Mas berangkat aja,” ucap Zihan mengijinkan, walau sebenarnya
ia berat untuk melepas kepergian suaminya.
“Gimana sama kamu?” tanya Gibran
yang mengkhawatirkan kondisi Zihan yang tengah hamil besar.
“Insya Allah aku akan baik-baik aja,” katanya meyakinkan sang suami.
“Bener gak papa?” Gibran hanya bisa mengamini ucapan istrinya, karena jujur dia juga merasa berat untuk meninggalkan istrinya.
Zihan terlihat mengangguk mantap. “Berapa hari?” tanya Zihan.
“Insya Allah gak akan lama sampai perusahaan kembali seperti semula,” jawabnya yang tak mengetahui kapan pastinya dia akan kembali.
“Iya, tapi jangan lama-lama yah,” tutur Zihan.
♡♡♡
Gibran bangkit dari ranjang mengambil koper dan memasukan beberapa pakaian serta barang-barang yang akan dibawanya besok ke Bandung. “Tidur, Han udah malam,” titah Gibran saat Zihan mengambil alih koper dan menata barang-barang bawaannya.
“Biar aku bantu,” ucapnya tak mau menerima penolakan dari sang suami.
“Udah Mas, enggak ada yang kelupaan, ‘kan?” tanya Zihan memastikan saat semua barang sudah masuk ke dalam koper. Gibran menggeleng. “Gak ada.”
“Sekarang kamu istirahat yah udah malam,” ujar Gibran membantu sang istri untuk berjalan ke arah tempat tidur. Gibran menyelimuti Zihan yang sudah berbaring di atas kasur.
“Jangan lupa berdoa,” ucapnya lalu mengecup kening Zihan.
Gibran kembali membereskan beberapa berkas yang akan dibawanya besok ke Bandung. Ia menatap wajah polos sang istri yang sudah terlelap dengan begitu nyenyaknya, membuat ia merasa khawatir dan takut untuk meninggalkan Zihan seorang diri dirumah. Terlebih lagi kelahiran Zihan sudah diambang mata bahkan tinggal
menghitung hari saja, tapi Gibran malah harus pergi ke luar kota untuk mengurus
pekerjaannya.
“Tunggu sampai semua pekerjaan aku selesai Sayang,” Gibran mengelus pucuk kepala Zihan lalu membaringkan tubuhnya disamping Zihan. Dia takut tidak bisa mendampingi sang istri pada saat proses persalinan karena pekerjaannya.
♡♡♡
benar-benar pergi.
“Gak ada,” jawabnya seraya memasukan koper ke dalam mobil.
“Mas beneran mau berangkat ke Bandung pake mobil?”
“Iya.” Dia sudah memutuskan untuk berangkat dengan menggunakan mobil.
“Ya udah, ayok masuk.” Gibran membukakan pintu samping kemudi untuk Zihan.
“Ke mana?” tanya Zihan keheranan.
“Ayo masuk selama aku di Bandung kamu tinggal di rumah Ayah sama Bunda,” jelas
gibran menjawab kebingungan istrinya.
“Aku di sini aja, Mas,” tolak Zihan yang tak mau merepotkan kedua orang tuanya kalau
ia harus tinggal di sana walau hanya sementara.
“Ayah sama Bunda udah nunggu kedatangan kamu Sayang,” bujuk gibran, karena memang semalam ia menghubungi mertuanya untuk menitipkan Zihan.
“Mas, udah kasih tau Ayah sama Bunda?” Gibran mengangguk. “Iya, ayo masuk.”
“Bentar, Mas aku mau ambil tas sama handphone dulu,” ungkapnya.
“Tas sama handphone kamu udah ada di mobil.” Gibran langsung menyuruh istrinya untuk duduk manis di samping kemudi. “Mas kenapa sih pake acara nitipin aku segala di rumah Ayah sama Bunda?”
“Mas khawatir kalau harus ninggalin kamu sendirian di rumah,” jawab Gibran yang
fokus menatap jalanan.
“Aku enggak sendirian, kan ada anak kita yang nemenin aku,” sanggahnya seraya mengelus lembut permukaan perut buncitnya.
“Mas enggak akan tenang ninggalin kamu sendirian, apa lagi kamu tengah hamil besar.”
__ADS_1
“Aku baik-baik aja kok, Mas jangan khawatir.” Zihan masih saja menyela ucapan
suaminya.
“Mas gak mau ambil risiko,” keputusan Gibran sudah final. Dia tak akan tenang jika harus meninggalkan Zihan seorang diri di rumah.
♡♡♡
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.” Gibran mengetuk pintu seraya mengucapkan salam.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab Windi setelah pintu terbuka dengan begitu lebarnya.
“Masuk dulu,” ucap Windi mempersilahkan masuk putri dan menantunya.
“Makasih, Bun tapi Gibran harus berangkat sekarang,” tolak Gibran lembut. Windi hanya memberikan senyuman penuh pengertiannya pada sang menantu.
“Kamu harus sehat-sehat disini yah,” kata Gibran merasa berat meninggalkan istrinya.
“Iya, kamu juga harus hati-hati di jalan, kalau udah sampai kabarin aku.” Zihan
tak kalah berat melihat kepergian Gibran.
Zihan berhambur memeluk tubuh Gibran, “Cepet pulang, Mas.” Gibran terkekeh mendengar permintaan istrinya, “Belum juga berangkat udah disuruh pulang aja.”
Zihan melepaskan pelukannya, “Ya udah hati-hati yah, Mas.” Dia mengecup punggung
tangan suaminya. Gibran mengangguk. “Bunda, titip Zihan yah.”
“Iya, Ran kamu hati-hati di jalan. Inget di sini ada istri dan calon anak kamu yang
menunggu kamu kembali,” ucap Windi pada menantunya. “Iya Bunda,” jawab Gibran
lalu menyalami mertuanya sebagai tanda hormat.
Gibran berjongkok di depan perut Zihan mengecup serta mengelusnya, “Tunggu Ayah pulang sayang.” Zihan merasa matanya memanas tak kuasa harus berjauhan dengan
suaminya.
'Jarak Bandung Jakarta deket, Zihan lagian cuman sebentar itu juga buat pekerjaan,'
batinnya mencoba untuk mendapatkan dirinya sendiri.
“Jaga diri kalian baik-baik.” Gibran bangkit lalu mengecup kening Zihan.
“Jangan nangis, Mas hanya pergi sebentar,” Gibran menghapus genangan air mata di wajah Zihan.
Zihan mengangguk, walau jauh di lubuk hati dia berat untuk ditinggalkan suaminya. Entah ada rasa apa yang mengganjal di hati dia pun tak mengetahui tapi yang jelas ada rasa takut serta khawatir yang berlebihan.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.” Gibran berlalu menuju mobilnya.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab Windi dan Zihan setelah mobil yang dikendarai
Gibran hilang ditelan jalanan.
“Bunda,” Zihan menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Windi. “Udah masuk yuk,” Windi membawa Zihan memasuki rumahnya.
'Ya Allah lindungilah suami hamba.' Zihan terus saja merapal doa didalam hatinya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam lubuk hatinya.
“Pagi-pagi anak Ayah kok udah nangis sih,” tutur Pratama yang baru saja keluar dari kamar dan mendapati putrinya tengah menangis.
“Ditinggal kekasih hati.” Windi menyahut seraya terkekeh pelan.
“Gibran pergi juga cuma sebentar dan itu juga cari nafkah buat kamu, Han.” Pratama
mendaratkan bokongnya di samping Zihan.
“Iya drama banget sih Kak gitu aja
nangis.” Zaka ikut larut dalam obrolan.
“Mending kamu berangkat Zak nanti telat,” titah Windi yang tak ingin mendengar keributan di pagi hari.
“Iya.” Zaka langsung menyalami kedua orang tua dan kakaknya lalu berangkat setelah mengucapkan salam.
“Udah dong, Han jangan nangis mulu,” bujuk sang bunda. Zihan menghapus kasar
jejak-jejak air matanya. “Aku takut, Bun.”
“Semuanya akan baik-baik aja,” ucap Pratama mencoba menenangkan putrinya. Zihan hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
'Hilangkanlah pikiran buruk yang bersarang di pikiran hamba Ya Allah.'