
“Laki-laki yang memiliki rasa tanggung jawab akan pulang dengan bau parfum kecut kelelahan, bukan malah dengan bau semerbak parfum perempuan.”
♡♡♡
“Assalamualaikum,” salam Gibran seraya membuka pintu mencari keberadaan sang istri yang ditinggal kerja sendiri.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, kok pulangnya telat sih?” tanyanya, yang membuat sang suami terkekeh.
“Banyak kerjaan Sayang,” terangnya menjawab pertanyaan sang istri.
“Mas mandi dulu gih,” titahnya mencium aroma kecut dari tubuh sang suami. “Iya nanti,” sahut Gibran yang enggan untuk mandi meskipun keringat sudah membanjiri dan rasa lengket telah melekat di tubuhnya. Rasa lelah membuat dia melupakan sesuatu yang selalu dia junjung tinggi. Mandi, ya Gibran termasuk orang yang teramat sangat
mencintai kebersihan.
“Bau tau, Mas,” ujar Zihan agar sang suami cepat membersihkan tubuhnya. Alih-alih
menuruti perkataan sang istri Gibran malah merengkuh tubuh istrinya dan menyembunyikan kepala sang istri di balik ketiaknya. Jorok!
Zihan memukul-mukul punggung suaminya agar melepaskan dia dari bau kecut yang bisa merusak indra penciumannya. Gibran malah tertawa penuh kemenangan bisa mengerjai istrinya. “Lepas, Mas lepas!” lirihnya karena kehabisan napas.
Menyadari sang istri kini tengah kehabisan napas akhirnya Gibran melepaskan Zihan. “Bau tau, Mas dasar jorok,” cibir Zihan setelah lepas dan bebas.
“Kamu tuh harusnya bersyukur,” tuturnya yang membuat kerutan bingung di kening Zihan.
“Bersyukur dari mananya, Mas bisa-bisa aku dikubur,” kata Zihan kesal dan ngasal.
“Hush.. sembarangan banget sih kalau ngomong,” tegurnya. “Abisnya sih, Mas nyebelin pulang kerja malah kaya gitu!”
“Masih mending Mas pulang kerja bau kecut dari pada bau semerbak parfum perempuan,” candanya.
“Ih, Mas kok ngomongnya gitu sih. Liat aja kalau sampe, Mas kaya gitu!” Bulu kuduk
Zihan meremang saat mendengar apa yang baru saja dikatakan suaminya.
“Becanda, Sayang gak mungkinlah, Mas kaya gitu. Satu aja gak abis masa mau tambah lagi,” kekehnya.
“Becandanya gak lucu!” Dia langsung pergi ke arah wastafel untuk mencuci wajahnya yang telah terkontaminasi ketiak sang suami.
♡♡♡
“Mas, perhatiin akhir-akhir ini kamu banyak ngelamun,” tuturnya, kini mereka tengah
berada di dalam kamar.
“Cieee perhatian ni yah,” canda Zihan yang seperti ingin mengalihkan pembicaraan. “Apaan sih, Mas serius!”
“Ah, gak asik!” sela Zihan tak mau membahas apa yang dipertanyakan sang suami.
“Zihan Fahira Adinda Pratama dengerin Mas.” Dia menggenggam tangan Zihan dan menatapnya lekat-lekat. “Apa yang menjadi beban pikiran kamu, itu juga menjadi beban pikiran Mas. Jadi, Mas minta sama kamu berbagilah dengan, Mas Insya Allah akan sedikit meringankan beban pikiran kamu.”
Zihan bertahan dengan gemingnya mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya. “Mas tau gak?” tanyanya pada sang suami. Gibran menggelengkan
kepalanya. “Iyalah gak tau, ‘kan aku belum kasih tau,” kekehnya dengan di selingi
tawa renyah.
“Kok gak ketawa sih?” gerutunya karena sang suami malah menampilkan wajah datar.
__ADS_1
“Udah kamu jangan sok-sokan nyembunyiin sesuatu dari, Mas,” ucap Gibran.
Zihan memutar otaknya berpikir mencari topik pembicaraan lain. Ting! Akhirnya
dia menemukan ide yang dianggapnya
jenius. “Tadi Zahra ke sini dia kesel sama aku gara-gara aku kerjain,” ungkapnya teringat dengan kedatangan Zahra tadi pagi.
“Bukan itu yang mau, Mas dengar dari mulut kamu,” selanya tak terpengaruh dengan
ucapan sang istri.
Zihan terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya berasa kelu untuk berucap. “Apa yang menganggu pikiran kamu?” Pertanyaan yang sama kembali Gibran lontarkan.
“Enggak ada, Mas,” ucap Zihan menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Enggak salah lagi,‘kan maksud kamu,” selanya.
“Ngantuk, Mas,” kata Zihan agar terhindar dari pertanyaan sang suami. “Tidurlah,” titahnya tak mau mengorek lebih dalam lagi apa yang tengah disembunyikan istrinya.
'Apa yang menggangu pikiran kamu,' batinnya bertanya-tanya bingung tak
tahu.
Zihan langsung merebahkan tubuh dan memejamkan mata agar sang suami tak lagi
memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Namun, kantuk tak kunjung menyapa matanya dia malah berulang kali membolak-balik tubuhnya agar bisa terlelap.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi gerak-gerak gak jelas. Grasak-grusuk gak jelas, udah kaya cacing kepanasan,” tutur Gibran yang kini tengah duduk di depan meja kerjanya
membaca beberapa file yang akan dia presentasikan besok. Meja kerja Gibran
ditata rapi menghadap ranjang jadi apa yang istrinya lakukan bisa terlihat jelas
“Gak bisa tidur,” jawabnya bangun dari tidur dan duduk menyandar di kepala ranjang.
“Tadi katanya ngantuk, tapi sekarang bilang gak bisa tidur, yang bener yang mana?” Zihan tak menjawab pertanyaan sang suami, dia malah melangkahkan kaki turun dari ranjangnya.
“Mau ke mana?” tanya Gibran. “Laper mau makan,” jawabnya lalu berjalan ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang tiba-tiba saja keroncongan.
“Ngantuk, laper, aneh,” gumam Gibran setelah sang istri hilang ditelan pintu kamar.
♡♡♡
Setelah sampai di dapur Zihan langsung mengobrak-abrik isi kulkas mencari sesuatu yang bisa dia masak atau makan. Namun, hasilnya nihil dia tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dia masuk lagi ke dalam kamar dengan rasa kecewa yang mendalam.
“Udah makannya?” tanya Gibran setelah melihat sang istri yang duduk terdiam di tepi ranjang. Zihan menggeleng lemah sebagai jawaban. Jujur saat ini dia sangat lapar padahal tadi dia sudah makan malam.
“Kenapa?” tanyanya seraya membereskan file-file yang berserakan di atas meja dan setelahya menghampiri sang istri.
“Kulkas kosong gak ada yang bisa dimakan atau dimasak,” keluh Zihan pada sang suami yang kini sudah duduk manis di sebelahnya.
“Kamu belum belanja yah,” selidik Gibran. Tadi mereka makan malam dengan makanan yang sengaja Gibran beli di restoran. Zihan cengengesan menanggapi ucapan sang suami yang sangat tepat sasaran. “Lupa, Mas.”
Gibran hanya bisa geleng-geleng kepala. “Ya udah biar, Mas beliin kamu makanan. Mau
dibeliin apa?” Zihan terlihat berpikir sejenak. “Martabak enak kayanya, Mas.”
Gibran mengangguk dan bangkit untuk mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. “Jangan lama-lama, Mas.” peringatnya yang mendapatkan acungan jempol dari sang suami.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu datang dengan satu
kantong kresek berisi martabak cokelat pesanannya. Zihan langsung membuka kotak yang membungkus martabak tersebut dan melahapnya dengan kecepatan kilat.
“Pelan-pelan,” peringat Gibran pada sang istri. Zihan hanya mengangguk saja sebagai jawaban, dia terlalu terlena dengan sensasi martabak yang menggoda iman.
♡♡♡
“Mas aku mau belanja bulanan,” ucap Zihan meminta izin ditengah kegiatan sarapan
paginya. “Nanti aja biar, Mas yang antar,” sahutnya.
Zihan mengangguk paham. “Ya udah, Mas berangkat yah, assalamualaikum,” pamitnya.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab Zihan mencium punggung tangan sang suami dan kemudian dibalas dengan kecupan hangat di keningnya.
Seperti hari-hari biasanya setelah sang suami pergi berangkat bekerja dia pasti akan melakukan berbagai macam kegiatan ibu rumah tangga. Dari mulai mencuci baju,
mencuci piring, menyapu, mengepel dan sejumlah pekerjaan rumah lainnya.
♡♡♡
Sesuai dengan apa yang tadi pagi direncanakan, Gibran pulang pukul empat sore dan langsung pergi menancap gas ke arah sebuah super market untuk membeli beberapa kebutuhan dapur dan sejenisnya. Dengan setianya Gibran mendorong
troli yang sudah terisi banyak belanjaan.
“Enaknya yang udah punya gandengan kemana-mana berduaan,” ucap seorang perempuan yang menghampiri Gibran dan Zihan yang tengah memilih-milih sejumlah keperluan rumah tangga. “Syirik tanda tak mampu,” sahut Zihan menanggapi.
“Syirik? Enggak yah,” selanya.
“Eh ada, Nak Zihan sama Gibran di sini,” ujar seorang wanita seusia dengan ibunya yang bersama dengan perempuan tadi yang menghampiri sepasang suami istri itu.
“Hehe iya, Tan lagi belanja bulanan,” sahut Zihan. Gibran hanya tersenyum ramah
menanggapi.
“Kita duluan yah Ra, Tan,” pamit Zihan pada Zahra dan Hanna. Ya, kedua perempuan beda generasi yang mereka temui secara tidak sengaja itu adalah Zahra dan juga ibunya. Zihan dan Gibran melenggang pergi ke arah kasir untuk membayar semua belanjaan mereka.
“Gak ngiri gitu sama Zihan, Ra,” seloroh Hanna setelah Zihan dan Gibran hilang dari
pandangan.
“Gak!” sahut Zahra malas menanggapi omongan sang umi yang akan berakhir dengan sebuah pertanyaan 'Kapan nikah?' sudah jadi makanan sehari-hari baginya. Tapi terkadang dia bingung, kenapa hampir semua orang menanyakan hal yang sama kepadanya. Perihal rezeki, jodoh, dan maut itu rahasia Allah lalu kenapa masih saja dipertanyakan kepadanya yang tak tahu apa-apa. Tanyakan saja pada Allah yang mengetahui segalanya.
♡♡♡
Sesampainya di rumah Zahra langsung mengurung diri di dalam kamar. Sepanjang jalan dari super market sampai menuju rumah, Hanna tak henti-henti mengoceh perihal, jodoh, jodoh, dan jodoh. Dan itu membuat kepala Zahra pusing tujuh keliling.
“Katanya minta calon mantu giliran dibawa tuh calon mantu malah ditolak mentah-mentah,” gerutu Zahra kesal. Dia pernah memperkenalkan seorang laki-laki ke hadapan kedua orang tuanya namun mendapatkan tolakan mentah-mentah dari sang ayah.
“Masih banyak laki-laki di luaran sana kenapa harus dia,” selorohnya yang menolak keras laki-laki yang sang putri bawa. Terkadang Zahra berpikir, apa kekurangan dari laki-laki yang dia kenalkan ke hadapan orang tuanya. Tampan, mapan, dan beriman bukankah itu paket komplit yang selalu menjadi idaman? Tapi kenapa ayahnya malah menolak dan tak menyetujuinya.
“Dengan mudah adiknya menghilang di hari pernikahan kamu dan tidak menutup kemungkinan kalau dia juga akan melakukan hal serupa untuk mempermalukan keluarga kita untuk yang kedua kalinya.” Itulah kata-kata penolakan dari Prawira untuk Galang, laki-laki yang Zahra cintai dan sekaligus kakak dari Gibran yang sudah mempermalukan keluarganya.
Zahra dan Hanna mungkin bisa berdamai dengan masa lalu pahit itu tapi tidak dengan Prawira yang sudah kepalang malu dengan semua orang yang selalu saja membicarakan keluarganya. Inilah, itulah, beginilah, begitulah dan masih banyak lagi nyinyiran orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Prawira bisa tahan jika itu hanya menggunjing dirinya sebagai ayah yang gagal mengantarkan putrinya menuju jenjang pernikahan. Tapi ternyata bukan hanya dirinya saja melainkan anak dan istri serta keluarga besarnya menjadi topik hangat pembicaraan dan bahan
pergunjingan. Dan itu yang tak bisa diterima begitu saja oleh Prawira.
__ADS_1
“Abi akan mencarikan laki-laki yang jauh lebih baik dari dia.” Itulah ucapan sang ayah yang selalu saja mengganggu pikiran Zahra. Ia selalu bertanya kenapa kisah cintanya tak semudah dan seindah yang dia harapkan dan impikan?
Kalau sudah mencoba membuka hati maka harus siap menata hati. Itu adalah hukum alam yang tak bisa dihindarkan dari rasa cinta yang diumbar. Tak ada seorang pun yang tau kisahnya akan berakhir bahagia atau malah merana. Semuanya menjadi rahasia Allah sang maha pemilik cinta sesungguhnya.