
Beberapa bulan berlalu, Kiara telah mencari tahu sendiri tentang apa yang Xavier rencanakan. Tentu saja itu semua tanpa sepengetahuan Xavier. Kiara diam-diam menyelidiki apa yang Xavier lakukan, hingga akhirnya ia tersenyum puas saat mendapatkan hasilnya.
Xavier memang bisa diandalkan. Ternyata dia tidak mengecewakan.
Sementara itu, Diska semakin di atas angin. Xavier sangat menyayangi dan memberikan perhatian lebih. Bahkan, laki-laki itu membelikan mobil yang diinginkan Diska sebagai hadiah karena hasil USG menyatakan Diska mengandung anak laki-laki.
"Aku happy banget, Beb. Mobil kamu emang masih bagus, tapi aku lebih suka mobil baru hadiah baby kita." Diska bergelayut manja di lengan Xavier. Meski ia dikurung di rumah mewah ini, tapi semua keinginan Diska terpenuhi. Lagipula, Diska pikir itu hanya sementara. Setelah ia melahirkan, ia akan bebas lagi.
"Selama kamu patuh dan bisa menjaga kehamilan kamu dengan baik, aku akan menuruti semua yang kamu inginkan." Xavier tersenyum aneh. Membuat Diska tetap di rumah ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan di awal.
"Kalau gitu aku minta rumah," kata Diska yang membuat Xavier menoleh. "Aku pengen jadi nyonya di rumahku sendiri. Mommy Kimmy emang baik banget sih, tapi kadang kalau lagi kumat juteknya, bikin aku nggak nyaman, Beb." Diska memasang wajah melas dengan bibir yang sengaja dimanyun-manyunkan.
Xavier menghela napas berat. Sebenarnya bisa saja ia membelikan rumah untuk Diska, tapi itu semua di luar rencananya.
__ADS_1
"Nanti aku pikirkan lagi ya. Beli rumah nggak segampang beli mobil." Xavier berusaha membuat Diska percaya. "Besok aku akan ke Bogor untuk dua hari," lanjutnya.
"Ke Bogor lagi? Kamu kayaknya sering banget ya ke Bogor." Diska melepaskan tangannya dari lengan Xavier. Tatapannya mulai menatap Xavier dengan curiga.
"Nggak usah natap aku kayak gitu. Kamu curiga sama aku setelah semua yang aku lakukan sama kamu? Aku penuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu, Diska." Nada bicara Xavier mulai meninggi, ia tidak suka kalau Diska sampai mencurigainya.
"A-aku nggak curiga kok, aku cuma tanya aja." Diska meraih tangan Xavier, ia takut sekali jika Xavier marah dan membuatnya diceraikan.
"Udahlah. Mending kamu cari WO buat urus resepsi pernikahan kita, dua bulan lagi kamu lahiran kan. Aku malas debat sama kamu, yang ada kamu stres dan bikin anak itu ikut stres." Xavier bangun dari tempat tidur Diska hendak pergi tapi Diska memeluknya. Untungnya, Xavier langsung menghindar.
Diska memegangi perutnya. "Maaf Xav, aku ...."
Xavier yang melihat Diska memegangi perutnya pun menjadi khawatir. "Kamu nggak apa-apa?" Xavier ikut memegangi perut Diska, khawatir jika Diska kram atau kontraksi palsu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa," jawab Diska. Saat Xavier menunduk, Diska bergerak cepat ingin mencium bibir Xavier, tapi Xavier tak kalah cepat. Ia berhasil menghindari Diska.
"Baik-baik di rumah, jangan nakal!" kata Xavier pada janin di perut Diska yang memasuki usia tujuh bulan itu.
"Kenapa sih kamu nggak pernah mau aku cium?" tanya Diska yang kesal karena penolakan Xavier.
"Karena kita belum menikah secara benar." Xavier berdiri dan melangkah meninggalkan Diska.
Diska tertawa. "Kita bahkan udah melakukan yang lebih Xavier."
Xavier menghentikan langkahnya dan berbalik. "Saat itu kita sama-sama mabuk. Dan yang perlu kamu ingat, aku menerimamu karena anak itu." Xavier kembali berjalan, menutup pintu dan meninggalkan Diska sendirian.
🦄🦄🦄
__ADS_1
Berat ya gaes puasa sambil ngetik 2 judul yang bertolak belakang 😅😅 Kembang kopinya banyakin dong, sama Votenya.. biar semangat 😍😍
🍭🍭🍭