
Bekerja di perusahaan besar memang merupakan hal yang baru untuk Rindu. Tidak pernah terlintas dalam pikiran gadis itu bahwa dia akan bekerja sebagai sekretaris bos besar dan bekerja di kantor yang sangat besar ini. Berkali-kali dia menelan ludah saat menyaksikan betapa mewah dan megahnya perusahaan multinasional itu.
“Kamu bisa baca ini untuk mengetahui profil perusahaan kita. Ini adalah kantor pusat, sedangkan Pak Leon berfokus pada perusahaan cabang di Singapura. Kita juga memiliki anak perusahaan di London dan beberapa negara lain yang tertulis di sini.” Kiara memberikan setumpuk dokumen-dokumen perusahaan yang harus dipelajari oleh Rindu.
Gadis cantik yang belum berpengalaman menjadi sekretaris itu membelalakkan mata menatap tumpukan dokumen yang diberikan oleh Kiara. “Ini harus dihafalkan?” tanya Rindu setelah menelan ludahnya dengan kasar.
“Dihafalkan akan lebih bagus. Jika sudah selesai, saya akan memberikan kepada kamu data tentang Pak Leon, mulai dari hobi, makanan kesukaan, jadwal harian, jadwal bulanan rutin, dan masih banyak lagi nantinya,” jawab Kiara panjang lebar.
Lagi-lagi Rindu hanya bisa mengangguk sambil menelan ludah. Akan tetapi, dia membulatkan tekad. Ini adalah cara terbaik untuk keluar dari masalah hidupnya saat ini, dan dia digaji sesuai dengan tanggung jawabnya yang besar.
“Baiklah, saya akan mengerjakannya,” kata Rindu semangat.
Kiara tersenyum lega melihat semangat Rindu untuk bekerja keras. Dia yakin, Rindu orang yang menyenangkan.
__ADS_1
Setelah memberi sedikit penjelasan pada Rindu, Kiara kembali mengerjakan pekerjaannya sendiri. Tidak lama berselang, Leon menghubunginya supaya datang ke ruangannya. Dengan sigap, Kiara menuruti perintah Leon yang masih menjadi atasannya.
“Permisi, Pak!” ucap Kiara setelah mengetuk pintu ruangan Leon.
“Ya, Kia. Masuklah!”
“Maaf, Pak. Ada apa?” tanya Kiara setelah berdiri tepat di hadapan Leon.
“Iya, Pak. Ada apa? Apa Bapak ada janji makan siang? Saya bisa cancel makan siang saya,” jawab Kiara yang selalu sigap dengan jadwal Leon yang sering berubah tiba-tuba.
“Tidak, tidak, tidak.” Leon menggerakkan jari telunjuknya dengan cepat. Dia sudah memikirkan sebuah ide dengan alasan makan siang bersama Kiara dan Xavier. “Kita bisa sekalian makan siang bersama nanti. Ajak Rindu juga biar dia bisa belajar kalau ketemu klien nanti,” usul Leon.
Kening Kiara jadi berkerut karena mendengar usulan Leon itu. Dia dan Xavier memang akan makan siang bersama, tetapi Xavier ‘kan calon suami Kiara, bukan klien mereka.
__ADS_1
“Maaf, Pak. Klien bagaimana? Apa Pak Xavier juga klien kita?”
“Oh, tidak. Maksud saya adalah kamu bisa mengajari Rindu dengan menganggap Kak Xavier adalah klien kita. Kamu bisa mencontohkannya nanti,” jawab Leon.
“Oh, mengajari Nona Rindu. Apa Pak Leon akan membawanya ke Singapura?”
“Tentu saja, dia sekretaris pribadi saya. Jadi, ke mana pun saya pergi dia pasti ikut. Malah rencananya, saya mau bawa dia ke kantor cabang di London,” jawab Leon dengan yakin.
“Tapi, apa Bapak tahu, kalau Nona Rindu tidak begitu lancar Bahasa Inggris?” tanya Kiara dengan ragu.
“Apa!?” Leon sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Kiara. Dia memang sangat ceroboh mengangkat Rindu sebagai sekretaris tanpa bertanya-tanya. Masalah awalnya, dia hanya berniat menolong gadis itu karena rasa iba yang dimilikinya, tetapi sekarang dia jadi bertanya-tanya. Apakah keputusannya itu sudah tepat? Bagaimana Rindu bisa bekerja di luar negeri jika bahasa Inggris saja dia tidak bisa?
🦄🦄🦄Nggak usah ke luar negeri kalau begitu Leon. Kamu nggak akan kesepian lagi kok, wkkkk🍭🍭🍭
__ADS_1