Kubuat Kau Bertekuk Lutut

Kubuat Kau Bertekuk Lutut
KKBL Bab 80


__ADS_3

Pertanyaan Leon membuat Rindu kehabisan kata-kata. Tidak pernah dia sangka sebelumnya, bahwa laki-laki yang menjadi atasannya itu ternyata sangat narsis. Rasa percaya dirinya yang tinggi membuatnya sangat cocok menyandang predikat playboy. Rindu menggelengkan kepala dan berjalan meninggalkan Leon.


 


Memang siapa yang mau menjadi istrinya?


 


“Hei, Rindu. Saya ini atasan kamu loh,” teriak Leon yang tidak terima karena Rindu meninggalkannya sendiri.


 


Mendengar kalimat Leon, Rindu pun menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan lalu berkata, “Bukankah ini sudah jam pulang?”


 


Leon melangkah ke arah Rindu, saat jarak keduanya semakin terkikis, laki-laki itu menjawab, “Kita belum tanda tangan kontrak kerja, ‘kan. Ayo, ikut aku!” Leon meraih pergelangan tangan Rindu dan memaksanya untuk ikut sampai ke mobilnya.


 


Terpaksa Rindu menuruti perintah Leon itu, karena dia memang belum mengetahui uraian pekerjaannya secara rinci. Dia memasang sabuk pengaman dengan cemberut sembari menunggu Leon yang berjalan menuju kemudinya.


 


Kafe yang dipilih Leon ternyata tidak jauh dari kantor, sehingga dalam lima menit saja mereka sudah sampai di kafe itu. Rindu mengikuti Leon memasuki kafe. Setelah memesan minuman, Leon mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.

__ADS_1


 


“Ini surat kontrak kerja kita. Silakan kamu baca-baca dulu!” Leon memberikan dokumen itu pada Rindu yang kini mulai gugup.


 


Dengan tangan bergetar Rindu menerima dokumen dalam map berwarna merah itu. Sambil memejamkan mata, gadis itu berdoa semoga Leon tidak memberi syarat aneh yang memberatkannya.


 


“Kenapa merem-merem gitu? Kamu pikir aku ini orang jahat?” tanya Leon yang saat ini sudah tidak menggunakan bahasa formal.


 


Mendengar pertanyaan Leon, seketika itu Rindu membuka matanya. Dia langsung membuka berkas itu dan membacanya pelan-pelan. Sampai pada poin tentang peraturan kontrak, matanya membulat sempurna.


 


 


“Pokoknya setiap kali aku butuh, aku akan hubungi kamu. Kamu ‘kan sekretaris pribadi, jadi harus siap sedia dong,” jawab Leon.


 


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Leon. Kerja dengan gaji sebanyak itu, tidak mungkin akan bekerja santai.

__ADS_1


 


Tidak berpikir lebih lama lagi, Rindu langsung menandatangani surat perjanjian itu.


 


“Ingat, aku sudah memberimu uang lima puluh juta untuk membayar utang kamu. Kalau sampai kamu melanggar kontrak, maka kamu harus menggantinya sepuluh kali lipat.”


 


“Iya, aku tahu. Aku juga bisa baca kok,” balas Rindu. Dia menyerahkan dokumen itu pada Leon untuk ditandatanganinya.


 


Ada rasa bangga yang menyeruak di hati Leon saat Rindu menandatangani kontrak kerja itu. Artinya,dia akan terikat dengannya selama dua tahun.


 


“Baguslah, mari bekerja sama dengan baik,” ucap Leon sembari menjabat tangan Rindu.


Pesanan mereka pun datang. Leon mengingatkan Rindu untuk mengambil kursus bahasa inggris, agar gadis itu mudah dalam bekerja di luar negeri nantinya. Leon masih belum bisa memantapkan hati untuk tinggal di Indonesia berdekatan dengan orang tua dan saudara kembarnya. Baginya, hidup di luar negeri jauh lebih menyenangkan.


Setelah sepakat tentang kerja sama mereka di kafe, Leon mengantarkan Rindu untuk pulang ke rumah pamannya. Namun, saat sampai di depan rumah Rindua, Leon melihat paman gadis itu sudah menunggu di depan pintu. Leon pun ikut turun dari mobil untuk menemani Rindu.


“Kamu lagi. Wah, gaya kamu keren sekali ya, apa benar kamu cuma seorang sopir?”

__ADS_1


🦄🦄🦄 Iya Om, sopir.. sopir hatinya Rindu 🤭🤭🍭🍭🍭


__ADS_2