
Diska meradang kala Kiara menyebut Xavier adalah miliknya. Ia sangat tidak terima karena jelas-jelas Xavier adalah suaminya. Bahkan, Diska memiliki bukti nyata melalui buku nikah itu yang menyatakan bahwa Xavier adalah suaminya.
“Hei! Sekretaris murah.an tidak tahu malu!” Diska menunjuk Kiara dengan jari telunjuknya. Napasnya yang memburu membuat wanita hamil itu memegangi dadanya dengan tangan kiri. “Xavier itu suamiku, aku sedang mengandung anaknya saat ini. Jadi, kamu yang seharusnya pergi.” Diska hampir menjambak Kiara dengan tangan kanannya.
Kiara berhasil menghindari serangan Diska dan mundur beberapa langkah. Xavier mencoba menghentikan Diska tapi gagal. Wanita itu sudah seperti kesetanan saat melihat Kiara.
“Aku? Wanita murah.an? Apa kamu tidak sadar diri? Hamil di luar nikah. Aku bahkan tidak yakin itu anak Xavier,” balas Kiara dengan senyum mengejek.
“Apa maksudmu? Jelas-jelas ini anak Xavier. Kamu tidak tahu, kan, bagaimana Xavier menyayangi bayi ini? Terimalah kekalahanmu!”
“Kia, stop!” Xavier langsung menyahut. Ia tidak mau Kiara semakin terpancing dan akan membongkar rencana mereka sebelum waktunya. “Kamu pulang dulu! Biar aku yang urus dia!” perintah Xavier sembari memberi kode dengan wajah memohon.
__ADS_1
Kiara merasa belum puas. Ia masih ingin mengganggu Diska hingga Diska semakin terbakar nantinya. “Tidak mau. Aku hanya mau pulang bersamamu. Bukankah kamu sudah menungguku selama seminggu ini? Ayolah Xavier! Apa kamu takut dengan wanita ini sampai kamu rela tidak tidur denganku malam ini?” tanya Kiara yang membuat Xavier mendelik.
“Kia, aku mohon pulanglah sekarang!” perintah Xavier sembari menahan kedua pundak Diska. Ia tidak menyangka Kiara akan memancing Diska dengan kebohongan seperti itu. Mereka memang tinggal di apartemen yang sama, tapi di unit yang berbeda.
“Jadi, kamu benar-benar tinggal sama dia? Beberapa minggu terakhir ini kamu tidak pulang ke rumah, gara-gara dia!” Mata Diska mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit saat membayangkan Xavier dan Kiara tinggal bersama, bermesraan berdua sementara dia harus kesepian setiap malam demi menjaga kehamilannya.
“Kalau malam ini kamu tidak datang, jangan harap kita akan bertemu lagi!” Kiara mengancam Xavier dengan tatapan tajamnya. Ia tersenyum tipis setelah berhasil membuat Diska menangis. Kiara yakin, saat ini Diska pasti mulai waswas, tapi ia juga harus waspada karena Diska bisa saja menyuruh orang untuk mencelakainya.
“Diska. Duduklah!” Xavier mencoba membuat Diska tenang. Ia hanya memikirkan bayi dalam kandungannya itu.
“Jelaskan Xavier! Apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita itu? Sejak kapan dia kembali?” tanya Diska yang semakin ketakutan dengan nasibnya. Ia dan Xavier belum menikah secara agama meskipun ia sendiri sudah memegang buku nikah itu.
__ADS_1
“Tenanglah Dis, kalau kamu kehilangan bayi ini, maka kamu juga akan kehilangan aku,” ucap Xavier.
Diska semakin tidak tenang. Ia mulai sadar bahwa Xavier hanya menginginkan bayinya, bukan dirinya. “Apa kamu tidak mencintaiku, Xav?” tanyanya dengan bibir bergetar.
Xavier menghela napas. “Ayo kita pulang! Kamu sudah membuat kekacauan dengan datang ke kantor.” Xavier menarik tangan Diska, tapi wanita itu tetap bergeming. “Kalau kamu tidak mau pulang sekarang, jangan harap ada pesta pernikahan!”
Diska menatap Xavier tidak percaya. Ia sangat takut Xavier menceraikannya setelah melahirkan. Otak Diska mulai berpikir, ia harus membuat rencana supaya Xavier tidak berpaling darinya. Sialnya, ia tidak punya banyak waktu karena hari persalinan sudah semakin dekat.
“Kalau kamu tidak mau pulang aku ....”
“Oke. Kita pulang!” Diska menuruti perintah Xavier. Lalu, mereka pulang bersama ke rumah Kimmy dan Arsen. Namun, setelah mengantar Diska sampai kamarnya, Xavier buru-buru pergi karena takut Kiara benar-benar meninggalkannya.
__ADS_1