
Leon menunggu Rindu di ruang rawat VIP yang disewanya. Sebenarnya, Rindu merasa sangat tidak enak hati dengan perlakuan Leon itu, tapi mau menolak pun percuma karena Leon sudah dengan tegas akan melarangnya. Saat ini, yang bisa gadis itu lakukan adalah menerima pertolongan dari Leon. Sementara itu, Leon terus berjaga memperhatikan gerak-gerik Rindu yang mulai tidak nyaman karena terus diperhatikan.
Gadis itu berganti-ganti posisi dan Leon tetap mengawasinya. Sampai akhirnya dia merasa ingin buang air kecil saat ini juga.
“Kamu mau ke kamar mandi?” tanya Leon yang merasa aneh dengan gerak-gerik Rindu. Dia berjalan mendekat pada ranjang pasien yang menjadi tempat istirahat gadis itu saat ini.
“I-iya. Aku butuh ke toilet kayaknya,” jawab Rindu. Dia ingin beranjak dari tempat tidurnya, tetapi Leon langsung sigap membantunya.
“Aku bantu.” Leon menuntun Rindu menuju kamar mandi. Dia memegangi infus yang terpasang di tangan Rindu. Dengan hati-hati, Leon membantu gadis itu dan menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Saat menunggu Rindu menyelesaikan urusannya, Leon merenungi apa yang sedang dia lakukan saat ini. “Kenapa aku begitu khawatir dan peduli dengan gadis itu? Apa semua ini karena dia adalah temannya Ellea?” ucapnya dalam hati.
Leon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, semua ini pasti hanya karena kasihan. Tidak mungkin wanita seperti Rindu bisa merebut perhatiannya.
__ADS_1
**
**
**
Leon tertidur pulas di kasur yang dikhususkan untuk penunggu pasien di ruang VIP itu. Semalaman dia susah tidur karena khawatir jika Rindu terbangun sewaktu-waktu. Rindu yang merasa mulai membaik itu pun tidak tega melihat Leon yang kurang tidur karena menjaganya.
Saat Ellea masuk ke ruang perawatannya, gadis itu langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuk, memberi isyarat agar Ellea tidak berisik.
“Sepertinya begitu,” jawab Rindu.
“Lagian, kenapa keluargamu tidak ada yang datang sih, Rin? Cerita saja sama aku.” Ellea meraih tangan Rindu. Ia merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Mereka memang sudah lama tidak berkomunikasi semenjak kuliah dan punya kehidupan masing-masing. Namun, saat SMA Rindu tetaplah sahabat terbaik Ellea.
__ADS_1
Rindu menundukkan kepala, dia bingung apakah harus jujur pada Ellea, atau memendam semuanya sendiri. Sementara itu, Leon yang sudah terbangun sejak kedatangan Ellea itu pun mencoba mendengarkan cerita mereka sembari tetap berpura-pura tidur.
“Rindu, aku ini teman kamu. Kalau aku nggak bisa bantu kamu, setidaknya aku bisa meringankan beban di hati kamu.” Ellea berusaha untuk terus meyakinkan Rindu agar mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku gagal menikah, El. Kamu tahu, ‘kan” ucap Rindu pada akhirnya.
“Iya, aku tahu. Cowok breng.sek itu menghamili perempuan lain, ‘kan?”
Rindu mengangguk. Memang benar bahwa mantan tunangannya adalah pria jahat yang telah merusak mimpinya tentang pernikahan, sekaligus menyisakan beban berat dalam diri Rindu.
“Meskipun pernikahanku gagal, tapi aku tetap harus membayar hutang untuk sewa gedung, katering dan semuanya, El. Aku harus melunasinya sendiri. Ayahku sudah meninggal, ibuku nggak tahu ada di mana. Sedangkan Paman dan Bibi yang mengambil pinjaman di bank untuk biaya pernikahan itu, malah melimpahkan semuanya padaku, El.” Rindu mulai menangisi nasibnya yang harus menanggung semua beban itu sendiri.
Ellea mencoba menenangkan hati temannya. Dia berjanji akan membantu meringankan beban Rindu semampunya. Sementara itu, Leon akhirnya bisa mengetahui masalah Rindu yang membuatnya penasaran dari kemarin.
__ADS_1
🦄🦄🦄Kira-kira si Leon mau bantuin Rindu nggak ya? Terus si Rindu emangnya mau dibantuin?🍭🍭🍭