Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 10


__ADS_3

Grep..


Sebuah tangan mungil kecil milik seorang perempuan menggenggam tangan Titian agar tidak jatuh. Titian merasakan dirinya bergelayut di pinggir jembatan, kemudian menatap wanita paruh baya yang menggenggam tangannya dari atas dengan sekuat tenaga.


"Apa yang kamu lakukan? pegang tangan saya" teriak wanita paruh baya itu.


"Lepasin saya. Biarin saya mati" teriak Titian tak kalah keras dan berusaha melepaskan pegangan wanita itu.


"Kamu gila! Apa kamu pikir dengan bunuh diri semua masalah akan selesai?!"


"Iya. Aku ngga perlu menanggung beban dalam hidupku"


Suara keduanya sama-sama memekik keras di dinding jembatan.


Tak lama ada beberapa warga yang menolong mereka, sampai Titian berhasil diselamatkan meski susah payah karena dia terus meronta untuk dilepaskan.


"Kamu pikir semua dosamu tidak akan mendapat balasan dari Tuhan di akhirat hah?"


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya kasar, sedangkan Titian hanya menatapnya dengan rasa bersalah.


Warga yang tadi menolong mereka akhirnya berhamburan meninggalkan tempat kejadian.


"Maaf" lirih Titian "maafkan saya, saya merasa sangat putus asa sekarang. Dunia mungkin akan menganggap saya hina, dan diakhirat pasti juga akan mendapat siksa. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang"


"Memang apa masalahmu sampai berpikiran untuk mengakhiri hidup?"


"Saya tidak bisa menceritakan semuanya, itu hanya akan menambah keterpurukan saya" air mata Titian berhasil lolos dari pelupuk matanya membasahi pipi kemerahan miliknya yang lengket oleh keringat.


"Apa anda bisa membantu saya?" kata Titian kemudian.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu.


"Bisakah anda mengantarkan saya ke Naomi Residence?" tanya Titian dengan tatapan memohon.


"Kamu tinggal disana?"

__ADS_1


Titian mengangguk.


"Kebetulan saya juga tinggal di sekitar sana. Oh iya ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada disini?"


"Nanti saya ceritain. Kalo saya disini terus sendirian bisa-bisa saya bunuh diri lagi" ujar Titian.


"Baiklah" balas wanita paruh baya itu.


"Terimakasih" Titian berucap kemudian.


Keduanya berjalan menghampiri mobil wanita yang menolong Titian yang berada di seberang jembatan.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Cklek..


Saat ada suara pintu terbuka, Mario menatap siapa yang yang datang. Rega, dengan wajah datarnya seperti biasa memasuki cafe tempatnya bekerja yaitu cafe milik Mario.


Rega kembali mendekati Mario dan mengambil nampan yang berada di tangan temannya itu.


"Gue minta maaf, tadi gue udah kasar sama lo" ujar Rega.


Rega langsung mengerti dengan apa yang dikatakan Mario dan segera membawa nampannya ke meja nomor 9.


Di meja itu ada dua orang perempuan yang tengah asik mengobrol satu sama lain. Saat Rega mengantarkan pesanan mereka, keduanya terperangah dengan paras Rega yang begitu tampan sampai tak bisa berkata-kata.


Rega memang tidak pernah berpakaian seperti disekolah saat sedang bekerja, dia selalu mengenakan seragam kerja dan melepas kacamatanya sehingga tidak akan ada yang mengira bahwa itu adalah Rega, si culun. Julukan yang di berikan oleh teman-teman sekolahnya kecuali Mario. Karena hanya Mario yang tau bahwa Rega yang sebenarnya tidak seperti itu.


Bukan tanpa alasan Rega mengubah penampilannya saat di sekolah. Dia tidak ingin ayah serta kakak dan ibu tirinya mengenali dia, Rega ingin merahasiakan keberadaan dia dengan ibunya dari mereka.


"Aaa ganteng banget" kata salah satu perempuan yang duduk di meja itu.


"Dia pasti bukan manusia" kata yang lainnya dengan mata berbinar.


"Boleh dibawa kerumah ngga sih yang itu" sahut satunya lagi.

__ADS_1


"Minta bungkusin gih, gausah pake bumbu lagi udah pas banget. Gue rela dia tinggal dirumah gue untuk selamanya gratiss"


Keduanya saling bersahutan dengan sedikit berbisik dan pandangan tertuju pada Rega yang sedang menata gelas-gelas kecil di balik meja kasir.


"Lo berdua liatin apa sih?"


Tiba-tiba seorang perempuan cantik menghampiri mereka dengan tatapan heran namun dua temannya itu tidak menghiraukan dirinya.


Dirasa tidak ada jawaban dari keduanya, si perempuan yang baru datang menatap ke arah yang dipandang kedua temannya.


Perempuan itu menepuk pundak kedua temannya berbarengan hingga mengejutkan mereka "iler kalian netes tuh" katanya.


Sontak keduanya langsung mengusap ujung bibir mereka dengan punggung tangan masing-masing.


"Apaan sih lo Jes ngagetin kita aja" kata Momo, perempuan cantik berkulit eksotis kelahiran lombok.


"Iya nih, kita kan lagi ngerefresh mata" ujar Gina, anak mamih kesayangan omah kelahiran Jakarta.


"Mata keranjang semua lo lo pada. Kayak nggga pernah liat cowok ganteng aja" balas Jessica Kenia, seorang perempuan cantik kelahiran Bandung yang terkenal play girl.


"Ayok taruhan" cetus Gina.


Seketika Momi dan Jessia menatap Gina dan mengernyitkan dahi.


"Kalo Jessica bisa dapetin tuh cowok, gue traktir kalian berdua sampe lulus"..


Momo dan Jessica saling berpandangan dengan tatapan tak bisa diartikan.


"Setuju" kata keduanya bersamaan.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2