Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 29


__ADS_3

"Yaudah, ibu anterin yah. Yah pegang dulu Babas nya"


"Sini. Cucu opa yang tampan"


Begitulah kurang lebih percakapan antara entah berapa orang, Rega pun tidak tahu. Tapi yang jelas, suara mereka tidak asing di telinga Rega.


"Lo kenapa?" Mario menatap heran pada temannya itu yang tiba-tiba berhenti.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Mario, Rega membalik badannya dengan hati yang penuh harap.


Saat matanya tertuju pada seorang lelaki paruh baya yang menggendong bayi ditangannya dan dua orang wanita yang hanya terlihat punggungnya, wkatu seolah berhenti untuk Rega. Dia akan bertemu Titian, wanita yang berhasil menetap di pikirannya untuk waktu yang lama.


Irpan memutar bola matanya dan tertuju pada Rega yang daritadi memang memandanginya.


Pandangan Irpan seolah menyelidik, siapa orang ini? kenapa dia memperhatikanku, sekilas Irpan menengok ke belakangnya berpikir mungkin Rega bukan menatap dirinya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Irpan, karena dia tidak ingat pada Rega.


Wajar saja, sudah sembilan bulan, saat terakhir kali Rega dan Irpan bertemu karena Rega mengantarkan Titian pulang, dan mereka baru bertemu lagi sekarang.


"Bro!" ucap Mario. Rega terhenyak mendapat tepukan keras di pundaknya dari Mario.


"Lo kenapa?"..


"Ngga papa"


Rega menghampiri Irpan yang keheranan karenanya.


"Om ingat saya?" tanya Rega.


"Siapa kamu?" tanya Irpan balik, dan mengalihkan pandangannya pada Baby Babas.


Bastian Alhaqy Narendra, nama panggilannya Babas adalah nama putra Titian. Dirinya tidak ingin menambahkan nama belakang Andri pada anaknya, maka dari itu, nama belakang ayahnya yang dia pakai.


"Saya-"


"Bro. Lo ngapain sih? Ini siapa?"


"Diem!"


"Kaki gue tambah sakit berdiri terus"

__ADS_1


"Kan lantainya luas Yo"


"What? Maksud Lo gue harus duduk dilantai? No no no. Bisa turun kharisma seorang Mario Dimata para ce-"


"Berisik!" bentak Rega pada Mario, membuat temannya bergidik dan berlalu mencari kursi untuk duduk.


"Wajar kalau om tidak ingat saya. Saya Rega, yang tempo hari mengantar Titian pulang. Dan om malah ingin menghajar saya"


Irpan menatap Rega dengan sorot menyelidik dari ujung kaki hingga ujung kepala, menatap lama wajah tampan Rega yang datar "saya ngga inget" katanya.


Irpan yang hendak pergi menyusul Titian dan ibunya, tidak jadi karena keduanya sudah berjalan mendekati Irpan dan Rega.


Rega menatap kearah Irpan yang hendak pergi dan betapa bahagianya dia tatkala Titian dan ibunya menghampiri mereka. Titian dengan gaya rambut baru dan tubuh yang sudah kembali seperti semula, bahkan lebih berisi membuat Rega sedikit mengembangkan senyumnya.


Syukurlah dia hidup dengan baik. Gumam Rega.


Titian yang duduk di kursi roda menatap tajam pada Rega yang terus memperhatikannya dengan senyum terkulum. Membuat Titian kembali merasa terancam dengan tatapan Rega.


"Ayah siapa dia?" tanya Titian sembari mengambil baby Babas dari ayahnya.


"Ayah juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia mengenal kita. Katanya dia yang nganterin kamu tempo hari, ayah ngga inget kapan dia nganterin kamu pulang" jelas Irpan.


"Ibu tau darimana kalau dia orang baik?" tanya Titian mendongak menatap ibunya.


"Ibu hanya menembaknya"..


Siapa dia? Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana? Batin Titian.


Rega yang merasa mendapat tatapan tajam dari ketiganya menghampiri mereka tanpa senyum.


"Apa kabar tante? Titian?" ucap Rega pada kedua wanita yang menatapnya heran.


"Kamu kenal saya?" tanya Sindy sambil menunjuk dadanya sendiri.


Rega mengangguk.


"Aku juga?" tanya Titian tak kalah heran.


Rega mengangguk lagi.


"Rega. Aku yang mengantarmu pulang setelah kejadian yang sembilan bulan lalu menimpamu"

__ADS_1


Sontak Titian menutup mulutnya yang menganga dengan mata membulat, setelah mengingat semua kejadian yang ia lewati dulu. Ia ingat bagaimana Rega mengantarnya pulang dan dirinya pingsan dijalan karena lapar, kemudian Rega membawanya ke tempat makan hingga menghabiskan banyak makanan, lalu pulang kerumahnya dan Rega menyaksikan bagaimana dirinya menangis meraung-raung tanpa rasa malu.


"Kamu!" teriak Titian.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Kediaman keluarga Titian.


Saat ini kelimanya sudah berada di ruang tamu rumah Titian, Mario pun ikut serta setelah mendengar penjelasan Rega, karena dirinya juga ada di cafe saat Sinta membawa Titian ke cafenya dulu.


"Silahkan diminum" ucap Sindy pada Rega dan Mario.


"Oh iya, sedang apa kalian disini?" tanya Sindy lagi.


"Kami ada pe-"


Belum selesai Mario menjawab pertanyaan Sindy, Rega langsung menyela.


"Kami kuliah disini" jawab Rega.


"Hah?" lirih Mario pelan, sambil menatap Rega heran.


"Kalau tidak ada perlu apapun, cepatlah pulang!" ucap Irpan dengan nada tegas.


"Yah" sergah Sindy "tidak apa, tidak perlu terburu-buru" ucapnya.


"Tapi ini sudah larut malam" kata Irpan lagi.


Rega menatap jam tangannya sebentar, kemudian tersadar kalau ini memang sudah sangat larut, dirinya saja berangkat ke rumah sakit jam sepuluh, sekarang sudah setengah dua belas. Kalau ia tidak cepat pulang itu akan menunjukkan kesan yang tidak baik pada keluarga Titian, ditambah sepertinya ayah Titian tidak menyukai Rega, sejak dulu.


Sepertinya aku harus mengurungkan niatku untuk bisa mengobrol dengan Titian hari ini. Batin Rega berucap malas.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2