Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 25


__ADS_3

Cklek..


Ratu yang baru keluar kamar mandi, menggunakan jubah mandi dan rambut yang digulung dengan handuk menatap Galih sesaat sebelum berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian.


Galih yang memegang wine dalam botol kecil disofa tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Ratu. Mulai dari Ratu yang masuk ke ruang ganti sampai Ratu keluar lagi dan duduk di ranjang sambil menyandarkan bahunya, tidak ada gerakan Ratu yang terlewat oleh tatapan Galih.


Galih yang memang terbiasa tidur dengan memeluk Ratu, segera menghampiri Ratu dan tidur disamping Ratu sambil memeluknya. Ratu tidak menolak, percuma juga.


Sepersekian detik, Galih terus saja memepetkan tubuhnya dengan tubuh Ratu, membuat Ratu menghela nafas dan mengambil sebuah majalah dewasa diatas nakas kemudian membukanya.


"Aku merindukanmu". Sangat lembut. Tidak ada desiran kemarahan pada nada suara Galih.


"Kau tau, aku sangat menderita tanpamu beberapa hari. Dan saat aku pulang kau tidak ada di rumah. Itu membuatku sangat marah, tapi juga sangat merindukanmu"


"Biasanya kau akan melampiaskan kemarahanmu padaku" jawab Ratu.


"Sudah kubilang aku sangat merindukanmu. Aku sudah melampiaskan kemarahanku pada diriku sendiri"


"Maksudmu?". Kali ini Ratu menatap wajah Galih yang masih terbenam disampingnya.


Tidak ada jawaban dari Galih, Ratu yang merasa heran mulai memeriksa apa yang Galih lakukan pada dirinya sendiri. Apa mungkin dia memotong burungnya? Pikir Ratu. Ah ngga mungkin.


Ratu memeriksa tangan Galih, tidak ada apapun ditangan kirinya.


"Ini kenapa?" kata Ratu saat memeriksa tangan kanan Galih dan ada perban di area nadi.


"Bukan apa-apa, aku hanya menyatnya sekali" ucap Galih santai.


"Kau gila! Kau bisa mati!". Tanpa sadar Ratu berteriak sangat keras dengan wajah marah, seolah ia begitu peduli pada Galih.


"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Galih, dan kini sudah duduk mensejajari Ratu.


Ratu yang tersadar dengan kelakuannya segera memalingka muka kearah lain dan menstabilkan suaranya.

__ADS_1


"Ehem.. ti tidak"


Cup..


Galih mencium pipi Ratu sekilas kemudian memeluknya erat.


"Apa kau mencintaiku?"


Pertanyaan Ratu membuat Galih bingung, dia tidak tahu perasaan apa yang dia punya untuk Ratu. Tapi Galih selalu takut kalau Ratu akan meninggalkannya, dan selalu merindukan Ratu walau hanya berpisah sebentar saja. Meski dia sering menggoda perempuan lain, tapi tidak pernah menyentuh apalagi sampai tidur dengan perempuan lain. Hanya Ratu satu-satunya perempuan yang sangat dekat degannya setelah kepergian kedua orangtuanya.


"Lihat aku, apa kau mencintaiku?" Ratu berucap lagi karena merasa tak ada jawaban dari Galih.


"Aku tidak tahu" jawab Galih dengan polosnya.


Astaga, kenapa dia berubah jadi tampan begini sih setelah satu minggu ngga ketemu. Batin Ratu.


Untuk sesaat Ratu terpukau dengan pandangan dan sorot mata Galih saat ini padanya, Galih manut saja saat Ratu memegang bahunya dan memintanya menatap mata Ratu.


"Aku.. Saat sedang bersamamu, aku puas"


"Aish bukan itu. Maksudku apa bagaimana perasaanmu?"


"Aku bahagia, nyaman dan tidak mau jauh-jauh darimu. Kau ingat aku selalu membawamu kemanapun aku pergi jika kau tidak ada urusan. Itu karena aku akan merindukanmu dan kesepian jika tidak bersamamu. Meski aku dikeramaian aku selalu merasa kesepian jika tidak bersamamu. Apa itu yang disebut cinta?"


Deg.


Rasanya baru kali ini seorang Galih bicara begitu tulus, Ratu melihat ketulusan dimatanya. Penuturan Galih yang sangat polos membuat Ratu merasa kalau Galih memang mencintainya, dia hanya tidak bisa memperlakukan seorang wanita dengan baik. Dia juga tidak bisa mengendalikan emosinya dengan benar.


"Aku pikir itu bukan cinta. Aku menganggapnya kebiasaan, karena kebiasaan itu aku jadi merasa ketergantungan padamu"


Jleb...


Pernyataan Galih membuat Ratu merasa di jatuhkan tiba-tiba saat sudah diterbangkan ke angkasa. Ucapan Galih ada benarnya juga. Mungkin hanya kebiasaan. Tapi itu menyakitkan, kata-kata itu menyakitkan bagi Ratu. Entah kenapa, tapi di tidak suka mendengar penuturan Galih yang terakhir.

__ADS_1


"Apa kau akan meninggalkanku saat menemukan cintamu?"


"Tentu saja"


Sreett...


Perasaan apa ini. Kenapa begitu menyakitkan hanya karena kata 'tentu saja'.. Apa aku cemburu? atau ini yang namanya patah hati?


"Tapi aku perlu mengerti dulu, apa itu cinta" sambung Galih.


"Setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini, kau akan tetap meninggalkanku? Kau tidak berniat menikahiku?"


Aishh pertanyaan macam apa ini Ratu. Kenapa kau menyinggung soal pernikahan.


Ratu berharap-harap cemas mendengar jawaban Galih, tanpa sadar Ratu mengeratkan pegangannya pada bahu Galih sampai hampir meremas.


Galih yang menyadari perubahan pada raut wajah Ratu hanya mengulum senyum dengan sedikit melirik lengan Ratu yang menggenggam erat bahunya.


Dengan sedikit terkekeh, Galih menjawab "Lalu apa yang harus aku lakukan, kau pikir aku akan menikahimu? Tentu saja aku hanya akan menikahi cintaku"


Ratu melepas pegangannya pada bahu Galih dan tanpa sadar air matanya menggenang dan menetes membasahi pipinya seketika mendengar jawaban Galih yang begitu terus terang.


Apa sebegitu rendahnya aku dimatamu? Hingga kau hanya menganggapku bayang-bayang semu. Sebelum menemukan terang.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2