Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 32


__ADS_3

"Sorry sorry gue gaada maksud buat kesitu"


Bodoh banget sih gue kenapa ngga kepikiran sampe kesitu. Rutuk Rega pada dirinya sendiri.


Seseorang yang dianggap pintar seperti Rega saja bisa melakukan kebodohan. Bagaimana dengan yang lainnya. Manusia memang gudangnya kesalahan, apalagi disaat saat tertentu, naluri dan pikirannya kadang tidak sinkron, naluri bicara A tapi mulut berkata lain.


Seperti itulah yang Rega rasakan sekarang.


"Udah cepetan apa yang mau lo omongin". Titian mulai terlihat gusar dengan keadaan ini.


Titian's Pov


Shit. Menyebalkan!


Kenapa dia selalu ada dimana-mana?


Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Lagi aku belum kenal dengan orang-orang disini, bagaimana jika ada yang mendengarnya tadi. Bisa-bisanya dia dengan enteng mengucapkan pertanyaan itu.


Aku mendengus kesal melihatnya tidak juga mengatakan apapun.


"Kalau ngga ada yang mau diomongin. Gue balik duluan". Aku berdiri dan meraih tas ku yang ku tanggalkan di kursi lain.


Tapi tangannya bergerak cepat memegang tanganku yang otomatis langkah yang baru saja mau kulakukan terhenti.


Aku menatap tangan itu, kulirik dia sebentar dan...


"Andri?!" lirihku.


Seketika aku menepis tangannya, dengan kasar. Apa aku berhalusinasi? kenapa Andri? kenapa dia kembali lagi?


Untuk sesaat aku tertegun melihatnya. Aku merindukannya, Andri. Hampir saja air mataku tumpah disana. Tapi pikiran itu segera berlalu dari otakku, mengingat betapa bejadnya lelaki dihadapanku ini. Secepat mungkin aku berlari meninggalkan dia tanpa berbalik sedikitpun. Takut. Hanya itu yang ada di pikiranku.


Banyak hal yang aku takutkan. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku takut kalau dia mengambil anakku. Aku takut dia menceritakan semuanya pada orang lain. Pokoknya hatiku benar-benar takut saat ini. Tangisku terus tumpah selama berlari. Entah kenapa tubuhku tidak bisa diajak kompromi, lututku lemas tak tertahankan dan...


Bruk..


"Aww"..

__ADS_1


"Lo ngga papa?" tanya seorang pria yang menghampiriku dan membantuku berdiri.


"Gue ngga papa"..


Aku segera menjauhkan diri saat menyadari dia memegang bahu dan lenganku. Aku masih beum bisa percaya pada laki-laki, bagiku luka yang ditorehkan Andri cukup menjelaskan bagaimana sifat laki-laki.


"Oh iya kenalin gue Gian" ucap pria bertubuh tinggi kecil dengan pupil mata hitam legam seraya mengulurkan tangannya dihadapanku.


"Sorry gue harus pergi".


Tanpa menjabat tangannya apalagi membalas uluran tangannya, aku berlari lagi meski terpincang-pincang menjauhi Gian.


Ratu! Aku harus segera bertemu Ratu! Pikirku saat itu.


Titian's Pov end.


Gian. Pria itu menatap tangannya sebentar kemudian tersungging senyum tipis dibibirnya. Menatap kepergian Titian dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Menarik" lirihnya.


Sementara di tempat lain seorang lelaki dengan kemeja biru mematung tanpa suara menyaksikan orang yang dicintainya berlalu pergi.


Rega's Pov


Tidak, tidak. Dia mengatakan itu sambil menatapku tadi. Apa aku mirip dengannya, ahh itu tidak mungkin.


Aarrgghh..


Aku menjambak rambutku kasar, hatiku kacau. Siapa pria tadi? Ya. Aku melihat Titian terjatuh, karena aku langsung berlari mengikutinya setelah dia pergi tadi. Saat aku melihatnya terjatuh di parkiran kampus, dengan langkah besar aku mempercepat lariku, tapi kakiku terhenti saat seorang pria lebih dulu menolong Titian.


Aku benci saat aku merasa tidak berguna, untuk sesorang yang kucintai!


Rega's Pov end.


Titian sudah tidak kuat lagi untuk berlari, dia berjalan dengan nafas terengah-engah menghampiri Ratu yang duduk di bangku yang ada diluar gerbang.


Grep..

__ADS_1


Ratu tersentak oleh pelukan Titian yang tiba-tiba. Belum sempat bertanya apapun Titian sudah menangis histeris di pelukan Ratu. Ratu membalas pelukan itu dengan lembut tanpa ingin bertanya terlebih dahulu.


Pikirnya biarkan Titian menuntaskan tangisnya dulu.


Setelah cukup lama keduanya berpelukan, menyerah, Ratu melepas pelukannya begitu juga dengan Titian. Manik mata Ratu menatap Titian intens, mencoba menyelidik apa yang membuat sahabatnya ini menangis sampai sejadi-jadinya.


"Lo kenapa?" tanya Ratu merapikan rambut Titian yang berantakan.


"Andri" lirih Titian.


"Andri? Maksud lo?" kejar Ratu penasaran.


"Andri ada disini. Dia ada disini Rat"


Ratu masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, matanya membulat dengan mulut menganga seperti gua, tenggorokannya seperti ada yang mengganjal, dia tidak bisa berkata apa-apa


"Se-se-serius lo?! Mi apa? Itu pasti halusinasi lo doang kan!" sangkal Ratu mencoba meyakinkan Titian dengan apa yang dilihatnya.


"Gue yakin itu Andri. Gue ngeliat sendiri, tapi gue ngga tau dia dateng darimana tiba-tiba dia udah ada di depan gue dan megang tangan gue" jelas Titian.


"Bukannya tadi lo sama?" kata Ratu berhenti dengan tatapan bertanya.


"Rega"


"Ah iya Rega. Dia kemana pas ada si Andri?"


Titian mengingat-ingat kejadian sebelum ia melihat Andri memegang tangannya, dia tidak ingat kalau Rega pergi kemanapun. Setelah perdebatan kecil tentang Babas Titian ingat dirinya sangat kesal dan hendak pergi, tapi sebuah tangan mengehentikannya. Saat itulah ia melihat Andri memegang tangannya.


Apa gue salah liat? Pikirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2