
Ratu pov
Setelah itu, Galih menyeret lenganku dengan tangan besarnya sampai membuatku terseok-seok tanpa arah. Dia membawaku masuk ke mobilnya dan membawaku ke ruangan lain di villa itu. Ya, aku dan Titian dibawa ke sebuah villa milik Galih. Aku dan Titian di tempatkan di ruangan yang berbeda, bedanya aku dalam keadaan sadar sedangkan Titian tidak.
Aku terpaksa menuruti semua keinginan Galih, karena ayahku sedang sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit, sedangkan aku tidak punya biaya untuk membayar pengobatan ayah. Ibuku meninggal ketika melahirkanku ke dunia ini dan ayah tidak berpikir untuk menikah lagi.
Ayahku dulu bekerja di perusahaannya Galih, hingga saat berusia 52 tahun ayah di vonis mengidap kanker paru-paru dan jantung koroner yang membuat tubuhnya drop dan harus dirawat intensif di sebuah rumah sakit ibukota.
Galih mendorongku masuk ke sebuah kamar di villa miliknya. Tubuhku yang lemah membuatku terduduk di lantai akibat dorongannya. Air mata tidak lagi berguna di hadapan Galih, seberapa hebatpun aku menangis, Galih akan tetap melakukan apa yang dia mau padaku. Selama ini Galihlah yang menanggung semua biaya pengobatan ayah, kalau aku tidak menuruti keinginannya dia akan menghentikan semuanya, dan aku harus mengembalikan semua biaya yang telah dia keluarkan.
Galih berjongkok agar sejajar denganku kemudian menekan daguku dengan keras, mendongakkan wajahku agar menatap manik matanya, tak ada perlawanan dariku, hampir setiap hari Galih memperlakukan aku seperti ini. Sorot mataku menyiratkan kebencian yang sangat dalam padanya, tapi dia selalu menatapku dengan senyum penuh kemenangan.
"Bukankah kamu sudah melihat apa yang terjadi sayang?" Galih berbisik padaku tepat di depan wajahku "Sekali saja kau berani melawan dan melapor pada polisi, aku akan membuatmu melihat ayahmu untuk terakhir kalinya" katanya dengan nada penuh penekanan pada kata terakhir kalinya.
Galih melepaskan tangannya dari daguku dengan kasar, dan membangunkanku. Dia membalikkan badanku agar memunggunginya. Perlahan Galih membuka resleting bajuku yang berada di belakang, sesekali dia mengecup pundakku lembut, seakan kami saling menginginkannya. Dia menurunkan lengan bajuku sampai sikut membuat pundak dan pakaian dalamku terekspose bebas.
Air mata mengalir di deras di pipiku, saat tangan nakal Galih merayap di tubuhku, melepaskan semua pakaian yang menempel di badanku dan melakukan semua yang harusnya tidak aku lakukan sebelum menikah.
"Sayang, ayolah. Sekali saja jika aku melakukannya kau jangan menangis" Katanya padaku lembut sambil mengusap pipiku yang dibanjiri air mata saat dia telah menuntaskan permainannya.
Tapi aku malah menangis semakin keras yang membuatnya geram dan marah padaku, hingga menamparku berkali-kali tanpa ampun.
__ADS_1
Flashback off.
Ratu menangis tersedu-sedu di depan Titian, Titian juga sama rapuhnya dengan Ratu, apalagi mendengar penuturan temannya yang sangat membuatnya marah. Dia tau perasaan Ratu pasti sangat hancur, kesuciannya telah direnggut beberapa bulan yang lalu dan itu bukan hanya sekali dua kali. Titian yang kesuciannya baru terenggut saja sangat terpukul dan putus asa, bagaiamana dengan Ratu.
"Lo ngapain ada di bar semalem, lo kan ngga pernah dateng ke tempat kek gitu?" tanya Ratu.
"Lo kan denger waktu di kantin Andri ngajakin gue ke birthday party temennya. Gue ngga nyangka dia bakalan bawa gue ke tempat begitu"
"Brengsek! Kenapa gue ngga tau kalau Andri temennya Galih" Kata Ratu kesal dan mengepalkan tangannya "Dulu gue pernah liat Andri sama cewe di cafe, tapi gue ngga tau siapa?"
"Apa mungkin dia selingkuh dari gue?"
"Lo gimana?" risih Titian.
"Lo ngga usah mikirin gue, gue ngga bakal kenapa-kenapa ko"
"Kita harus lapor polisi Rat, ini ngga bisa di biarin"
"Jangan!" pekik Ratu lalu memegang tangan Titian dengan tatapan memohon " Jangan lakuin itu gue mohon! Gue ngga papa ko"
"Tapi ini ngga bisa di biarin. Ini kriminal namanya. Ngga bisa, gue harus lapor polisi" keukeuh Titian.
__ADS_1
"Jangan Yan! Please, jangan ngelakuin itu. Gue ngga mau lo kenapa-kenapa. Cukup gue aja yang jadi korban mereka lo jangan!"
"Terus mau sampai kapan lo jadi budak mereka? Gue ngga bisa liat lo kek gini"
"Sampe ayah gue sembuh. Setelah itu gue akan pergi jauh dari kehidupan Galih"
Lalu...
"Ayo buruan" kata Ratu, kemudian mencari-cari kain didalam lemari dan mengeluarkannya agar menjadi tali yang panjang.
Setelah dirasa cukup panjang, Ratu dan Titian berbisik. Titian mengikat tali di tiang pagar balok kamar itu dan turun dengan tali, sedangkan Ratu keluar untuk mengalihkan perhatian para penjaga yang ada di villa.
.
.
.
.
tbc.
__ADS_1