
"Kemana dia sayang? Aku tau kau yang melepaskannya. Lihat itu" Galih menunjuk cctv yang berada di sudut kamar Ratu.
"Aku memasang cctv di semua kamar di villa ini. Termasuk kamar mandimu" kata Galih lagi.
"Iya, memang aku yang melepaskannya. Dia temanku, sudah menjadi keharusan untukku menolong teman yang sedang kesusahan" dengan berani Ratu mengeluarkan suaranya meski gemetar.
"Kenapa suaramu selalu bergetar saat ketakutan?" Galih memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Ratu.
Refleks Ratu memalingkan wajahnya ke arah lain dan Galih membiarkannya.
"Kau tau? Andri sudah membayar mahal untuk ini" Galih mulai mengeraskan rahangnya tanda kemarahannya sudah mencapai puncak kepala "dan kau malah membebaskannya!" pekik Galih.
Bersamaan dengan satu tamparan keras lagi mendarat di pipi kanan Ratu..
Plakk... "aww" lirih Ratu sambil terisak.
"Seandainya dia temanmu apa kau akan membiarkannya begitu saja Galih?" ucap Ratu sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menunjukkan pipinya yang memerah bekas tamparan Galih.
Sedetik kemudian Ratu menatap Galih dengan berderai air mata "jawab aku Galih! Jika Titian temanmu apa kau akan membiarkannya tetap disini menjadi tahanan?" teriak Ratu.
"Seandainya itu aku, apa kau akan membiarkanku?" Ratu semakin menaikkan intonasinya dan menatap Galih dengan tatapan menghunus..
"Teman sejati akan selalu membantu temannya yang sedang kesusahan, bukan malah meninggalkannya. Seorang teman akan menerima apapun kekurangan temannya, berbeda dengan orang yang dicintainya. Lihat Andri! Orang macam apa dia meninggalkan orang yang mencintainya setelah menidurinya hah?" pekik Ratu. Sedangkan Galih hanya menatap Ratu dengan tatapan mengiris dari sorot matanya.
"Tapi dia bukan temanku!" bariton Galih tak kalah tinggi dari Ratu.
"Dan dia temanku!"...
Aaarrgghh.... Galih mengacak-acak rambutnya kasar dan berlalu meninggalkan Ratu yang sedang menangis di kamar.
*-*-*-*-*-*-*
Hari sudah menjelang malam, langit mulai gelap dan matahari sudah tenggelam diperaaduannya.
Rega yang tengah mengantarkan pesanan pelanggannya tiba-tiba menabrak seorang seorang perempuan cantik.
__ADS_1
"Aw" kata perempuan itu sedikit memekik karena bajunya basah terkena tumpahan jus yang dibawa Rega.
Rega hanya menatap gadis itu datar tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Gimana sih, hati-hati dong" ucap Jessica gadis yang tadi siang datang bersama teman-temannya.
"Bukankah anda sendiri yang menabrak saya nona" balas Rega datar.
Jessica merasa kikuk atas jawaban Rega yang tidak disangkanya itu. Ia memang sengaja menabrak Rega agar Rega merasa bersalah dan meminta maaf padanya dan Jessica memaafkan Rega kemudian mereka mengobrol. Tapi malah jadi seperti ini.
"Kamu yang menabrak saya" sergah Jessica dengan wajah bersemu malu.
"Anda yang menabrak saya. Atau anda memang sengaja menabrak saya?"..
"Ada apa ini?!" tanya Mario yang baru saja datang dari toilet dan melihat kegaduhan.
"Apa anda pemilik kafe ini?" tanya Jessica menatap Mario.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu" jawab Mario.
"Bantu bersihkan bajunya" cetus Rega sembari berjalan kembali untuk mengganti minuman yang tumpah tadi tanpa memperdulikan Jessica yang sedang kesal karena rencananya gatot (gagal total).
"Mari nona, saya akan membantu membersihkan pakaian anda. Diruangan saya juga banyak pakaian wanita yang pas dengan tubuh anda" kata Mario kemudian menelan salivanya kasar.
Jessica yang merasakan moodnya sudah sangat hancur hanya memandang Mario sinis dan menghentkkan sebelah kakinya dengan kasar ke lantai seraya berlalu meninggalkan Mario yang masih traveling dengan otaknya.
"Nona! " teriak Mario saat Jessica telah sampai di pintu keluar.
"Nona anda yakin tidak mau mengganti baju di ruangan saya? " teriaknya lagi lebih keras dan terkekeh.
"Manis sekali" lirihnya seraya senyum-senyum sendiri.
------
Kembali ke Rega yang sudah mengantarkan pesanannya.
__ADS_1
Rega pov
Aku merogoh ponselku dari dalam saku celana, kulihat ada satu panggilan tak terjawab dari ibu 7 menit yang lalu, mungkin saat aku berdebat dengan gadis tadi.
"Hallo bu, ada apa? ibu baik-baik saja?" aku menyapa ibuku saat nada sambung ponsel berhenti tanda orang disebrang sana telah mengangkat panggilanku.
"Ibu baik-baik saja sayang, apa kamu masih di tempat kerja?" tanya ibu.
"Iya. Kenapa?"
"Ini, ibu mau kamu mengantar seseorang pulang ke rumahnya"
"Siapa?"
"Siapa namamu tadi?" tanya Sinta, ibuku pada seseorang yang mungkin satu mobil dengannya saat ini.
"Titian", samar-samar aku mendengar itu suara perempuan.
"Namanya Titian, rumahnya di Naomi Residence. Ituloh perumahan yang dekat rumah kita. Ibu mungkin akan tidak akan pulang kerumah malam ini, karena harus keluar kota untuk menyelesaikan masalah cafe yang di Surabaya"
"Ibu jangan terlalu bekerja keras, nanti ibu sakit"
"Ibu ngga papa sayang. Yah kamu anterin dia yah, sebentar lagi ibu sampai di tempat kerja kamu"
"Yasudah"... tut. Telpon dimatikan.
Titian? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Pikirku.
"Ahh sudahlah, apa yang ku pikirkan" ucapku pelan.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.