
"Yan, maaf ya gue ngga bisa nganter lo ke Surabaya, om Bachtiar sakit tadi dia nelpon gue. Gue harus buru-buru pulang". Dengan lihainya Rere memasang wajah merasa bersalah sekaligus cemas di hadapan orang tua Titian juga teman-temannya.
Hal itu sukses membuat Titian mengiba pada temannya itu, Titian yang memang pada dasarnya memiliki sifat lembut dan tidak enakan membuatnya sering dimanfaatkan oleh orang lain.
"Ya ampun. Om Bachtiar sakit apa?" tanya Titian tak kalah cemas.
"Dia bilang kepalanya tiba-tiba sakit. Gue harus buru-buru dirumah ngga ada siapa-siapa" bohong Rere.
"Yaudah ngga papa Re. Gue juga kan ngga sendiri, lo urusin om Bachtiar aja kasian"
"Iya Re lo pulang aja, kan ada gue" ujar Ratu.
"Kalian hati-hati yah. Om tante"
Kedua orang tua Titian hanya membalas dengan senyum sambil mengelus pundak Rere sebelum berlalu.
"Saya pamit, permisi"...
Seperdekian detik, Rere sudah tidak terlihat lagi di dalam rumah Titian. Semua sudah rapi, hanya tinggal beberapa barang berukuran besar yang belum dibawa. Ayahnya sudah meminta sekretarisnya untuk mengurus sisa perpindahan mereka.
"Ayo berangkat, ini sudah hampir malam" kata Irpan pada semuanya.
--------
Diperjalanan, tiba-tiba telpon Ratu berbunyi.
Tring tring tring tring..
Keempatnya memang duduk semobil, dengan Sindy dan Irpan duduk di depan, karena Irpan yang menyetir, sedangkan Ratu dan Titian duduk di kursi belakang.
"Hallo" sapa Ratu pada pria diujung telpon dengan pelan.
"sayang kau dimana?"
__ADS_1
"Dijalan, mau nganter temen ke Surabaya?"
"Kenapa tidak mengabariku?"
"Sibuk. Udah ya". Tut. Ratu segera memposisikan dirinya senormal mungkin, dia takut jika lama-lama bicara dengan Galih, laki-laki itu akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Ratu tidak khawatir jika dimobil itu hanya ada dirinya dan Titian, dia takut Sindy dan Irpan yang mendengar semuanya dan semuanya pasti tidak akan baik-baik saja setelah itu.
Titian menepuk punggung tangan Ratu dengan lembut dan menatap wajah cantik Ratu sambil tersenyum.
Drrtt.. Drrtt...
Lagi-lagi. Ratu tau itu pasti pesan dari Galih, karena dia memutus sambungannya sepihak tadi.
*Galih : Kau mengantar siapa ke Surabaya?
Me : Titian
Galih : Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya. Awas kalau kau coba-coba lari dariku. Kau tidak akan pernah melihat ayahmu lagi.
Me : Iya aku tau. Tapi sepertinya aku akan menginap disini untuk malam ini.
Ratu terbelalak melihat balasan Galih sungguh kejam. Hanya karena dia ingin menginap untuk semalam, Galih akan membunuh ayahnya. Benar-benar bukan hati manusia.
*Me : Oke oke aku pulang. Memangnya tidak bisa apa semalam saja tidak tidur bersamaku. Dasar iblis!
Galih : Kau mulai besar kepala ya*.
Hening. Tidak ada balasan lagi dari Ratu setelah Galih mengatainya, moodnya benar-benar hancur. Sepanjang perjalananpun ia tidak berbicara, hanya sesekali menjawab bila Irpan atau Sindy bertanya. Setelahnya ia akan hanya menatap nanar keluar jendela.
---------
Setelah beberapa jam perjalanan. Keempatnya sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah bernuansa hitam putih dengan halaman luas dan nyaman, bahkan ada ayunan anak kecil disana, sepertinya Irpan sudah menyiapkan semuanya dengan matang.
Sekitar pukul 20.03 Ratu pamit untuk pulang, meski Titian dan orangtuanya menahan Ratu, tapi dia tetap bersikukuh untuk pulang, sampai mereka mengiyakan..
__ADS_1
Ratu pulang menggunakan taksi online yang ia pesan, dan beberapa jam kemudian dia sampai di rumah Galih. Rumah dimana selama setahun lebih ini ia tinggali, bersama lelaki yang bukan suaminya.
Saat Ratu membawa langkah kakinya yang lelah melewati ruang tamu, ternyata Galih sedang memperhatikannya di dapur saat mengambil minum dari kulkas. Galih hanya mempekerjakan seorang maid dan tukang kebun dari jam 06 pagi sampai jam 08 malam setelah itu mereka pulang dan hanya menyisakan dirinya dan Ratu dirumah besar itu.
"Perawan jam segini baru pulang?". Ratu terhenyak kaget untuk sesaat, dia pikir Galih sudah tidur. Kemudian kembali berjalan dengan wajah malas.
"Perawan mata anda" lirihnya pelan sambil terus berjalan tanpa menghiraukan Galih yang mulai mengikutinya.
Tap.
Ratu terlonjak merasakan tubuh Galih menempel padanya, kedua tangannya melingkar di perutnya dan wajahnya dia benamkan di ceruk leher Ratu.
Ratu paham apa yang Galih pikirkan, ini sudah bukan hal aneh bagi Ratu. Jadi dia tidak merasa risih ataupun merasakan sesuatu yang berbeda.
Ratu menghela nafas kasar dan melangkahkan kakinya tapi tidak mau beranjak karena Galih berat.
"Apa kau tahan dengan bau tubuhku ini?" tanya Ratu malas.
Tidak ada jawaban.
"Aku lelah. Aku ingin mandi dulu, badanku sangat lengket" ucap Ratu lagi.
"Aaa-"
Galih menggigit leher Ratu sampai kemerahan dan meninggalkan bekas disana sebelum melepaskan pelukannya dan membiarkan Ratu masuk ke kamarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
tbc.