
"Ibu apa semuanya sudah siap?!" teriak Rega dari belakang mobil sedang menyusun barang yang akan dibawa.
bruk.
"Iya sayang tunggu sebentar"
"Ayo"
Keduanya melaju menggunakan Toyota Calya berwarna putih milik Sinta membelah jalanan.
Saat mobil melaju melewati jalanan depan komplek perumahan Titian, Rega sedikit menoleh kearah jalanan lenggang tersebut dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Sayang, apa om Rama sudah menghubungimu?" suara Sinta refleks membuat Rega menoleh dari pandangannya dan beralih lurus kedepan.
"Tidak"
"Mungkin belum, ibu sudah memberikan nomor telpon kamu padanya"
"Em"
*-*-*-*-*-*-*
Sementara Rega sudah diperjalanan menuju Bandung. Titian dan keluarganya baru mulai berkemas untuk pergi juga.
Mereka akan pindah ke Surabaya, meninggalkan kenangan buruk di Medan dan menata kehidupan baru di tempat kelahiran nenek Titian.
Disana ada kedua teman Titian yaitu Ratu dan Rere yang membantu mereka untuk berkemas agar cepat selesai.
"Yan, lo istirahat aja, biar gue yang beresin barang-barang lo" kata Rere dengan senyum ramah.
"Ngga papa Re, ini ngga berat ko" balas Titian.
"Gue takut bayi lo kenapa-kenapa, ibu hamil ngga boleh lakuin hal yang berat-berat"
"Ta-"
"Udah sini"
__ADS_1
"Yaudah, makasih ya". Titian menyerahkan sebuah box yang dibawanya pada Rere. Padahal isinya hanya boneka-boneka kecil jadi tidak berat, tapi karena Rere terlihat khawatir jadi Titian memberikannya.
"Engghhh tante ini isinya apa sih, berat banget" Ratu dengan wajah cantiknya sangat imut saat merasa kewalahan mengangkat beban yang dibawanya.
Titian kemudian menghampiri Ratu dengan cepat hendak membantu temannya itu. Ia pikir jika dilakukan bersama-sam maka akan lebih mudah.
"Jangan!" cegat Ratu, saat tangan Titian sudah berada di bawah box besar yang dibawa Ratu.
"Ini berat, lo ngga mungkin bawa ini sendirian"
"Ngga boleh, nanti keponakan gue kenapa-kenapa lagi"
"Ngga bakalan"
"Tian"
"Sini-sini biar om yang bawa"
Irpan yang baru saja datang dari luar segera mengambil alih box yang dibawa Ratu, karena kedua gadis itu terus saja bertengkar.
"Makasih om. Tante Sindy pasti masukin batu disitu makanya berat"
Ratu dan Titian tersenyum mendengar penuturan Irpan dan kembali mengambil beberapa box yang lebih ringan untuk dipack kedalam mobil.
Kurang lebih 3 jam merapihkan semuanya, Titian beserta orangtua dan teman-temannya kini sedang beristirahat di ruang tamu. Sementara Rere sibuk memainkan ponselnya, Ratu dan Titian menyusun rencana bagaimana mereka akan menjalani kehidupan baru dan berkuliah di Surabaya.
"Emang Galih ngizinin lo tinggal di Surabaya?" tanya Titian.
"Dia ngga pernah ngelarang gue mau ngapain aja. Yang penting-"
Titian menghentikan ucapannya dan menatap manik cokelat milik Titian intens. Seolah mengerti, Titian mengangguk dan hanya bergumam pelan "em"
"Tapi ayah lo?" sambung Titian.
"Gue percaya sama Galih kalau soal ayah. Yang penting gue ngelayanin dia, dia ngga bakal ngapa-ngapain ayah. Gue juga bakal sering-sering jenguk ayah ko walaupun gue di Surabaya nanti"
__ADS_1
"Semoga. Tapi mau sampai kapan lo bergantung sama Galih terus? Gue kasian sama lo"
"Mungkin sampe ayah sembuh. Itu juga kalau Galih ngga mempersulit gue. Gue juga ngerasa hidup gue menyedihkan banget, ibu udah ngga punya, ayah gue terbaring ngga berdaya, dan gue harus hidup dengan belas kasihan orang lain"
Titian menggenggam erat tangan temannya itu, mencoba memberi kekuatan lewat sentuhan "Gue bisa ngerasain apa yang lo rasain sekarang. Tapi gue juga ngga bisa apa-apa. Maafin gue yah"
"Kenapa harus minta maaf, ini bukan salah lo ko. Lagian lo juga lagi banyak masalah. Ngga usah terlalu banyak pikiran, nanti ponakan gue kenapa-kenapa lagi"
Titian menatap dan mengelus perutnya yang mulai membuncit dengan mata berbinar begitupun dengan Ratu "anak mommy kuat ya sayang" kata Titian menirukan suara anak-anak sambil terus mengelus-elus perutnya.
Rere yang duduk berhadapan dengan Irpan dan Sindy merasa risih saat telponnya berbunyi dan ada nama Andri tertera disana. Untung ponselnya sedang dia pegang, jadi hanya dirinya yang melihat.
"Rera permisi angkat telpon dulu tante, om". Irpan dan Sindy hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tanda mengiyakan, dan Rere segera berlalu menjauhi mereka.
"Hallo" sapa Rere sambil celingukan.
Kini dirinya sudah ada di halaman depan rumah Titian, agar tak terlihat mencurigakan dia berdiri di tempat yang mudah terlihat, namun agak jauh dan suranya sedikit berbisik.
"Sayang kangen". Suara Andri terdengar berat dan nafasnya kasar. Rere yang menyadari ada sesuatu pada Andri segera mengubah panggilannya menjadi video.
Benar saja, Andri sedang berada di dalam kamar mandi dengan sabun ditangannya. Nafasnya memburu serta wajah yang memerah karena menahan hasratnya.
"Sayaaang ahh"
"Jangan gila, aku lagi dirumah si pirang. Bentar lagi aku pulang, kamu tahan ya. Besok aku kesitu, kebetulan om Bachtiar ada project disana"
"Sayang akhh say-ang cepatlah.. Aku sudah tidak tahan aakhh"
"Oke aku tutup dulu". Tut.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.