Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 16


__ADS_3

Kriing kriing....


"Apa perempuan itu sudah sadar?" kata seorang lelaki diujung telpon Galih.


"......"


"Bagaimana bisa?! Bukankah aku sudah memberimu banyak uang. Kenapa dia bisa lepas?"


Meski tidak menggunakan loud speaker tapi bariton keras seorang lelaki diujung telpon terdengar sangat memekakkan telinga.


Galih yang juga sedang bingung saat ini, hanya bisa memijat keningnya sendiri.


"Tenang saja, aku akan mengembalikan uangmu" balas Galih dengan entengnya.


"Kalau kau ingin memilikinya kenapa tidak menikah saja?" lanjut Galih.


"Ini bukan urusanmu. Lagipula aku tidak mencintainya" jawab Andri kesal kemudian segera mematikan telponnya sepihak dan membantingnya ke kasur.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang perempuan yang berada disamping Andri.


"Dia lepas"


"Apa!? kenapa bisa lepas?"..


"Aku juga tidak tahu, pasti temanmu itu yang membebaskannya"


"Maksudmu Ratu?"


Andri menangguk pelan dan beranjak dari ranjang tanpa sehelai benang pun kemudian segera masuk ke kamar mandi.


"Kalian benar-benar bodoh! Kenapa membiarkan Ratu satu atap dengan Titian. Sudah pasti dia akan membebaskannya" pekik Rere.


Rere Jenitra ternyata adalah musuh dibalik selimut Titian. Tanpa sepengetahuan Titian, Andri dan Rere menjalin hubungan di belakangnya. Bahkan tak jarang mereka sering tidur dan menghabiskan waktu bersama. Kejadian saat di bar pun itu adalah ide gila Rere.


Flasback on.


"Sayang aku sangat mencintaimu"


Rere melingkarkan kakinya ke pangkuan Andri dengan manja, sepulang sekolah Rere dan Andri pergi kerumah Andri dan menghabiskan waktu bersama disana.


Cup.

__ADS_1


Andri mengecup singkat bibir Rere yang sangat dekat dengannya itu.


"Kau tau sayang, aku sangat membenci si pirang itu. Orang tuaku meninggal karena keluarga mereka, karena kakeknya membiarkan kedua orang tuaku terjebak di dalam kobaran api. Kalau saja aku sudah besar saat itu, aku akan melaporkan kakeknya ke polisi atau langsung membunuhnya dengan tanganku"


Wajah Rere sangat merah padam dipangkuan Andri, raut kemarahan nampak jelas disana.


"Bukankah kakeknya sudah mati honey? kenapa kau masih menaruh dendam?" tanya Andri.


"Kakeknya mati karena tuhan yang memanggilnya sayang, itu takdir yang terlalu manis. Aku ingin membuat kenangan yang membekas di hidup mereka. Kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup"..


"Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Aku ingin kau menghamili si pirang itu kemudian meninggalkannya. Membuat anaknya lahir tanpa ayah, dan ibunya juga menderita karena hinaan orang. Apa kau setuju?"


"Apa kau tidak cemburu kalau aku menghamili wanita lain?"


"Ini hanya untuk balas dendam. Aku tidak menyuruhmu menikah dan hidup bahagia bersamanya bukan? Kenapa aku harus cemburu?"


"Tapi aku punya satu syarat!"


"Apa?"


"Itu bukan hal yang sulit"


Dengan cepat Andri membawa Rere kedalam pelukannya dan terjadilah...


Flashback off.


"Cepat pakai bajumu, kita harus pergi sekarang!" titah Andri pada Rere yang masih tidak habis pikir dengan kebodohan kekasih dan temannya.


"Untuk apa aku pergi. Kau yang harus menyelamatkan diri secepat mungkin. Pasti Ratu sudah memberitahukan semuanya pada si pirang itu"


"Maka dari itu, aku akan berangkat sekarang sebelum terlambat, apa kau tidak akan mengantarku ke bandara?"


Dengan malas Rere bangun dari ranjang dan terduduk di tepiannya sebentar sebelum melangkahkan kaki ke kamar mandi.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Pagi menyapa, embun-embun diluar membasahi pepohonan serta ranting dan tanah..


Rega mengerjapkan matanya merasakan cahaya matahari yang menelusup melalui celah jendela kamarnya.

__ADS_1


Seperti biasa, sebelum jam wekernya berbunyi Rega selalu bangun lebih dulu, tak lupa saat ia bangun ia akan mematikannya.


-----


Rega pov..


Aku mencium bau masakan khas ibuku dari kamar, jiwa laparku seketika meronta saat baunya semakin menyangat di hidungku.


Dengan langkah besar dan cepat aku menuju kamar mandi dan bersiap-siap.


"Wah ibu masak apa hari ini?" kataku saat telah berada di samping meja makan dan segera menarik kursi.


"Ibu mau bikin menu baru di cafe, coba kamu rasain kira-kira enak ngga?" jawab ibu.


"Ini sih enak banget bu" dengan antusias aku melahap makanan buatan ibuku tanpa berhenti.


"Benarkah?" tanya ibu penasaran "pelan-pelan makannya, ngga bakalan ada yang rebut makanan itu dari kamu ko" lanjutnya.


"Saking enaknya bu"...


Ibu tersenyum, manis sekali. Aku ingin senyum itu tidak pernah luntur darinya, sampai kapanpun.


"Oh iya, gimana masalah cafe yang di Surabaya udah beres?"..


"Udah ko, kamu tenang aja. Abisin makanannya"


"Ibu juga abisin makannya!"


Setelah itu kami hanya fokus pada makanan yang ada dihadapan masing-masing sampai aku pamit dan berangkat ke sekolah.


Maafin ibu Rega, ibu ngga mau kamu khawatir kalau ibu bilang ibu ketemu sama ayah kamu dan istrinya di Surabaya semalam. Pikir Sinta sembari memandang sendu punggung anaknya yang mulai hilang dari pandangan.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2