
Malam harinya.
Titian sedang bersiap didalam kamarnya yng bernuansa pink itu, dia mengenakan dress berwarna abu muda tanpa lengan, rambutnya diikat rendah hingga menampakkan bahu serta lehernya yang mulus sempurna. Titian membawa langkahnya menuruni anak tangga satu persatu, kaki jenjangnya dipadukan dengan sepatu heels warna hitam dan tak lupa ia membawa tas gucci kecil miliknya yang juga berwarna hitam.
Titian pov
"Bu! "
Aku mendudukkan pantatku di sofa ruang tamu dan meneguk segelas air putih yang ada dimeja. Tak lama ibu keluar dari kamarnya sambil mengikat rambutnya yang hanya sebahu itu.
"Kamu mau kemana sayang? " tanya ibu yang keheranan melihatku sudah rapi.
"Aku mau pergi dulu sama Andri. Dia ngajakin aku ke birthday party temennya. Boleh kan bu? "
Ibu mengangguk "Yaudah, hati-hati ya dijalannya. Kalo ada apa-apa langsung telpon ibu" ibu nengelus puncak kepalaku kemudian aku menyalaminya dan berlalu.
Kurang lebih lima menit aku duduk diteras depan menunggu Andri akhirnya dia datang juga.
"Ibu mana?" tanyanya saat dia sudah berada di teras rumahku.
"Ada di dalem, aku udah izin ko sama ibu mau pergi sama kamu, jadi ngga papa"
"Yakin ngga papa? "
"Iya yaudah yuk berangkat, ntar pulangnya kemaleman lagi"
Sampai dirumah temannya Andri, aku terperangah melihat seseorang yang aku kenal, Ratu.
"Honey, Ratu ada disini juga? Kamu kenal sama dia?"
"Iya, dia pacarnya Gio yang lagi ulang tahun"
__ADS_1
"Oh. Dia ngga pernah cerita sama aku kalo kenal sama kamu" aku mendongak menatap Andri yang lebih tinggi dariku dengan mata kekanakan.
"Jangan pasang muka kek gitu aku ngga tahan liatnya"
Apa maksud dia ngga tahan. Jijik gitu sama aku? Batinku..
"Mak-" belum selesai aku meluncurkan pertanyaan pada Andri, gerakan tangannya menyeretku masuk ke kerumunan laki-laki dan perempuan yang asik mengobrol.
"Ayo beby, aku kenalin sama mereka" ujarnya. Dan aku hanya pasrah saja mengikuti langkahnya.
"Woww siapa lagi tuh Ndri, perasaan minggu kemaren bukan yang ini deh" celetuk seorang pria bertubuh kurus tinggi yang hanya memakai kaos oblong dan celana jeans.
"Sembarangan lo Gel. Kenalin ini cewe gue, gimana cantik ngga?" sergah Andri memamerkanku pada teman-temannya.
"Halo, Titian" ucapku memperkenalkan diri dan tersenyum pada semua yang ada disana.
Hanya dengan melihat penampilannya saja batinku sudah bergidik ngeri ditambah dengan ucapannya tadi. Apa maksudnya boleh buat dia? emangnya aku barang yang bisa dipindah-pindah kepemilikan.
"Selera lo emang bukan main bro" kali ini kata seorang lelaki yang cukup berkarisma walau hanya memakai kemeja yang lengannya digulung.
Tunggu. Aku melirik bajuku kemudian bajunya. Warnanya sama. Omg kita udah kayak couplean aja.
"Kenalin gue Galih" katanya sembari mengulurkan tangan padaku, akupun menjabatnya tapi dia tidak kunjung melepaskan tanganku.
"Titian"
"Suatu kebetulan yang menyenangkan, ternyata warna baju kita sama. Sepertinya malam ini kita akan jadi pasangan" ujarnya disertai tatapan memangsa padaku.
"Maaf" kataku. Karena merasa risih aku menarik paksa tanganku dari genggamannya. Lelaki itu malah tersenyum, samar-samar Andri yang berada di sampingku tertawa kecil, padahal dia menyaksikan sendiri apa yang temannya lakukan tadi, bukannya menolong malah tertawa.
"Boleh juga" lirih lelaki yang bernama Galih pelan, namun masih dapat kudengar.
__ADS_1
"Ehh siapa nama lo tadi?" tanya seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi yang sedang menuangkan wine ke gelasnya.
"Aku?" tanyaku polos.
"Iya lo. Emang ada orang baru disini selain lo" ketusnya.
"Oh, Titian" jawabku, tanpa melepaskan rangkulan dari tangan Andri.
"Gue cuma mau ngingetin, sebaiknya lo hati-hati". Ucapan perempuan itu membuatku sedikit takut, ditambah lagi melihat teman-teman Andri yang bicara seolah sedang menggodaku.
"Aku ambilin kamu minum dulu ya beby, ngga mungkin kan kamu minum wine itu" Andri menunjuk beberapa botol minuman yang sudah banyak yang kosong diatas meja dengan dagunya.
"Aku ikut" pintaku sambil mengeratkan rangkulan dengan tatapan memohon. Sebenarnya aku takut dan tidak mau jauh-jauh dari Andri, aku harap Andri mengerti tatapanku ini.
"Ngga usah, kamu disini aja. Aku ngga lama ko, kamu ngobrol aja dulu sama mereka yah" Andri memang biasa bicara lembut padaku, tapi kali ini beda, ini lebih lembut dari biasanya.
Aku menggeleng kuat, mataku mulai panas dan sedikit berair, rangkulanku semakin aku rekatkan ditangan Andri Please ajak aku kemanapun kamu pergi, aku takut disini. Bisikku pelan.
"Beby" Andri mengurai rangkulanku, memegang kedua bahuku dan menatapku lekat "Aku pasti balik lagi. Janji. Ngga bakalan ada apa-apa, percaya sama aku, ngga usah dengerin omongan mereka tadi, itu bercandaan doang yah. Makanya kamu ngobrol sama mereka biar tahu mereka itu seperti apa. Hemm, aku tinggal dulu"..
Sebelum pergi Andri mendudukkanku diujung sofa yang berjejer membentuk lingkaran dengan banyak muda-mudi disana. Ada yang sedang menghisap rokoknya, ada yang sedang bermesraan dengan lawan jenisnya, ada juga yang sedang menghabiskan minuman langsung dari botolnya. Menyaksikan semua itu langsung dihadapanku membuat mataku sakit.
Sudah cukup lama aku menunggu Andri disana, pikiranku tidak bisa pergi dari hal-hal negatif yang kubayangkan, aku gelisah, sesekali aku berdiri kemudian duduk lagi untuk melihat apakah Andri sudah kembali. Tapi lebih dari satu jam aku menunggu Andri belum kembali juga.
.
.
.
.
tbc.
__ADS_1