Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 5


__ADS_3

Aku menekan sebuah nomor diponselku, sebuah nada panggilan terhubung disana, tapi entah kemana sang empunya telpon tidak mnegangkatnya.


"Andri kemana sih ko lama banget" lirihku pelan.


Jantungku mulai berpacu lebih cepat tatkala ada seorang lelaki yang duduk di sofa yang berbeda dengan kerumunan kami melihat kearahku sembari mengulum senyum dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Saat semua asik dengan kesibukannya, aku melangkahkan kakiku meninggalkan sofa itu, mencari keberadaan Andri di semua sisi ruangan.


Aku menghampiri 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang sedang mengobrol "Permisi, liat Andri ngga?" tanyaku.


Semuanya menggeleng dan menatapku datar


"Ngga tuh" kata seorang lelaki.


"Yaudah makasih". Aku berjalan lagi sambil mengedarkan pandangan pada setiap orang, berharap aku akan melihat Andri.


Otakku mulai kebingungan dengan semua ini, setelah hampir 3 jam ditempat ini aku baru sadar kalau ini bukan seperti pesta ulang tahun yang Andri bilang. Dimana harusnya ada semacam kue ulang tahun atau sekedar memberi hadiah pada yang berulang tahun. Bahkan mana orang yang sedang berulang tahunpun aku tidak tau.

__ADS_1


Aku merasa mulai sangat risih disini, ditambah hawa dingin yang menerpaku membuat suasana semakin mencekam untukku. Kulihat jam di ponselku menunjukkan sudah pukul 23.04. Pikiranku tidak lagi peduli pada Andri, dengan cepat aku meninggalkan tempat terkutuk itu, tempat dimana semua orang tidak malu lagi mempertontonkan dosanya pada orang lain.


 


Entah kemana taksi online dikota ini, mungkin karena ini sudah malam jadi semua orang sudah beristirahat melepas penat mereka sekaligus mengumpulkan tenaga untuk besok kembali berkutat dengan nasib masing-masing. Aku berjalan menyusuri jalan raya yang mulai sepi, satu tangan membawa tas dan satu tangan lagi membawa heels yang ku pakai tadi. Kakiku merasa sangat pegal karena terlalu lama memakai sepatu tinggi.


Merasa lelah, aku membanting pantatku di sebuah kursi pinggir jalan, melihat kanan kiri berharap ada orang lewat dan memberiku tumpangan. Masabodo aku dianggap apapun oleh mereka nanti yang penting aku bisa segera sampai rumah.


Lagi-lagi aku membuka ponsel dan menelpon Andri tapi tetap tidak ada jawaban "Brengsek". Dengan sadar aku merutuki Andri yang meninggalkanku ditempat seperti itu sendirian, yang lebih mengecewakan lagi secara langsung dia membohongiku.


Diperjalanan aku tak berhenti merutuki kelakuan Andri malam ini. Beberapa lama aku menghentak-hentakkan kaki ke aspal sambil mengumpat dalam hati.


Kresskk


Kresskk


Secepat kilat aku menoleh ke belakang, di remang-remang gelapnya jalan raya aku melihat sosok seseorang yang berdiri 10 meter di belakangku, tubuhnya tinggi sepertinya dia laki-laki. Karena disana gelap, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas bahkan warna bajunya pun aku tidak tahu.

__ADS_1


Perlahan dengan langkah besar sosok itu semakin dekat padaku.


"Siapa itu?" dikeheningan malam suaraku memekakkan telinga. Tapi dia tidak menjawab. Saat dia mulai melangkah kearah ku, refleks aku memundurkan kakiku selangkah, ini sudah tengah malam, siapa yang masih berkeliaran dijalan sendirian. Aku takut itu orang gila atau psikopat yang akan membunuhku.


Setelah beberapa menit aku memperhatikannya, mencoba menebak siapa itu apakah Andri "Ndri?" aku mencoba memanggil sosok itu, tapi tetap tak ada jawaban. Ini pasti orang gila. Pikirku. Tapi aku tetap memperhatikannya, sebelum aku melihat wajahnya aku tidak akan pergi.


Dua menit kemudian jarak kami hanya tinggal 4 meter, dia berhenti dibawah lampu jalan yang menerangi kawasan Jl.Mawar. Kini dengan jelas aku bisa melihat wajahnya. Dia adalah pria yang selalu berpapasan denganku setiap pagi, aku tidak tahu namanya siapa.


"Huhh" Aku menghela nafas kasar melihat orang itu. Syukurlah aku bertemu orang yang ku kenal. Ehh ngga kenal maksudnya, tapi kami sering ketemu dijalan kalau mau sekolah, jadi aku kira dia mungkin orang baik "gue kira siapa" kataku, kemudian aku berbalik dan melanjutkan langkahku. Karena gengsi aku terus saja berjalan meski takut. Ngga mungkin kan aku minta dianterin pulang ke dia. Aku hanya berpikir dia pasti akan mengikutiku dibelakang, jadi aku tidak perlu takut.


-


-


-


-

__ADS_1


tbc.


__ADS_2