Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 31


__ADS_3

Di kediaman Titian, semua anggota keluarga juga tengah menikmati sarapan mereka. Tidak ada obrolan yang mengiringi sarapan pagi itu sampai suara sebuah klakson mobil membuyarkan konsentrasi ketiganya.


"Apa ayah mengundang seseorang?" tanya Titian menatap intens pada ayahnya.


"Ngga, mungkin itu tamu ibu" balas Irpan menatap Sindy kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya.


"Terus siapa?"..


"Bi. Buka pintunya siapa itu?"


Setelah seorang maid membuka pintu yang sedari tadi terus membisingkan telinga mereka karena bel yang berbunyi.


"Ehh non Ratu, silahkan masuk non" ucap bi Inah sopan.


"Titiannya ada bi?" jawab Ratu yang datang bersama Galih.


"Ada non sedang sarapan dengan tuan dan nyonya"


 ---------


"Ratu!". Titian menghambur ke pelukan sahabatnya itu, raut gembira terpancar jelas di wajah cantik keduanya.


"Om"...."tante"


"Sini sayang sarapan bareng" ajak Sindy mengedar pandangan pada keduanya.


"Makasih tan. Ratu udah sarapan ko"jawab Ratu.


Ratu dan Galih menyalami keduanya dengan sopan dan duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilahkan sambil menunggu ketiganya selesai sarapan.


 


Mereka berempat kini sudah duduk di sofa ruang tamu, hanya Irpan yang tidak ada disana karena harus berangkat kerja. Sejak pindah ke Surabaya, Irpan harus bolak-balik ke Medan untuk mengurus perusahaannya disana. Dia memilih untuk menjual rumah lamanya dan membeli sebuah apartemen untuknya saat berada di Medan.


Keempatnya terlibat dalam obrolan hangat seputar Babas dan membiacarakan bagaimana kelanjutan kehidupan mereka di Surabaya.


Sampai waktu berjalan cepat, jam menunjukkan pukul 13.12 Ratu dan Galih pamit untuk pulang ke apartemen Galih. Ya, Galih dan Ratu akan tinggal di apartemen yang Galih beli. Apa susahnya bagi seorang pengusaha muda dan sukses bagi Galih perusahaan di Medan dan akan sering tinggal di Surabaya, toh dia punya banyak orang-orang kepercayaan.


...*-*-*-*-*-*-*...


Satu minggu berlalu. Hari ini jadwal masuk perkuliahan pertamakali setelah penerimaan mahasiswa baru. Tidak terkecuali semua orang berpenampilan semenarik mungkin di hari pertama mereka kuliah. Banyak macam-macam dandanan yang ditampilkan terutama para wanita.

__ADS_1


Para senior yang melihat gelagat meresahkan dari juniornya menatap tajam pada setiap mahasiswa yang melintasi mereka tidak terkecuali Titian dan Ratu yang baru saja memasuki area kampus.


Kemana Rega dan Mario? Apa mereka tidak satu kampus?


Kedua orang itu?


Mereka sudah ada di dalam kelas, di kampus yang sama dengan Titian dan Ratu. Keduanya menjadi buah bibir para kaum hawa baik senior maupun junior dalam waktu kurang dari satu hari. Apalagi seperti kebiasaannya dikelas, Rega membuka bukunya dan Mario tidur disamping Rega. Itu membuat fangirl mereka semakin histeris karena ketampanan Rega bertambah berkali-kali lipat saat sedang fokus.


"*Lo tau siapa cowo yang katanya paling ganteng no satu di kampus ini?"


"Ngga tau dan ngga mau tau"


"Yaelah lo mah. Siapa ya kira-kira, soalnya katanya ada di kelas kita"


"Oh ya? Kayaknya dia ngga masuk hari ini"


"Ko lo tau?"


"Soalnya gue ngga ngeliat satupun yang ganteng disini"


"Iya sih ngga ada yang lebih ganteng dari Galih*"


Titian berhenti mendengarkan ocehan Ratu, dunianya seakan berhenti saat matanya menangkap sosok laki-laki yang pernah menolongnya setahun silam. Rega.


...*-*-*-*-*-*-*...


Sore tiba, hampir semua kelas telah mengakhiri kelas mereka, begitu pula dengan kelas ekonomi, yang juga baru berakhir 2 menit yang lalu.


Saat tiba di depan pintu keluar kelas, Titian di sambut oleh Rega yang sudah berdiri disana sejak tadi. Tanpa Mario, pria berkulit eksotis itu sudah pergi entah kemana.


Awalnya Titian mengacuhkan Rega dan terus berjalan tanpa menghiraukan pandangannya. Tapi langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.


"Titian"


Refleks Titian dan Ratu berbalik dan menatap Rega di belakang mereka.


"Iya?" jawab Titian sejenak berpandangan dengan Ratu.


"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Rega.


Titian tidak tahu harus jawab apa, tatapannya seolah meminta bantuan pada Ratu 'apa yang harus dia lakukan'.

__ADS_1


"Yaudah, kalian ngobrol aja dulu. Gue tunggu di depan ya" kata Ratu sambil tersenyum dan menepuk pundak Titian.


"Biar gue yang anterin dia pulang" cetus Rega.


Ratu teringat kejadian setahun silam yang menimpa sahabatnya itu, bagaimana bisa dia langsung percaya pada orang yang baru saja dia temui.


Tidak tidak! Ini tidak benar. Gimana kalau orang ini ngelakuin hal buruk sama Tian.


"Ngga usah. Gue tunggu kalian di depan aja. Titian biar pulang sama gue". Ratu tersenyum kecut dan berlalu.


...*-*-*-*-*-*...


Keduanya kini duduk di kafetaria kampus, di hadapan masing-masing sudah ada dua gelas boba yang tadi dipesan. Untuk sesaat hanya keheningan yang menyeruak menghampiri mereka, Rega canggung dan tidak tahu apa yang akan dibicarakannya, apalagi Titian.


Kenapa aku selalu ketemu pria ini. Pikirnya.


"Emm apa yang mau kamu bicarakan?" mulai Titian, karena merasa sudah tidak nyaman dengan keheningan ini.


Hari sudah sore ia ingin segera pulang dan bertemu Babas. Tapi pria ini menahannya dalam diam disini.


"Eee itu- eeem bagaimana kabar putramu?"


What!


Apa dia ngga punya otak?!


Kenapa dia menanyakan hal itu disini?!


Titian terbelalak menatap sekeliling kafetaria, jantungnya berdegup cepat dan nafasnya memburu merasakan ketegangan yang teramat sangat. Untunglah disana sedang sepi, hanya ada dua orang laki-laki dan perempuan di sudut kanan cukup jauh dengan mereka sedang menyantap makanannya.


"Lo gila ya!" kata Titian dengan suara tertahan.


"Bisa-bisanya nanyain itu disini. Gimana kalau orang-orang tau. Atau jangan-jangan lo sengaja ya biar semua orang tau!" cerca Titian dengan tatapan marah dan kesal.


Menyebalkan!


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2