Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 9


__ADS_3

Titian pov


Perlahan aku turun dari balkon menggunakan kain-kain itu. Sebelu turun tadi aku mengganti pakaianku dengan pakaian pria yang ada di lemari, aku memakai kaos oblong warna hitam dan celana boxer warna merah.


Dengan mengendap-endap aku membuka pintu gerbang Villa The Sunrise atau villanya Galih. Aku melihat Ratu yang sedang mengobrol dengan beberapa penjaga di depan pintu untuk mengalihkan pandangan mereka dan strategi kami berhasil.


Aku keluar dari villa itu dengan selamat, walau kakiku sedikit lecet, karena tidak memakai sepatu.


Villa itu terletak di pinggir pantai dan sedikit jauh dari jalan raya, aku harus berjalan kaki menyusuri jalanan yang sepi orang lalu-lalang, sepanjang jalan untuk mencari bantuan hanya pepohonan tinggi dan besar yang kulihat.


Setelah hampir 2 jam aku berjalan, akhirnya aku melihat jalan raya yang orang-orang bebas lalu-lalang disana. Aku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi, kakiku terluka dan aku hampir kehabisan tenaga.


Aku membanting pantatku di sebuah kursi kayu di pinggir jalan, sesekali aku memijat kakiku yang pegal dan mengipas-ngipaskan tangan karena kepanasan. Rasanya sangat menyedihkan, tidak ada handphone, tidak ada uang, tidak ada sendal, tidak ada air minum, apalagi makanan. Beberapa kali aku menghentikan mobil yang lewat untuk sekedar menumpang tapi tak ada satupun yang mau memberi tumpangan.


Apa aku mati saja? Pikiran pendekku mencuat saat itu, aku merasa tidak akan pernah mendapatkan pasangan walaupun aku hidup seratus tahun lagi. Pria mana yang mau menikahiku dengan kondisi seperti ini. Aku bekas orang dalam usia 18 tahun, aku bahkan tidak tahu siapa yang telah merenggut kesucianku.


"Aaah.. Andri brengsek! ********!" Aku memekik sangat keras ditengah lalu-lalang warga pedesaan yang lewat. Saat itu aku tidak tahu malu, tidak ada rasa malu dalam diriku.


Kemudian aku berjalan lagi ke arah kanan, kulihat ada sebuah jembatan yang cukup tinggi di depan, otak negatifku bergejolak seolah ingin mempercepat kematianku. Aku naikkan satu-persatu kakiku ke penghalang jembatan kemudian aku rentangkan kedua tanganku dan menutup mata.

__ADS_1


Ayah, ibu, maafkan aku kalau selama ini aku hanya bisa membuat masalah untuk kalian, aku sangat menyayangi kalian. Aku tidak punya sesuatu yang bisa membuatku semangat lagi untuk hidup, karena satu-satunya hidupku yang aku pertahankan dengan susah payah, telah direnggut orang biadab. Aku harap kalian akan selalu berbahagia dalam menjalani kehidupan. Aku pergi, selamat tinggal.


Itulah kata-kata terakhir yang ku ucapkan dalam hatiku sebelum aku menjatuhkan diri dan terjun bebas ke air yang mengalir pelan namun dalam di bawah jembatan.


*-*-*-*-*-*-*


Hari ini pelanggan kafe Mario cukup ramai karena hari libur. Rega dan Mario telah selesai mengantarkan pesanan pada pelanggan mereka, dan sekarang tengah beristirahat di belakang meja kasir.


"Ga, lo kenapa ngelamun terus hari ini?"


Bariton Mario membangunkan Rega dari lamunannya.


Rega menatap Mario datar dan berlalu menuangkan segelas kopi untuk dirinya sendiri.


Kemudian Mario mengikuti Rega duduk di sisinya "kita udah temenan berapa lama sih bro?" tanya Mario.


Rega menatap heran Mario yang mempertanyakan hal tidak penting menurutnya "ngga ada pertanyaan yang lebih penting?" balas Rega.


"Berarti selama ini pertemanan kita ngga penting menurut lo?" tanya Mario lagi kali ini dengan tatapan kesal campur sedih.

__ADS_1


"Bukan gitu maksud gue"


"Terus?"


"Ada hal penting apa lo sampe nanyain itu? "


"Gue kira kita baru temenan satu dua hari"


Rega mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Mario yang menurutnya ambigu " maksud lo? bukannya lo tau kita udah temanan lama dari SMP"


"Kalo kita udah temenan lama, harusnya lo ngga introvert gini ke gue. Apa lo pikir gue ngga berguna dan ngga bisa bantuin lo kalo lo lagi ada masalah?"


"Ini bukan tempatnya kita ngebahas masalah pribadi bro. Lo pasti tau maksud gue" seolah tidak ingin membahas masalahnya, Rega menepuk pundak Mario dan mengayunkan langkahnya keluar cafe milik Mario itu. Sedangkan Mario hanya memandang kepergian Rega dengan sendu.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2