Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 11


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah kamar hotel dua sejoli tengah asik bersenggama dengan penuh gairah di atas ranjang berukuran king size. Keduanya bercumbu tanpa rasa ragu sedikitpun meski masih berstatus pelajar.


Cukup lama keduanya melakukan adegan sensasional yang kotor itu, akhirnya mereka sama-sama kelelahan dan berbaring sambil berpelukan.


"Sayang aku puas sekali hari ini" kata si perempuan yang berada di pelukan lelakinya


"Tapi aku belum puas sayang" balas lelakinya dan kembali mencium bibir gadis di pelukannya.


Gadis itu mendorong pelan tubuh lelakinya agar berhenti mencumbunya.


"Sayang apa yang kau pikirkan? bukan itu maksudku" katanya.


"Lalu apa yang membuatmu puas honey?". Lelaki itu tampak tenang sekali memeluk wanitanya, seperti tidak ingin menggeser tubuhnya sedikitpun.


"Aku puas karena si pirang itu sekarang pasti sedang sangat menderita" katanya.


Gadis itu terkekeh, kemudian lelakinya menatap si gadis dengan penuh cinta.


"Maksudmu Titian?"


"Siapa lagi kalau bukan dia"


"Kau tau sayang, ternyata dia masih virgin. Aku yang pertama mencobanya"


"Aku sudah menduga itu, dia selalu jual mahal pada setiap lelaki"


"Kau tidak cemburu?"


"Untuk apa aku cemburu, aku memilikimu seutuhnya, dan dia hanya alat untuk balas dendamku. Bukankah kau melakukan ini juga atas kemauanku sayang?"


"Aku mencintaimu, dan menyukai tubuhmu ini"..


Cup. Lelaki itu mencium lembut kening si gadis.


Gadis itupun tersenyum manis dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang lelakinya.


"Apa kau akan tetap bersikap baik padanya?" lanjut si lelaki.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku akan tetap berpura-pura menjadi teman yang baik untuknya. Sebelum melihat dia dikuburkan aku tidak akan membuatnya hidup tenang"


"Bagus sekali sayang. Kamu tenang saja, aku sudah bersekongkol dengan Galih, dia tidak akan membiarkan Titian pergi dari tempat itu"...


"Lalu kapan kau akan pindah keluar negeri?"


"Besok" lirih lelaki itu.


Lalu.....


"Apa kau akan kuat berpisah denganku sayang? aku tidak akan cukup kuat untuk berpisah denganmu dalam waktu yang lama"


"Aku akan sering mengunjungimu, bukankah kau tau om Bachtiar punya jet pribadi?"


"Memang sudah seharusnya kau sering-sering mengunjungiku sayang, kalau tidak juniorku ini akan mencari lubang yang lain"


"Kalau begitu hari ini juniormu tidak akan bisa pergi dari lubang milikku".


Dengan cepat gadis itu berbalik dan menindih tubuh lelaki di sampingnya dan melakukan aktivitas panas mereka kembali, tapi kali ini si gadis yang memimpin permainan.


*-*-*-*-*-*-*-*


Kamar itu di design sangat indah, dengan dekorasi serta perlengkapan yang disukai Ratu. Tidak dapat dipungkiri Galih memang sangat perhatian pada Ratu, bahkan tak jarang dia menemani Ratu mengunjungi ayahnya di rumah sakit dan menemani Ratu belajar.


Galih juga selalu membawa Ratu kemanapun dia pergi. Galih adalah yatim piatu yang ditinggalkan oleh orangtuanya karena overdosis obat-obatan terlarang. Sejak saat itu dia menjadi seperti berkepribadian ganda, kadang sangat baik, dan tak jarang sangat kasar. Apalagi saat melihat orang yang mengkonsumsi narkoba dirinya akan sangat marah walau itu orang lain.


"Ratu!!"


Brukk...


Suara pintu di tendang keras dari luar oleh seseorang membuat Ratu terlonjak kaget dari tempatnya duduk.


Saat pintu terbuka nampaklah Galih dengan rahang yang meninggi serta nafasya yang tak beraturan memandang Ratu dengan amarah penuh.


Sudah bukan hal aneh bagi Ratu melihat Galih seperti ini, tapi entah kenapa dia selalu takut pada kemarahan Galih.


"Ada apa, kenapa kau menendang pintu seperti itu, bagaimana kalau kakimu terluka?" tanya Ratu dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kemana dia? " teriak Galih memekakkan telinga, kemudian Galih mendekat ke arah Ratu yang refleks membuat Ratu memundurkan langkahnya.


"Dia siapa yang kau maksud?" tanya balik Ratu.


"Tidak usah berpura-pura bodoh di depanku. Tidak ada orang lain disini yang berani membebaskan dia selain dirimu" ujar Galih sarkas.


Pruk..


Punggung Ratu terhenti karena menabrak tembok di belakangnya yang membuatnya tersudutkan oleh Galih.


Plakk..


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Ratu hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


Kini satu tangan Galih menekan kuat pada tembok di samping kepala Ratu, dan satu tangannya lagi mengelus pipi kemerahan Ratu yang tadi di tamparnya.


Air mata Ratu mengalir begitu saja tanpa aba-aba sesaat setelah tangan besar Galih menamparnya.


"Jangan menangis sayangku, aku tidak suka air mata" ucap Galih lembut.


"Jika kau tidak suka air mata kenapa kau menamparku sangat keras. Itu membuatku sakit, dan rasa sakit itu yang membuatku menangis! " kata Ratu disertai isakan di hadapan Galih.


"Tatap mataku dan jawab pertanyaanku" kali ini masih dengan nada lembut dari Galih.


Ratu enggan memalingkan wajahnya untuk menatap Galih, dia takut. Selembut apapun Galih, selalu ada perlakuan kasar setelahnya.


"Ku bilang tatap mataku" intonasi Galih lebih tinggi dari sebelumnya, tapi Ratu masih enggan menatapnya.


"Kau sudah berani melawanku!!" srek, dengan paksa Galih memalingkan wajah Ratu agar menatapnya.


Dengan terpaksa Ratu menatap Galih dengan mata basah dan pipi yang merah. Sekarang keduanya berpandangan satu sama lain dengan posisi Ratu mendongak untuk menatap Galih dan tangan kiri Galih yang menempel di tembok dan tangan kananya memegang dagu Ratu dengan tatapan marah.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2