Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 18


__ADS_3

"Kamu ngga papa?"


"Ngga papa" jawab Rega.


Sebelum Rega melihat siapa yang menolongnya dia biasa saja, tapi saat matanya menatap seorang lelaki yang telah merebut ayahnya darinya, sorot mata Rega berubah tajam dan tak bersahabat.


Sinta yang lebih dulu melihat kedatangan Hito segera memalingkan muka kearah berlawanan dengan cemas.


"Hahaha kan udah gue bilang ada lobang. Lo ngga percaya sih hahaha" Rega menatap Mario yang menghampirinya sambil tertawa keras tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Thanks ya bang, udah nolongin temen saya. Dia emang ceroboh" cetus Mario so kenal pada Hito.


"It's ok, lain kali hati-hati" balas Hito.


Tatapan Hito tidak beralih dari Rega, sorot matanya seolah meneliti apakah dia adalah orang yang dia cari selama ini atau bukan.


"Kenalin saya Hito" Hito menjulurkan tangannya ke hadapan Rega dengan ramah, tapi Rega masih enggan menjabatnya.


Mario yang merasa khawatir dengan sikap temannya pada orang baru, langsung mengambil alih tangan Hito dan menjabatnya.


"Saya Mario, dan ini te-"


Sebelum Mario menyelesaikan ucapannya, secepat kilat gerakan Rega membungkam mulut ember temannya itu. Jika Mario sampai memprkenalkannya dengan nama Rega, penyamarannya selama ini bisa ketahuan oleh kaka tirinya. Hito.


"Mahen" kata Rega cepat.


"Iya nama saya Mahen" sambungnya seolah memperjelas disertai anggukan dan sedikit senyum.


"Kami permisi dulu"..


Hito mengangguk pelan dan Rega segera menyeret Mario ke seberang jalan dengan tangannya yang masih menutup mulut Mario.


"Ayo bu" ajak Rega saat sudah ada di belakang ibunya yang sedari tadi tidak mau menatap ke arah Hito.


"Nyokap gue disana, lo mau bawa gue kemana sih" kata Mario.


Hito menatap kepergian Rega dan Mario dengan seorang perempuan yang ia tidak tahu wajahnya seperti apa, tapi dia merasa familiar dengan punggung wanita itu.

__ADS_1


"Nanti gue anterin pulang" balas Rega santai setelah ketiganya berada di dalam mobil dan duduk dengan nafas yang tidak beraturan.


"Ini ada apa sih sebenarnya?" cetus Mario keheranan "Tante kenal sama orang tadi?" sambungnya.


Sinta menghela nafas kasar, mencoba menetralkan detak jantung dan aliran darahnya yang melaju cepat.


"Iya" jawab Sinta.


"Rega juga?" tanya Mario lagi kali ini dengan ekspresi lebih penasaran.


Sinta yang duduk di kursi depan mengangguk tanpa menoleh.


"Terus kenapa lo ngenalin diri sebagai siapa tadi?" Mario sejenak berpikir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Oh Mahen, iya Mahen!" lanjutnya.


"Berisik!" ucap Rega.


"Mario, ada banyak fakta yang kamu tidak tahu tentang keluarga kami. Dia orang yang tadi menolong Rega adalah kakak tiri Rega"..


Mario membelalakan matanya menatap Rega yang masih asik memandang keluar melalui jendela.


"Maksudnya tan? om Harris nikah sama janda yang udah punya anak lebih tua dari Rega atau gimana nih?"


Flashback on.


Disuatu malam yang gelap ditambah cuaca yang buruk, angin berhembus kencang serta badai petir menerpa sebuah daerah..


"Orangtuaku sudah meninggal dan janjiku pada mereka juga sudah hilang seiring dengan kepergian mereka!" bariton Harris memekik keras pada Sinta yang tengah menangis di ujung ranjang.


"Aku minta kau pergi dari sini. Bawa anakmu dan ambil ini" Harris memberikan sebuah cek kosong pada Sinta.


"Kau boleh menulis berapapun yang kau mau" sambungnya.


"Aku tidak butuh ini mas, aku hanya ingin kita selalu bersama-sama selamanya, menyaksikan anak cucu kita tumbuh besar, dan membangun keluarga yang harmonis" kata Sinta sambil berjalan dan memegang lengan Harris.


"Aku akan melakukan itu, tapi tidak bersamamu!" balas Harris kemudian menepis lengan Sinta sampai terhuyung.


"Pergilah aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Sebentar lagi cintaku akan datang" teriaknya.

__ADS_1


Hiks hiks hiks.. Rega yang mendengar keributan di atas segera naik dan menyaksikan bagaimana ayahnya menyakiti ibu yang amat sangat disayanginya dari balik pintu dengan wajah cemas.


Saat Harris hendak keluar kamar, dia melihat Rega sedang menatapnya dengan tatapan marah, matanya yang masih suci harus menyaksikan bagaimana perbuatan kotor ayahnya mengusir dia dan ibunya sendiri dalam keadaan hujan lebat begini.


Ternyata sebelum Sinta dan Harris menikah, Andin cinta pertama Harris sudah mengandung anak Harris, tapi Andin tidak memberitahu Harris, sampai setelah 3 tahun pernikahannya dengan Sinta, Harris baru mengetahui itu.


"Ibu!" hiks hiks...


Sinta mengurai pelukan erat pada Rega, Rega pun begitu. Keduanya menangis dengan keras.


"Sayang, ayo"..


"Ayo bu. Aku tidak akan pernah mau menginjakkan kaki kerumah ini lagi" ucap Rega mantap. Kemudian segera mengepak pakaiannya serta pakaian ibunya kedalam satu koper besar dan tas ransel meninggalkan selembar cek yang tergeletak di lantai kamar.


Harris yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan tenang, menoleh sebentar dengan acuh kearah Rega dan Sinta yang berjalan ke hadapannya.


"Aku membencimu!" pekik Rega sembari ingin memberontak menghajar Harris dengan tangan mungilnya, tapi Sinta menahan gerakan Rega.


Sampai di depan pintu, Rega dan Sinta sudah disuguhkan dengan pemandangan dua orang asing menurut Rega dan tidak asing menurut Sinta. Yaitu Hito dan Andin, yang sudah siap mengisi posisi Rega dan Sinta di rumah ini.


Hito yang juga tidak kenal dengan Rega hanya menatap tanpa arti apapun. Berbeda dengan Andin, berbeda dengan Andin, dia seperti merasa sedikit bersalah pada keduanya tapi apa boleh buat.


"Sayang, kalian sudah sampai. Apa kalian kedinginan di jalan?"...


Miriss, sesak, itulah yang dirasakan Rega dan Sinta saat itu, menyaksikan bagaimana Harris menunjukkan cintanya pada Andin dan Hito yang baru saja sampai. Sedangkan dirinya dan anaknya dibiarkan menerobos hujan lebat yang disertai petir di malam yang gelap.


Flashback off.


begitulah ceritanya, tante minta jangan ceritakan ini pada siapapun ya"...


Air mata Sinta kembali menetes mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Yang membuat hatinya sangat hancur lebur, begitu juga dengan Rega.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2