
Dengan langkah cepat, Ratu memasuki pekarangan rumah Titian lalu segera mengetuk pintu.
Selang beberapa detik, ada suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Seorang maid yang bekerja disana membukakan pintu untuk Ratu dan mempersilahkannya masuk.
"Makasih bi" kata Ratu "Tiannya ada?" sambungnya.
"Ada non, mungkin sedang di atas" jawab mbok Nah.
Ratu mengangguk dan langsung membawa langkahnya menuju kamar Titian.
Dengan ragu, Ratu memutar handel pintu kamar Titian, tampaklah Titian yang sedang tertidur diatas ranjangnya dengan mata sembab dan rambut berantakan tak terurus.
Pelan-pelan Ratu menghampiri Titian, air matanya tak dapat ia tahan saat melihat keadaan temannya seperti itu, pipinya mulai dibasahi air mata yang berderai.
Ratu terduduk di samping Titian tanpa suara. Dengan lembut Ratu menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menghalangi wajah Titian yang malah membuat Titian terbangun dari tidurnya, karena merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya.
Ratu sudah tahu mengenai kehamilan Titian dari Sindy, dirinya merasa sangat terpukul saat itu karena merasa tidak berguna. Tidak bisa menolong temannya sendiri sampai harus mengalami hal buruk semacam ini.
Hiks hikss..
Tanpa aba-aba Titian langsung memeluk erat Ratu yang terduduk di sampingnya, tangisnya kembali pecah seketika saat keduanya berpelukan tanpa suara, hanya ada isak tangis diantara mereka.
Cukup lama keduanya berpelukan sambil menangis. Sampai Ratu melerai pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Titian kemudian pipinya.
Ratu tersenyum paksa "kita lulus!" katanya, mencoba antusias agar Titian juga bisa ikut tersenyum.
"Benarkah?" tanya Titian dengan suara berat.
Ratu mengangguk dan memberikan surat kelulusan Titian padanya.
__ADS_1
"Apa gunanya surat ini. Beberapa bulan lagi aku akan menjadi seorang ibu, sekaligus ayah untuk bayi dalam kandunganku ini... Surat ini sama sekali tak ada artinya untukku" lirih Titian, dan air matanya kembali mengalir.
"Apa ini?" sergah Ratu sambil menghapus air mata di pipi Titian.
Meski dirinya sendiri sangat rapuh, tapi Ratu tidak mau menunjukkan kerapuhannya di depan Titian. Ia tahu Titian sangat down saat ini, maka harus ada yang menyemangatinya agar tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan.
"Dengar, air mata juga tidak akan mampu mengubah segalanya, lalu untuk apa kau terus menangis, itu hanya akan membuat matamu sakit. Walau nanti kamu sudah menjadi ibu, bukan berarti tidak bisa mewujudkan apa yang jadi impianmu. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu. Ada aku, ada ibu, ada ayah, ayahku juga sangat menyayangimu. Kita semua akan menjaga bayimu saat kamu mengejar impianmu" Ratu tersenyum.
"Tapi aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana anakku tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah"
"Percayalah, suatu saat akan ada orang bersedia menjadi ayah dari anakmu dan menyayangi anakmu seperti anak kandungnya sendiri"..
"He'em" balas Titian pelan.
"Kamu sudah makan?" lanjut Titian.
"Belum".. Ratu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih.
"Jangan khawatir, aku selalu makan banyak. Dia tahu aku perlu tenaga untuk melayaninya jadi dia tidak pernah membuatku kelaparan. Hanya saja, hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya jadi tidak sempat sarapan"...
Lalu...
"Ponakan aunti mau makan juga kan. Makan bareng aunti yahh, aunti suapin" cetus Ratu sambil mengelus perut Titian yang mulai membuncit. Dan itu sukses membuat Titian terkekeh.
"Nah gitu dong. Ini baru Titian yang gue kenal" katanya.
"Apaan si lo. Geli gue" balas Titian dengan wajah bersemu merah "Yaudah sana, minta makanannya sama mbok Nah.
"Sip! aunti pergi dulu ya sayang"... Lagi-lagi Ratu menggoda Titian sebelum pergi untuk mengambil makanan ke dapur.
__ADS_1
Di lantai bawah, Ratu bertemu dengan Sindy yang baru saja mengambil sebotol minuman dari kulkas.
"Nak Ratu. Kapan datang sayang?"
"Udah agak lama sih tan, tadi langsung ke atas aja soalnya" jawab Ratu diiringi senyuman.
"Udah makan belum?"
"Ini baru mau ngambil makanan, sekalian makan sama Titian mumpung dianya mau"
"Yaudah, kamu ambil aja makanannya, tante juga khawatir sama Tian. Akhir-akhir ini dia jarang makan makanya badannya kurus kayak gitu, tante takut dia sakit. Itu juga akan berdampak sama kehamilannya" ujar Sindy dengan wajah muram.
"Iya tan. Ratu ambil makan dulu ya, takut Tiannya keburu berubah pikiran. Orang hamil kan suka labil".. cetus Ratu.
"Tante tinggal yah"..
Ratu mengangguk dan berjalan ke dapur untuk mengambil nasi dan beberapa lauk pauk untuknya dan Titian.
"Hari ini lo harus makan banyak" kata Ratu berbicara sendiri sambil mengambil nasi ke piring..
.
.
.
.
__ADS_1
tbc.