
Keesokan paginya. Pukul 06.45 Titian bangun dari tidurnya, kepalanya pening, serasa berat yang teramat sangat disana. Matanya juga tidak bisa terbuka dengan normal karena kantung mata yang besar akibat terus-terusan menangis.
Titian memijat pelan kepalanya menggunakan tangan agar pusingnya berkurang. Tapi nihil, mungkin butuh 2 atau tiga hari biasanya untuk pulih dari pening karena tidak banyak bergerak dan terus menangis. Itupun harus dibantu dengan melakukan aktivitas lain.
Titian membawa langkahnya membuka gorden kamar yang menutupi jendela kaca besar, ia memejamkan mata dan membiarkan sinar mentari pagi itu menerpa wajahnya yang semakin tirus.
Ia kemudian berjalan dan duduk di kursi rias miliknya yang sudah beberapa bulan ini tidak dipakai. Ia menatap pantulan dirinya dalam cermin itu, rambutnya kusut, kulitnya tak terurus, tulang-tulangnya mulai menonjol, serta mata panda yang tak pernah ia miliki, kini muncul entah sejak kapan.
Titian menyunggingkan bibir tipisnya dan mengambil gunting dari dalam laci, dengan sadar di mulai memotong rambut panjangnya sedikit demi sedikit.
Apa seorang Titian lemah seperti ini? Batinnya. Sambil terus menyunggingkan senyum dan memotong rambutnya.
Siapa yang ada di cermin ini? Aku Titian Putri Anjani, bukan orang lemah seperti yang nampak di cermin ini. Aku bisa berjalan dengan baik meski sudah di cederai. Aku akan terus berjalan, bahkan berlari sampai orang yang mencederaiku kelelahan dan jatuh sendiri... Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh terlebih dahulu, karena aku akan kalah. Titian terus saja mengoceh dengan dirinya di cermin sampai rambutnya menjadi sebahu dan ia tersenyum puas.
Saat itu, Titian merasa kembali menemukan siapa dirinya, dia akan memulai kehidupan baru di kota yang baru. Dimana tidak ada yang tau masalalunya.
Selesai memotong rambut, Titian segera mandi dan membersihkan dirinya dari semua kotoran yang menempel, cukup lama Titian berendam di bathup sampai setelah 2 jam di kamar mandi akhirnya dia keluar sudah dengan wajah segar, rambut baru dan kulit yang kembali bersih, namun tetap masih kurus.
Titian berdandan layaknya saat dia masih sekolah dulu, bibir tipisnya dibalut liptint merah muda serta lipgloss yang membuatnya lembab dan lembut. Kini Titian sudah mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dibalut dengan kaos putih yang sedikit longgar dan flatshoes dengan warna senada. Rambutnya ia biarkan terurai dan tak lupa ia memakai tas slempang warna purple kesukaannya.
__ADS_1
"Lihat yah, siapa yang datang?" tanya Sindy yang tengah sibuk menata makanan diatas meja pada Irpan yang sudah duduk disana dan siap untuk sarapan.
Dengan langkah gontai layaknya Titian Putri Anjani dulu, Titian mengayun langkahnya menuruni anak tangga satu-persatu. Dua pasang mata yang sedang menatap keheranan sekaligus bahagia itu hanya bisa mematung.
"Akhirnya yah, setelah sekian lama" ucap Sindy lirih, tak terasa air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Iya bu. Sepertinya putri kecil kita sudah kembali" balas Irpan yang tak kalah terharu.
"Selamat pagi" sapa Titian pada orangtuanya yang tak bisa mengalihkan pandangan dari putrinya itu.
"Apa yang kalian lihat? Ada yang aneh?" tanya Titian heran, karena dari tadi ayah dan ibunya hanya menatapnya dengan tatapan penuh arti tanpa bersuara.
"Ya?" ucap keduanya bersamaan, dan barulah tersadar dari lamunannya.
"Kamu sudah tidak takut lagi pada ayah nak?" tanya Irpan menyelidik.
"Untuk apa aku takut pada ayahku sendiri. Sudah berapa bulan ayah tidak menemuiku? apa ayah tidak pernah ada di rumah?" cerca Titian dengan banyak pertanyaan sambil menarik kursi untuk duduk di samping ayahnya.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, ayah hanya tidak mau melihatmu ketakutan saat melihat ayah. Jadi ayah tidak pernah menemuimu secara langsung" jujur Irpan "Tapi ayah senang kau sudah tidak takut lagi pada ayah. Apa kau juga sudah tidak takut pada laki-laki?" sambungnya.
"Aku.. aku hanya tidak takut pada ayah" jawab Titian.
"Sayang, jangan begitu. Tidak semua laki-laki sama bejadnya seperti mantan pacarmu itu. Kamu harus coba membuat dirimu seperti dulu lagi, seperti Titian yang dulu" kata Sindy lembut dan menarik kursi untuk ikut duduk.
"Iya sayang, ibumu benar" ujar Irpan menambahkan.
"Aku mungkin akan mencobanya, tapi aku merasa masih sangat takut. Andai aku bisa menyelami hati seseorang, aku pasti tidak akan salah memilih teman"
Irpan memgusap puncak kepala anaknya seraya berkata "Kami tidak akan memaksamu sayang. Pelan-pelan saja, ayah tau ini sangat sulit untukmu" katanya "makanlah" sambungnya dan mengambilkan sepiring nasi untuk Titian.
"Terimakasih ayah" balas Titian sambil tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.