
Karena kau adalah cintaku. Galih hanya mengucapkan itu dalam hatinya.
Galih Povv.
Sebenarnya aku sudah mencintai Ratu sejak dulu, saat ayahnya masih sehat dan bekerja di perusahaanku. Aku sering melihat Ratu jalan-jalan bersama om Tomo, ayahnya. Aku tidak berniat mengancam Ratu dengan ayahnya, tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa membuat Ratu terikat padaku sebelum lulus sekolah dan aku berhasil, meski terkadang aku tidak bisa mengendalikan emosiku yang meluap-luap sejak kepergian ayah dan ibu. Aku selalu saja menyakitinya karena naluriku sendiri. Meski begitu aku sangat mencintainya, aku hanya ingin tau bagaimana reaksinya saat aku bilang aku tidak mencintainya.
Awalnya aku kaget, dia bisa menanyakannya secepat ini, dan sesuai dugaanku, dia juga mencintaiku. Aku bisa merasakan itu dari reaksinya saat aku bilang akan meninggalkannya saat menemukan cintaku.
Apalagi yang lebih kentara saat dia meneteskan air mata didepanku, bukan lagi karena aku menyakiti fisiknya tapi hanya karena kalimatku. Dan aku yakin itu melukai hatinya.
"Heii, sayang kenapa kau menangis?"
"Jangan sentuh aku!"
Aku malah ingin tertawa melihatnya menepis tanganku seperti itu.
"Baiklah. Aku akan menelpon rumah sakit tem-"
"Aaah, oke oke ini"
Dengan cepat Ratu menempelkan tanganku di pipinya, dan aku menghapus air matanya. Air matanya seperti hujan yang turun musim ini, tidak mau berhenti aku sudah mengusapnya berkali-kali tetap saja mengalir lagi dan lagi.
Aku mendekatkan wajahku padanya, refleks Ratu memundurkan wajahnya sedikit kemudian berhenti seperti sadar akan keadaan. Dan aku menciumi pipinya yang basah satu persatu tanpa penolakan.
Aku sangat suka bermanja-manja padanya, apalago dia tidak pernah menolak apapun yang ku lakukan. Memang sejak kepergian ayah dan ibu, aku sangat kesepian, dan hanya padanya aku bisa seperti ini.
Bisa juga pada perempuan lain, tapi aku hanya menginginkan dia, Ratuku satu-satunya. Andai namaku Raja, tentu aku akan memberikan nama Putri dan Pangeran pada anak-anakku kelak. Kemudian membangun kerajaan di tengah-tengah kota.
"Sayang berhentilah menangis. Atau aku tidak akan berhenti menciummu"
Lalu...
"Memangnya apa yang membuatmu menangis hah?"
Ratu tidak menjawab, dia masih berusaha menahan agar air matanya berhenti mengalir.
"Sayang"
"Baiklah, kalau begitu giliranku yang bertanya. Apa kau mencintaiku?"
Ratu menatapku dengan tatapan menghunus, sepertinya dia sangat marah padaku.
__ADS_1
Apa pentingnya aku mencintainya atau tidak, toh dia akan meninggalkanku. Dia pasti akan besar kepala kalau aku bilang aku mencintainya. Batin Ratu.
"Tidak"
Ratu berkata begitu sambil memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatapku, dan itu membuatku sangat yakin kalau dia mencintaiku.
"Kenapa kau tidak berani menatapku?"
"Tidak"
"Tatap aku dan katakan tidak kalau kau memang tidak mencintaiku?"
"Ti-"
Ratu menghentikan ucapannya saat wajahnya dan wajahku hanya berjarak beberapa centi saja, karena saat dia memalingkan wajah, aku sengaj memajukan wajahku agar lebih dekat dengannya.
"Tidak" lirihnya pelan dan mendorong tubuhku agar menjauh.
"Benarkah?" godaku dengan mencium pipi kirinya dan itu membuatnya semakin tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.
"Katakan sekali lagi!"
"Tidak!" teriaknya. Aku sampai kaget mendengar kicauannya.
Pluk...
Aku tidak tahan melihatnya menangis histeris begitu. Segera aku membawanya ke pelukanku dan dia mencoba memberontak tapi tenagaku lebih kuat darinya.
"Lepaskan aku, aku membencimu!"
"Galih brengsek. Aku membencimu!"
"Maafkan aku"
"Tidak. Aku membencimu lepaskan!"
"Maafkan aku, aku hanya ingin tau apa kau mencintaiku atau tidak. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"
Ratu terdiam mendengar ucapanku, antara percaya dan tidak.
"Bohong. Itu bohong, kau hanya ingin menenangkanku kan?"
__ADS_1
"Tidak sayang, itu kenyataannya. Dan aku hanya akan menikah denganmu, karena kau cintaku kau Ratuku"
Ratu melerai pelukannya dan akupun melepaskan pelukanku, kali ini dia menatapku dengan sendu, tak ada lagi kemarahan disana.
"Benarkah itu?"
"Tentu"
"Apa buktinya kalau kau mencintaiku?"
"Apa yang kau mau? Kau ingin aku menikahimu sekarang?" godaku lagi.
"Kalau kau menginginkan itu, aku akan menelpon penghulu sekarang juga, agar malam ini bisa jadi malam pertama kita, dan aku tidak perlu melakukannya dengan pengaman lagi"
"Ish kau ini!"
Aku terkekeh melihat Ratu yang malu-malu saat aku menggodanya dengan kalimat tabu seperti itu. Padahal untuk apa dia malu, aku sudah melihat, memegang dan merasakannya hampir setiap malam.
"Jadi apa kau juga mencintaiku?" aku berkata seraya memeluk dan menempelkan tubuhku padanya. Baru kali ini wajahnya memerah saat aku menekan daguku di bahunya dan mencium lehernya.
"Kenapa masih bertanya" jawabnya.
"Aku anggap itu iya" cup cup cup cup cup..
Aku menciumi semua sisi wajahnya dari pipi kiri kanan, kening, dagu, hidung, bibir sampai turun ke leher dan sudah membuka satu kancing piyamanya.
"Galih" Ratu berucap lirih memanggilku.
"Apa sayang, sabar aku sedang membuka bajumu"
"Galih" katanya lagi. Kali ini dengan intonasi lebih keras.
Aku mengalah, aku menatapnya intens tanpa melepaskan kancing ketiga.
"Sepertinya aku... "
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.