Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 21


__ADS_3

Mario tak bisa berkutik, dan hanya mendengus kesal karena tasnya di jegal oleh sang mama.


Tapi bukan Mario namanya kalau tidak bisa lari dari masalah seperti ini.


Tak tak tak tak tak tak.. Suara sepatu Mario mengenai anak tangga.


"Bye ma, i love you emuach" teriak Mario saat sudah sampai di lantai atas meninggalkan mamanya yang mematung memegang tas Mario.


Saat mamanya sedang berada di atas angin dengan rasa penuh kemenangan karena menjegal tas Mario tadi, Mario segera memanfaatkan moment itu untuk melepaskan diri dari tas yang hanya bergantung di tangan kirinya. Dengan mudah Mario menarik tangannya dan berlari.


"Dasar anak nakal!!" teriak Lussi sambil meremas tas Mario.


*-*-*-*-*-*-*


Di kediaman Sinta dan Rega. Keduanya sedang berkutat dengan barang-barang yang akan Rega bawa keluar kota karena dia akan melanjutkan study S1 nya di Bandung.


Rega memilih hanya membawa beberapa pakaian dan perlengkapan yang dia bututhkan. Tadi siang dia dan ibunya serta Mario mampir disebuah mall besar dan berbelanja keperluan lainnya yang tidak perlu lagi repot-repot dibeli Rega disana.


"Sayang apa kamu sudah memikirkan tawaran ibu?" tanya Sinta sambil mengepak barang "Apa kamu ngga kasian sama ibu, ibu sudah tua dan harus bolak-balik kesana kemari mengurus pekerjaan" sambungnya.


"Aku sudah memikirkan itu bu. Jangan khawatir, aku selalu memikirkan kesehatan ibu setiap hari" balas Rega datar.


"Benarkah?" ucap Sinta sumringah dengan senyum tiga jari mengembang diwajahnya, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapih, cantik.


"Ibu sangat senang mendengarnya. Kamu akan mengurus cabang yang dimana sayang? atau kamu urus yang di Bandung aja biar ngga perlu bolak-balik keluar kota nantinya?" tutur Sinta kemudian.


Rega mendekati ibunya, kemudian menatap wanita paruh baya yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu dengan mata teduh dan pandangan menenangkan. Meski seperti biasanya, ekspresinya sulit ditebak, datar.

__ADS_1


"Ibu jangan terlalu sering bepergian keluar kota. Aku takut ibu bertemu ayah dan dia akan menyakiti ibu lagi. Biar aku yang mengurus cabang di Bandung dan Surabaya. Ibu fokus dengan dua cabang yang di Medan saja" jelas Rega. Kemudian menumpuk barang yang sudah dimasukkan kedalam beberapa box dan satu koper.


"Terimakasih sayang, ibu sangat beruntung memiliki anak seperti kamu. Ibu sangat menyayangimu melebihi apapun. Ibu akan merindukanmu untuk waktu yang lama" jujur Sinta, sembari memandangi bingkai foto yang terpajang diatas laci.


"Ibu jangan menangis" kata Rega. Kemudian membalik tubuh ibunya dan memeluk erat orang terkasihnya itu.


"Kalau ibu bertemu ayah dan dia menyakiti ibu lagi. Beritahu aku, aku tidak akan membiarkannya hidup tenang" ucap Rega sambil mengelus pundak ibunya.


Sinta melerai pelukannya dan merogoh ponsel disakunya "kenapa kita jadi takut begini pada ayahmu. Apa yang kita takutkan?" kata Sinta, kemudian tersenyum dan menunjukkan foto seseorang dari ponselnya "Lihat ini" pinta Sinta.


Rega pun mengernyit dan menatap ibunya sekilas lalu kembali menatap seseorang dilayar ponsel itu.


"Siapa dia?" tanya Rega heran.


Sinta malah senyum-senyum sendiri tanpa mau menjawab.


"Kamu ini, apa tidak bisa menunjukkan ekspresi lain selain ekspresi batu seperti itu" omel Sinta yang kesal dengan sikap putranya.


Rega tersenyum sekilas, hanya sekilas, secepat petir menyambar dan kembali datar seperti biasa


"Sudah. Apa aku boleh tau siapa dia? Kalau dia ingin mendekati ibu, dia harus melewatiku dulu" ujar Rega.


"Namanya om Rama, dia rekan bisnis ibu. Seorang duda 47 tahun. Istrinya meninggal karena kecelakaan pesawat 4 tahun lalu. Dan anaknya sudah berkeluarga" tutur Sinta lembut menjelaskan pada Rega.


"Kenapa ibu tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Rega menyelidik.


"Ibu takut kamu akan memberikan kesan yang tidak baik padanya. Bukankah dulu kamu selalu melarang ibu untuk dekat dengan lelaki manapun?" ucap Sinta "Tapi sekarang, ibu merasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti semua ini, ibu sudah tua dan sebentar lagi kamu juga pasti akan berkeluarga. Ibu butuh seseorang untuk menemani masa tua ibu" tutup Sinta.

__ADS_1


"Aku hanya khawatir ibu akan diperlakukan sama seperti saat ibu bersama ayah. Aku tidak akan bisa berdiam diri lagi kalau sampai hal itu terulang" jawab Rega.


"Ibu tau sayang, cobalah kamu mengenal om Rama dulu. Dia sangat baik dan papaable banget. Dia selalu ingin bertemu kamu saat ke Medan, tapi ibu melarangnya. Ibu yakin kamu akan suka padanya"..


"Baiklah, aku akan coba untuk mengenalnya. Tapi aku tidak mau menegurnya terlebih dahulu. Aku ingin dia yang berinisiatif mendatangiku dan mencoba mengenalku"..


"Ibu sangat senang mendengarnya sayang. Ibu akan menelponnya sekarang dan meminta dia datang sebelum kamu pergi" ucap Sinta antusias dan langsubg menjauh untuk menelpon orang yang dimaksud.


Rega menggeleng pelan, membiarkan kepergian ibunya yang sepertinya sedang kasmaran tingkat dewa itu.


Tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah foto dimana dirinya tengah menaiki sepeda di sebuah jalanan lenggang dan tersenyum ke arah kamera.


Pikirannya teringat kejadian dimana dia mengantar Titian pulang dan mendengar gadis itu menceritakan kejadian memilukan yang dialaminya.


Apa dia baik-baik saja sekarang? Apakah dia hamil? atau....


Tidak! tidak! hilangkan pikiran buruk itu Rega. Apa yang kau pikirkan, dia tidak mungkin mengakhiri hidupnya. Batin Rega.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2